Blanc Carnations

Blanc Carnations
15. Tentang Agha



Hari ini aku mampir ke rumah mama Lina, dan beristirahat sejenak di kamar Agha. Sebenarnya aku tidak tertidur, hanya mata ku saja yang menutup namun aku masih sadar. Aku hanya membayangkan sesuatu. Kadang mengenai Agha, anak-anak, dan yang lain. Dan hal itu sukses membuat ku senyum-senyum sendiri.


Mama Lina membuka pintu kamar. “Na, kamu tidak kerja?”


Aku tersadar dan langsung beranjak dari ranjang Agha. Namun saat aku akan menutup pintu, aku menemukan sebuah foto yang jatuh ke lantai, yang entah darimana datangnya. Sudah lama juga aku tidak melihatnya, dan Agha ternyata masih menyimpannya. Senyum ku merekah saat melihat foto itu.


"Ternyata Agha handal dalam mengambil gambar,” gumam ku.


20 Januari 2012


Hari dimana aku memberanikan diri untuk menjadi model fotografi, untuk pertama kalinya. Kesan pertama memang terasa sangat canggung, walaupun photographer bersikap santai tapi tetap saja aku merasa canggung dan melakukan banyak kesalahan.


Mereka yang mengerti dengan posisi ku, mewajari saja. Tapi saat Agha berbincang dengan ku, rasa gugup ku sedikit berkurang. Yap, tentu saja karena sikap dinginnya yang membuat ku sedikit kesal.


Dengan sikap Agha yang dingin, membuat ku semakin penasaran dengan dirinya. Untuk pertama kalinya juga aku bisa mengenal dengan orang yang memiliki sikap dingin. Ku kira hanya rumor semata, namun ternyata sangat jauh dari ekspetasi ku. Agha terkesan lebih dingin saat berbicara, namun dibalik semua itu, sebenarnya Ia sangat peduli.


Hanya saja Ia memiliki gengsi yang cukup tinggi, dan tidak banyak orang yang bisa mendapatkan perhatian darinya. Aku tahu kalau aku tidak terlalu mengenalnya lebih dalam, namun dengan pengalaman yang ku rasa terasa seperti itu.


“Apa adanya saja, jangan memaksa,” ucap Agha datar.


Sempat berfikir kalau Ia menjelekan ku, namun apa yang dimaksud dengan perkataan itu karena aku menempatkan posisi dan pose secara terpaksa. Memang beda rasanya kalau kita ingin berfoto sesuai dengan apa yang kita inginkan dan apa yang orang lain inginkan.


Namun sebenarnya itu tergantung bagaimana orangnya saja sih. Hanya saja, dengan model foto pemula seperti ku itu sedikit cukup membantu,


suara jepretan foto pun kini terdengar.


“Tolong pertahankan kenyamanannya, gerak saja sesuai apa yang kamu inginkan tapi jangan terlalu cepat,” ucap Rangga.


Ya, om Agha yang memotret ku. Kami beristirahat dulu sejenak, untuk mengisi energi kembali. Aku meregangkan tubuh ku yang sudah sedikit kaku. Rangga menghampiri ku lalu memberi ku minuman manis, choco milkshake.


“Akhirnya Hana bisa menyesuaikan diri. Saya tahu kalau menjadi model foto itu tidak mudah, apalagi ini baru pertama kalinya kamu mencoba. Semoga kedepannya lebih meningkat lagi, ya. Semangat!” ucap Rangga dengan ramah.


Aku tertawa lalu mengangguk. Sudah selama tiga puluh menit kami beristirahat dan kami segera melanjutkannya kembali. Walau baru hari pertama, aku tetap harus semangat. Nana pasti bisa!


Hari kedua pemotretan dengan konsep yang sama namun tempat yang berbeda. Untungnya aku sudah sedikit lebih baik daripada sebelumnya.


Hari ketiga pemotretan dan seterusnya, aku semakin lebih baik. Banyak hasil foto yang semakin memuaskan. Aku menjadi bangga pada diriku sendiri, ternyata aku memiliki bakat terpendam.


Semoga saja hasil pemotretan yang om Rangga lakukan sangat memuaskan.


Hari terakhir setelah pemotretan, kami berencana untuk makan besar. Merayakan telah dilaksanakannya pemotretan mereka dengan lancar tanpa kendala berat sampai selesai, juga merayakan atas ucapan berterimakasih pada ku.


