
Mama membantu Agha dan Nana membereskan sisa perayaan tadi. Anak-anak sekarang bagaimana? Mereka sudah terlelap di atas sofa.
“Maaf ya mama menginap hari ini,” ucap mama pada Agha.
“Santai aja kok, ma. Tadi begitu Agha cuma bercanda aja buat ngegoda Nana hihii. Justru Agha seneng mama menginap disini,” jawab Agha. Mama tersenyum, senang mendengarnya. Syukurlah Agha merasa tidak keberatan. “Oh iya, mama besok ikut kita berenang ya!” lanjutnya.
Mama langsung menolak, “Ngga, mama gabisa ikut Gha. Nikmati waktu keluarga kamu aja. Mama gapapa.”
“Lho, mama juga kan termasuk keluarga Agha. Jangan ngomong gitu ma, Agha jadi sakit hati dengernya.”
“Salah ngomong dong mama. Bukan gitu maksudnya, Gha. Intinya mama ngga bisa juga, gapapa kalian nikmati waktu kalian. Besok juga mama ada urusan.”
“Begitukah?"
Mama mengangguk. “Iya Agha. Mama cuman minta tolong jaga Nana ya, Gha,” ucap mama sambil menepuk-nepuk pelan bahu Agha. “Yaudah kamu tidur duluan sana. Ini biar mama aja yang nyuci. Tapi sebelum itu tolong suruh Nana minum air mineral dulu segelas. Biasakan.” Agha mengangguk mengerti, ia mengambil segelas air mineral dan membawanya ke kamar.
Agha membuka pintu pelan. “Na..” panggilnya lembut. Nana baru saja membenarkan posisi untuk tidur dia menoleh saat mendengar suara Agha. “Minum dulu segelas sebelum tidur.” Agha menghampirinya dan menyodorkan gelas yang dibawa pada Nana.
“Mama yang nyuruh ya?” ucapnya lalu meneguk air sampai habis.
“Siapa lagi kalau bukan mama. Dia khawatir lho, Na.” Jelas Agha. “Ngomong-ngomong, Agha gapernah ngingetin Nana buat minum air mineral sebelum tidur. Maaf ya.”
Nana memberikan gelasnya pada Agha. “Gapapa Gha. Nana selalu ingat kok buat minum air mineral. Cuman kalau lagi gafokus, Nana suka lupa. Dah ah, Nana mau tidur. Agha juga tidur sana biar besok bangun ngga kesiangan,” ucapnya sambil menjatuhkan tubuhnya pada ranjang. Agha membenarkan selimutnya lalu ia mengecup kening Nana dan mengucapkan selamat tidur dengan berbisik.
Agha menutup pintu kamar dan tiba-tiba mama bertanya, “Minumnya habis?”Agha terkejut dengan kehadiran mama. Dia mengangguk dan menunjukkan gelasnya pada mama. Membuktikan kalau gelasnya sudah tidak ada air putih lagi. “Syukur deh. Mama tidur duluan, ya. Selamat malam Agha,” ucapnya.
“Selamat malam ma.”
Sebelum Agha tidur, dia minum air terlebih dahulu menggunakan gelas Nana. Lalu dia mencucinya dan setelah itu ke kamar sebelah. Agha melihat Nathan tidur dengan posisi acak. Dia segera membenarkannya dan membenarkan selimutnya. Tidak lupa juga dia memberikan kecupan salam malamnya di dahi Nathan.
-o0o-
[Hari Agha Kecelakaan]
Paginya Nana yang bangun paling awal, dan beraktivitas seperti biasa juga. Nana tak lupa menyiapkan sarapan untuk Agha dan anak-anak.
Selang waktu beberapa menit, mama menjadi orang kedua yang bangun. Beliau meminta Nana untuk membuatkan teh hangat. Diusianya yang sekarang ini, mama sudah mulai mengurangi manis-manis. Mama lebih banyak mengkonsumsi makanan atau minuman yang manisnya murni, tidak ada resep tambahan. Tapi mama juga dapat mengatur kadar gulanya, dia dapat mengatur waktu tepat atau baik untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang manis seperti kemarin sore. Walaupun mama kemarin tidak banyak makan kue, katanya giginya sudah mulai terasa ngilu jadi sudah tidak kuat lagi.
