
Agha menatap layar ponselnya dengan senyum yang merekah. Jesy yang melihatnya jadi terheran-heran, jarang sekali Ia melihat abangnya seperti ini. Ah, bukan jarang lagi, tapi tidak pernah sama sekali.
Ini adalah kali pertama Jesy melihat abangnya seperti sedang jatuh cinta. Entahlah Jesy melihat perasaannya berbeda saja, seperti sedang berbunga-bunga kegirangan.
Walaupun Agha mengekspresikannya tidak terlalu heboh, bahkan yang ada dia cukup dengan diam saja. Namun kadang sikapnya suka aneh, tiba-tiba kalau Jesy bertanya apa pada abangnya tapi di jawabnya dengan topik yang lain.
Selain itu, dia tiba-tiba bertanya mengenai penampilannya. Hal teraneh yang pernah Jesy rasakan selama bertahun-tahun Ia tinggal dengannya.
Sempat Jesy bertanya pada abang.
“Abang, antar Jesy ke perpustakaan yuk!”
Agha menjawab seperti orang linglung yang kehilangan arah. “Ngga ada uang, udah kepakai makan-makan bareng Nana,"
“Nana?”
Jesy merasa namanya tidak asing di telinga. Apa mungkin Hana? Tidak mungkin juga kalau benar dia. Bagaimana mungkin abang bisa mengenalinya?
Karena Agha baru tersadar dengan perkataan yang Ia ucap, Agha menjadi malu. Ia mengalihkan topik pembicaraan untuk menutupi rasa malunya.
“Abang ada perlu,”
“Hah? Bukannya abang bilang hari ini ngga ada perlu? Katanya hari ini free?”
Bodoh! Agha kira adiknya itu meminta mengantarnya hari jum’at. “Maksudnya kalau beberapa hari ke depan abang sibuk, ada perlu. Jadi ayo!”
“Hah? Yaudah ayo. Tapi abang belum siap-siap, Jesy tunggu diluar aja deh," Agha meletakkan tangan kanannya di kepala, semakin tidak benar dengan diri sendiri.
Agha membuntuti Jesy selama berada di perpustakaan. Kadang Agha sambil melihat layar ponselnya, seperti sedang menunggu pesan dan mengecek sesuatu. Sampai Ia menabrak seseorang karena terlalu terpaku dengan ponselnya.
Untuknya Ia tidak marah saat Agha meminta maaf, dari sana lah Agha kembali menyimpan ponselnya pada saku celana. Sikap Agha ini terlalu aneh dan mencurigakan bagi Jesy. Apa yang Ia lihat itu baru pertama kali baginya.
Setelah Jesy selesai meminjam buku yang diperlukannya, mereka pergi ke restoran kecil yang letaknya tak jauh dari sana.
Jesy memesan makanan berat karena Ia tak sempat sarapan saat pagi harinya jadi Jesy sangat kelaparan. Ia tak sanggup berbicara banyak dengan tubuhnya yang sudah lemas. Ditambah dengan sikap abangnya yang ngelantur haduh.
“Abang!” panggil Jesy.
Agha mengambil minuman yang Ia pesan. “Kenapa?” jawab Agha lalu menyeruput coklat panas.
“Abang pacaran?” tanya Jesy tiba-tiba, membuat Agha tersedak. Agha tiba-tiba tertawa garing.
“Jesy serius, bang..”
“Abang engga pacaran,”
Jesy mengernyit kebingungan. “Terus selama ini abang jadi bertingkah aneh maksudnya apa dong?” Agha bergeming.
Agha tertawa kecil. “Emang abang gitu Jes?”
Semakin aneh pada tingkah abangnya membuat dirinya menghembuskan nafas dengan kasar. “Pake nanya udah jelas-jelas juga. Yaudah deh, terserah abang mau cerita atau ngga ke Jesy, Jesy gapapa,” pasrah Jesy.
Mendengar perkataan adiknya, Agha menjadi merasa tidak enak padanya. Tapi Agha belum siap untuk menceritakannya.
**
Saat Jesy di sekolah, Ia mengajak Nana untuk makan bersama di kantin. Awalnya Jesy hanya ingin makan berdua karena ada sesuatu yang ingin Jesy tanyakan pada Nana.
