Blanc Carnations

Blanc Carnations
6. Prime Park



09 Desember 2011


Kami telah melaksanakan ujian akhir semester. Perasaan kebebasan akhirnya tiba juga. Siapa yang nggak bakal seneng kalo ujian akhir sudah berakhir yang pastinya setelah itu ada libur panjang. Nikmat banget ya kan hehe.


“By, ayo main! Nana pengen main!” ajakku paksa.


Dari awal aku udah berencana setelah ujian beres aku ingin bermain sepuasnya. Entahlah kemana tempatnya, apapun itu yang penting aku ingin bermain. Kepalaku udah mau pecah, berat banget ngga sanggup pusing huhuu.


“Na, ya ampun.. Nana ngga inget? Iby kan masih ada Latihan Na,“ bisa-bisa nya aku lupa, saking excitednya aku ingin bermain, sampai lupa kalau Iby masih sibuk sama latihannya.


Yaah lagi-lagi aku sendiri deh, mau ngga mau.


“Maaf banget ya, Na. Iby juga sebenernya ingin main, tapi karena waktu acaranya udah dekat jadi pastinya bakal susah buat ada waktu luang," jelas Iby. Aku bisa mengerti sih, apalagi acaranya udah deket banget jadi maklum aja Iby bakal sibuk.


“Gimana kalau gantinya kita pergi main seberes Iby tampil di Yogya?” ajak Iby.


“Boleh boleh, By. Nana ngikut!”


“Kalau soal perizinan, nanti Iby coba minta izin ke tante ya,"


“Lho? Kenapa harus minta izin?” aku mengernyit kebingungan. Toh setiap kali aku pergi dengan Iby, mama pasti sudah tahu. Tapi kenapa harus sampai meminta izin?


Iby menggelengkan kepalanya, “Nana salah paham nih,” aku semakin tidak mengerti apa yang Iby maksud. Atau akunya saja yang ngga fokus gitu ya? Ah gatau deh, aku mau main dulu supaya bisa fokus kembali.


Teman-teman Iby sudah menunggunya di depan pintu. “Ayo Gil!” ajak Rian. Dih ngga sabaran banget nih Rian.


Iby menyapa mereka hanya dengan mengangkat salah satu tangannya, seolah-olah memberi tanda ‘tunggu sebentar'.


“Iby pergi ya, Na. Sekali lagi Iby minta maaf banget gabisa nemenin Nana hari ini,"


Aku menghela nafas lalu menepuk-nepuk pelan pundak Iby. “No problem, By. Nana ngerti kok. Semangat latihannya!! Semoga lancar sampai hari H!” setidaknya aku memberikan semangat agar mengurangi rasa bersalahnya Iby padaku. Karena kalau Iby terus-terusan ngerasa bersalah, yang ada akunya jadi ngerasa risih.


Mungkin karena suasana hatiku sedikit terasa senang, aku merasa dunia saat ini begitu menyegarkan. Aktivitas orang-orang yang kulihat saat ini membuat suasana hatiku lebih tambah ceria. Setiap kejadiannya, senyumku merekah. Oh iya, tak lupa aku mencoba untuk menyapa orang yang sama sekali tidak ku kenal. Ya anggap saja aku sedang mencoba untuk bersosialisasi dengan lingkungan luar. Dan yang paling aku suka yaitu dengan tanggapan mereka, ramah sekali.


Ku kira lingkungan masyarakat itu menyeramkan, namun ternyata tidak. Akunya saja yang terlalu terbawa dengan cerita-cerita dari film yang belum tentu itu nyata dalam kehidupan. Yang sebenarnya perspektif setiap orang itu pasti beda-beda, tidak mungkin sama.


Aku berjalan santai tanpa arah tujuan, menikmati hariku toh percuma kalau aku bermain ke taman bermain sendiri. Yang ada aku menjadi tidak betah disana, dan juga rasanya beda sekali kalau bermain sendiri.


Awalnya saja aku tidak akan pergi ke taman bermain, namun nyatanya arah jalanku berakhir di sini. Udah gila, Na?!


Boleh kali ya masuk tanpa bermain? Kali-kali hehe. Walaupun bukan hari libur nasional, tempat ini cukup ramai dikunjungi sebagian orang. Dan yang paling aku kaget adalah karena ada siswa lain dari sekolah yang sama denganku.


Mereka masih menggunakan seragamnya, makannya aku bisa mengenali mereka. Tapi aku sendiri tidak yang kalau mereka akan sadar dengan kehadiranku atau tidak, karena aku memakai jaket jadi seragam khas sekolah tidak terlihat. Kemungkinan besar sih mereka tidak menyadari keberadaanku, kecuali kalau mereka mengenaliku.


Aku membeli sebotol susu coklat untuk menghilangkan rasa bosan, dan duduk di kursi jati yang tak jauh dari toko minuman. Emang udah gila Nana datang ke tempat bermain sendirian tanpa ikut bermain.


Jempolku sibuk menari di atas layar ponsel, hingga tidak sengaja aku melihat Agha memposting snapgram yang ternyata dia sedang berada diluar. Namun jika dilihat dengan detail, aku merasa tempatnya tidak asing. Tapi entahlah, siapa tahu ada tempat yang sama menyerupai itu.


Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil berlari-larian di sekitarku dan tidak sengaja tersandung membuat es krim yang ia bawa-bawa tumpah mengenai rok seragamku. Untungnya ini hari terakhir ujian, jadi tidak perlu panik.


