
Kembali lagi pada kisah Nana dan Agha. Yang lebih hebat lagi itu ternyata adalah dengan kondisi nenek. Diusianya yang sudah sangat tua, tapi kondisinya tetap bugar dan sehat. Orang-orang dulu pasti kesehatannya sangat terjaga, walaupun makanan yang mereka konsumsi itu kurang apa ya namanya?
Mungkin bisa dibilang kurang sestruktur dan steril banget seperti zaman sekarang, tapi sebenarnya bagi mereka akan terasa biasa saja dan sehat. Tidak adanya terjadi apa-apa. Kalaupun adanya penyakit juga, itu palingan seperti masuk angin atau flu pada umumnya. Biasanya sering terjadi karena faktor cuaca jad kekebalan pada tubuhnya akan berkurang.
Ada yang membuat Nana yang menjadi heran dengan Agha. Dia jarang sekali melihat Agha sakit. Agha tidak pernah bilang kalau dirinya merasa pusing, mual, atau hal lain. Tapi kalau soal pusing, setiap orang juga pasti merasakannya.
Entah itu akibat terlalu banyaknya atau keseringan terpaku menatap layar monitor lama-lama atau juga karena memikirkan hal yang membuatnya menjadi pusing sendiri. Itu menjadi hal biasa pada umumnya.
Padahal Nana selalu menanyakan kesehatan Agha, tapi dia selalu saja bilan tidak apa-apa. Agha baik-baik saja.
Ya, mungkin saja kekebalan tubuh Agha sangat tinggi jadi dirinya akan sulit terserangnya penyakit. Toh lagian juga Agha jarang sekali mengonsumsi makanan atau minuman yang menurutnya bisa membahayakan kesehatannya.
Agha tahu itu, dia bisa memilahnya. Tidak seperti Nana yang apa-apa bilang selama makanannya enak dan membuatnya menjadi kenyang itu tidak apa-apa. Tapi dia tidak memperhatikan seberapa resikonya jika keseringan mengonsumsi seperti itu.
Hari ini tumben sekali Rafa diam, biasanya dia banyak tingkah. Saat sarapan juga dia merasa tidak ada keinginan untuk makan. Perasaan Nana jadi tidak enak, dia mengecek dahi Rafa dan ternyata hasilnya panas. Nana kembali memastikan suhu Rafa dengan termometer, hasilnyapun sama saja tinggi.
Nana panik, dia coba dengan meminta Rafa untuk meminum air hangat tapi Rafa tidak mau. Ia mencoba untuk pergi ke dokter. Dan sesampainya disana, ia meminta perawat untuk meriksanya sebelum menemui dokter secara langsung.
Dia mengecek detak jantung Rafa terlebih dahulu, hasilnya baik-baik saja. Tapi entahlah, suster merasa ada yang aneh. Dia segera menuntun Nana ke ruangan dokter. Untungnya saat itu tidak terlalu banyak pasien yang konsul kedokter, keadaannyapun juga tidak terlalu ramai. Terbilang normal.
Dokter mengecek keadaan Rafa dengan seksama. Dia mengecek nadi Rafa juga. Dan memang benar, Rafa terserang demam. Tapi mengapa dia bisa susah sekali untuk makan karena sembelit. Pantas saja akhir-akhir ini juga Rafa jarang sekali untuk bab, jadinya dia malas untuk makan.
Dokter menyarankan untuk memberinya makanan dengan rasa atau varian baru, anak-anak pastinya merasa bosan jika makan yang hanya itu-itu saja. Dia juga butuh hal yang baru untuk dijelajahi.
Jika tetap susah makan, dokter menyarankan untuk memberi porsi makanan yang kecil namun sering. Kadang anak juga kalau makan tidak pernah sampai habis sepenuhnya karena porsinya yang begitu banyak. Orang tua memikirkan agar kenyang jika diberi porsi yang banyak, namun sebenarnya bukan seperti itu juga.
Melainkan membuat anak-anak jadi cepat bosan dan akan tidak habis makanannya. Lebih baik diberi porsi yang kecil namun sering dan varian makanan yang berbeda-beda, daripada memberinya porsi besar membuat anak menjadi cepat bosan.
