Blanc Carnations

Blanc Carnations
65. Sekolah



Kurang lebih Adnan bermain selama dua puluh menit. Mereka semua mengambil waktu istirahat terlebih dahulu. Rafa melihat Adnan sedang meneguk air minum dengan terkagum-kagum. Dia hanya minum saja sudah terlihat keren. Dengan rambutnya terlihat basah.


Abel sadar dengan tingkah Rafa yang terpaku dengan melihat Adnan. Dia sedikit menyenggol lengan Rafa dengan sikut Abel, membuat dia jadi tersadar dan menoleh ke arahnya. “Fokus banget liatin Adnan. Suka kamu?” Alisnya menyatu dengan cepat dan membantah Abel. Gila saja Rafa menyukainya! Tapi memang sudah gila juga Rafa memperhatikan Adnan dengan serius. Ya lagian dia baru melihat sisi kerennya Adnan, jadi Rafa sampai begitu.


Orang yang jadi topik pembicaraan hangat mereka pun datang menghampirinya. Hanya dengan berlari kecil saja yang rambutnya masih basah karena keringat, Adnan masih terlihat keren. Udahlah, makin sini Rafa makin aneh.


“Kamu keren banget! Rafa baru pertama kali melihat Adnan dilapangan seperti ini, walaupun sekedar latihan,” ucap Rafa cepat. Dia tidak bisa menahan rasa bangganya.


Adnan tertawa kecil mendengarnya, “Haha terimakasih banyak Rafa.” Rafa membalas dengan mengacungkan kedua jempolnya.


Situasinya sedikit canggung daripada biasanya. Rafa juga tiba-tiba jadi bingung sendiri dan tidak tahu harus melakukan apa. Abel yang menyadarinya paham berdehem. “Bentar lagi bel masuk bunyi. Ayo kita ke kelas,” ajak Abel dengan bangkit dari kursi penonton dan sedikit menuruni anak tangga. Rafa mengikutinya dari belakang.


“Kalian duluan saja. Adnan masih ada evaluasi sebentar,” sahut Adnan sambil menengok sebentar pada anak-anak basket. Rafa mengangguk setuju lalu tersenyum. Mereka berdua segera pergi dengan langkah kecil menuju kelas, sementara Adnan masih tinggal disana. Memandang kedua temannya pergi menjauh lalu berlari dan bergabung dengan anak-anak lain.


Ternyata jam mata pelajaran sekarang, gurunya tidak ada karena ada urusan penting mengenai sekolah. Entahlah apa itu. Namun dia tidak memberi kami tugas dan hanya meminta kami untuk membaca materi saja. Kelas pun lama-kelamaan menjadi berisik dan sedikit ricuh. Susah sekali untuk diatur. Ketua murid saja sudah angkat tangan dengan perilaku anak-anak. Setiap kali dia berbicara tidak ada yang menanggapinya. Sangat berbeda halnya saat kami berada di kelas dua smp.


Selama tiga tahun, sistem murid dalam sekolah ini adalah acak. Jadi setiap naik kelas, orang-orangnya di pindahkan lagi dan tidak menetap. Sangat beruntung juga Rafa dan kedua temannya bisa di kelas yang sama sampai menjelang mereka lulus. Tapi mereka juga sangat menyadari dengan perubahannya. Di bangku kelas satu, masa-masa baru berkenalan dan beradaptasi dengan teman-teman lain. Kadang juga adanya beberapa masalah yang terjadi. Baik sesama teman atau antar kelas. Wajar saja lah, ya. Setiap orang pasti merasakannya. Kemudian di bangku kelas dua, merasakan adanya kehangatan dan kekeluargaannya dengan teman-teman. Rafa sangat merasakan itu. Hampir serupa dengan saat ini kelas tiga, namun lebih terasa saat kelas dua. Di kelasnya walaupun pasti memiliki pertemanan kelompok, tapi teman-teman kelas juga sangat terbuka pada siapapun. Walaupun ada yang memiliki rasa benci pada seseorang, tapi begitu bergabung dan asik mengobrol dengan teman-teman akan jadi lupa dengan rasa yang dimilikinya. Bahkan karena sering mengobrol, rasa benci yang dimilikinya sedikit demi sedikit menghilang. Ternyata orang yang dibenci tidak seburuk yang dia pikirkan. Dan selama ini dia salah menilai. Tidak baik juga membenci seseorang karena satu pihak yang belum tentu dan belum jelas bagaimana dengan aslinya. Memahami dan mengenali seseorang dengan baik itu ternyata sangat penting. Membuat kita jadi belajar, ternyata tidak semua orang memiliki sifat dan sikap yang sama. Tentunya berbeda-beda da beragam. Bahkan lebih unik dari luar dugaannya. Setiap orang juga memiliki ciri-ciri dan keunikan yang berbeda. Rafa akan setuju dengan hal itu dan bahkan menyadarinya. Sangat menyadarinya. Namun anehnya, mengapa dia masih tidak bisa memahami dirinya sendiri? Dan masih belum menemukan tentang dirinya. Rafa juga masih merasa belum menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Padahal dia sudah membantu banyak, cukup banyak pada teman-teman agar menyadari akan dirinya. Rafa juga sangat heran. Ia bisa melakukannya pada orang lain, namun tidak bisa pada dirinya. Sungguh tidak adil bagi Rafa.


