
Bukannya memberi solusi, Iby malah tertawa karena alasan ku. “Haha, ngga apa-apa kok, Na. Lagian ngga bakal lama di Bandungnya kok,”
“Kalo sebentar, terus di Bandungnya ngapain, dong?"
“Ada deh, nanti juga Nana tahu sendiri,"
"Yaudah, kita mau berangkat jam berapa? Biar Nana yang pesan tiketnya," tawar ku sambil menyiapkan uang untuk membayar tiket.
Iby menggeleng lagi. “Ngga usah. Iby udah pesan tiketnya kok, Tenang aja,"
“Yaudah ini bayaran untuk tiket Nana!”
Aku menjulurkan tangan, bermaksud memberinya bayaran ku. Dan lagi-lagi Iby menggeleng.
“Ngga usah, Na. tiketnya gratis kok. Ngga usah bayar. Soalnya ini ketentuan dari sananya,"
“Lho? Jadi dari sananya yang memesankan kami tiket, By..” Iby mengangguk.
“Terus kita kapan berangkatnya?”
“Sekarang?"
Iby berdiri sambil menggendong tasnya, lalu Ia menarik lengan ku karena waktunya sudah sangat terbatas. Kalau tidak cepat-cepat, kita harus mengantri lebih lama lagi. Huft malesin jadinya kalo kita harus mengantri lagi.
Walaupun biayanya ditanggung oleh orang yang disana. Nana juga ngga tahu apa itu, siapa dia, dan ada hubungan apa dengan Iby.
Ternyata Iby membawa ku ke panti jompo, dia datang karena diminta untuk mengunjunginya. Entahlah siapa yang memberikan perintah itu. Mungkin saja neneknya? Atau kakeknya? Bisa jadi diantara kedua orang itu.
Panti jomponya tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, bagi ku ini sangat cukup dengan kapasitas sedang. Fasilitas yang dimiliki panti jompo ini sangat luar biasa. Aku pun kagum melihatnya, lengkap tapi tidak terlalu lengkap banget.
Menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan para orang tua yang berada di tempat ini.
Karena aku terpaku dengan melihat tempat baru, aku tidak menyadari kalau ada seseorang yang menghampiri kami. Bahkan Ia sudah banyak berbicara dengan Iby.
“Na, perkenalkan, beliau nini Pina. Beliau yang membantu Iby banyak hal dalam musik. Maaf Iby baru bisa memperkenalkannya secara langsung hari ini. Ini juga pertemuan pertama bagi nini Pina,"
Aku mengerti dengan penjelasan Iby. Iya, dia pernah sesekali menceritakan kalau Ia memiliki motivator dalam bidang musiknya. Ternyata beliau. Ku kira ayahnya, ternyata bukan. Haha aku salah pengertian.
Aku segera menghampiri nini Pina, dan berjongkok karena beliau duduk di kursi roda. Tidak nyaman rasanya di pertemuan pertama, jika dengan berdiri di belakangnya sambil mengobrol topik acak.
Beliau dengan seksama menyentuh wajah ku dan mengamatinya. “Cantik,” ucapnya dengan memberikan senyuman manisnya.
Senyum ku merekah. “Terimakasih, Nini juga cantik!" mendengar ucapan Nana membuat nini Pina menyembunyikan wajahnya dengan tangan, haha lucu juga.
“Nini jadi malu ih, jangan gitu!”
Aku tertawa karena tingkah nini yang menggemaskan. Padahal sudah berumur, tapi Ia masih terlihat menggemaskan haha.
“Sini-sini, Na. Kita ngobrol-ngobrol. Biarin aja Iby keliaran disini. Kita ngobrol-ngobrol aja,” ajaknya sambil menarik baju lengan ku, seolah-olah Ia ingin aku mengikutinya.
Aku memberi isyarat pada Iby, “Nana ngga apa-apa," Iby mengangguk kemudian aku dan nini meninggalkan Iby disana.
**
“Terimakasih banyak, By. Akan aku usahakan agar Jesy ikut!”
**
Hari itu pun tiba, ada kejadian yang sangat disayangkan bagiku. Jesy tidak bisa menemani ku, karena sibuk dengan mempersiapkan lomba olimpiade. Beda ya sama aktivitas yang punya otak pinter. Berbeda dengan ku huft.
