
[D-3 Sebelum Agha Kecelakaan]
Esoknya Nana terbangun dipagi hari, bersyukur dia tidak terlambat seperti sebelumnya. Nana jadi sempat membuat sarapan untuk Agha dan Nathan.
Seperti biasa juga membangunkan Agha, setelah itu membangunkan Nathan untuk bersiap diri pergi sekolah seperti biasa.
Hari ini juga Nana menjalani hari seperti biasanya. Tapi dia memiliki rencana untuk berkunjung ke panti jompo. Namun karena pekerjaannya, mungkin Nana bisa berkunjung kesana tapi tidak lama seperti biasanya.
Biasanya juga Nana pergi sendiri kesana, tapi entah mengapa Agha menemani Nana ke panti jompo. Di bilang bahwa dia sebenarnya pulang lebih cepat juga. Namun tetap saja masih ada pekerjaan yang harus Agha selesaikan di rumah.
Disana kami berbincang dengan beberapa orang saja, karena singkatnya waktu.
Mereka juga sangat mengharapkan kehadiran kami di lain hari. Sangat disayangkan juga Nana tidak bisa tinggal lebih lama lagi disini. Baru kali ini juga Nana bisa menyempatkan waktunya untuk berkunjung walaupun cuma sebentar.
Di lain hari Nana ingin membawa anak-anak ke tempat itu, membuat mereka belajar juga dalam berkomunikasi dengan orang yang umurnya sangat jauh dengan mereka dan bisa bersosialisasi juga.
Terkadang Nana bingung untuk memberi Nathan pelajaran apa. Apa yang harus Nana ajarkan untuknya. Tapi Nana lebih memilih untuk mencoba mengajak Nathan ke tempat yang menurutnya hal baru bagi Nathan, agar dia belajar juga dan dapat melatih kemampuan otaknya. Baik ingatan atau yang lain.
Nana juga lebih sering bahan ajaran untuk Nathan oleh tindakannya dibandingkan materi. Karena dia sudah tahu kalau Nathan paling tidak menyukai pembahasan yang Panjang lebar, membuatnya menjadi ngantuk dan juga kurang untuk Nathan pahami. Memang biasanya perkataan atau penjelasan sangat rumit sekali untuk dipahami.
Bisa saja apa yang dituliskan atau dijelaskan itu mungkin akan berbeda presfektif lain lagi. Toh pendapat dan pemahaman kita berbeda-beda, jadi tentu saja kurang atau masih perlu adanya hal lain agar Nathan bisa mengerti.
Dengan proses lapangan inilah Nathan mudah memahaminya karena adanya tindakan atau proses yang membuat Nathan menjadi tertarik.
Ini menjadi hal yang sangat besar dalam keluarganya, seorang anak pria kecil yang dapat mengerti saja sudah sangat membuat dirinya bangga. Tidak hanya itu, seluruh keluarganyapun terkagum-kagum apalagi dengan usianya yang terlihat sangat muda.
Agha juga sadar bahwa anak prianya itu sangat membuatnya terkejut juga sekaligus bangga. Ternyata usaha mereka sampai saat ini tidak sia-sia. Semoga saja Rafa akan seperti itu, turun temurun dari bundanya yang sangat aktif ini haha. Percaya diri itu harus berani, semangat saja intinya. Karena tanpa adanya semangat apalagi dengan niat, mungkin mereka tidak akan bertindak bisa sampai seperti ini.
Sorenya Nana membelikan sebuah makanan ringan untuk anak-anak, permintaan maaf menggantikan hari kemarin karena pulang terlambat. Dan juga dia baru bisa sempat membelikan sesuatu untuk anak-anak.
Nana pasti tahu kalau Nathan pengen banget makan eskrim, jadi dia belikan eskrim kesukaan Nathan rasa coklat. Dia kegirangan ketika melihat eskrim yang Nana beli dikeluarkan dari kantong plastiknya.
Toh sudah lama juga Nana tidak membelikannya eskrim untuk Nathan. Sebenarnya dia tidak terlalu keberatan kalau Nathan makan eskrim, tapi tahu sendiri kalau Agha yang ngomel-ngomel jangan belikan Nathan eskrim.
Cuman kan sekali-kali ngga apa-apa ya kan? Lagian Nana juga tahu jangan belikan Nathan keseringan, dia juga tahu waktu dan konsekuensinya. Tapi ya tetap saja, setiap Nana beri eskrim pada Nathan, matanya mulai memberi tatapan seperti membunuh. Serem banget deh kalau Agha udah masuk ke mode gitu.
Agha bisa sampai begitu karena sebenarnya dia peduli, khawatir juga. Jadi mengantisipasinya dengan cara seperti itu. Dia bisa begitu karena dulu saat beberapa hari setelah pernikahan, Nana sering kali membeli eksrim tanpa henti. Sehari bisa terhitung tiga kali makan eskrim.
Itu berjalan selama kurang lebih tiga atau empat hari lamanya, sampai Nana jatuh sakit. Tenggorokan Nana jadi serak dan seringkali batuk. Jadi sulit bagi dirinya untuk berbicara, karena setiap kali ingin angkat bicara, Nana selalu batuk.
Di tenggorokannya sangat terasa gatal. Agha jadi ngomelin Nana, dia juga melarang Nana untuk membeli eskrim lagi atau minuman dingin lainnya. Ya efek itu terjadi bukan hanya karena dari eskrim saja, tapi dari Nana yang keseringan mengonsumsi minuman dingin.
Itu menjadi kebiasaan Nana tiap harinya. Suka lupa dan sulit untuk berhenti. Tapi semenjak itu juga Nana jarang membeli minuman dingin atau eskrim. Sekalinya membeli juga tidak keseringan seperti dahulu haha.
**
[D-2 Sebelum Agha Kecelakaan]
Hari esoknya juga sama seperti hari-hari biasa pada umumnya. Tidak terlalu banyak hal yang spesial di hari ini selain adanya kedatangan om Agha dan ponakannya. Mereka sengaja untuk berkunjung, katanya sekalian keluar rumah saja. Om Angga sebelumnya sakit selama seminggu, ia harus dirawat di rumah sakit dan memerlukan beberapa pengobatan khusus dan syukurnya om Angga berhasil sembuh, tidak sepenuhnya sembuh namun bisa mengurangi rasa sakitnya. Dia tidak memberitahu tentang penyakit yang dideritanya, tapi dia berpesan pada kami untuk selalu menjaga kesehatannya. Dulu saat diusia muda, kondisi tubuh seseorang masih kuat. Berbeda halnya dengan diusia seperti sekarang ini, sudah tahapnya ke apa-apa jadi segala kerasa dan gampang sekali ngerasa sakit. Makannya harus berhati-hati dan harus menjaga kesehatan juga. Hal kecil tapi sangat penting untuk kedepannya. Tidak akan teras ajika sekarang, tapi nanti diusia tua akan terasa akibatnya. Memang lebih baiknya untuk banyak mengonsumsi makanan yang sehat dan baik untuk tubuh, daripada merusak kondisi tubuh. Mama juga sempat cerita bahwa dia pernah diabetes dan itu berlangsung cukup lama, tapi setelah melahirkan Nana beliau diseringkan mengonsumsi yang sehat-sehat. Dan untungnya sampai sekarang mama tidak ada gejala-gejala lain yang cukup berat. Hanya mama kadang merasa pegal-pegal karena tidak sengaja mengonsumi yang membuat dirinya jadi merasa pegal.