Blanc Carnations

Blanc Carnations
33. Liburan



Sudah berjalan tiga bulan aku membesarkan Nathan, hal-hal sulit bagian awal yang telah ku lalui sudah berlalu. Kini Nathan sedikit banyak tingkah. Kadang Ia menunjukan kekesalannya karena ditinggalkan oleh ku sebentar. Ia merasa lapar namun dengan melebih-lebihkannya dengan menangis kencang.


Aku bingung antara harus tertawa atau bersalah padanya? Tertawa karena Ia terlihat lucu saat memberikan sikap yang tidak biasanya.


Seperti janji yang kami buat beberapa bulan lalu untuk pergi liburan, akhirnya Agha mendapat hari libur selama seminggu.


Awalnya atasan memberi waktu libur selama dua hari, tapi karena Ia tahu Nathan jadi jangka waktu liburnya Ia beri waktu lama selama seminggu. Agha bilang kalau atasannya menawarkan Agha untuk meminta keringanan hari liburnya, siapa tahu Agha ingin membutuhkan waktu lebih.


Tapi Agha menolak, menurutnya dengan waktu seminggu sudah lebih dari cukup baginya. Karena dengan keseharian saja setelah sepulang kerja, Agha menikmati waktunya dengan keluarga di rumah.


Atasan Agha sangat kagum padanya, Ia sangat bersyukur Agha bisa bekerja di tempatnya. Pekerjaannya diselesaikan dengan baik lalu perilaku Agha di kantor sangat bagus. Karyawan-karyawan disana juga menjadikan Agha sebagai panutan dan Agha banyak disukai oleh atasan-atasan lain.


Sampai sempat suatu saat Agha diperebutkan untuk mengisi sebagai ketua divisi diberbagai tempat dan sebagai manager. Tapi Ia lebih memilih untuk menjadi ketua divisinya sendiri. Karena hanya itu yang menurutnya cocok dengan skill yang Agha miliki.


Agha kurang suka di tinggi-tinggikan karena tidak ingin ada seorang pun yang merasa tidak nyaman karenanya.


Kami telah memantapkan untuk pergi liburan ke De’ Ranch yang letaknya berada di Lembang, Kabupaten Bandung. Awalnya aku ingin ke Yogya, tapi Agha takut kalau Nathan tidak kuat di perjalanan dan malah merasa tidak enak selama perjalanan.


Jadi kami pergi ke Bandung, sekalian kami mengunjungi nenek. Kami belum pernah memperlihatkan Nathan secara langsung padanya.


De’ Ranch adalah tempat wisata dengan konsep western. Disana kami bisa memakai pakaian ala koboy dan berswafoto. Kami juga bisa berkeliling di taman yang luas dengan kuda yang sudah disediakan disana. Itu menjadu salah satu impian ku untuk bisa menaiki kuda.


Aku penasaran bagaimana rasanya saat duduk disana. Saat aku kecil aku takut berdekatan atau melihat kuda karena takut tiba-tiba saja kudanya menendang ku. Tapi kini rasa takut itu menghilang, dan berganti menjadi rasa penasaran.


Kami berangkat dari Jakarta pukul lima pagi, takut terjebak macet kalau kami berangkat di siang hari dan rencananya kami akan langsung menuju tempat wisata. Perjalanan kami memakan waktu tidak terlalu lama. Terkadang kami beristirahat di rest area karena Nathan buang air besar, yang mau tidak mau aku harus menggantinya.


Aku juga bersyukur Nathan tidak banyak merengek selama di perjalanan, dia bahkan tertidur pulas. Dan akhirnya kami sampai di De’ Ranch. Suasananya dingin karena katanya baru saja turun hujan pagi tadi. Untungnya kami sampai saat hujan telah reda.


Udaranya masih terasa sejuk. Sebelum bersiap untuk menaiki kuda, kami makan terlebih dahulu. Setelah itu kami memakai pakaian ala koboy. Agha terlihat lucu dan tampan saat memakainya haha.


Aku bercermin diri memastikan pakaiannya pas dengan ku dan tidak ada hal yang janggal.


“Kamu cocok pakai pakaian itu, Na. Terlihat bagus dan juga cantik,”


Sempat-sempatnya Agha memuji ku, membuat ku malu sendiri. Dan dia malah tertawa melihat ku salah tingkah, jahat emang nih Agha.


Setelah semuanya siap, kami menuju taman yang luas untuk menaiki kuda. Aku menawarkan pada Agha untuk ikut menaiki kuda, tapi Agha menolak. Ia lebih memilih untuk menjaga Nathan. Hanya dengan melihat Nana menaiki kuda saja sudah sangat cukup baginya. Ia bisa melihat bagaimana senangnya Nana saat menaiki kuda.


