
Berhari-hari menuju waktu ujian tiba, Rafa belajar dengan serius. Tapi ia sendiri tidak tahu apakah hal yang dilakukannya akan setara dengan kerja kerasnya selama ini atau tidak. Semoga saja dapat hasil yang terbaik untuk Rafa.
Sehari sebelum ujian tiba, Rafa berdiam diri di rumah. Lebih tepatnya semua siswa sih. Berkonsentrasi belajar. Tapi tidak bertahan lama bagi Rafa. Dia belajar hanya kurang lebih selama setengah jam. Rafa pernah dengar dan masih ingat dengan salah satu kalimat yang guru wali kelas ucapkan, dia bilang kalau lebih baik enaknya satu hari atau beberapa jam sebelum ujian itu diusahakan jangan belajar atau buka buku kembali. Rata-rata siswa akan jadi lupa dengan materinya dan tiba-tiba materi yang sudah di ajarkan jadi menghilang di kepala saat waktu ujian tiba. Dan alhasil juga jadi tidak fokus. Tapi bukan berarti ini berlaku untuk semua siswa. Setiap siswa memiliki keunikan tersendiri fan tentu saja berbeda-beda.
Rafa menghabiskan waktu di rumahnya dengan membantu kak Jesy membereskan dan membersihkan rumah. Kegiatan apapun yang bisa menghabiskan waktunya selama berguna bagi dirinya juga rumah. Dan ditutup dengan membaca web komik. Tidak lama, hanya sebentar saja. Kakang sebelumnya marahin Rafa, ngelarang baca komik. Tapi Rafa dengan sepenuh hati membela diri dan membuat kakang tidak bisa menyangkalnya lagi haha. Ia juga berjanji hanya sampai tiga bab saja, setelah itu dia akan tidur.
Esoknya di hari ujian tiba, Rafa masih merasa tidak menyangka. Tidak terasa dirinya akan menginjak bangku SMA. Usianya juga sudah akan menuju fase dewasa. Emosi yang naik turun. Dan keadaan dirinya juga masih sama seperti sebelumnya, belum menemukan arah yang cocok untuknya. Dia menjalankan hari juga sesuai dengan alur saja, tidak ada rencana yang Rafa buat untuk kehidupan pastinya.
Kak Jesy memeluk hangat Rafa, "Semangat ujiannya Rafa! Jangan gugup, tenang aja. Gausah buru-buru juga, dibawa santai. Kamu pasti bisa melaluinya kok. Tiga hari, waktu yang sebentar namun pasti. Semangat!!" dia membenarkan rambut Rafa dengan lembut.
"Semangat ya bontot. Kakang percaya Rafa. Jangan tidur ya hmm," sahut kakang sambil mengacak-acak rambutnya. Kakang menyebalkan emang.
Rafa membenarkan rambutnya dengan cemberut.
Ah iya, Rafa diantar kak Jesy juga nin. Adnan tidak ikut karena ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan dulu sebelum dirinya berangkat ke sekolah. Biasalah.
Entah hanya perasaan Rafa saja atau bagaimana, cuacanya terasa sangat dingin. Kedua telapak tangannya dan ujung kakinya mulai terasa dingin. Sangat dingin. Dia menoleh pada nin juga kak Jesy di depan gerbang sekolah. Nin yang menyadarinya menghampiri Rafa lalu memegang kedua tangan Rafa dan berkata, "Jangan gugup. Nin yakin kalau Rafa pasti bisa melewatinya. Percaya sama diri kamu." Rafa tersenyum ragu sambil menatap nin. Dia menelan ludahnya karena gugup.
"Terimakasih nin. Tolong doakan Rafa ya semoga lancar."
"Pasti Rafa. Tenang aja."
Kini Rafa memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju ruang ujian. Di pertengahan jalannya, Abel dan Adnan bergabung mengikuti langkah Rafa.
"Semangat! Semoga berhasil," ucap Adnan.
Abel sibuk menarik dan mengeluarkan napasnya sambil berkomat-kamit, 'Abel pasti bisa!.' Terlihat jelas dia menenangkan rasa gugupnya. Setelah sekian lama juga Rafa tidak melihat Abel yang segugup ini haha.
"Semangat juga kalian! Semoga semuanya lancar," ucap Rafa sambil memberikan kedua kepalan tangan semangatnya pada Abel juga Adnan. Mereka sama-sama mengangguk.
