
Agha segera membasuh diri. Harusnya bersama Nathan, tapi dia masih tidur.
Diwaktu yang sama, mama menyiapkan beberapa roti yang Agha beli ke atas meja ruang tengah. Awalnya mama akan menyiapkan kuenya, tapi Agha menolak. Lebih baik nanti saja seusai Agha membasuh diri dan sudah siap. Toh Nathan juga masih belum bangun, jadi tunggu dia bangun saja. Mungkin sebentar lagi.
Nana tengah asik menonton televisi sambil ngemil cemilan kesukaannya. Dia melirik mama menaruh roti dan bertanya, “Kapan mama beli roti?”
Mama duduk di samping Nana sambil menyeruput teh hangatnya lalu meletakan kembali di atas meja, “Agha yang belikan.” Nana berseru ketika dia melihat rotinya dengan dekat, ada roti kesukaannya.
“Makasih banyak Agha!” teriak Nana sambil membuka plastik rotinya.
Mama memukul bahu Nana, “Jangan teriak-teriak. Kamu kan masih pemulihan gimana sih!” Nana meringis kesakitan dan terkekeh.
Agha keluar dari kamar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. “Kenapa Na?” tanyanya.
“Makasih banyak buat rotinya,” ucap Nana sambil mengacungkan rotinya yang kini sudah tersisa setengah lagi. Agha tersenyum dan mengangguk kecil. Dia menuju lantai atas untuk menjemur handuknya lalu kembali dan ikut berkumpul di ruang tengah. Belum juga Agha duduk di sofa, mama menyuruh Agha untuk membangunkan Nathan. Dia membuka pintu kamar, terdapat Nathan yang sudah membuka mata tapi dia masih berbaring. Nathan menatap Agha kosong, mungkin sedang mencoba sadar sepenuhnya. Agha membantunya bangun.
“Masih ngantuk?” tanya Agha dengan duduk di sampingnya dan mencium kepala Nathan. Nathan menggeleng. “Ayo kita kasih kejutan buat bunda.” Nathan mengangguk lemas.
Agha menggendong Nathan dan membawanya keluar kamar lalu menuju ke dapur untuk menyiapkan kuenya. Ketika Nathan melihat ayahnya mengeluarkan kue dari kulkas, senyumnya merekah dan jingkrak-jingkrak kegirangan. Agha mengisyaratkan untuk tidak berisik agar mereka tidak ketahuan. Nathan langsung terdiam dan membantu Agha. Dia mengambilkan lilin dari lemari samping kulkas dan memberikannya pada Agha.
Nathan bertanya, “Hari ini bunda ulang tahun kah?” dia baru bisa berpikir begitu. Agha mengangguk, “Betul Nathan! Makannya ayah hari ini beli kue. Semoga bunda suka ya,” jawabnya.
“Bunda pasti suka kok, yah. Tenang aja! Kalau bunda ngga suka, biar Nathan menghabiskan kuenya,” ucap Nathan bersemangat. Agha tertawa mendengarnya.
Mereka selesai menata kuenya lalu membawa ke ruang tengah sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Namun sebelum itu, Agha memberi aba-aba pada Nathan agar bernyanyi bersama dengan waktu yang tepat.
Terlihat wajah Nana menatap mereka kosong. Dia sendiri sudah lupa dengan hari ulang tahunnya, jadi dengan kejutan dari Agha dan Nathan membuatnya tersentuh. Senyum Nana merekah dan tidak pudar-pudar. Dia begitu senang diberi kejutan. Rencana Agha dan Nathan berhasil.
“Nathan mau kuenya?” tanya Nana. Dia mengangguk dengan semangat. Nana segera memotong kuenya dengan perlahan lalu membaginya pada mama, Agha, dan Nathan. Rafa masih belum boleh untuk memakan kue. Dia hanya diperbolehkan memakan roti yang Agha beli.
Nathan memakan kue dengan lahap sambil loncat-loncat. “Kakang jangan loncat-loncat kalau lagi makan. Nanti makanannya ngga masuk ke lambung kakang dong. Ayo makannya sambil duduk,” tegur Nana sambil mengajaknya duduk di samping Nana. Nathan mengabaikan Nana, dia memberi kode pada Agha untuk membantunya.
