
Ah, aku belum memberitahu bagaimana caranya aku akrab kembali dengan Jesy. Itu terjadi karena ada hal yang membuat Jesy merasa ingin pergi dan menghilang dari bumi. Awalnya aku tidak tahu masalah apa yang terjadi padanya, hingga dia bisa sampai memikirkan hal gila.
05 Januari 2012
Kami mendapatkan jadwal libur sekolah tahun baru selama satu minggu, tentunya dari tanggal 1. Dan juga, teman-teman ku ingin mengadakan acara menginap di villa untuk seru-seruan. Villa yang akan kami kunjungi yaitu villa milik keluarga Rere yang letaknya dekat dengan pantai. Dia salah satu teman kelas ku, orangnya benar-benar mewah. Namun sikapnya tidak sombong, melainkan Ia baik pada semua orang, walaupun pilih-pilih.
Ya wajar sih karena ada beberapa orang yang memanfaatkan Rere dengan sengaja mendekatinya. Untungnya orang itu bukan di kelas ku, dan Rere juga sangat beruntung bertempat dikelas ini. Teman-teman kelas kami kebanyakan memiliki sifat ramah dan sederhana.
Tidak memandang orang-orang berdasarkan fisik maupun harta. Kelas ini dipenuhi dengan orang-orang yang terbuka. Makanya jangan heran, kalau tiba-tiba kami mengadakan acara yang mendadak.
Paginya aku bersiap, mengemasi beberapa pakaian ganti dan juga makanan cemilan. Untuk makanan beratnya tidak kami bawa, katanya Rere sudah menyediakan makanannya. Padahal kami merasa banyak merepotkan Rere, namun baginya tidak masalah selama untuk anak-anak kelas kita.
Kami merasa sangat berterimakasih banyak pada Rere, telah menyediakan tempatnya juga menyediakan makanannya. Entah itu hanya makanan berat saja atau mungkin ada yang lain.
Ponselku bergetar, Iby.
“Halo?”
"Iby jemput ya?"
“Oke, Nana tunggu. Eh iya! Nana boleh minta tolong?”
"Kenapa, Na?"
“Sekalian Iby keluar, boleh tolong belikan Nana sunscreen? Sama obat penambah darah, sama obat maag juga hehe,” jelas ku dengan tertawa kecil.
"Hmm oke. Kebiasaan deh, makanya makan yang teratur Na. Susah banget ni anak di aturnya, tante suka ngasih Nana makan gak sih?"
“Dih gak sopan banget nih nyalahin mama, gaboleh gitu By. Mama suka ngasih aku makan kok. Akunya aja yang… ya gitu deh.."
"Serah deh, Iby capek,"
“Yaudah hati-hati dijalan, By! Nana tunggu!” setelah selesai menelfon, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Iby yang memiliki sikap cool, Ia juga bisa ngomel-ngomel. Biasanya lebih sering mengomeli ku. Aku sadar kalau aku orangnya memang kadang suka susah diatur, tapi ya aku kurang suka kalau bukan aku sendiri yang melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak ku.
Aku pun sudah bersiap untuk pergi, namun sebelum itu mama menyuruh ku untuk makan terlebih dahulu. Kebetulan Iby sudah sampai, dan kita segera makan bersama. Alasan mengapa Iby menjemput ku lebih awal, karena niatnya ingin makan di rumah ku. Emang gatau malu ni orang.
Perjalanan dari rumah ku menuju villa Rere cukup jauh. Rencana awal kita janjian terlebih dahulu lalu pergi bersama menuju villa Rere, namun nyatanya Iby ingin berangkat terlebih dahulu. Katanya takut hujan dan malas kalau harus menunggu orang datang ke tempat janjian.
Ya, Iby tipe orang yang seperti itu. Jadi teman-teman bisa memahaminya dan tak heran kalau setiap acara ke tempat jauh, aku dan Iby sudah sampai duluan.
Kurang lebih sekitar dua jam lamanya aku dan Iby bisa sampai di tempat tujuan.
Kami disambut oleh saudaranya Rere, katanya Ia singgah sebentar untuk melihat keadaan villa juga ingin melihat pantai dan orang yang membantu Rere.
“Kalian temannya Rere, ya?” tanyanya.
Kami mengangguk. “Iya om betul,"
“Syukurlah Rere memiliki teman,” ujarnya sambil menghembuskan asap rokok. Kami tersenyum singkat.
