
Setelah lima hari Iby pergi, hari-hariku terasa membosankan. Yang biasanya selalu mengikuti Iby kemanapun, menemaninya latihan, sekali-kali datang ke rumahku, kini tidak ada lagi. Padahal baru ditinggal pergi lima hari, tapi aku merasa rindu berat. Walaupun kami tetap berkontak, namun entahlah rasanya berbeda.
**
17 Desember 2011
Aku melihat Agha membuat status, terlihat ia membagikan poster lomba fotografi. Tanpa rasa malu aku menanggapi statusnya.
"Wah Agha ikut lomba?" Nanaiu.
Tapi ada yang aneh.. poster lombanya aku merasa tidak asing. Entahlah, toh biasanya lomba terbuka untuk umum kan. Jangan mikir yang aneh-aneh deh, Na.
Ghaputra : "Hanya mempromosikan aja,"
Nanaiu : "Kirain Nana, Agha ikut lomba.. Oh iya hari ini Agha sibuk ngga?"
Eh? Udah gila Nana, aku langsung menarik pesan, semoga saja Agha tidak melihatnya.
Ghaputra : "Ada apa?"
What! Agha sepertinya udah melihat pesanku.
Nanaiu : "Nggak,"
Emang udah gila Nana, berani-beraninya ngetik itu. Duh efek kebiasaan Nana sering nanya Iby begitu. Tapi apa Agha ngga ngerasa risih sama Nana? Aku jadi khawatir kalau buat Agha merasa terganggu. Semoga saja tidak huhu. Kalau dipikir-pikir juga, Iby bisa bertahan lama sama Nana. Dia kuat juga sama sikap Nana yang berisik, syukur deh, Iby emang paling the best.
Aku mengangguk-angguk bangga, membuat orang-orang yang disekitarku heran atas tingkahku. Kebiasaan Nana, tidak mengenal tempat, aku menyembunyikan wajahku menutupinya dengan jaket yang kupakai. Oh iya sekarang aku berada di taman kota, Sendiri.
Aku mencoba untuk terbiasa sendiri lagi saat keluar tanpa tujuan seperti saat ini, mengukur bisa bertahan lama aku sendiri di luar rumah, berbeda saat sepulang ujian sekolah. Itu lain cerita, tiba-tiba saja kakiku melangkah tepat di taman bermain, lalu dengan tidak sengaja bertemu dengan Agha. Kalau diingat-ingat juga saat itu Agha seperti membawa kamera di kursi penumpang belakang. Mungkin saja dia sedang mencari bahan untuk memotret, atau mungkin hal lain? Mungkin saja.
Semakin hari, aku merasa semakin memikirkan sesuatu yang seharusnya itu bukan urusanku, bahkan tidak ada hubungannya denganku sama sekali. Padahal biasanya kalau dengan Iby aku jarang seperti ini, juga pada Jesy. Oh, iya aku sampai lupa dengan kabar Jesy sekarang. Seingatku setelah ujian berakhir, Jesy langsung menghilang tanpa kabar.
Sepertinya ia sibuk mengurusi sesuatu, tapi biasanya siswa yang telah bebas dari ujian sekolahnya akan sibuk bermain kesana-kemari? Namun dengan masalah Jesy berbeda, ia seperti menghilang dari muka bumi.
Sama sekali tidak ada kabar, Insta Jesypun tidak aktif, makanya aku jarang sekali melihat postingan atau statusnya lewat dalam berandaku. Aku jadi khawatir dengan keadaannya, semoga Jesy baik-baik saja.
“Halo kak, mohon maaf ganggu waktunya sebentar,” ucap seseorang tiba-tiba, membuatku terkejut. “Maaf saya membuat kakak terkejut,”
Aku tertawa kecil. “Hahaha tidak apa-apa,"
“Boleh minta tolong untuk memfotokan kami?” resiko kalau pergi keluar rumah sendiri pasti aja ada cobaannya, kalau bukan ditawari sesuatu, pasti di minta tolong untuk memfotonya.
“Boleh boleh,” jawabku dengan ramah, kemudian ia memberikan ponselnya padaku.
Aku mengambil posisi dengan benar. "Oke siap! Satu.. dua.. tiga!” aku berhasil memfotonya, dan menurutku hasilnya bagus.
Ia menghampiriku. “Fotonya bagus, terimakasih banyak, kak! Kakak juga mau saya fotokan?” tawarnya tiba-tiba.
“Soalnya kakaknya cocok memakai pakaian itu, terlihat cantik,” pujinya.
Aku menjadi malu karena pujiannya, alhasil pipiku memerah. Untungnya pipiku tidak semerah seperti waktu itu, aku hanya tertawa dengan ucapannya.
“Tidak usah haha.. terimakasih!" aku tersenyum padanya, Ia pun mengangguk lalu pergi melanjutkan perjalanannya.
Terdengar notif pesan, ternyata dari Agha.
Ghaputra : "Nana hari ini sibuk?"