Benar juga apa yang dikatakan dokter. Nana berfikir kalau diam asak makanan untuk Rafa itu menunya sama, tidak ada yang berbeda. Walaupun dengan varian rasa itu tidak ada.
Kali ini Nana akan mengubah masakannya untuk tidak di satu menu, dia akan mencoba di berbagai menu. Dan juga kalau bisa atau sempat itu juga. Tapi semoga saja sempat. Ah iya, dokter memberikan beberapa resep obat khusus untuk menurunkan demam Rafa.
Entah mengapa juga dia memberikan tips agar anak-anak semangat makan dengan memberikan resep produk yang biasa anaknya pakai. Produknya dijual dibanyak tempat, bahkan di minimarketpun ada.
Jadi tak perlu khawatir. Dan sebenarnya juga Nana tahu adanya produk itu, tapi dia belum berani untuk mencobanya. Takutnya malah menjadi tidak cocok untuk Rafa. Tapi karena dokter menyarankan dan bukti bahwa anaknya sekarang jadi bersemangat untuk makan, mungkin kali ini Nana mencobanya.
Setelah itu sesampainya di rumah, Nana mencoba untuk memasak makanan baru untuknya. Yang biasanya Nana selalu memberi dia nasi dengan bubuk goreng tahu, kini Nana mencoba untuk membuat nasi dengan bubuk goreng ayam.
Yang dimana ayamnya di swir terlebih dahulu agar memudahkan untuk memotongnya nanti. Setelah itu ayamnya dipotong kecil-kecil, sampai merasa cukup.
Sambil menunggu Nana membuat makanan untuk Rafa, Nana memberikan pisang bubuk dengan keju untuknya. Dia langsung melahapnya, walaupun terlihat lama saat mengunyahnya. Tapi tidak apa-apa, asalkan makanannya masuk ke dalam mulut.
Rafa menunggu makanannya sambil menonton televisi di ruang tengah dengan duduk di sofa. Dia terlihat fokus menonton channel kesukaannya.
Tak terasa saat Nana selesai membuatnya makanan lalu membawanya ke ruang tengah, ternyata pisang yang ia berikan pada Rafa sudah habis dengan bersih. Syukurlah bisa sampai habis, sekarang waktunya Rafa untuk makan makanan berat. Kali ini Nana memasukan produk yang ia beli pada nasinya. Semoga hasil dari makan ini Rafa jadi bersemangat untuk makan.
**
Waktu berganti kini Nana tengah berada di sebuah mall sendirian menunggu temannya Iby. Sambil trrus mrlirik jam Ia mencoba mengetti keterlambatan sahabtnya itu.
"Positif Na positif, mungkin saja Iby kejrbak macet aja." Gumam Nana mengsap dada mencoba sabar.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada orang lain mrmakai baju serba hitam. Pria misterius itu mendekat ke arah Nana berdiri, perlahan tapi pasti pria misterius tersebut menepuk pundak Nana.
"Eh?"
Nana terkejut saat pundaknya di sentuh orang asing. "Ada apa ya Mas?" Tanya Nana.
"Kamu gadis ular itu ya?"
"Apa?" Nana serasa tuli, pendengarannya samar samar mendengar ucapan aneh.
"Ingat satu hal, mau berusaha sekeras apapun anda tidak akan bisa merusak kebahagiaannya. Buka topeng mu, sikap sok manis dan baik mu itu tidak akan membuat rencana yang sudah anda bangun dari dulu akan berjaya. Ingat juga, kalau di sisi wanita itu ada sosok legenda yang tidak akan pernah anda ketahui pembalasannya pada mu." Ujar pria misterius tersebut dengan mencengkram pergelangan tangan Nana.
"Ih apaan sih!" Nana menepis kasar tangan pria tersebut.
Setelh tersenyum miring, pria berbaju serba hitam itu pun berjalan pergi meninggalkan Nana entah krmana.
"Dasar bodoh!" Maki Nana dalam hati dengan sorot mata memandangi punggung pria tersebut.