“Karena sudah ada kalian disini, saya tinggal ya. Rere tadi pergi keluar sebentar, tunggu saja. Pasti bentar lagi sampai," pamitnya, aku pun mengangguk.
“Terimakasih banyak om!"
Karena aku bosan duduk terus di ruang utama, akhirnya aku berkeliling di villa. Tempatnya sangat bagus, dilihat dari interiornya sangat sederhana dan minimalis. Tidak banyak pajangan.
Kenyamanan disini sangat terjangkau, sejuk sekali. Aku bahkan tidak merasakan rasa panas saat memasuki villa. Walaupun villa ini letaknya dekat pantai, tapi didalamnya terasa sejuk. Aku sangat mengapresiasi dengan seluruh interiornya, Rere pintar memilih design pada villanya.
Walaupun sebenarnya aku tidak tahu pasti siapa yang memilih designnya haha.
Aku menghampiri Iby seperti penguin kecil. “By, Nana mau jalan-jalan bentar keluar ya," pamit ku.
“Jangan lama-lama!" jawab Iby sambil memainkan game di ponselnya. Aku berdecak, lalu segera keluar villa.
Aku ingin melihat pemandangan pantai disiang hari, ternyata cukup panas. Pantas saja tidak banyak pengunjung yang mampir di pantai. Tapi tidak apa-apa, aku malah bersyukur tidak banyak orang yang datang agar aku bisa menikmati pantai dengan santai.
Karena dengan banyak orang itu membuat kepala ku penat, aku orangnya tidak tahan dengan melihat banyak orang. Bisa dikenal aku memiliki darah rendah.
Oh iya, warga disini juga ramah-ramah. Mereka sangat terbuka pada pengunjung. Aku sangat menyukainya. Lagi-lagi aku memuji Rere, dia benar-benar yang terbaik dalam memilih lokasi untuk mendirikan villanya disini.
Namun saat hendak membuka pintu gerbang villa, sekilas aku seperti melihat Jesy. Entah perasaan ku saja atau tidak, tapi dari rupa dan cara berjalannya orang itu menyerupai Jesy. Ada yang membuat ku janggal, pria disebelahnya, aku merasa mengenalinya. Entahlah, mungkin hanya perasaan ku saja.
“Nana kemana aja sih, kami cariin dari tadi tauuu!” sahut Mahen.
Aku terkekeh. “Iby ngga bilang ke kalian?”
“Dia tidur waktu kita datang,” jawab Rere. Duh Iby bener-bener nih, temen-temen jadi salah sangka deh.
Waktu menunjukan pukul delapan malam, kami berencana untuk membuat makan malam tambahan. Seperti jagung bakar, daging bakar, dan ubi bakar. Makanan ubi ini sebenarnya bukan dari Rere, Mahen sendiri yang berinisiatif membawanya. Ia bilang bahwa ibunya menyuruh membawa ubi, karena ubi yang dipanennya sudah matang banyak secara bersamaan. Maka dari itu Ia bawa.
“Terimakasih banyak mahen udah bawain ubi!" ucap ku.
Mahen tertawa. “Sama-sama Na. Kalau kalian ingin ubi, jangan sungkan untuk hubungi mahen ya! Tenangg.. Mahen siap sedia untuk memberi kalian ubi!” jawabnya dengan membanggakan diri, kami tertawa melihat tingkahnya.
“Na!" panggil Rere, aku pun menoleh pada sumber suara tersebut.
“Temani aku membeli sesuatu yuk!" bisiknya, akupun mengangguk dan bersiap diri.
Aku mengenakan jaket terlebih dahulu karena tahu udara malam di daerah pantai itu cukup dingin dan tidak baik untuk kesehatan tubuh.
“Memangnya Rere mau beli apa?” tanya ku penasaran.
“Rere mau beli obat, Na!"
“Kamu sakit?”
“Bukan aku, tapi…” aku paham apa yang dimaksud Rere, dan ber-‘oh’ ria.
Tanpa menyebutkan nama, aku sudah mengetahuinya, haha lucu sekali.
Ditengah perjalanan pulang menuju villa, apa yang aku lihat siang tadi ternyata benar. Jesy ada disini. Ia terlihat seperti sedang dimarahi oleh seseorang, lalu orang itu menampar keras pipi Jesy. Suaranya terdengar cukup jelas sampai sini dan membuat Rere tersadar.
