
Rafa dengan kedua temannya kini makan karena lelah bermain. Abel meringankan Adnan untuk bermain, tapi tidak bersamanya karena lelah dan memilih untuk menunggunya saja sambil istirahat.
"Jadi Adnan main sendiri nih?" Adnan menyerngit kebingungan. Akan aneh rasanya jika hanya bermain sendiri. Seperti ada yang kurang saja rasanya. Dia menoleh dan menatap Rafa. Tapi Rafa malah membuang muka dan menoleh pada Abel. Tidak mungkin maksudnya meminta dia bermain dengan Adnan! Rafa kalau tidak bersama Abel akan merasa jadi sangat canggung.
"Rafa diem aja disini sama Abel." Bisik Rafa pada Abel dengan wajah gelisahnya.
"Temani Adnan main yuk Rafa!" ajak Adnan. Mampus deh! gerutu Rafa dalam hati.
Abel terlihat menahan tawa. Sedangkan Rafa memasang wajah masamnya pada Abel. Menyebalkan!
"Nanti kalau Adnan udah puas bermain, kita foto box yuk bertiga!" ajak Abel seru. Sudah selama tiga tahun lamanya mereka berteman, tapi sampai sekarang mereka belum memiliki foto bersama. Dan selagi ada waktu yang pas, saatnya mereka lakukan foto bersama. Untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan juga. Dan mungkin setelah lulus nanti semoga masih sama-sama menghubungi walaupun tidak sering.
"Boleh," sahut Adnan. Mereka berdua menoleh pada Rafa mengharapkan jawaban baik darinya.
Rafa tertawa kecil, "Haha boleh boleh."
"Oke! Abel tunggu ya disini. Selamat bersenang-senang kalian!" Tangan Abel mengibas-gibas seolah-olah mengusir Rafa. Seenaknya aja emang Abel nih. Yah.. mau tidak mau juga Rafa harus menemani Adnan. Dia juga sudah merasa lelah karena asik bermain tadi.
Rafa berjalan tidak berdampingan. Adnan berjalan lebih dulu sedangkan Rafa berjalan di belakangnya. Langkah Adnan terasa pelan, begitupun dengan Rafa mengikutinya. Padahal Adnan bermaksud melangkah pelan agar Rafa bisa berjalan berdampingan dengannya karena ini terlalu canggung.
Langkah Adnan terhenti, dia membalik badannya. "Kenapa Rafa jalan di belakang?"
"Eh haha, maaf." Rafa berjalan sedikit maju tapi masih tidak berdampingan. Adnan gemas dengan Rafa, tapi tidak apa-apa. Sekarang lebih baik daripada sebelumnya.
Mereka berhenti di depan wahana bianglala. "Serius mau naik ini?" tanya Rafa ragu. Bianglalanya sangat besar dan terlihat sangat tinggi. Dia tidak bisa membayangkan dirinya ketika di atas sana. Dan bagaimana jika ada masalah pada mesinnya saat kita naik? Atau tiba-tiba macet? Atau bagaimana jika bianglalanya lepas dari mesinnya dan menggelinding lalu merusak perkotaan. Pikiran Rafa jadi kacau. Tangannya meremas ujung baju kemejanya.
"Kenapa? Rafa takut?" Kalau dirinya berbohong akan jadi masalah nantinya. Kalau bicara jujur juga yang ada dia tidak jadi bermain. "Kalau Rafa takut juga gapapa gausah naik wahana ini," lanjutnya.
"Takut sih, tapi Rafa mau coba deh." Rafa mencoba memberanikan diri agar dirinya tidak takut akan ketinggian. Semoga Rafa berhasil! Tolong do'akan Rafa huhuu :(
"Beneran nih? Gausah dipaksa kalau Rafa bener-bener gamau naik." Adnan khawatir kalau Rafa terlalu memaksakan diri. Ia tahu sikapnya Rafa jika seperti itu dan akan tiba-tiba jadi anak yang diam.
"Gapapa kok. Rafa gapapa."
Rafa tertawa kecil. Adnan menyinggung dirinya. Rafa lebih sering seperti itu pada Abel dan Adnan, hmm bisa dibilang yang sebenarnya sih ke semua orang. Tapi entahlah jika ke keluarganya. Tergantung mood dan keberanian Rafa saja.
