
Aku membuka pintu kamar Agha, terlihat ada kotak bekal yang tersimpan di atas meja kecil. Sebuah note yang bertuliskan, "Jangan salah paham, Iby bawakan makanan karena perintah dari ibu."
Dia khawatir sama kondisi kamu. Ibu ngga sempet ngunjungin kamu karena sibuk, jadi dia menitipkan ini.
Tetap sehat ya, Na.
Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan ibunya Iby. Apa dia baik-baik saja? Ku harap begitu. Lantas Iby kemana jika Ia yang membawa bekal ini?
Sebuah notif pesan masuk.
Ibyyyy. "Maaf Nana, Iby ada keperluan mendadak, jadinya tidak bisa menunggu mu lama disana. Itu pemberian dari ibu, dimakan ya,"
Aku berterimakasih dalam hati. Terlalu banyak ucap terimakasih pada Iby, jadinya aku tidak tahu lagi harus membalasnya bagaimana. Mereka selalu menolak, jadinya aku semakin tidak nyaman kalau terus-terusan begitu. Kuharap Iby tidak melakukannya lagi.
Berhari-hari aku melihat kondisi Agha rasanya jadi kebal. Perasaan ku sudah terlalu didominasi dengan rasa lelah akibat sibuk dengan keseharian ku yang aku lalui sekarang. Tidak lain bekerja, mengurus anak-anak, juga menjaga Agha. Harapan yang aku damba-dambakan juga masih belum ada kemajuan hingga saat ini. Lelah. Boleh tidak kalau aku egois? Sekali saja.
Nana udah ngerasa dunia terlalu menekan Nana, banyak serangan-serangan yang tertuju pada ku. Mereka dengan mudahnya memandang ku tidak berguna tanpa tahu bagaimana sulitnya aku menghadapi kehidupan saat ini.
Mereka juga dengan mudahnya menurunkan harga diri ku, mengkritik ku dengan alasan yang tidak masuk akal. Semua tindakan dan omongan mereka terus terngiang dalam benak ku, hingga aku sendiri muak.
Sejak kecil hingga aku sma, aku sangat sensitif dengan perkataan dan tindakan yang orang-orang lakukan pada ku. Dan mencoba untuk mengerti, memahami, dan menerima itu sulit. Tidak semudah yang mereka bayangkan.
Tapi saat aku mengenal Agha, aku jadi bisa belajar bagaimana caranya untuk mengerti, memahami, dan menerima. Aku juga mencoba untuk merelakan. Dari cerita Agha, bahwa merelakan itu sebenarnya sulit. Masih ada saja perasaan yang egois, dan merasa tidak adil dalam dirinya. Terlalu memikirkan kesalahan diri sendiri.
“Agha… boleh ngga Nana nyusul Agha?” tidak ada jawaban, hanya ada ruangan yang sunyi.
“Egois ngga sih Nana hidup bahagia sendiri disini? Agha pasti sirik ya Nana bisa kemana-mana, main sama Rafa juga Nathan. Tapi tau ngga sih, Gha? Aku ngerasa anak-anak bosen main sama Nana, mereka pengen main sama kamu tau. Padahal Nana udah bilang, kalau Agha lagi istirahat dulu.
Tetep aja anak-anak keukeuh pengen main sama kamu, Gha. Padahal juga awalnya aku niat buat ngga kasih mereka es krim. Kamu sendiri kan yang bilang jangan kasih anak-anak es krim dulu. Nana minta maaf ya, ngga bisa nepatin janji Agha. Cuma jalan itu aja supaya anak-anak bisa patuh sama Nana. Haha repot banget deh. Oh iya, Gha, waktu itu Rafa sama Nathan ada kegiatan dari sekolahnya.
Seingat ku mereka berkunjung ke suatu tempat rekreasi yang sejuk gitu. Nana lupa tempat pastinya disana. Kata Iby, anak-anak seneng banget disana. Banyak mainan anak-anak juga disana, padahal tempatnya sejuk ya haha. Tapi kalau sekarang, orang yang menjaga tempat tersebut pasti menyediakan tempat bermain sih, ya.
Rafa cerita banyak hal waktu dirinya disana. Dari dia katanya rebutan naik ayunan. Nathan nuga jahil sama Rafa gara-gara nyembur Rafa pakai air.
