
11 Desember 2011]
Semalam aku menginap di rumah nenek yang bertempat di Bandung, karena sudah lama juga kami tidak berkunjung. Tidak ada yang berubah dengan rumah nenek, masih tetap sama. Begitupun dengan orang-orang yang tinggal di daerah sini. Namun sayangnya, cuaca di Bandung sedang tidak stabil. Seringnya ada hujan, baik di langit yang cerah maupun langit yang gelap.
Daripada kita mendapat kejadian yang tidak baik dijalan, kami memutuskan untuk menginap disini. Toh Nana juga lagi libur jadi tidak apa-apa. Sekalian aku ingin beristirahat dan mencari udara segar untuk menenangkan pikiranku.
Ponselku berdering, nama Iby tertera di layar ponsel. Aku segera mengangkatnya.
"Halo By, ada apa?”
"Halo Na, Nana sekarang lagi dimana?"
“Nana lagi di rumah nenek, di Bandung,”
"Ohh,"tiba-tiba Iby berbicara tidak seperti biasanya, aneh banget.
“Emang kenapa, By?”
"Nanti aja, Na. Iby tunggu Nana pulang aja," Ia langsung mematikan telfonnya.
Baru kali ini Iby bertindak tidak seperti biasanya, apa mungkin Iby ada masalah ya? Tapi jika ada masalah juga Iby pasti langsung cerita sama Nana. Aneh banget deh.
Nenek yang sedari tadi memperhatikanku menghampiriku, “Ada apa, Na?”
Aku terkejut dengan kehadiran nenek. “Iby nelfon, nek. Gatau deh gajelas, aneh banget,” beliau hanya tersenyum setelah mendengar jawaban dariku, tanpa kusadari aku memeluk nenek.
“Menurut nenek, sikap Nana menyebalkan ngga?”
“Iya,” jawabnya singkat sambil mengelus-ngelus kepalaku.
“Nek, Nana sakit banget tahuuu. Nana mau pulang ah..” Nenek hanya tertawa melihat tingkahku. Ya gimana ngga kesel, nenek sendiri lho jawabnya gitu jahat bangett.
“Nana itu berisik, tapi perhatian," jelasnya singkat.
Aku melepaskan pelukan dengan cemberut, “Jadi ini muji atau gimana nih?”
Bukannya dijawab, tapi nenek malah mencubit pipiku membuat aku meringis kesakitan. “Kamu tuh gemesin, Na..”
ditengah percakapan kami, tiba-tiba saja ponselku bergetar. Tanpa melihat papan Namanya aku langsung mengangkatnya karena ku kira Iby yang menelfon.
Belum ada dua detik aku angkat bicara, ia sudah mematikannya. Ih aneh banget! Tapi saat aku melihat riwayat panggilan, tidak ada seseorang yang tertera pada bagian atas diwaktu yang terbaru. Hanya tersisa riwayat panggilan Iby, itupun sepuluh menit yang lalu. Entah kenapa aku tiba-tiba saja membuka aplikasi insta, dan ternyata orang yang menelepon tadi itu Agha? Tanpa aba-aba aku langsung mengirimkan pesan padanya.
Hanaiu "Agha tadi nelfon?"
Ghaputra. "Maaf, kepencet."
Ku kira Agha sengaja menelfon, nyatanya yaampun hmm.
Aku menunggu Iby di toko minuman kecil dekat rumah sambil meminum jus mangga. Suara bel pintu toko berbunyi, menandakan seseorang datang. Iby. Aku segera melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Iapun segera menghampiriku, raut wajah pada Iby terlihat berbeda.
“Iby kenapa?” aku jadi khawatir, takutnya ada hal yang terjadi pada Iby saat dia menelfonku waktu itu.
Iby menghela nafas. “Maaf Na, Iby keringetan karena lelah. Tenang aja, Na. Iby baik-baik aja," dengan perkataan Iby yang seperti itu aku semakin mengkhawatirkannya.
“Ayo kita pergi, Na!" ajaknya, aku mengangguk dan mengikutinya ke parkiran.
Baru aja aku mau mengambil helm yang berada di motor Iby, dengan gesit Iby memakaikan helm padaku. Jujur aneh banget sama sikap Iby, atau Nananya aja yang aneh kali ya? Kini dia memberikan senyum manisnya padaku.
Karena aku merasakan ada hal aneh yang terjadi pada Iby, aku jadi merasa canggung. Sebenarnya.. jantungku saat ini sedang tidak baik, aku memberanikan diri membuka pembicaraan. “By!”
“Ya?” sahut Iby.