Aku dibantu oleh salah satu penjaga disana agar aku aman selama perjalanan dan selamat, langkah demi langkah membuat ku mulai terbiasa. Aku bertanya pada penjaganya apa boleh jika pergi sendirian? Ia mengizinkannya, tapi jangan terlalu jauh dari jangkauannya agar dapat mengawasi dari kejauhan.


Aku mencoba sendiri, tidak terlalu menyeramkan jika sendiri karena aku tidak memiliki rasa takut dan canggung saat menaikinya. Jadi kudanya merasa baik-baik saja. Oh, iya aku pernah melihat beberapa teknik untuk mengendarai kuda.


Kali ini aku akan mencobanya, apakah berhasil atau tidak. Semoga saja berhasil sih.


Dengan perlahan dan memastikan kudanya terhubung dengan ku untuk tidak takut, aku segera menggunakan teknik yang pernah ku lihat. Sempat ada penolakan dari kudanya yang membuat penjaga itu bertanya.


"Nyonya baik-baik saja?” teriaknya.


“Saya baik-baik saja!” Aku kembali mencoba untuk menenangkannya, lalu kembali mengendarai kuda dengan menyuruhnya untuk berlari.


Berkali-kali aku berkeliling sendirian tanpa bantuan penjaga. Senang sekali mengendarai kuda sendirian. Padahal aku belum pernah latihan dengan serius, tapi ini menjadi sebuah keajaiban bagi ku haha.


Aku sudah merasa puas berkeliling dan bermain hingga lupa waktu. Aku bertanya pada Agha berapa lama aku bermain.


Dia bilang. “Sekitar sejam lebih kamu asik bermain, Na..” Ia tertawa.


“Seneng banget ya kamu? Agha liat kamu pandai mengendarai kuda, sejak kapan?”


Oh iya, Agha sendiri tidak tahu kalau aku sebenarnya pernah melihat beberapa teknik berkuda dan Ia tidak tahu aku juga pernah belajar berkuda. Tapi aku melakukannya tidak lama, hanya selama kurang lebih seminggu aku belajar. Namun karena mama tahu akhirnya aku berhenti.


“Ada deh haha, tapi aku seneng banget kudanya baik. Ya kami sama-sama terhubung, Gha. Lain kali Agha coba untuk menaikinya dong. Masa cuma Nana doang yang ngerasainnya, Agha juga coba dong,"


Agha tertawa. “Haha boleh-boleh, tapi lain kali saja. Kalau ada waktu cuma kita berdua," katanya menggoda.


“Dih banyak maunya banget ya. Semoga aja ya, Gha!” aku ikut tertawa.


Sudah lama juga kami asik di tempat ini sampai langit berubah menjadi gelap, seperti akan turun hujan. Memang sudah musimnya sekarang turun hujan, jadi wajar saja.


Kami segera mengganti baju kemudian melanjutkan perjalanan kami ke rumah Nenek. Terlihat Nenek sedang terburu-buru mengangkat jemurannya karena tiba-tiba saja turun hujan. Agha segera turun dari mobil untuk membantu nenek. Di dalam mobil aku membenarkan gendongan terlebih dahulu dan menyiapkan beberapa keperluan untuk dibawa.


Yang paling kesal adalah payung yang kami bawa ada di bagasi. Sangat tidak memungkinkan aku mengambilnya dari luar begitu pun dari dalam.


Kalau tidak salah payungnya tertimbun oleh beberapa barang, jadi cukup sulit untuk mengambilnya dari dalam mobil. Mau tidak mau aku harus menunggu Agha kembali membawa payung.


Agha membuka pintu mobil. “Maaf ya,” ucapnya.


“Gapapa, ayo masuk kasian Nathan kedinginan," kami pun segera masuk ke dalam rumah Nenek.


“Whoaa siapa ini yang datang!!” seru nenek.


Aku tertawa. “Haloo nenek, lihat Nana bawa si kecil hihii..”


Nenek melihat Nathan dengan senang, aku mengizinkannya untuk menggendong Nathan karena Nenek terlihat tidak sabar untuk menggendongnya. Haha gemas sekali.


“Abis darimana nih kalian datang ke rumah nenek sore-sore gini?”


“Kami baru dari Lembang, nek..” jelas ku.


“Waduhh, hujan gak disana?”


“Untungnya kami datang waktu hujannya udah reda hihii.."


“Syukurlah, kalau gitu mau teh hangat atau kopi?”


“Ah biar Agha aja yang buat, nek. Tidak apa-apa,” sahut Agha.


“Okey, teh sama kopinya ada di laci kedua ya. Gulanya di lemari atas!” jelas nenek.