“Aduh kakak maaf. Rok kakak jadi jelek gara-gara Eca,” ucap anak itu karena merasa bersalah atas kecerobohannya.


Melihat tingkah gemasnya, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Bagaimana tidak gemas, di usia yang masih kecil ini, mungkin lima tahun? Bisa sesopan ini, aku terlalu lemah kalau soal anak kecil.


“Gapapa kok. Kakak bisa bersihin sendiri,” jawabku sambil tersenyum padanya agar dia tidak terlalu panik.


Tapi aku baru ingat, persediaan tisu yang selalu ku bawa kemana-mana sudah habis. Aku lupa tidak membelinya.


“Eca kesini sama siapa?” aku khawatir dia bermain ke sini tidak bersama walinya.


“Eca kesini sama abang, kak. Sama teman Eca juga. Yang ngejar Eca sampai bisa gini tuh karena teman Eca kak," jawab Eca jelas. Untung saja dia kesini dengan walinya.


“Hoalaaa.. kalau gitu Eca lanjut main aja sama temanmu itu. Kakak gapapa, kok. Lain kali hati-hati ya.” anak kecil itu mengangguk senang membuat senyumku merekah karenanya.


Lucu banget dia.


“Terimakasih banyak kak, Eca pergi ya kak, dadahh~” dia pamit sambil melambaikan tangannya yang mungil.


Aku membalasnya dengan senyuman.


Orang tua dari anak itu pasti bangga sekali memiliki anak yang cerdas, juga sopan. Walaupun masih di usianya yang masih kecil, dia bisa mengerti dan paham atas apa yang ia perbuat. Lucu banget!


Hal yang terkonyol saat ini adalah aku memikirkan bagaimana dengan anakku nanti. Apakah dia akan punya sikap yang sama seperti itu? Atau mungkin sebaliknya? Aku jadi bergidik ngeri. Bagaimana mungkin jika kenyataannya bisa sebaliknya, anakku nakal. Haduh pikiran gila macam apa ini, Na? seharusnya aku memikirkan masa depanku yaitu melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ya! Seharusnya aku memikirkan masa depan pendidikanku, jangan memikirkan hal lain yang di luar kendali.


Aku mencari toko yang memiliki tisu, ternyata tidak mudah. Di tempat seperti ini pastinya jarang sekali ada toko yang menyediakan tisu. Padahalkan itu barang yang sangat berguna, apalagi untuk makanan.


Tiba-tiba saja saat aku berjalan, ada orang yang menabrakku tidak sengaja, “Ah, maaf!" Kataku, Ia menoleh.


"Tidak apa-apa," Agha? Gila aku bisa bertemu dengannya di tempat ini!


Karena aku teringat dengan keadaanku yang kotor ini, aku pergi buru-buru menuju toilet. Ntar yang ada disangka aku orangnya ceroboh karena memakan es krim sampai bisa tumpah mengenai rok seragamku. Namun dia menghentikanku.


“Tunggu, Na!” Agha tiba-tiba memberikan jaket yang ia pakai.


“Di saku bagian kanan ada sapu tangan Agha. Pakai aja.” Lanjutnya.


Aku sedikit bergidik ngeri dengan sikapnya. Jujur ini buatku syok seketika, tapi aku benar-benar berterima kasih padanya. Setelah aku selesai membersihkan noda, aku keluar dari toilet dan ternyata Agha menungguku. Tanpa aba-aba aku menyodorkan jaket miliknya.


“Nana bawa jaket kok, Gha. Tenang aja. Oh, iya terimakasih banyak Gha, sapu tangannya Nana bawa. Kalau ada kesempatan lagi, Nana bakal balikin di lain waktu,” jelasku.


Agha menerima kembali jaket miliknya.


Kurang lebih selama sejam lamanya, kami asik mengobrol dalam berbagai topik. Walau respon dari Agha tidak terlalu banyak, ya setidaknya ada seseorang yang bisa diajak bicara.


Waktu menujukan pukul lima sore, waktunya aku pulang. Jika aku pulang terlambat, siap-siap aku kena sembur mama deh huhu.


Aku berjalan menuju trotoar, menunggu bis ataupun taxi yang lewat. Agha bagaimana? Entahlah, sejak kami keluar dia sudah hilang entah kemana.


Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Orang yang berada didalam itu keluar. Ternyata Agha.


“Ayo masuk, Na!" ajaknya sambil membuka pintu penumpang di bagian depan.


What? Ngga salah nih? Aku ngga mimpi kan? entah apa yang membuatku bisa berjalan dengan sendirinya, masuk kedalam mobil Agha. Kalau Nana kenapa-napa gimana? Udah gila, Na!


“Agha cuma antar Nana aja, jangan salah paham.” jelas Agha, baru saja aku berfikir negatif U-U


Dan memang benar, hanya sekedar mengantar. Sampai rumahku, kami tidak berbicara sama sekali. “Terimakasih banyak Agha. Maaf Nana jadi ngerepotin Agha," lagi-lagi aku berterimakasih pada Agha.


Dia udah banyak berbuat baik hari ini pada Nana, Agha hanya menjawab dengan mengedip sambil menelan ludahnya. Akupun segera keluar dari mobil. Tak lama kemudian mobilnya pergi meninggalkan pekarangan rumahku.


Udah gila, Agha udah gila! Mengantar gadis pakai mobil pekerjaan? Udah gila Agha, setelah ini Agha pasti bakal kena marah papa.