Tapi entahlah aku merasa senang juga, karena Agha bersedia untuk menemani ku menonton konser. Tanpa adanya penolakan terlebih dahulu, Agha langsung menyetujuinya. Hehe seneng banget Agha peka.
Kami berangkat dengan kereta pukul sembilan pagi. Walaupun di keterangannya acara dimulai pukul dua siang, aku tetap berangkat dari pagi. Karena aku ingin mengunjungi beberapa tempat dahulu, dan juga mama menitipkan untuk membeli bakpia khas Yogya. Karena itu juga aku harus berangkat dari pagi.
Tau kan kalau di toko bakpia selalu penuh? Nana paling sebel kalau harus menunggu antrian lama, apalagi sendiri. Kan kalau berdua, ada teman untuk mengobrol jadi aku merasa tidak terlalu bosan saat mengantrinya.
“Agha mau apa?” tanya ku, takutnya Agha kepingin sesuatu tapi dia ngga berani bilang ke Nana karena terus-terusan ajak dia ngobrol haha.
Agha menggeleng. “Es krim gimana?” tanya ku memastikan.
“Sesuka Nana aja,"
“Yaudah, kalau gitu ikut Nana ya. Kita makan es krim dulu. Mumpung lagi kesini, Nana kepingin makan es krim ke tempat yang Nana mau hehe..”
Aku terkekeh, Agha menjawabnya dengan mengangguk-angguk saja.
Kami duduk di dekat jendela, agar bisa memantau cuaca. Takutnya tiba-tiba saja hujan turun, padahal langitnya sedang cerah. Dan untungnya sama sekali tidak ada celah cahaya yang datang membuat ku khawatir.
Aku menyantap es krim dengan lahap. Tunggu! Mohon maaf, ini menjadi kebiasaan ku. Aku memakan es krim seperti memakan lauk pauk, udah kebiasaan dari kecil jadi tolong dimaklumi hehe.
Es krim punya ku kali ini sudah di ambang kehabisan, sementara es krim punya Agha masih terlihat banyak. Bisa ku duga Ia hanya memakannya beberapa sendok saja. Bisa di hitung jari, tapi aku tidak tahu pasti berapanya, karena tidak terlalu memperhatikan Agha memakan es krim.
“Kenapa es krim Agha masih banyak? Ngga suka sama rasanya?"
Agha menggeleng. “Kenyang,"
Aku tertawa, bagaimana bisa dia kenyang? Padahal baru beberapa suap Ia makan es krim. Agha aneh banget deh haha.
“Habisin aja!” Agha menggeserkan es krim miliknya pada ku.
“Serius?” aku memastikan kembali, takutnya dia bercanda dan tiba-tiba merebutnya kembali. Agha mengangguk yakin, aku terkekeh.
“Makasih banyak, Gha..”
Aku kembali menyantap es krim, kali ini milik Agha. Bisa-bisa tiap aku mengajaknya untuk beli es krim, dia kenyang lagi deh terus menyuruh ku menghabiskannya. Wah rencana yang bagus nih hoho.
Jam sudah menunjukan pukul tiga sore lewat lima belas menit, sudah beberapa penyanyi dan band tampil dengan album singlenya milik masing-masing group juga menyanyikan beberapa penyanyi tanah air.
Selang satu penyanyi dan dua band tampil, akhirnya band Iby tampil. Mereka menampilkan dua lagu miliknya dan tiga lagu dari penyanyi tanah air dan negara asing, tak lupa aku untuk memvideokannya.
Sebenarnya ini permintaan dari nini Pina, katanya ingin liat Iby tampil di atas panggung. Tapi sekalian juga kan untuk dijadikan kenang-kenangan? Haha.. Siapa tau dimasa depan aku tiba-tiba ingin melihat masa lalu ku.
Ah iya, aku diam-diam memvideokan Agha. Merekam wajahnya yang datar saat menonton konser, aneh banget haha. Tapi lucu juga aku lihatnya. Dia berdiri di tengah-tengah banyak orang yang sekarang sedang berteriak-teriak bernyanyi bersama mengikuti irama.
Tapi ternyata Agha sadar bahwa aku merekamnya, Ia segera menutupi kamera ponsel ku. Aku tertawa dan tidak menyerah untuk merekamnya, sayang kalau tidak di abadikan haha.