Tapi karena keberadaan Gilby, Jesy memilih untuk menundanya. Gilby keukeuh untuk ikut makan bersama. Katanya takut Jesy malah berbuat yang membuat Nana terpojok. Padahal Jesy tidak merencanakan hal itu. Jesy menyesal dengan semua perbuatannya yang Ia lakukan terhadap Nana.
Itu terjadi juga karena emosi dan rasa cemburu Jesy terhadap Nana. Tapi karena Nana juga Jesy bisa sadar dan melawan dengan semua masalah yang di hadapi Jesy. Nana sendiri yang telah membuat Jesy menjadi lebih berani.
Jesy kira juga Nana akan membencinya kembali karena perbuatannya, namun nyatanya tidak. Nana sangat baik dan peduli padanya. Bagaimanapun juga Ia harus membalas semua apa yang Nana beri padanya. Tidak adil rasanya jika hanya Ia yang menerima kepedulian dan pengertian dari Nana.
Di jam mata pelajaran terakhir, Jesy bolos. Tidak sepenuhnya bolos sih, karena memang gurunya tidak ada, dan tidak ada tugas juga. Kesempatan juga baginya untuk mengobrol dengan Nana, mengingat kalau kelasnya saat ini sedang mata pelajaran olahraga.
Jesy duduk di kursi besi dekat dengan anak tangga, yang tak jauh dari lapangan sekolah. Melihat Nana berolahraga dengan serius, dia juga berinteraksi dengan teman-temannya dan terlihat begitu akrab.
Melihatnya berbincang sampai tertawa membuat Jesy yakin bahwa Nana orang yang sangat baik pada siapapun, dan Jesy baru menyadari itu. Ketika Nana tak sengaja melukai kepala teman yang berdiri di sampingnya karena terkena ayunan tangannya, Nana meminta maaf dan mengelus-elus kepalanya tak berhenti.
Mungkin Nana merasa sangat bersalah karena tindakannya. Namun temannya itu baik-baik saja, Ia tidak mempermasalahkannya.
Nana tersadar saat Jesy yang terus-menerus memperhatikannya, Ia segera menghampiri Jesy. “Kenapa kamu disini?” tanya Nana.
“Ngga ada guru,” jelas Jesy singkat.
Nana kemudian duduk di samping Jesy sambil menyender pada senderan kursi. Ia menatap langit sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
“Tumben kamu keluar kelas, biasanya kalau ngga ada guru tetep diem di kelas,” ucap Nana.
Jesy menghela nafas, Ia ikut bersender juga sambil menatap langit. “Sesekali Jesy ingin menjernihkan pikiran, sebentar saja. Jesy merasa lelah dan butuh istirahat,”
“Haha Nana paham, kamu pasti capek banget. Betul banget setidaknya kamu harus istirahat, walaupun sebentar. Kalau kamu ngerasa capek, istirahat aja gapapa. Kalau kamu ngerasa sedih, kecewa dan ingin nangis.Gapapa nangis aja atau marah juga gapapa. Tapi kalau marah gak boleh berlebihan ya hehe, takutnya kebablasan. Sewajarnya aja. Atau mungkin Jesy bisa ngelampiasin amarah kamu ke Nana, gapapa kok. Selama Jesy ngerasa lega, Nana gapapa. Nana takutnya kalau kamu ngelampiasin amarah kamu ke orang lain, malah dia jadi benci sama kamu,”
Padahal Jesy berniat kesini bukan sepenuhnya untuk itu. Niat awalnya untuk bertanya dan memastikan sesuatu pada Nana. Lebih baik sekarang Jesy menanyakannya, kalau keterusan mengikuti topiknya bisa-bisa Jesy jadi lupa haha.
“Jesy boleh tanya?” tanya Jesy ragu.
Nana mengangguk dengan matanya yang tertutup. “Apa Nana sekarang lagi dekat sama seseorang?”
"Maksud kamu Jes?" tanya Nana.
"Apa Nana sekarang lagi deket sama seseorang? Apa Nana inget setelah insiden ini terjadi? Apa Nana inget sesuatu tentang kota Bandung?" tanya Jesy bertubi tubi membuat kernyitan didahi Nana bertambah.