
Sebelum menghubungi mama Agha, Nana lebih memilih untuk menghubungi Jesy. Hanya dia seorang yang membuat Nana jadi berani.
Jesy sangat panik mendengar berita dari Nana. Dia bahkan bilang akan langsung menyusul Nana ke rumah sakit dan langsung mematikan teleponnya.
Nana melamun melihat Rafa asik bermain bersama mama. Makanannya tidak habis, dia hanya makan beberapa suap dan dengan ajaibnya sudah merasa kenyang di perut Nana. Kalau dia meneruskan makannya malah akan menjadi terasa mual.
Rafa menghampiri Nana, dia membuka pembicaraan. “Bunda kenapa diam?” Nana tersenyum sambil menggenggam tangan Rafa dengan kedua tangannya. Ia mengusap lembut ujung kepalanya dan menarik Rafa ke dalam pelukannya.
“Bunda gapapa, Rafa. Bunda cuma lelah butuh istirahat. Tapi bunda juga butuh pelukan Rafa, sebentar saja.” Rafa balik memeluk Nana, dia mengusap punggung Nana dengan tangan mungilnya lalu pelukannya semakin erat.
Beberapa lama kemudian Nana melepaskan pelukannya. Ia bertanya, “Kakang kenapa ngga ikut?”
“Kata nin Nathan tidur di kamar. Kakang juga tadi ngga makan sama ngga mandi,” jelas Rafa. “Kata nin juga bunda ngga pulang ya?” Nana melihat ke arah mama dan kembali menatap Rafa sambil tersenyum.
“Masih kurang tahu. Tapi Rafa baik-baik sama nin sama kakang ya. Bunda boleh minta tolong ke Rafa ngga?” Rafa mengangguk semangat dan menjawab, “Boleh banget nda!”
“Boleh tolong ajak main kakang? Ingatkan kakang makan juga, boleh ya?”
Rafa mengangguk lagi, “Siap bunda!” katanya dengan menaruh tangan kanannya di pelipis kepala layaknya seperti seorang prajurit. Nana tersenyum senang dan mengelus kembali ujung kepala Rafa lalu mengecup kening mungil Rafa. Dia beranjak ke jendela dengan berlari, melihat keadaan luar. Mama mendekati Nana.
“Bagaimana nanti ma, Nana akan pulang atau tidak.”
“Mama tahu, tapi setidaknya kamu ganti baju dulu. Baju kamu udah kotor banget tuh, masa sampai besok kamu pakai baju ini. Kotor Na.”
Mengingat hari sudah memasuki malam, Nana menyuruh mama untuk pulang. Mungkin juga Nathan kini sudah bangun. Toh bahaya juga Nathan ditinggal lama sendiri di rumah. Mama dan Rafa berpamitan pulang. Mereka pergi meninggalkan Nana.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka keras, tidak salah lagi kalau bukan Jesy. Dia kalau dalam keadaan panik selalu begitu. Namun hanya pada orang-orang terdekatnya. Jesy tidak berani bertingkah seperti itu di depan orang asing. Padahal Jesy orangnya termasuk bar-bar dimata Nana. Tapi entahlah ketika Jesy semakin dekat dengan Nana, dia malah mengurangi sifatnya yang barbar. Tiba-tiba menjadi menjaga image. Mungkin dia begitu karena sedang menyukai seseorang. Entahlah, pikiran dan sikapnya sulit untuk dimengerti. Wajar bagi Nana, dan dia membiarkan Jesy untuk bertingkah sesukanya.
“Kenapa bisa gini Na?! Tapi kamunya ada luka juga ngga? Terus anak-anak gimana? Sama mama kah? Oh iya udah kasih tau mama belum?” Jesy menyerang Nana habis-habisan, dia mengecek kondisi tubuh Nana dengan kasar. Nana menenangkan Jesy.
“Nana baik-baik aja kok.” Bohong! “Anak-anak dijaga sama mama tenang aja. Tapi Nathan mungkin butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Dia masih syok karena kejadian itu.” Bohong! “Nana belum beritahu mama Agha dan mama mencoba membantu Nana untuk memberitahunya. Entah kapan.” Kebohongan Nana yang ketiga. Entah berapa kali lagi Nana berbohong pada Jesy untuk kali pertama.
