Blanc Carnations

Blanc Carnations
29. Perasaan Lega



Mama sibuk mengurusi barang-barang Nana, Nana berencana menginap lagi di rumah sakit. Tak lupa Ia membawa beberapa pekerjaannya ke rumah sakit, sekalian mengisi waktu kosong. Daripada ditunda ya kan? Kita harus memanfaatkan waktu dengan baik.


“Nana titip anak-anak lagi ya, ma,” ucap ku sambil melipat jaket tebal berwarna abu.


Jaket pemberian Agha saat kami berlibur ke puncak, Mama mengangguk. “Iya gapapa sayang. Mama ngerti kok, udah kewajiban kamu juga buat jaga Agha. Kalau kamu ngerasa lelah istirahat aja, biar mama atau Iby yang gantian untuk menjaga Agha,” jawabnya.


Tunggu. “Kenapa mama terus minta tolong sama Iby, sih?" tanya ku dengan nada kesal.


“Lho emangnya kenapa?”


“Mama jangan ketergantungan sama Iby. Kita udah banyak ngerepotin keluarga Iby dari dulu. Nana ngerasa ngga enak sama Iby karena bikin dia kerepotan. Terus Nana juga ngerasa kurang baik kalau kaya gini terus, ma. Aku kan punya mama, punya mama Agha juga. Jadi tolong jangan panggil-panggil atau minta bantuan ke Iby lagi, ya? Nana mohon banget,”


Aku membereskan ruangan Agha, setelah itu aku membersihkan Agha. Ngga hanya aku sendiri yang membersihkan diri, Agha pun harus membersihkan diri juga. Saat aku melihat pundaknya, aku rindu saat dimasa-masa aku memijit Agha setiap Ia merasa masuk angin.


Entah apa yang sedang ku lakukan, aku tiba-tiba saja memijit pundak Agha tanpa sadar. Itu terjadi begitu saja. Bisa jadi aku melakukannya karena rindu memijit Agha haha. Tapi ini terlalu konyol. Aku jadi tertawa melihat tingkah ku sendiri.


Suara gesekan pintu terdengar, ku kira yang datang mama. Namun nyatanya suster, sontak aku berteriak karena pakaian Agha yang masih terbuka. “Maaf suster, beri saya waktu dulu sebentar,” pinta ku.


“Maaf juga, mbak. Iya silahkan!" timpal suster tadi.


Suster pun keluar dari kamar membuat ku menghela nafas lega saat suara gesekan pintu kembali terdengar.


Segera aku memakaikan Agha baju pasien, dan setelah itu membenarkan posisi tidur Agha. Terakhir, aku segera memberitahu suster kalau sekarang sudah siap.


Dan seperti biasa juga, suster rutin memeriksa keadaan pasien. Ia memberitahu. “Ada kabar baik mengenai Agha. Hari ini Ia ada sedikit kemajuan. Kurang lebih semuanya sedikit demi sedikit menjadi stabil. Saya ngga bosen-bosen mengingatkan buat sering ajak bicara ya, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semoga kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi, saya sangat mengharapkan itu. Semangat mba Nana,” jelas suster.


Senyum ku merekah saat mendengar kabar baik itu. Walaupun hanya dengan begitu, itu sudah membuat ku merasa sedikit lega. Benar apa yang dikatakan oleh suster, semoga saja kedepannya Agha menjadi lebih baik lagi. Aku sangat menantikan itu.


**


Rencana ku hari ini sama seperti hari-hari pada biasanya. Hanya ada tambahan yaitu menemani anak-anak bermain dengan teman-teman sekolahnya. Kegiatannya itu berekresiasi ke tempat sejarah. Namun tidak hanya itu, sekolah memberi keringanan pada anak-anak karena pastinya anak-anak ada yang merasa bosan jika setelah berkunjung ke tempat sejarah.