“Kakang sini duduk, ayah kan tadi udah belikan kakang mainan. Sini duduk kang, jangan jingkrak-jingkrak gitu. Nanti kamu capek.” Mendengar teguran ayahnya, Nathan menghampiri ayahnya dan duduk di sampingnya. Tetap saja badannya tidak bisa diam. Ya setidaknya Nathan sudah duduk. Dia kalau terlalu banyak tingkah, saat akan tidur terkadang jadi marah-marah ngga jelas. Antara merasa tidak nyaman dan kesal tapi dia sebenarnya ingin tidur. Kebiasaan itu diturunkan dari Nana. Agha sempat melihat Nana begitu kalau mau tidur. Tiba-tiba saja, padahal tidak ada yang membuat Nana menjadi seperti itu. Jadi awalnya Agha bingung sendiri bagaimana cara mengatasinya dan dia hanya tidak berbuat apa-apa. Biarkan Nana seperti itu sampai tertidur dengan sendirinya. Rumit juga kalau sudah bersikap begitu, serba salah jadinya. Sedikit bertanya malah kena semprot, memberikan sesuatu yang dia sukai juga malah bertambah marah. Capek deh lama-lama.
“Oh iya, mama mau nginap disini. Jadi Agha sama Nathan tidur di kamar sebelah ya. Nana, mama sama Rafa tidur dikamar utama,” jelas Nana sambil memakan kuenya.
Agha terkejut mendengarnya. Bukannya terkejut dengan mama yang menginap disini tapi karena Nana bilang Agha dan Nathan tidur di kamar sebelah. Dia kecewa mendengarnya, malam ini pisah keranjang dengan Nana. Tapi ya tidak apa-apa lah, mama yang menginap. Bukan orang asing. Kini Agha memasang wajah masamnya, dia menggoda Nana.
Nana yang menyadarinya berbisik pada Agha, “Cuma semalam aja kok, jangan dingin gitu lagi deh, Gha.” Nana membantu Agha tersenyum dengan kedua jari telunjuknya. Dia tertawa dengan tingkahnya sendiri. Agha menghentikan tangan Nana dan menatapnya. “Ih udah ah, Nana nyerah kalau Agha gini.” Dia tersenyum dan kembali memakan kuenya. “Curang banget mainnya,” gerutu Nana sambil menggeser sedikit posisi duduknya.
“Oh iya, Na. Ada yang mau Agha omongin sama Nana,” ucap Agha tiba-tiba.
“Yaudah ngomong aja. Apa susahnya sih Gha, pakai lapor dulu segala.” Nana jadi sensi karena Agha tadi.
Agha memasang muka masam lagi. “Besok Agha kayaknya bisa pulang cepet deh, Na. Tadi sewaktu perjalanan ke rumah Nathan bilang ingin berenang karena melihat rumah temannya ada kolang renang. Awalnya Agha mau ngajak Nana, tapi Nathan mengingatkan Agha kalau keadaan kamu masih sakit. Tapi kalau dilihat sekarang kayaknya udah sembuh banget nih. Gimana?”
Nana berpikir sejenak. Keadaannya memang masih dalam pemulihan, belum sembuh sepenuhnya. Biasanya kalau Nana sembuh selalu ada tandanya, entah itu mimisan atau banjir keringat. Tapi biasanya dan lebih sering dengan banjir keringat. Sekarang Nana belum merasakannya. Mungkin saja besok dia banjir keringat. Toh Nana juga besok masih izin tidak masuk kerja. Bisa kali ya bermain sama keluarga haha. Aduh maaf banget ya, Nana berbohong. Tapi Nana ikut bermain bersama mereka juga ngga sampai terjun ke kolam renang, cuma memantau mereka dari jauh haha.
“Nana izinkan, tapi Nana sama Rafa tetap ikut kalian. Cuma disana mungkin Nana ngga akan ikut berenang juga. Gapapa kan?”
Senyum Agha merekah, “Serius?” Nana mengangguk dengan semangat. “Makasi banyak ya, Na. Nanti janjian aja sama Agha. Agha kabari lagi tempat janjinya. Nana tunggu aja disana, biar Agha yang jemput kalian. Lumayan memudahkan juga kalau janjian diluar, daripada harus kembali kerumah dulu. Lokasinya pun sangat tidak searah dengan rumah. Gapapa kan?” Nana mengangguk lagi.
“Gapapa kok, Nana sama anak-anak tunggu Agha disana. Sekarang lebih baik kita tidur dulu. Biar kamu bangun pagi besoknya.”