Blanc Carnations

Blanc Carnations
38. Sikap Agha



Agha merasa bersalah pada Nana, ia akhir-akhir ini terlalu sibuk dangan pekerjaannya. Pekerjaannya kali ini cukup memakan waktu banyak karena berbagai revisi dan beberapa hal lain membutuhkan waktu lama. Ada beberapa keluhan juga dari konsumen, jadi Agha harus merevisi bahkan sampai membuat ulang agar memastikan lagi dengan seksama supaya tidak ada yang terlewat dan tidak adanya kesalahan yang terulang seperti sebelumnya. Tapi Agha juga berusaha yang terbaik selama ini. Terkadang ia merasa kesal, tapi Agha tahan. Terkadang ia merasa sangat lelah dengan apa yang dilakukannya dan lelah dengan pikirannya. Tapi saat Agha pulang ke rumah, cukup melihat Nana membuat dia merasa menjadi lebih baik. Tiap dia membuka pintu dan kebetulan mendapati Nana, Agha langsung memeluknya atau berjalan lemas menghampirinya. Lelah. Ia ingin beristirahat sejenak saja, tanpa ada yang mengganggu.


Atasan Agha memberikan hari libur selama dua hari, sudah terlalu lelah bekerja karena akhir-akhir ini juga banyak sekali pekerjaan yang harus selesai di hari-h. Oh, iya untuk pekerjaannya kali ini sudah cukup berkurang dan hanya menganalisi dan memasukannya menjadi laporan akhir. Jadi bisa dikerjakan di rumah. Atasan tidak meminta waktu cepat, tapi ia akan menunggu sampai tengah malam karena ia juga ada keperluan lain di luar perusahaan. Cukup meringankan bagi Agha dan karyawan lain.


Tidak hanya itu, Agha jadi bisa bermain dengan Nathan dan Rafa. Dengan adanya Agha di rumah, cukup membantuku agar bisa melakukan pekerjaan lain. Pertama-tama dengan membereskan rumah yang sudah beberapa lama ini tidak terurus, tapi tidak sampai berdebu banyak. Lalu membuat makanan untuk Agha dan Nathan. Karena aku juga jadi bisa beraktivitas sendiri lebih banyak terus Agha sedang berlibur, aku membuat cumi saus padang khusus untuk hari ini. Kuharap mereka menyukainya.


**


Agha terkadang rindu dengan Nana dan anak-anaknya. Setiap kali ia merasa lelah, ia terbayang wajah Nana dan anak-anaknya. Sebegitu rindukah Agha? Ya dia sangat rindu. Baru saja dia sampai di tempat kerja, Agha sudah rindu dengan mereka.


Agha dikenal orang-orang dengan sikapnya yang dingin, padahal menurut dirinya biasa saja. Tapi Agha juga tahu kalau pandangan setiap orang beda-beda, hanya saja Agha merasa heran. Tapi tidak apa-apa selama mereka tidak berbuat hal-hal aneh pada Agha.


Sebenarnya sebelum mengenal Nana, dia pernah menyukai seseorang. Lebih tepatnya Agha pernah mengagumi seseorang. Itu berlangsung tidak lama. Hanya saja Agha bertemu dengan orang itu saat di pertemuan perusahaan milik mamanya. Mama dikenal sebagai orang egois, apa-apa harus dituruti kalau tidak dia akan mengancam dengan hal-hal yang mengerikan. Curang. Wanita itu membeli Agha dari mama dengan caranya. Dia berbicara dengan tegas dan penyampaiannya juga sangat logis membuat mama tidak bisa berkata-kata lagi. Saat itu Agha masih tidak mengerti pasti dengan urusan perusahaan mama, itu juga Agha sebisa mungkin membantu beberapa saat mama menyuruhnya. Ya bukan dibidangnya tapi dipaksa untuk bisa rasanya aneh sekali. Dibandingkan dengan wanita itu, dia sangat cocok di bidang ini. Entahlah, rasanya dia sudah terbiasa jadi vibesnya terlihat beda. Padahal dia umurnya tidak jauh dengan Agha, beda satu tahun di bawahnya tapi pemikirannya udah mantap. Seperti dia sudah siap menjadi penerus perusahaan milik orang tuanya. Berbeda dengan Agha haha.


Wanita itu pernah bilang, “Anda jangan menyukai saya. Kagum boleh, tapi jangan sampai menyukai saya. Maaf sebelumnya saya bicara terang-terangan dan maaf juga kalau perkataan saya membuat anda merasa jadi tidak nyaman. Tapi saya senang bisa bertemu dengan anda. Saya harap kami tidak bertemu lagi. Jika bertemu lagi mungkin itu hanya kebetulan saja. Terimakasih.” Agak sedikit mengiris perasaan Agha karena dia berterus terang, tapi tidak apa-apa. Lebih baik berterus terang daripada tidak diberitahu secara langsung. Bisa-bisa salah satunya berharap. Namun setelah Agha bertemu dengan Nana, Agha menjadi percaya padanya. Tidak hanya itu, dia seseorang yang memiliki perasaan yang sama dengan Agha. Apa yang Nana pernah rasakan itu pernah terjadi dalam hidup Agha. Merasa gundah, gelisah, selalu berfikir yang seharusnya tidak dipikirkan. Perasaan itu yang selalu menggangu Agha setiap harinya, dan kadangan juga terjadi pada Nana. Tapi Nana jarang sekali memperlihatkannya, dia lebih sering menyemangati Agha dan memberikan saran juga pada Agha. Tetapi pada sendirinya tidak. Nana bilang, dengan hanya berbincang bersama Agha sudah membuatnya merasa lega. Pikiran-pikiran itu sedikit demi sedikit meninggalkan pikirannya walaupun cuma sejenak.


Agha pernah merasakan dimana dia merasa sudah pada titik terendahnya. Hari dimana Agha bertemu pertama kalinya dengan Nana di sekolah adiknya. Dia berencana untuk mengunjungi adiknya karena ingin memberitahu sesuatu padanya, mungkin bisa di bilang ucapan terakhir? Haha itu terlalu berlebihan. Pikiran Agha saat itu memang sedang sangat kacau. Tapi Agha juga memikirkan adiknya, namun entahlah perasaan kecewa dan benci pada dirinya sendiri itu terlalu kuat untuk membawa Agha pada akhir jalannya. Tindakannya sebenarnya bukan untuk bunuh diri, namun membuang namanya. Mengakhiri hidupnya dengan cara membunuh dan menghilangkan semua kehidupannya sebagai Agha. Tapi setelah bertemu dengan Nana berkali-kali, Agha membuang niatnya. Ada seseorang selain adiknya yang merasa nyaman dengan Agha. Ah, Agha memang jarang sekali berinteraksi dengan banyak orang. hanya seperlunya saja. Tapi kalau sudah mengenal jauh dan mengenal lebih dekat dengan Agha, akan merasa nyaman. Agha diam-diam bisa mengerti dan paham dengan orang yang dihadapannya. Walaupun tidak banyak.