
Nathan memaksa ingin ikut untuk menjemputku karena ia dapet kabar dari ayahnya kalau bunda sedang hamil. Nathan tentu saja terkejut mendengar beritanya. Dia merasa senang, tapi dia juga merasa takut kalau bunda dan ayah lebih fokus pada adik Nathan.
Banyak kekhawatiran yang Nathan pikirkan sejak mendengar berita itu. Nana dan Agha masih belum mengetahui perasaan Nathan yang sebenarnya saat itu. Makannya Nathan memaksa ikut untuk memastikan dengan berita yang ayahnya katakana itu apakah benar atau tidak. Tapi malahan Nathan ketiduran.
Dia bangun-bangun sudah disuruh keluar mobil untuk segera makan bersama. Pikirannya yang masih belum terkendali jadi ia masih kebingungan sendiri, tiba-tiba saja makan dengan pikiran kosongnya. Nathan melihat raut wajah bunda dan ayahnya yang terlihat sangat senang. Mereka sekali-sekali menatap satu sama lain dan tiba-tiba tertawa. Sebahagia itu kah mereka? Entah kenapa juga senyum Nathan merekah membuat ayah dan bundanya kini melirik padanya.
Agha mengelus-elus kepala Nathan yang mungil.
Ia berkata, “Kamu sekarang sudah menjadi seorang kakak, Nathan. Kamu jadi pelindung adik kamu yang sekarang. Jadi ayah sama bunda minta tolong kamu untuk jaga si kecil ya.”
Perasaan Nathan seperti diiris-iris, perkataan ayahnya membuat hati Nathan menjadi terasa sakit. Ada pikiran yang terlintas padanya, apakah ayah dan bunda akan melupakan Nathan setelah adik Nathan lahir? Apakah ayah dan bunda akan meninggalkan atau menelantarkan Nathan?
Lalu bagaimana perhatian ayah dan bunda pada Nathan kedepannya? Nathan merasa cemburu, ia seperti diduakan oleh orang tuanya sendri. Mereka yang kini banyak memberikan perhatiannya pada bayi barunya.
Nathan jadi merasa keberadaan dirinya yang sebenarnya selama ini tidak ada di dunia. Tapi saya juga tidak tahu dan tidak ada yang mengetahuinya. Jikalau ada juga pasti akan memberikannya pada member yang lain.
Nsthsn sidah mencoba agar dia bisa menahan emosinya. Mungkin juga kami semua sedang baru saja membereskan pekerjaannya tapi malah menjadi sepertini. Jadi terbawa pada emosinya.
**
Setiap bulan, hari-harinya sama seperti biasanya saat aku lalui dengan membesarkan Nathan. Tapi saat aku melahirkan Rafa, aku tidak bisa menggendongnya langsung seperti Nathan sebelumnya karena pada tubuh Rafa menguning. Dia perlu untuk melakukan fototerapi selama dua kali dalam duapuluh empat jamnya jika cukup, jika tidak cukup akan dilakukan maksimal sebanyak lima kali dalam duapuluh empat jamnya. Aku selalu berdo’a dengan kesembuhan Rafa. Aku tidak ingin dia merasakan sakit dan kuharap jika ia sakit, rasa sakitnya berpindah padaku. Jujur aku tidak apa-apa, daripada anakku yang merasakan rasa sakitnya aku tidak tega melihatnya. Dia masih kecil dan baru lahir.
Setelah kejadian itu perasaanku menjadi merasa seperti dicabik-cabik. Aku juga sering merasa sesak pada dada. Kali ini aku terlalu banyak kecemasan dan kekhawatiran setiap harinya. Memikirkan bagaimana jadinya jika Rafa sakit parah, sebenarnya Rafa itu terlalu banyak hal yang membuat dirinya semakin parah pada kondisi dan kesehatannya, dan bahkan aku sempat berfikir apa yang akan terjadi padaku kala Rafa meninggal? Satu kalimat yang membuat diriku semakin sesak bahkan aku menangis sampai terisak. Bagaimana bisa aku memikirkannya sampai sana?