Rasa dinginnya masih terasa sampai saat ini. Kalau sudah begini sih, bisa jadi akan terus sampai ujian selesai.
Guru pengawas memeriksa kehadiran para siswa di ruang ujian dengan melihat keberadaannya terlebih dahulu. Setelah itu menyuruh kami untuk menyimpan semua ranselnya di loker depan kelas dan hanya membawa barang yang sesuai dengan peraturan pada bangku setiap siswa. Seharusnya sih sebelum memasuki ruang kelas, namun tetap harus terlihat dengan guru pengawas. Setelah itu kami duduk kembali sesuai dengan nomor ujian masing-masing.
Kami ujian sesuai dengan nomor ujian kelas masing-masing. Tidak mengacak.
Rafa mencoba untuk menenangkan diri, tapi telapak tangannya semakin dingin namun ditambah basah.
"Waktu mengerjakan soal selama seratus dua puluh menit atau setara dengan dua jam. Jadi tolong berhati-hati dan periksa kembali jawaban anda jika sudah selesai. Jangan terburu-buru dan tetap tenang. Dan yang paling penting tidak boleh ada yang menyalin, mencontek, atau memberikan jawaban. Semangat semuanya!" ucap guru pengawas pria yang bertubuh gagah itu. Kami semua mengangguk mengerti setelah mendengarnya. Kemudian guru pengawas lainnya segera membagikan soal pada tiap barisan. Siswa dari bangku depan mengoper soalnya ke siswa yang duduk di belakangnya sampai ujung belakang barisan.
"Semangat," bisik salah satu temannya Rafa yang duduk di depannya sambil tersenyum saat mengoper soal pada Rafa.
Rafa menjawab sambil tersenyum, "Kamu juga." Dia melihat-lihat sekilas dari soalnya. Seharusnya tidak boleh sebelum ada instruksi dari guru pengawas. Tapi Rafa hanya melihatnya sedikit.
Kami masih berdiam, menunggu intruksi dari guru pengawas. Dia mengecek terlebih dahulu takutnya ada siswa yang belum mendapatkan soalnya. Ternyata benar, satu orang belum dapat. Guru pengawas lainnya segera mengambil soal dari ruang pengawas.
"Baik, karena sudah kebagian semua. Kita langsung mulai saja. Selamat mengerjakan." Intruksi guru pengawas dengan tegas.
Semua siswa menundukkan sedikit kepalanya untuk membaca soal. Kedua tangannya sibuk menahan kertas soal dan menuliskan jawabannya. Pikiran masing-masing sibuk mengingat kembali dengan apa yang diajarkannya. Suara bising dari lembaran kertas dan coretan pensil mengisi penuh satu ruangan.
Rafa merasa cukup aman ketika mengerjakannya. Semoga tetap seperti ini sampai ujian berakhir.
Satu jam setengah berlalu, Rafa dan beberapa siswa selesai mengerjakan soal ujiannya. Tak lupa juga untuk memeriksa kembali, takutnya ada nomor yang belum terjawab atau masih ada jawaban yang menurutnya kurang tepat.
Setelah Rafa menyelesaikan soalnya, rasa dingin di kedua telapak tangan dan ujung kakinya kini sudah menghilang. Mungkin memang cuacanya yang dingin namun Rafa juga merasa gugup, makannya rasa dinginnya terasa sangat kuat.
Waktu ujian selesai tiba, guru pengawas segera mengambil kertas ujian sesuai urutan nomor peserta. Sedangkan kertas soalnya di oper dan dikumpulkan pada bangku siswa yang duduk paling depan.
Rafa menghela nafas lega sambil menenggelamkan kepalanya. Baru ujian hari pertama, beban satu selesai. Dan masih ada dua beban, dua hari lagi yang tersisa. Rafa ingin cepat selesai rasanya agar bisa bebas. Pikirannya sangat berat, tapi Rafa masih harus menahannya.
"Terimakasih banyak untuk hari ini. Dipersilahkan seluruh siswa untuk pulang dan semangat buat besok!"
"Terimakasih banyak juga pak."
Semua siswa mengambil ranselnya dari loker, lalu pulang. Rafa berjalan lemas ketika menuruni tangga. Abel dari belakang merangkul Rafa dan bertanya, "Bagaimana? Aman?"
Rafa menoleh dan mengangguk lemas. Berbeda dengan Abel, sikapnya jadi ceria yang awalnya tegang tapi sekarang dia terlihat senang ujian hari pertamanya selesai.
-o0o-