Blanc Carnations

Blanc Carnations
68. Bermain



Esoknya Rafa bersiap-siap dari pagi untuk bermain dengan Abel. Tidak dengan Adnan? Entahlah, dirinya tidak mendapat kabar tentang Adnan. Mungkin dia sibuk belajar. Tapi kadang juga tiba-tiba dia ada di lokasi tanpa bilang pada kami. Kali ini entahlah, lihat saja nanti.


Seperti biasa, sebelum berangkat Rafa makan terlebih dahulu. Menu hari ini adalah cumi saus tiram. Oh iya, kak Jesy sekarang keahlian masaknya sudah bertingkat. Di kesehariannya Rafa lihat kak Jesy tekun belajar memasak dengan menu yang belum pernah ia coba masak. Pernah seminggu yang lalu kak Jesy mencoba membuat donat tapi gagal karena rasanya tidak kuat. Dia mengidekan dengan menaburi donat itu dengan susu coklat bubuk dan gula bubuk. Walaupun rasanya tidak terlalu kuat tapi tidak apa-apa selama masih bisa dimakan. Rafa pernah dengar sebuah pepatah dari temannya bahwa kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda. Jadi jangan menyesal walaupun gagal dan berusaha lagi agar hasilnya lebih baik daripada yang sebelumnya.


Nathan sudah pergi lebih dulu karena mengurusi organisasi katanya. Ternyata siswa sma lebih sibuk daripada smp. Belum lagi dengan tugas-tugasnya. Tapi bukanlah lebih sibuk mahasiswa bukan?


Ponsel Rafa bergetar, notif pesan dari Abel.


Abel : Udah siap?


Fa : Udah


Abel : Abel jemput ke rumah ya. Aku berangkat~~


Fa : Oke, ditunggu


Rafa membalikan ponselnya. Ia pergi mencuci tangannya sambil membawa piring bekas makannya.


“Kapan berangkat?” tanya kak Jesy sambil membereskan meja makan.


“Bentar lagi mungkin? Rafa nunggu Abel jemput Rafa.”


Kak Jesy beroh ria dan berkata, “Kalau Rafa berangkat lebih lama dari kakak, jangan lupa untuk mengecek kembali rumah ya. Kunci juga jangan lupa. Kamu bawa kunci cadangan ya. Kunci utamanya di bawa kakang soalnya dan kemungkinan juga kakak akan pulang larut malam. Tapi semoga saja kakak bisa pulang cepat.” Jelas kak Jesy.


Rafa menunggu Abel datang dengan menonton acara tv di ruang tengah sambil makan es krim. Kak Jesy sengaja menyediakan stok es krim banyak di kulkas agar tidak usah pergi ke minimarket.


“Kakak pergi ya. Hati-hati Rafa, selamat menikmati waktu senangmu haha,” pamit kak Jesy sambil mengambil kunci mobil Agha.


“Iya kak. Hati-hati juga di jalan, have a nice day kak!”


“U too say!” Kak Jesy melakukan flying kiss pada Rafa. Dia pergi dan menutup pintu rumah dengan pelan.


Dan tak lama kemudian Abel sampai di depan rumah Rafa. Dia menyuruh Abel untuk masuk kerumah dulu sebentar sambil menunggu ia mengecek rumah dan menutup gorden kamar. Setelah itu mereka bergegas pergi. Abel sengaja pergi menggunakan mobilnya bersama supir ayahnya karena kebetulan juga Ayah pergi kerja sendiri.


Abel berencana bermain ke taman bermain di pusat kota karena sudah lama dirinya tidak pergi kesana. Keluarganya sibuk dan tidak sempat mengajak Abel pergi bermain. Makannya dia sangat excited bisa bermain hari ini bersama Rafa lagi hihii.


Sesampainya disana, Abel memberi kebebasan pada pak Rana untuk berkeliling supaya dirinya tidak merasa bosan.


Pertama-tama mereka melihat parade atau festival mini. Untung juga mereka datang dengan waktu yang pas saat parade itu baru dimulai. Mereka berseru melihatnya. Apalagi ini pertama kali bagi Rafa bisa bermain di tempat ini bersama temannya. Biasanya Rafa hanya sekedar melewati tempat ini bersama kakang, tapi tidak masuk bermain. Dan akhirnya Rafa bisa bermain disini. Seru!


Setelah itu mereka melihat-lihat ke stand yang berjualan berbagai pernak-pernik disana. Kami mencoba berbagai bentuk bando, tapi tidak membeli haha. Hanya dijadikan mengambil foto saja. Lalu kami mencoba berbagai permainan.