Mama beristirahat di ruang tengah sambil menonton televisi. Sedangkan Nana sekarang tengah membangunkan Agha dan Nathan. “Selamat pagi Agha,” sapa Nana dengan memberikan senyuman manisnya pada Agha. Mata Agha membulat dan senyumnya merekah. Dia bangkit dari tidurnya dan mengecup dahi Nana. “Selamat pagi juga Nana,” balasnya. Setelah itu Nana membangunkan Nathan. Matanya sudah berkedip-kedip, dia berusaha membuka matanya lebar-lebar. Nana membantu Nathan bangkit dari tidurnya.
“Ayo sikat gigi dulu,” ajak Nana. Nathan bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Nana membantunya, tapi ditahan oleh pelukan Agha yang tiba-tiba. Nana menepuk tangannya yang melilit lehernya. “Ih berat! Sana ah sikat gigi dulu atau kalau bisa mandi dulu sana!” perintah Nana. Agha mengabaikannya, dia tidak menghindar. Nana mencubit pinggang Agha membuat Agha meringis kesakitan.
Nana menghela napas karena melihat selimut dan seprainya berantakan. Dia segera membereskannya setelah itu bergabung dengan mama di ruang tengah sambil menonton televisi.
“Nathan sudah bangun?” tanya mama. Nana mengangguk. “Syukurlah kalau begitu. Hari ini kalian jadi pergi berenang?” Nana mengangguk lagi.
“Lihat sitkon juga tapi ma. Do’akan ya hihi.” Mama tertawa kecil.
“Iya deh. Mama bentar lagi pulang kalau Rafa sudah bangun.”
“Buru-buru banget ma. Santai aja padahal.”
“Kamunya yang santai kali, mama sih ngga. Mama belum beresin rumah, kemarin juga kan mama buru-buru pergi kesini. Ngga sempat beresin rumah. Kayaknya sekarang rumah mama udah berdebu deh,” jelas mama.
Nana tertawa. “Mama lebay banget. Baru juga ditinggalin sehari, gabakalan sampai berdebu juga kali ma.”
“Eyy. Mama ngga kayak kamu yang anggap sepele banget ya, Na. Di rumah juga kan mama belum nyuci, nyetrika, membereskan kerjaan mama, belum lagi mama ngga inget kemaren masak atau nggak.”
Nana mengangguk-angguk, “Iya deh, iya. Nana kalah.”
“Ndaa..” panggil Rafa dari kamarnya, suaranya terdengar hingga ruang tengah. Nana langsung menghampirinya dan terlihat dia terduduk di atas ranjang dengan melihat-lihat ke berbagai arah. Namun saat dia menyadari kehadiran bundanya, dia menoleh dengan senyumnya yang merekah.
“Selamat pagi sayang Rafa,” ucap Nana dan member kecupan pagi hari di pipi Rafa. Dia mengucek matanya, Nana segera menghentikannya. “Jangan dikucek pake tangan sayang.” Nana menggendong Rafa membawanya ke ruang tengah. Dia menyerahkan Rafa pada mama karena akan menyiapkan sarapan.
Rafa duduk dipangkuan mama, matanya masih terlihat kosong. Dia belum bangun sepenuhnya haha.
Mama mengganti channel tv nya menjadi kartun agar Rafa menjadi semangat. Dia jadi fokus melihatnya. Dan tertawa ketika melihat ada hal yang lucu baginya.
Agha dan Nathan baru keluar dari kamar mandi. Nana melihat rambut Nathan masih berantakan dan basah. Dia segera membantu mengeringkannya. Agha malah sibuk mengeringkan rambutnya sendiri dibandingkan dengan anaknya. Terus selama didalam mereka ngapain aja bisa lama gini? Mana rambut Nathan masih belum kering juga.
“Sarapan dulu, udah Nana siapkan di meja.” Agha mengangguk lalu pergi ke meja makan. Nana masih mengeringkan rambut Nathan. Dia tertawa senang ketika handuk kecilnya digosokkan pada kepala Nathan oleh Nana. Segar juga ya melihat senyuman Nathan dipagi hari.
“Sekarang Nathan sarapan dulu ya sebelum berangkat sekolah.” Nathan mengangguk dan berlari menuju meja makan.
Nana kembali ke ruang tengah, ternyata Rafa sedang asik menonton. Mama yang menyadarinya segera bangkit dari duduknya. “Mama pamit pergi ya,” ucapnya sambil memakai tas selempangnya.
“Ngga mandi dulu ma?”
“Nanti saja di rumah,” jawabnya. Mama menghampiri Agha dan Nathan di meja makan. Dia berpamitan pada mereka. Agha mengajak mama untuk sarapan terlebih dahulu, tapi mama menolak. Katanya pengen beli ketupat.
Sebelum mama pergi, ia mengecup dahi Nathan dan Nana juga Agha mencium punggung tangan mama.