Blanc Carnations

Blanc Carnations
36. Cemburu



Ketika aku hendak memilih beberapa bumbu dapur, ada seorang pria dewasa yang berada di lorong yang sama. Diapun sedang berfikir untuk lebih baik membeli yang mana. Tapi anehnya pria itu tidak pergi dan aku merasa ada hal yang tidak beres karena Nathan tidak bisa diam. Dia bahkan tertawa dan teriak. Aku segera menoleh, ternyata Nathan sedang bermain dengan pria itu. Ketika aku berbalik untuk melihatnya, pria itu tertawa dan berkata, “Haha maaf, kak. Anaknya sedaritadi memperhatikan saya.”


Aku tersenyum dan berkata, “Gapapa.”


“Usianya berapa nih ngomong-ngomong?”


“Baru delapan bulan lebih dua minggu haha,” jawabku canggung. Oh, iya Agha tidak berada disampingku karena aku menyuruhnya untuk meluangkan waktunya sendiri, siapa tahu ada beberapa keinginan Agha yang ingin dibeli tapi malu untuk diungkapkan padaku.


“Wahhh. Gemes banget anaknya kakak.”


Aku tertawa. “Haha siapa dulu dong? Ibunya!” dengan percaya diri aku menjawab seperti itu. Tak tahu malu, bisa-bisanya aku melakukan itu di depan orang yang tidak ku kenal bahkan baru pertama kalinya juga kami bertemu. “Eh maksudnya iya haha dia gemes.” Aku menyangkalnya dengan canggung karena malu. Tak lama kemudian Agha datang menghampiriku dan mengajakku pergi dengan tangan kirinya memeluk pinggangku.


“Saya pergi duluan.” Bisikku pada pria itu.


Feelingku tidak enak, Agha memasang muka sebal. Untuk mengganti suasananya, aku menawarkan Agha untuk makan bersama di resto terdekat setelah berbelanja selesai. Dia tersenyum setuju. Huft untunglah, aku tahu kalau Agha pasti salah paham. Tapi bahaya juga kalau Agha merasa sebalnya dengan lama. Bisa bingung sendiri aku beberapa lama kedepannya.


**


Sebelas bulan lebih aku membesarkan Nathan. Tak terasa juga Nathan bisa tumbuh secepat ini. Ingin rasanya kembali saat Nathan masih menjadi bayi kecil tanpa melalui rintangan dan beberapa masalah yang menimpanya, tapi itu sangat tidak memungkinkan.  Gigi Nathan juga sudah tumbuh walaupun belum sepenuhnya, tapi cukup kuat untuk mengunyah.


Sudah beberapa orang yang menjadi saksi dengan pertumbuhan Nathan, begitupun aku dan Agha. Waktu berputar sangat cepat. Kita sudah melalui banyak hal dan bisa sampai sini. Cukup lega juga Nathan bisa tumbuh begitu cepat. Tahap selanjutnya adalah mengajarkan Nathan bagaimana berbicara, melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masa pertumbuhannya. Setelah itu aku mengajarkan Nathan ke tingkat anak-anak, remaja sampai dewasa. Kalau aku sempat haha. Tapi semoga saja aku dan Agha menjadi saksi pernikahan Nathan di masa depan, kuharap sempat.


**


Selang selama satu tahun lebih satu bulan, aku dikarunai lagi dengan mengandung seorang anak. Sudah sekitar satu bulan lebih. Padahal aku tidak merasakan apa-apa selama itu, tiba-tiba saja saat aku hendak pergi untuk pekerjaan dengan menggunakan travel, aku merasa sangat mual dan ingin muntah. Berkali-kali aku meminta sopir untuk menepi sebentar, karena tidak enak kalau aku muntah didalam mobil membuat orang lain terganggu. Saat itu aku pergi sendirian karena keperluannya juga hanya sebentar, pulang-pergi.


Aku tidak ingin membuat klienku tidak nyaman, jadi aku utamakan dulu dengan mengurusi klien. Untungnya juga tidak memakan waktu banyak, hanya sekitar dua jam setengah. Namun setelah selesai klien meminta waktuku sebentar untuk berbincang dengannya hanya berdua. Tapi aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa mualku, membuat diriku hilang sadar di toilet seusai muntah. Yang merasa paling aku tidak nyaman adalah ternyata klienku sendiri yang membawaku ke rumah sakit.