“Ya Tuhan.” Jesy melihat kondisi Agha dari dekat. Aneh rasanya, pertama kali dirinya melihat abang di rawat di rumah sakit, atau mungkin bisa jadi pernah tapi Jesy tidak ingat atau Jesy tidak menjenguknya. Entahlah, ingatannya sangat pendek. Dia kurang jelas untuk mengingat kejadian yang sudah lama. Padahal Jesy salah satu murid terpintar di sekolah, namun kalau soal ingatan mengenai kejadian yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran akan lemah. Jesy merapikan rambut Agha, membersihkan kotoran di bawah matanya juga menggenggam tangan kanan Agha. Nana memberi Jesy ruang, dia keluar ruang kamar Agha sambil membawa tote bag yang berisikan pakaian Nana dan mencari toilet. Ia segera berganti baju, setelah itu pergi jalan-jalan mengelilingi rumah sakit mencari udara segar. Terlalu sesak baginya lama-kelamaan di ruang yang sempit.
Nana melihat ada kantin kecil di lantai bawah, dia membeli secup teh dari sana lalu duduk di dekat jendela besar. Dia melihat langitnya sangat gelap dari biasanya dan udaranya pun terasa dingin. Apakah akan turun hujan?
Baru saja Nana meminum tehnya, diluar terlihat sedikit demi sedikit air hujan turun. Tidak besar, hanya biasa untungnya. Suasananya sangat mendukung dengan kondisi Nana yang dirasakan Nana saat ini. Niat awalnya ingin mencari udara tapi malah semakin sesak. Nana menopang kepalanya dengan kedua tangan di atas meja dan menutup matanya. Kepalanya masih terasa pusing. Dia jadi berpikir, bagaimana hari-hari Nana kedepannya? Akankah terus seperti ini? Hampa sendirian di ruang yang sunyi tanpa adanya kehidupan yang pasti? Atau mungkin bisa meninggalkan ruangan itu bersama Agha? Lalu bagaimana dengan keadaan anak-anak? Nana yakin Nathan masih terpuruk disana. Terlalu berat bagi Nathan menghadapi situasi seperti ini, dan ini pertama kali di kehidupannya. Rafa terlihat sangat baik-baik saja, dia tidak memberikan atau menunjukan rasa khawatir pada Nana. Apa dia juga akan sama dengan Nathan? Di luar Rafa tidak banyak menunjukan apa-apa, tapi entah jika dia rumah bagaimana. Nana tidak tahu keadaan benar Rafa di rumah. Dia mempercayakan mama untuk menjaga anak-anak sementara ini. Walaupun Nana masih merasa lemas ketika bertemu dengan Nathan, tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya agar Nathan tidak merasa kurang nyaman dengan Nana. Dia tidak menginginkan itu. Nana belum menerima jika adanya jarak diantara dirinya dengan Agha. Akan terlalu canggung dan membuat Nana merasa kurang nyaman juga. Nana juga khawatir dengan mama Agha nanti bagaimana.
Kebohongan yang Nana buat untuk membuat dirinya terlihat tangguh di depan orang-orang. Dia tidak ingin orang-orang mengkhawatirkan Nana walaupun perasaan asli dalam dirinya sangat terpuruk juga sakit. Tapi mungkinkah akan menjadi hal biasa kedepannya? Menjadi kebal dengan semua perasaan yang bertumpuk dalam dirinya. Tapi juga bisakah Nana melewati semua ini? Bagaimana jika Nana berhenti di tengah-tengah rintangan barunya? Tidak lucu juga tiba-tiba Nana berhenti di tengah-tengah karena egonya. Nana percaya kalau dirinya bisa menghadapi semua. Dengan adanya anak-anak bisa menjadi sumber kekuatan bagi kehidupan Nana. Cukup dengan anak-anak. Nana meminta agar mereka baik-baik saja, tidak terpaku akan kepurukannya. Nana ingin anak-anak bahagia dibandingkan Nana dan Agha. Nana percaya akan hal itu.Suatu saat mereka bisa melihat anak-anak sukses dengan kerja keras yang mereka buat di masa depan. Bahagia bersama seperti sebelumnya dan menjalankan hari-hari indah tiap harinya. Pergi berlibur sesuai dengan rencana yang mereka buat. Bahkan bisa menyaksikan anak-anaknya memiliki kebahagiaan di kehidupan barunya.
**
Malam yang sunyi dan sepi. Dimana Nana hanya tinggal seorang diri. "Hiks.. Maap, sepertinya Nana sudah banyak bersalah. Ini srmua bukan salah Nana, hiks.. ini srmua salah gadis itu. Hiks.. Siapapun tolong balaskan dendam Nana.. Nana benci gadis itu hiks.."
Dia Nana yang sedari tadi meringkuk di atas sofa menghadap jendela balkon kamarnya. Entah apa yang di sembunyikan wanita itu, hingga banyak dari mereka membenci sosok seperti.. Keluarga Getana.