“Siapa yang menampar orang malam-malam begini?”
“Haha tidak ada, ayo pulang. Teman-teman pasti sudah menunggu,” aku menghalangi pandangan Rere.
“Aku benci ibu!” teriak Jesy lalu meninggalkan orang itu yang disebut ibunya.
Rere merasa risih dengan suaranya, aku pun berusaha untuk mencegah Rere agar tidak mengetahuinya lebih jauh. “Haha ayo ayo ke villa. Rere duluan saja, Nana ada urusan sebentar tolong sampaikan ke yang lain. Terimakasih!” pamit ku.
Ia berlari menuju pantai membuat pikiran ku menjadi memikirkan yang tidak-tidak. Segera saja aku menghentikan langkah Jesy dengan menarik tangannya.
“Hei!” teriak ku.
Terlihat matanya yang memerah dipenuhi dengan air mata, begitu pun dengan pipinya. Melihat keadaan Jesy yang berantakan membuat ku sedikit sakit hati, aku lantas mengobati luka Jesy di telapak kakinya karena Ia bertelanjang kaki. Lalu memakaikannya sendal yang telah kubeli di minimarket terdekat.
Jesy bergeming sampai sekarang, sepatah pun Ia tidak mengeluarkan kata. Aku menghargainya untuk tidak bertanya, biar Jesy yang menjelaskannya saat siap.
Saat aku membenarkan rambut Jesy, Ia lalu berkata. “Ibu jahat, Na. Dia seperti menjual ku pada orang lain,” hati ku retak seketika saat mendengarnya.
Jesy menatap ku. “Apa Jesy murahan di mata ibu? Apa Jesy terlihat seperti barang di mata ibu?” Ia kembali mengalihkan pandangannya sambil mengusap air matanya dengan sembarangan.
“Jesy udah nolak dengan halus permintaan ibu, tapi Ia memaksa ku untuk dinikahi dengan anak dari pemilik perusahaan besar. Katanya ingin menjalin hubungan antara perusahaan ibu dengan perusahaannya, ya tapi Jesy gak mau! Jesy ngga terima kalau masa muda Jesy terputus karenanya! Dan ternyata pria yang akan ku nikahi itu adalah orang yang melakukan pelecehan pada ku waktu Jesy pulang dari perpustakaan,” hati ku semakin sakit mendengar penjelasan Jesy.
Bahkan aku sendiri tidak tahu Jesy mengalami kejadian itu, karena setiap hari saat di sekolah Ia terlihat biasa saja.
“Jesy capek, Na sama semua permintaan ibu yang ini itu. Rasanya Jesy cuma jadi barang di keluarga. Ku kira ayah akan menolak rencana ibu, tapi dia satupun tidak menolaknya. Ayah yang ku percaya dari kecil, Na! Dia menjadi seperti ini, Jesy merasa ditinggalkan sama ayah yang ku percaya dari kecil,”
“Abangku juga sama aja!”
Abang? Sejak kapan Jesy punya abang?
“Jesy kesel sama abang! Dia selalu ngelindungin Jesy, tapi ngga gitu caranya! Tubuh abang sekarang udah terlihat lemah, Jesy ngga sanggup liatnya, Na. Abang digunakan ayah untuk melampiasi amarahnya. Tiap Jesy dengar cambukan yang melayang di tubuh abang, teriakan abang membuat Jesy merasa amat sangat bersalah sama abang,” jelas Jesy dengan menangis tersedu-sedu, aku memeluk Jesy agar dirinya tenang.
“Jangan salahkan diri sendiri, Jes. Kamu boleh marah, tapi jangan sampai membentak ibumu, biar begitu juga Ia satu-satunya yang melahirkan mu. Coba jelaskan alasan mu dengan jelas pada ibumu. Beritahu dia mengapa kamu menolaknya, jelaskan apa yang kamu mau untuk masa depan kamu. Apa yang kamu inginkan untuk kebahagiaan mu sendiri. Aku yakin ibumu pasti mengerti, tapi kamu harus menenangkan diri dulu. Jangan menyelesaikan masalah dengan amarah Jes. Kau tahu sendiri, abang kamu rela melindungi mu. Ia merelakan tubuhnya, tolong hargai dia Jes. Kuharap semua ucapan ku bisa membantu mu, jadi tolong tenangin diri terlebih dahulu!"