Ghaputra : :Boleh minta bantuan lagi?"
Nanaiu : "Boleh boleh,"
Aku merasa bersyukur, akhirnya Agha yang membuka suara, kapan lagi coba haha, Agha memberi alamat.
Ghaputra : "Tolong datang ke tempat ini jam 3 sore terimakasih,"
Baru saja aku merasa bersyukur, tapi tetap saja percakapan kami tidak mulus. Agha langsung to the point, namun tanpa memberi tahu kenapa aku harus datang ke tempat itu, buat apa aku harus ke tempat itu? Agha juga tidak memberi tahu keterangan bantuan apa yang akan aku lakukan, cukup lelah juga ya dengan sikap Agha.
Aku melihat jam pada layar ponsel, menunjukan tepat pukul dua siang. Daripada aku berangkat nanti, sebaiknya aku berangkat ke lokasi sekarang takutnya terkena macet di perjalanan, lebih cepat lebih baik bukan?
Kukira tempat yang Agha kirim itu rumahnya, namun nyatanya café. Untungnya tidak terlalu banyak pelanggan saat ini, jadi aku tidak terlalu merasa malu. Entahlah, tumben sekali aku bersikap seperti ini, padahal biasanya aku tidak begini.
Ada seorang pria menghampiriku. “Halo selamat sore, ada yang bisa dibantu?” tanyanya ramah.
“Saya di undang oleh seseorang yang Bernama Agha Saputra," jelasku.
“Ah, anda diundang ya. Baik kalau begitu boleh ikuti saya," pria itu menunjukan jalannya.
Aneh banget, bagaimana bisa dia langsung menunjukan jalannya? Bahkan aku sendiri tidak tahu kalau Agha menyuruhku datang kesini untuk apa, namun saat aku sampai di tempat, aku bisa mengerti mengapa pria itu bisa langsung mengantarkan aku ke ruangan ini, karena mereka yang mereservasi untuk mengadakan rapat khusus disini. Dan kebetulan Agha yang membuat rapat ini, tapi yang paling sebalnya adalah sekarang Agha tidak tampak disini.
“Mba Hana, ya? Temannya Agha?” tanya salah satu pria yang sedang duduk di sofa dengan memakai jas berwarna navy.
Aku menangguk dan tersenyum ramah. “Iya betul dengan saya sendiri,"
“Silahkan duduk!” ucap pria yang memakai kemeja kotak-kotak sambil membenarkan posisi duduknya.
“Terimakasih!” aku langsung duduk di sofa.
“Sebelumnya maaf, kenapa Agha tidak ada disini?” karena aku penasaran, tidak ada salahnya aku bertanya bukan?
“Agha tadi keluar, apa kalian tidak berpapasan?” jawab pria yang duduk disebelahku. Aku menggeleng dan hanya bisa tersenyum singkat, Agha jahat sekali.
“Ya ampun, maaf ya Hana. Agha masih di tempat ini kok, dia biasanya berkeliaran,” lanjutnya, aku tersenyum singkat lagi.
“Sepertinya Hana kebingungan, ya?” tanya pria jas navy.
Sudah jelas! Aku datang kesini seperti anak hilang yang dibawa sama om-om. Agha gajelas banget sih jadi orang, aku jadi kebingungan sendiri. Mana ninggalin Nana sendirian disini sama om-om, kalau Nana diculik gimana?
Aku mengangguk canggung.
“Agha nggak bilang kenapa kamu harus kesini?” tanyanya lagi. Dan lagi-lagi aku menggeleng.
“Ya Tuhan, ini anak kebiasaan banget heran. Maaf banget ya, Hana..” lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum tipis.
Emang bener-bener ya Agha! Ntar kalau ketemu, Nana bakal marahin Agha,sebel banget.
“Baik kalau begitu, kami ingin memperkenalkan diri dulu. Perkenalkan, saya Rangga om nya Agha, dan yang duduk di samping Hana ini Adnan. Sepupunya Agha. Undangan dari Agha ini bermaksud untuk membicarakan fotografi, kebetulan kami ikut lomba yang Agha bagikan di status insta. Kami disini ingin menawarkan Hana untuk menjadi model kami. Untuk penjelasan jelasnya nanti saya kirim rencana matang melalui email, ada beberapa benefit jika Hana berkenan menjadi model kami dan untuk ketentuan konsepnya dari kami. Hana bisa menyesuaikan saja, jika ada kendala dan merasa konsepnya kurang nyaman bagi Hana tolong langsung beritahu kami saja. Begitu saja penjelasan dari saya, Bagaimana? apa Hana tertarik?” jelas Rangga.
Aghaa! Demi apa ini bikin aku kesel, dadakan banget jujur, nyebelin banget.
“Kami beri waktu untuk memutuskan persetujuannya. Tenang saja, kami tunggu dua hari. Jika Hana setuju, langsung hubungi nomor saya ya,” lanjut Rangga sambil memberikan kartu Namanya padaku. Dan akupun menerimanya.