Rafa terkadang berfikir. Sampai berapa lama dia menjadi anak yang kehilangan jati dirinya yang sebenarnya? Dan juga kadang menjadi tertanam dalam pikirannya sampai dia merasa lelah.


Teman-teman di bangku kelas tiga memang baik dan ramah. Namun sikapnya cukup nakal dan memiliki rasa ketidakpedulian. Tidak hanya itu, ada beberapa orang yang sikapnya tidak sopan pada guru maupun pada teman lainnya. Contohnya ketika guru menerangkan materi, dia sibuk dengan dunia gosip bersama teman sebangkunya. Walaupun mereka berbincang dengan suara yang tidak terlalu berisik, tapi tetap saja tidak sopan. Guru tersebut sangat sadar dengan sikapnya dan menjebak mereka dengan menyuruhnya untuk menjawab soal yang ia berikan. Mereka tidak bisa menjawab karena tidak memperhatikan dan alhasil mereka kena semburan. Teman-teman yang lain bukan mengingatkannya tapi malah sibuk sendiri juga.


“Ngomong-ngomong Adnan ada rencana lanjut sma kemana?” tanya Abel penasaran.


Tangan Adnan berhenti menulis lalu menatap Abel. “Entahlah, masih belum kepikiran. Yang pastinya sma negeri,” jawab Adnan dengan nada sedikit ragu.


“Abel juga sama. Masih bingung dengan pilihannya.” Abel menghela napas dan melipatkan kedua tangannya pada belakang kursi Abel lalu menenggelamkan kepalanya dengan lemas. Dia menoleh pada Rafa. “Hey.. kalau Rafa bagaimana?”


Rafa menoleh. “Ya? Mungkin mencoba daftar ke sma tujuh atau tidak daftar ke Hyla School.”


“Hyla School? Ah, yang kakakmu sekolah disana ya?” Rafa mengangguk.


“Adnan juga berfikir untuk daftar ke Hyla School,” sahut Adnan. Aneh rasanya. Rafa tiba-tiba merasa sedikit senang dengan perkataan Adnan. Sudah gila kali ya Rafa?


“Apa Abel juga ikut kalian daftar kesana? Aneh banget rasanya kalau ngga ada kalian.” Abel merengek kecewa memikirkan dirinya berpisah dengan kedua teman baiknya selama ini.


“Itu pilihan kamu, Bel. Keputusan yang hanya bisa kamu buat.” Adnan tiba-tiba berbicara yang seakan-akan dia bijak. Terdengar aneh rasanya Adnan seperti itu.


“Abel tahu. Tapi… dahlah. Lama-lama mikirin sma jadi rumit juga.” Abel memegang kepalanya lalu ia membenarkan posisi duduknya seperti semula. Dan dia malahan tertidur di atas meja sambil menunggu pergantian jam pelajaran.


Hyla School merupakan salah satu sekolah favorit. Persaingannya pun pastinya sangat banyak, dan cukup sulit. Namun mungkin karena sistemnya saat ini berubah, jadi ada beberapa jalur agar bisa masuk sma favorit. Rafa tidak bisa berharap banyak, tapi ya tetap berdoa. Siapa tahu dia menjadi orang yang beruntung. Walaupun kemungkinan besar harapannya belum tentu berpihak padanya.