“Saya sangat beruntung bisa menemukan kamu, Hana. Walaupun Agha yang merekomendasikan kamu sebagai model foto. Saya juga heran bagaimana dia bisa menemukan seorang perempuan,” ujar Rangga tertawa.


Aku terkejut dengan perkataan om Rangga, pantas saja sikapnya cukup dingin. Apalagi saat aku mengajaknya berbicara.


"Kamu beruntung, Hana. Yang selama ini saya tahu, hanya kamu perempuan yang pertama kali Agha kenalkan pada saya. Sebenarnya dia setiap ada beban di pikirannya yang membuatnya stress pasti datang ke saya. Walaupun dia hanya ingin beristirahat saja tanpa menceritakan apapun. Agha juga orangnya sangat sulit untuk berbagi cerita, apalagi tentang dirinya. Saya tidak tahu hubungan kalian itu seperti apa. Namun saya hanya bisa berharap, semoga Agha bisa berbagi ceritanya padamu. Walaupun itu cukup sulit, tapi semoga saja. Saya lelah dengan sikap Agha yang sangat tertutup, takutnya dia akan melakukan sesuatu yang tidak diingikan,"


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak ku, dan aku sendiri tidak tahu apa yang harus ku katakan. Kehidupan yang selama ini Agha jalani sepertinya sangat sulit. Saat dia melindungi ku kali keduanya, kurasa Ia sangat bersalah dan seperti menyalahkan dirinya sendiri. Ku kira hanya perasaan ku saja, tapi setelah difikir-fikir, Ia memiliki masalah yang cukup serius.


Pulangnya aku mengajak paksa Agha untuk membeli sebuah minuman di toko kecil dekat dengan restoran yang kami datangi. Aku hanya ingin mengajaknya untuk meminum minuman yang manis. Toko kecil ini memiliki banyak sekali varian menu dessert dengan berbagai macam rasa. Ini syurga bagi orang yang sangat menyukai makanan atau minuman manis.


“Agha engga suka!” Aku tidak peduli dengan perkataannya.


Agha telat memberitahu saat pesanan yang aku pesan sudah berada di atas meja kecil, dia sadarnya telat.


Aku menikmati honey pancake yang ditaburi sedikit bubuk vanilla. Agha yang duduk di seberang ku sama sekali tidak menyentuh es krim yang telah ku pesan untuknya.


“Cepet makan eskrimnya Gha, keburu meleleh tuh!” omel ku.


Bukannya memakan es krim, dirinya malah menggeserkan es krim tadi pada ku, membuat ku refleks mengernyit.


“Ih Agha makan dong! Masa Nana yang makan. Nana sengaja pesen es krim buat Agha, ayo cepet makan!” aku menggeserkannya kembali.


Agha menahannya dengan memberikan tatapan yang tajam.


“Berusaha juga percuma ya ternyata,” gumam ku.


“Barusan bilang apa?” ternyata Agha menyadarinya.


Aku menggeleng, lLu tersenyum paksa. “Haha giliran ginian nyampe ditelinga si es,” ucap ku yang  dengan sengaja mengeraskan suara.


**


Agha sibuk melihat pemandangan sambil memegang kamera jadulnya. Awalnya Ia akan memfoto pemandangan namun belum ada spot yang membuat dirinya tertarik. Saat berjalan ke tempat pemotretan, Agha melihat Nana yang sangat canggung dan merasa kurang nyaman.


“Apa adanya saja, jangan memaksa,” ucap Agha tiba-tiba.


Nana sedikit melirik pada lokasi Agha berada, bodoh! Kalau dia salah paham gimana? Tumben sekali mulut ku sulit untuk mengerem. Namun nyatanya, Nana melakukannya dengan cukup baik dibandingkan sebelumnya. Senyum Agha sedikit merekah saat melihat Nana yang tersenyum manis. Satu jepretan foto berhasil ia dapatkan.


“Pemandangan yang bagus.."


Ah, kami melakukan pemotretan di luar ruangan tidak dalam studio. Katanya mereka ingin memanfaatkan tempat-tempat yang cukup unik di kota. Perkataan om Rangga memang benar, tempat yang menurutnya unik sangat cocok dijadikan sebagai latar foto. Ia juga sangat pintar dalam memilihkan konsep, aku sangat menerimanya karena konsepnya yang bagus juga cukup menarik bagi ku.