Sudah satu jam lebih lamanya kami bermain. Seharusnya bisa lebih cepat tapi karena mengantrinya sangat lama karena ya kita juga bermain di hari libur. Tentunya akan banyak pengunjung daripada hari biasa.


“Beli es krim yuk?” tawar Abel.


Mereka segera pergi ke stand es krim. Abel yang memesannya dan Rafa menunggu di sampingnya. Rafa membeli es krim rasa green tea, sedangkan Abel memesan rasa coklat. Baru saja Rafa berbalik sambil melihat es krim dengan senang, dia tak sengaja menabrak seseorang di belakang dan mengakibatkan es krim miliknya mengenai pakaian orang itu. Rafa terkejut, “Ah, ya ampun. Saya minta maaf, seharusnya saya hati-hati,” ucap Rafa bersalah.


“Duh! Hati-hati dong kalau jalan. Pakaian saya jadi kotor gara-gara adek,” ucap orang itu dengan kesal.


“Mohon maaf. Sekali lagi saya minta maaf. Biar saya yang bersihkan jas anda.”


“Tidak usah. Tidak apa-apa. Makanya lain kali hati-hati dong. Untungnya saya sudah selesai kerja.” ketus pria bertubuh besar itu.


“Terimakasih dan sekali lagi saya minta maaf.”


“Yaudah sana. Berisik saya dengarnya.”


Rafa jadi sangat merasa bersalah sekaligus malu juga karena pertama kali baginya dimarahi di tempat umum. Ucapan dan sikap orang itu masih terngiang-ngiang di kepala Rafa. Dia tipe orang yang kalau mendapat perilaku atau perkataan buruk pasti akan terngiang-ngiang di kepalanya sampai dia pusing sendiri. Akhir-akhir ini Rafa mencoba untuk melupakannya tapi tetap saja ia tidak bisa dan masih membekas. Kadang juga kalau Rafa sedang diam atau termenung, tiba-tiba ia teringat dengan kejadian atau ucapan buruk untuknya di masa lalu. Kejadian yang menimpa nya jadi terpikirkan kembali. Sangat sulit baginya agar pikiran seperti itu menghilang dari kepalanya. Itu saja dia butuh waktu lama dan tidak sepenuhnya hilang. Rafa duduk dengan banyak rasa bersalah juga malu di bangku kayu. Abel jadi merasa kasihan juga melihat Rafa dan menawarkan dia es krim miliknya. Tapi Rafa menolak karena dia sudah tidak mood untuk makan es krim.


Sadar tidak sadar Adnan datang ke lokasi lalu menghampiri mereka berdua dan bertanya pada Abel ketika melihat Rafa yang menundukkan kepalanya dengan cemberut. “Kenapa dia?”


“Kena sembur orang dewasa jangan diganggu,” bisik Abel.


“Ohh. Mau minum ngga?” tawar Adnan.


“Boleh deh.”


“Mau apa?”


“Abel mau jasmine tea aja deh, Nan. Kayak biasa di sekolah.”


“Oke.”


“Buat Rafa gimana?”


“Tenang.. Adnan tahu kok hoho,” jawabnya sambil membanggakan diri karena dirinya tahu apa minuman kesukaan Rafa. Dia segera pergi menuju stand minuman. Pesanan untuk Abel memang berbeda, itu termasuk minuman botol sama seperti di sekolah. Tapi untungnya juga ada yang menjual minuman itu disini. Sedangkan minuman untuk dirinya dan Rafa berada di stand yang sama. Dia membeli milk shake rasa vanilla untuk Rafa dan rasa oreo untuk dirinya. Lalu kembali ke tempat pertama mereka bertemu.


Adnan memberikan pesanan Abel padanya. Awalnya dia mau menyodorkan milk shake pada Rafa, tapi dia malah tertidur di pundak Abel. Adnan menempelkan milk shake pada pipi Rafa dan membuat dirinya terbangun karena merasa dingin.


Rafa terkejut dengan keberadaan Adnan. “Eh? Sejak kapan Adnan disini?”


“Beberapa menit yang lalu. Masih baru kok.” Adnan menyodorkan tangannya yang memegang milk shake rasa vanilla pada Rafa. “Nih untuk Rafa. Jangan cemberut lagi.”


“Lho sejak kapan Rafa cemberut?” tanyanya dengan menyerngit. Abel dan Adnan hanya tertawa kecil.


-o0o-