Mereka berdua mengantri. Antriannya kali ini cukup menipis dibandingkan sebelumnya. Mungkin karena orang-orang sudah menaiki wahana ini terlebih dahulu kali ya? Mungkin saja.
Petugas wahana membukakan pintu gerbongnya. Dia menyuruh kami untuk berhati-hati saat menaikinya dan meminta kami untuk memilih posisi duduk senyaman mungkin. Setelah itu dia menutup pintu gerbong dan menyalakan mesin. Masih belum dimulai karena harus terisi gerbongnya setidaknya setengahnya agar petugas dapat memulainya.
Tubuh Rafa tiba-tiba jadi merasa gelisah. Dia juga tiba-tiba merasa sakit perut. Kebiasaan kalau sedang gugup pasti selalu begitu.
"Ngga nyaman?" Adnan memperhatikan tingkah Rafa yang terlihat tidak nyaman.
"Mungkin karena Rafa gugup haha." tawa Rafa terdengar pahit.
"Kalau takut jangan lihat kebawah aja. Pegang besi samping kamu. Atau ngga, lihat Adnan aja biar kamu ngga takut."
Tunggu? Apa Rafa ngga salah dengar nih!? Adnan berbicara begitu membuat Rafa semakin tidak nyaman. Bagaimana bisa dia seberani itu berbicara gitu pada Rafa!? Rafa bukannya bawa perasaan, tapi entahlah rasanya malah jadi tidak nyaman. Makannya ia lebih suka berbicara banyak pada Abel. Tapi Rafa juga bermaksud ngga sepenuhnya mengabaikan Adnan. Hanya saja dirinya mencoba untuk jaga jarak dengannya haha.
Wahana pun segera berjalan. Dengan perlahan bianglala itu berputar. Tapi ini cukup lama… haha. Jantung Rafa juga masih berdegup kencang karena takut. Wajahnya tidak berani untuk melihat ke luar jendela gerbong. Dia malah menundukkan kepalanya, meredakan rasa takutnya.
Jari Adnan mengetuk bahu Rafa membuat dirinya menoleh pada Adnan dengan perlahan. Berjaga-jaga agar pandangannya tidak melihat ke bawah.
"Coba lihat keluar," bisik Adnan. Tapi Rafa menggeleng dan merapatkan mulutnya. "Lihat langitnya aja dulu, gapapa kok." Adnan ikut membantu Rafa melawan rasa takutnya. Rafa memiringkan kepala sedikit, seolah-olah bertanya pada Adnan, bisakah? Adnan mengangguk. Dengan perlahan Rafa memberanikan diri menoleh dan melihat keluar jendela gerbong.
Rafa melihat langit diluar, cantik! Kesan pertama yang Rafa lihat. Memang di jam-jam segini atau menuju sore hari langit terlihat sangat cantik dan indah. Warna langit kali ini biru cerah namun ada sedikit warna pinknya. Mungkin nanti di sore hari langit warna pinknya akan terlihat sangat jelas dan pastinya akan cantik! Senyum Rafa merekah, ia mendekat pada jendela dengan perlahan. Matanya masih berbinar-binar melihat indahnya langit. Adnan bersyukur melihat Rafa menyukainya dan dapat melawan rasa takutnya. Walau kemungkinan dia tidak tahu apakah masih takut atau tidak jika Rafa melihat ke bawah gerbong.
"Wah cantik banget Adnan! Lihat deh! Untungnya kita pas banget naik bianglala jam segini. Rafa ngga tahu kalau dilihat dari atas sini ternyata cantik banget!" seru Rafa dengan memuji banyak hal.
Adnan tertawa, "Haha syukurlah kalau Rafa suka. Rafa hebat lho bisa ngadepin rasa takut Rafa." Pujinya senang. Rafa menoleh dan tersenyum tipis padanya. Haha ini masih sebagian, belum tentu kalau Rafa melihat kebawah. Dia saja menahan pandangannya agar tidak melihat ke bawah bianglala dan memilih fokus melihat langit yang cantik itu. "Oh iya, Rafa jadikah daftar ke Hyla School?" tanya Adnan tiba-tiba.
Rafa kembali membenarkan posisi duduknya. Ah iya, mereka duduk bersebrangan di dalam. Karena agar seimbang juga dan tidak berat sebelah. "Iya mungkin jadi. Memang kenapa gitu? Adnan juga jadikah daftar kesana?" Dia tidak menjawab, melainkan tersenyum pada Rafa. Aneh!
-o0o-