“Iby tahu ngga sih, hari ini Iby aneh banget. Dari waktu Iby nelfon Nana juga aneh banget. Nana jadi bingung sendiri.“ Namanya juga Nana, langsung intinya.
“Aneh ya?” udah tahu aneh, malah nanya balik gimana sih Iby nih. “Maaf ya.”
Lanjut Iby. Tuhkan makin aneh.
Setelah pembicaraan itu, suasana perjalanan kami menjadi sunyi kembali. Tanpa adanya percakapan lagi. Dan yang paling aneh lagi, ternyata Iby bawa aku ke tempat bermain.
“Katanya Nana pengen main, kan? Jadi Iby bawa Nana kesini,” Jelasnya.
Tanpa aba-aba, aku langsung menarik lengan Iby mengajaknya bermain roller coaster, Iby dengan senang hati tidak menolaknya. Kami bermain berjam-jam hingga lupa waktu. Entahlah, aku dan Iby sama sama menikmati wahana permainan, ini benar-benar menyenangkan.
Akhirnya aku bisa merasakan bermain wahana dengan perasaan yang ceria ini. Jantungku berdegup sangat kencang di setiap menitnya, bahkan disetiap detiknya, aku tidak tahu dengan perasaan Iby sekarang bagaimana. Apakah dia merasakan hal yang sama seperti aku? Atau mungkin biasa saja? Entahlah. Jika aku bertanya, pasti akan merasa canggung.
Iby memberi sebotol susu coklat padaku, akupun segera menerimanya. “Terimakasih, By.” Dia menjawab dengan memberikan senyumnya, manis sekali.
“Seru banget tadi waktu naik roller coaster! Yang katanya berani naik wahana ekstrim mana nihh, malah cengeng mau pulang. Iby ngakak banget deh, apalagi waktu naik kora-kora! Padahal itu wahananya ngga terlalu ekstrim by, masih aja narik-narik baju Nana ih bete deh. Lain kali kalau Nana ajak Iby main, mending ngga usah kesini, Nana jadi sasaran pelampiasan Iby mulu daritadi, Nana bilangin ke mama tau rasa huuu..” aku mengejek Iby karena nyalinya yang ciut.
Emang nih orang cuman bisa ngomong doang, tapi waktu di tempatnya jadi lemah dih. “Oh iya, By. Tadi liat anak kecil yang di kora-kora itu ngga? Hebat banget dia bisa berani naik wahana ini. Padahal kan bahaya banget huhuu, tapi waktu permainannya dimulai dia keliatan seneng banget, Nana jadi gemes sendiri deh. Awalnya Nana sempat khawatir sama dia, takutnya dia ngga ada walinya. Eh ternyata dia main sama abangnya, abangnya yang telat dateng, mungkin dia abis dari toilet atau yang lain. Bisa jadi sih, Nana cuman nebak-nebak aja haha,” tiada habisnya aku berbicara, maklumi saja aku orangnya memang berisik. Nenek juga mengakuinya.
Iby tersenyum. “Syukur deh kalau Nana seneng. Iby juga jadi ikut seneng, next time kita coba main ke tempat lain yuk!" Aku hanya mengangguk senang.
Setujui saja terlebih dahulu, untuk masalah jadi atau tidaknya kita bisa menentukan waktunya yang tepat. “Na, sebelumnya Iby minta maaf. Maaf kalau sikap Iby ke Nana jadi kurang enak," lanjut Iby dengan serius.
Tiba-tiba..
“Iby nelfon Nana waktu itu karena ada hal yang buat Iby pasrah, ayah Iby kecelakaan waktu di perjalanan menuju Jepang. Ibu ngga sanggup untuk nyusul ayah ke Jepang, beliau minta Iby untuk menemaninya. Iby juga tak tega melihat ibu menjadi lemah begini Jadi Iby mau pamit sama Nana Iby mau ke Jepang nemenin ayah. Maaf ya, Na. Iby pamitannya gini, karena Iby ngga mau pamitan dengan hal yang kurang enak, makannya Iby ajak Nana kesini dan waktu itu juga Nana ingin bermain kan," jelas Iby.
Ternyata semua sikap Iby yang dilakukannya hari ini tuh karena itu, berarti Nana saja yang terlalu bawa perasaan. Duh jangan berlebihan deh, Na. Jangan berharap yang lebih juga, Iby itu sahabat Nana.. ingat itu.
“Pantesan aja hari ini Iby tuh aneh banget, Hati-hati ya By. Titip salam buat mamanya Iby. Jangan sedih terus, ngga baik,”
“Terimakasih banyak, Na. Sekali lagi maaf,”