Haha aku kebayang sama ekspresi muka sebelnya Rafa gimana, pasti gemes. Jadi keinget waktu ulang tahun Rafa, dia sebel karena cerinya di ambil Nathan haha..” cerita ku panjang sambil mengeluarkan ponsel dan membuka galeri, mencari foto anak-anak dari kiriman Iby.
“Iby foto anak-anak gemes lho, Gha. Liat deh!" aku menunjukkan foto anak-anak pada Agha, walaupun aku tahu kalau Agha tidak bisa melihatnya.
“Seseneng itu mereka main di luar?" senyum ku merekah saat melihat foto anak-anak.
Saat aku menggeser foto dalam galeri, terlihat ada foto aku dan Agha. Jepretan terakhir sebelum Agha koma akibat kecelakaan.
“Gha.. kapan kita bisa ke tempat ini lagi ya?” aku memandang foto itu sambil mengingat kejadian saat itu.
Aku juga bersyukur nenek masih ada di rumah, beliau kuat banget. Masih bisa mengerjakan pekerjaannya, walaupun tidak sesering biasanya. Tapi tetap saja mama dan aku menghawatirkannya. Kami udah menasehati nenek agar tidak banyak melakukan pekerjaan berat, takutnya nenek kelelahan.
“Agha cepetan bangun yuk, kita ke kebun stroberi lagi.. Nana pengen kesana lagi. Pengen ngambil stroberi lagi bareng sama kamu.. Tapi Nana mau coba bawa anak-anak sekarang, semoga aja mereka ngga kumat jailnya. Makannya ayok cepetan bangunn..”
Aku menenggelamkan kepala, mencoba untuk menahan tangis. Terlalu banyak sekali pikiran dalam benak ku. Lelah dengan kehidupan yang aku jalani sekarang. Andai saja aku bisa menggantikan Agha.
Pintu kamar terbuka, seorang suster dan dokter masuk untuk memeriksa keadaan Agha. Hasilnya tetap nihil. Mereka berkali-kali mengingatkan ku untuk mengajak Agha mengobrol. Sudah ku lakukan semuanya sampai aku sendiri bingung harus bercerita apa lagi.
“Hana juga harus jaga kesehatannya. Tapi sebelumnya, lebih baik kita periksa dulu,” ucap dokter.
Aku menurutinya untuk meriksa keadaan ku di ruang konsul.
“Darah Hana sudah banyak berkurang. Apa kamu sering lupa makan?” aku mengangguk kecil.
“Kalau makan biasanya lauk pauknya apa?”
“Kadang Nana lebih sering makan onigiri," aku mengira hanya dengan makan onigiri, kesehatan ku tetap terjaga. Karena kan terbuat dari nasi juga, hanya saja porsinya tidak terlalu banyak.
“Apakah ada orang lain atau keluarga kamu yang membawakan bekal untuk Hana?” aku mengangguk.
Memang mama dan Iby kadang suka mengirimi ku bekal, tapi kadang aku tidak memakannya sampai habis. Yang penting asal masuk dalam perut saja, haha.
“Gizi Hana sekarang semakin menurun,” ucap dokter.
“Kalau begitu saya cek tensi Hana!” aku menaruh tangan kana nku di atas meja dokter, lalu Ia segera menensi ku.
Entahlah aku pasrah.
“Hana juga kurang berolahraga, saya harap Hana menyempatkan waktu untuk berolahraga. Tidak masalah walau hanya sebentar, tolong juga untuk banyak makan dan minum zat besi ya. Saya khawatir dengan keadaanmu yang sekarang,” jelas dokter, aku hanya mengangguk saja.
“Baik, kalau begitu boleh dipersilahkan untuk kembali,"
“Terimakasih!" aku segera kembali ke kamar Agha, ternyata ada mama Agha yang datang menjenguk.
Beliau tersenyum pada ku. “Halo Nana..” sapanya.
“Selamat sore, ma,” balas ku.
“Mama ingin melihat Agha sebentar sebelum pergi ke Yogyakarta," jelas mama Lina.
Aku mempersilahkan mama Lina untuk memanfaatkan waktunya, namun saat aku keluar dan baru saja menutup pintu kamar. Aku terjatuh tak sadarkan diri. Haha aku tidak tahu siapa yang akan menolong ku, Nana pasrah.