Aku juga sudah beberapa kali merasa stress karena banyak yang menganggu pikiranku membuat diriku menjadi tidak fokus seperti biasanya. Agha sampai bersabar untuk menenangkanku. Aku terlalu terpuruk karena pikiran-pikiran yang telah menyerangku, pikiran negatif yang selalu membuatku merasa bersalah setiap kali melihat atau bersama Rafa. Aku juga selalu menyalahkan diri sendiri, karenaku Rafa bisa mengalami seperti ini. Juga banyak hal yang kusesali, andaikan saja aku seharusnya begini, andaikan saja saat itu aku tidak melakukan itu, tidak memakan itu, tidak terlalu memaksa diri, andaikan… Dan sampai aku lupa kalau masih ada Nathan disini, seorang anak pria satu-satunya dalam keluargaku. Aku selalu mengingatkannya dan meminta tolong pada Nathan untuk selalu menjaga Rafa. Aku tahu kalau Nathan anak yang pintar, dia pasti bisa paham apa yang aku maksud.
Nathan awalnya yang cemburu karena memiliki adik yang bernama Rafa, tapi saat ia melihat kondisi bundanya yang sudah tidak bisa dikatakan karena terlalu banyak penderitaan bunda yang Nathan lihat. Ia tak sengaja melihat bunda menangis terisak dikamarnya saat aku ingin menanyakan kaus kakiku diletakkan dimana, dan aku mengurungkan niat karena takut mengganggu mereka. Sudah berhari-hari bunda seperti itu membuat Nathan menjadi tidak tega melihatnya. Perasaan cemburu Nathan dengan perlahan mulai memudar. Ia jadi sedikit paham dan mencoba untuk mengerti dengan keadaan. Semoga juga Nathan bisa menjaga dan melindungi adiknya dengan lama seperti yang diharapkan bunda. Saat bunda baru saja selesai menyusui Rafa, ia menggerakan tangannya seolah-olah ingin mengajaknya bermain. Nathan berniat untuk menyentuh Rafa tapi ia melihat pada bunda apakah diizinkan atau tidak, bunda mengangguk dia mengizinkan. Baru saja Nathan ingin menyentuh hidung Rafa, tapi tangannya terhenti karena Rafa memegang jari telunjuk Nathan dengan lembut membuat Nathan dan bunda terkejut. Nathan merasakan ada hal yang membuat ia ingin sekali melindungi, merawat, dan menjaga Rafa. Selain sebagai kakaknya, Nathan ingin berbagi kebahagiaan pada Rafa.
“Dia suka kamu, Nathan,” ucap bunda.
Mungkin apa kata bunda benar. Rafa memegang jari telunjukku sambil tersenyum senang. Rafa juga kan selama ini seringnya bersama bunda atau ayah, jadi dia merasa senang mengetahui keberadaan Nathan.
Bunda menawarkan pada Nathan untuk menggendongnya, tapi Nathan ragu. Soalnya dia takut untuk menggendongnya, dan juga berat bayi lebih tinggi dibandingkan tubuh mungilnya Nathan. Tapi apa dicoba aja kali ya?
Dengan pelan-pelan bunda membantu Nathan menggendong Rafa, tentu saja posisinya duduk di atas ranjang bunda. Kalau diluar kan bisa bahaya, setidaknya kalau di kamar ada pelindungnya kasur. Saat Rafa sudah berada dipangkuan Nathan, Rafa terlihat sangat senang ia digendong oleh kakaknya.
Nathan cukup lama menggendong Rafa, ia tidak tahan karena berat dan membuatnya menjadi pegal. Bunda tertawa melihat Nathan yang kesusahan karena lucu haha. Tapi Rafa tidak ingin lepas dari gendongan Nathan, dia sudah nyaman dengan Nathan karena baru pertama kalinya juga Rafa digendong kakaknya. Kasian juga kalau Nathan kelamaan menggenong Rafa, tubuhnya masih belum kuat untuk bertahan lama. Jadi Rafa berpindah alih ke pangkuan bunda, walaupun Rafa menangis karena gamau lepas dari Nathan haha.
“Nathan sekarang makan, ya. Bunda udah menyiapkan makanan untukmu di meja makan,” ucap bunda.
“Nda bagaimana? Udah makan belum?”
“Nda udah makan.”
“Bener?” Bunda mengangguk. “Kalau belum, ayo makan sama Nathan.”
“Iya nanti nda nyusul kalau Rafa udah tenang.”
Rafa pun segera pergi menuju meja makan.
Setelah kejadian itu, Nathan jadi lebih sering bermain dengan Rafa saat sebelum dia pergi dan pulang sekolah hingga sebelum Nathan tidur. Aku senang melihat Nathan akur dengan adiknya dan semoga saja kedepannya tetap seperti ini.
Aku sudah tidak sabar melihat Nathan dan Rafa tumbuh bersama.