Maka dari itu, sekolah memberi anak-anak untuk mengunjungi taman bermain. Vibesnya sama seperti sebelumnya, namun tempatnya berbeda. Agar anak-anak bisa merasakan hal yang baru. Dan aku bersyukur pekerjaan ku hari ini tidak terlalu berat, jadi tidak perlu lembur dan aku bisa pulang cepat.


Aku tengah sibuk memasukan data laporan ke komputer dengan seksama. Hingga tak terasa aku mengerjakannya lebih cepat dari luar ekspetasi ku. Apa mungkin karena datanya tidak terlalu banyak seperti biasanya kali ya? Mungkin saja.


Karena pekerjaan ku telah selesai, aku segera bersiap-siap untuk pulang. Anak-anak pasti sedang menunggu kedatangan ku.


“Udah beres nih?” sahut salah satu karyawan dari tim Nana.


Aku mengangguk sambil tersenyum senang. “Iya. Saya pulang duluan ya. Kasian anak-anak nunggu lama," Ia mengangguk mengerti sambil menepuk-nepuk pundak ku.


“Hati-hati dijalan!” ucapnya.


Di perjalanan pulang aku menemukan toko yang isinya penuh dengan makanan penutup yang manis. Toko itu menjual berbagai macam roti hingga es krim pun ada, dan tidak hanya makanan saja, toko ini menyediakan minuman, baik yang manis maupun yang asam. Tapi karena untuk cadangan, mereka menyediakan air mineral biasa jika ada pelanggannya yang tidak terlalu terbiasa dengan minum minuman manis ataupun asam.


Penjaganya sangat ramah, dia pandai bersosialisasi hingga membuat orang-orang yang ditemuinya menjadi nyaman saat mengobrol dengannya.


Aku membeli cupcake dan beberapa kue kering lainnya. Karena anak-anak kadang susah untuk makan makanan berat di luar rumah, aku membelikan mereka beberapa roti. Setidaknya ada asupan makanan berat walaupun mereka pastinya makan sedikit.


Tapi mungkin dengan roti yang ku beli kali ini semoga anak-anak bisa menghabiskannya sampai tak bersisa. Roti ini berbeda dari roti pada umumnya. Orang yang melayani pelanggan sangat merekomendasikan roti itu, ada berbagai rahasia tinggi pada roti itu.


Dia bilang kalau kandungan dan rasa rotinya selaras dengan lidah anak-anak, Ia membuktikan kalau sudah banyak pelanggan termasuk anaknya sendiri yang memakan roti itu dengan lahap. Semoga saja bisa manjur pada anak-anak, terutama Rafa. Ponsel ku berdering, mama menelefon ku.


“Ada apa, ma?”


"Mama di rumah kamu nih. Anak-anak udah siap, tinggal nungguin bundanya pulang. Kamu masih dimana, Na?"


“Haaa iya-iya. Tunggu nda gitu, ma. Aku masih dijalan, baru beres beli bekal makanan buat kesana,”


"Okey, ditunggu!"


“Mama mau nitip apa? Sekalian Nana masih diluar, biar ngga tanggung,”


"Engga usah, Na. Gapapa,"


“Gado-gado mau?”


"Yaudah deh boleh. Tapi jangan pedes ya!"


“Woiya jelas,” seketika aku berfikir lebih baik aku janjian dengan anak-anak di halte, supaya kami langsung berangkat. Toh mama bilang anak-anak sudah siap juga kan?


“Oh iya, ma. Biar mempercepat waktu juga, gimana kalau janjian di depan halte?”


Disebrang sana mama sedang memikirkan terlebih dahulu.


"Boleh aja sih Na. Tapi tunggu, mama coba kasih tahu anak-anak dulu,"


“Oke, ma. Terimakasih banyak! Kabari Nana ya kalo anak-anak setuju,"


Aku menutup telfonnya dan menunggu kabar lebih lanjut dari mama melalui pesan.


Belum lama telepon kami berakhir, mama memberi ku kabar katanya anak-anak setuju untuk berjanjian di depan halte. Karena sudah pasti, aku terlebih dahulu membeli gado-gado untuk mama.