Aku terus menerus meminta maaf padanya karena telah merepotkannya. Dia tidak keberatan, karena dia juga merasakan hal yang sama denganku. Lebih tepatnya klienku seorang single mom, jadi mengerti. Dan juga aku memiliki pekerjaan yang baik dalam mengatasi suatu hal juga cekatan membuatku menjadi poin plus padanya. Aku sangat bersyukur memiliki klien sebaik beliau, aku juga berusaha untuk bisa membalas kebaikannya.


“Bu Hana sedang mengandung dan kandungannya sekarang sudah enam minggu.” Jelas dokter bidan.


Setelah pengecekan dan berbincang sebentar dengan klien, aku tak lupa untuk memberitahu Agha. Menunggu telefonnya di angkat, beberapa menit kemudian Agha mengangkatnya.


[Kenapa Na?]


“Agha…” ucapku lirih menahan tangisan.


[Ada apa? Kenapa? Kamu kenapa, Na?]


“Aku hamil!” teriakku tiba-tiba. Perasaan senangku sudah tak bisa kutahan lagi. Aku sebenarnya tidak mengharapkan apa-apa, tapi Tuhan yang telah memberiku karunia. Aku juga merasa bersyukur, Nathan tidak sendirian. Selain itu bukan hanya aku saja yang harus Nathan lindungi, tetapi dia juga harus melindungi adik kecilnya. Sudah kewajiban seorang kakak sebagai tameng untuk adiknya. Aku jadi tidak sabar melihat si kecil ini tumbuh besar bersama kakaknya. Haha dengan membayangkannya saja sudah menggemaskan, apalagi kalau sampai terjadi.


Di sebrang sana Agha kehilangan fokusnya, ia tidak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan. Tidak salah? Nana hamil?! Padahal Agha juga tidak mengharapkan apa-apa, tapi nyatanya Tuhan memberikan kabar baik pada keluarga kecil ini. Agha sangat bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan. Ia pasti akan merawat, melindungi, dan menjaga semua karunia dari-Nya. Anak-anak menjadi salah satu kunci kebahagiaan keluarga kecil Agha. Ia juga jadi tidak sabar ingin melihat si kecil bermain dengan Nathan, pasti akan terlihat menggemaskan haha. Agha tidak bisa berkata-kata apalagi, ia sudah terlalu tenggelam dengan perasaan kesenangannya. Sungguh tidak disangka!


Aku kembali ke Jakarta menggunakan travel. Agha akan menjemput Nana di tempat travelnya. Untungnya diperjalanan tidak begitu macet dan cukup lancar jadi kami sampai dengan waktu yang lebih cepat. Setelah aku turun dari travel menuju ke tempat parkiran umum, aku melihat Agha berdiri dengan menyenderkan badannya pada mobil. Aku segera menghampirinya dengan mengendap-ngendap, lalu menusuk jari telunjukku ke lengan kiri Agha.


Ia menoleh dengan memberikan senyum manisnya membuat senyumku ikut merekah. Agha memelukku dengan erat. Aku bisa merasakan Agha sangat senang, ya rasanya seperti campur aduk. Dia memelukku tanpa henti, membuatku sedikit terasa sesak. Mau tidak mau aku melepasnya, yang ada ntar malah akan terjadi apa-apa dengan bayiku haha. Agha meminta maaf karena terlalu senang. Ya wajar juga sih yah aha. Dia mengajakku untuk makan bersama di luar, namun aku menghawatirkan dengan kondisi Nathan. Agha bilang dia ada di mobil tapi lagi tidur karena dia sebenarnya sudah mengantuk saat memaksa ingin menjemputku haha.


**


"Sudah ku bilang aku benci dia Ibuu!"


Wenda tak henti hentinya menolak ajakan sang Ibu yang sedari gadi meminta anaknya di pertemukan dengan saudara se ayahnya.


"Tapi nak.."


"Jika Ibu masih memaksa ku, aku pastikan semua rencana kita akan hancur sampai disini!" Teriak Wenda lalu berjalan keluar dengan raut muka di tekuk.


Sang Ibu hanya bisa menangis, dia bingung bagaimana cara membuat anaknya mengerti jikalau dia tidak pernah mrnginginkan rahasia besar ini terus memakan korban.


"Tuhan.. bagaimana caranya aku menjelaskan pada dunia? Jika Wenda juga merupakan salah satu darah dari keluarga Getana." Adu Sang Ibu melihat ke arah langit langit rumahnya.