Blanc Carnations

Blanc Carnations
57. Dibalik Kedekatannya



Keesokan harinya, Jesy terbangun di pagi hari. Sangat pagi. Baru saja dia mengambil minum air mineral, dia melihat Nathan melewatinya. Ternyata Nathan bangun lebih dulu daripada Jesy. Dia memakai jaket parasutnya, bisa dibilang pakaian lengkap untuk berolahraga. Jesy bertanya sambil minum air mineral, “Kemana?”


“Jogging.” Jawab Nathan singkat.


“Oke, hati-hati.” Nathan juga lebih rajin daripadanya. Apa Jesy juga perlu jogging seperti Nathan? Kedengarannya bagus juga. “Eh Nathan tunggu kakak!” Nathan yang baru saja melangkahkan kakinya dari pintu rumah kini berhenti ketika kak Jesy memanggilnya dan menyuruh untuk menunggu kak Jesy. Dia bersiap-siap dengan kilat untuk olahraga. Tidak peduli dengan pakaiannya yang masih menggunakan baju tidur, dia hanya menambahkan dengan memakai hoodie tebalnya. Melihat langit dari jendela masih tertutupi embun dan pastinya akan sangat dingin. Setelah selesai dia mengecek Rafa sebentar dan benar yang dikatakan Nathan. Kini tubuhnya terasa sangat hangat, Jesy membenarkan selimut pada Rafa. Dia juga mengelus lembut kepalanya dan berbisik, “Kakak tinggal dulu sebentar ya. Kamu istirahat aja.” Jesy segera menghampiri Nathan yang sedari tadi menunggunya di depan rumah.


Sudah lama juga Jesy tidak merasakan udara di pagi hari. Di sana Jesy lebih sering berolahraga di sore hari, karena paginya ia tidak sempat. Dan itupun juga tidak setiap hari, hanya kalau ada waktu luang banyak saja.


Ah, Jesy rindu berat dengan suasana ini. Suasana di pagi hari di Jakarta. Entahlah, rasanya sangat berbeda saja. Disini masih terasa dengan suasana dingin murni dari alam, ya walaupun keadaan alam sekarang tidak sebanyak dulu kala. Tapi lumayan cukup juga dan masih bersyukur masih bisa merasakan udara segar walaupun tidak banyak. Mungkin ini juga lebih terasa dingin karena cuacanya yang terlihat mendung. Entah akan turun hujan dengan waktu cepat atau tidak, tapi semoga saja tidak.


Tak terasa juga mereka jogging bersama sampai kurang lebih sudah tiga meter jauhnya. Kami jogging mengitari jalanan dengan satu jalur menuju rumah. Namun kami beristirahat sebentar di gazebo yang letaknya di taman kecil. Disana ada minimarket yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari taman. Hanya perlu berjalan mungkin sekitar lima langkah? Haha tidak mungkin juga, ya intinya dekat dengan mereka. Nathan berinisiatif pergi membeli minum kesana. Dia pergi tanpa mengucapkan apa-apa, tapi Jesy melihat kalau dia ternyata pergi ke minimarket. Jesy bersantai di sana dengan meluruskan kakinya sambil menyandarkan punggungnya pada tiang gazebo. Dia memejamkan matanya untuk merasakan suasananya dan membersihkan pikiran. Suara hembusan angin, hentakan kaki orang yang sedang berjalan, juga suara kendaraan yang berlalu lalang terdengar jelas di telinganya. Pikirannya seketika menjadi tenang. Tapi tidak bertahan lama karena ada seseorang yang tiba-tiba duduk di sekitarnya. Sempat ragu untuk membuka mata, tapi dia bersiap-siap kalau seakan orang itu orang jahat. Jesy dengan cepat mendorong orang itu dan tangannya dikepal bersiap untuk menonjoknya. Tapi tangannya terhenti karena mendengar suaranya yang meringis kesakitan seperti tidak asing. Tidak salah lagi kalau bukan Gilby. Dia malah tertawa melihat ekspresi Jesy yang kebingungan. “Kenapa bisa disini? Lo modus deketin anak-anak hah?” ucap Jesy to the point.


“Dih, kok malah jadi ke situ sih? Bukannya sapa Gilby, hai atau gimana gitu. Atau tanya kabar Gilby gimana. Curang banget tiba-tiba nanya gitu.” Gilby membenarkan bajunya yang berantakan akibat Jesy.


“Bodo amat!” Jesy membenarkan duduknya yang jarak dirinya jauh dengan Gilby. Tapi Gilby malah sengaja mendekati Jesy sampai Jesy terpentok dan dia bangkit berdiri karena kesal. Tidak lama kemudian pun Nathan datang sambil membawa kantong plastik kecil yang berisikan minuman dan onigiri kesukaannya. Tapi Nathan membeli dua, siapa tahu kak Jesy butuh energi juga.


Nathan menyapa Gilby, “Halo om.”


Jesy menahan tawanya, “Om?” tawanya jadi lepas. Pertama kalinya Jesy mendengar ada orang yang memanggil Gilby dengan sebutan om. Padahal umur dia juga setara dengan Jesy dan Nana, bundanya Nathan. Tapi haha lucu banget Gilby dipanggil om. Emang cocok juga sih buat Gilby. Dari mukanya saja sudah tergambar jelas seperti om-om haha. Eh tapi, kalau Nathan memanggilnya dengan sebutan om berarti Rafa juga dong? Wah haha Jesy jadi membayangkan Rafa memanggil Gilby dengan sebutan om. Aduh gakuat deh haha. Kalau Nana liat ini pasti bakal ketawa juga. Ya ampun pinter banget anak kamu, Na haha.


Gilby menutup paksa mulut Jesy agar berhenti tertawa dan dia terdiam. Tapi begitu tangannya lepas, Jesy menjadi tertawa terbahak-bahak. Gilby memukul punggungnya. “Ih bisa berhenti ga sih lo! Berisik tau!” kesalnya.


Bukannya diam, tawa Jesy tidak berhenti. “Lagian haha, lo dipanggil om sama Nathan haha lucu banget. Makannya cukur tuh kumis udah kayak pohon beringin aja.” Jesy tetap tidak berhenti tertawa sambil memegang perutnya. Sementara dengan posisi Nathan, dia diam saja dan lebih memilih untuk menikmati minumnya sambil bersantai. Dia tidak peduli dengan tingkah mereka. Aneh, padahal umurnya sudah cukup jauh dari Nathan tapi tingkahnya masih seperti anak kecil. Apa mungkin momen masa kecil mereka kurang? Entahlah.


“Leh salah siapa juga,” ketus Gilby dengan memasang wajah masam.


“Serius ah, serius. Gue udah capek jogging nih malah diajak ketawa. Serius banget ini, ngapain lo disini By?”


“Suka-suka gue.” Jesy menghela napas kesal. Lebih baik dia mengobrol dengan Nathan daripada orang gajelas macam ini.


“Nathan. Om Gilby sering kesini?” Nathan mengangguk sambil minum. “Modus nih. Dia ngapain aja? Emang sengaja kesini atau gimana?”


“Om Gilby cuma diem aja, tapi kadang ajak Nathan ngobrol kalau dia ngerasa bosan. Rumahnya sih jauh. Gatau deh tiba-tiba sering kesini. Kalau Nathan tanya juga alesannya sama, jogging.” Jesy yang mendengarnya sangat tidak percaya. Mana ada alasan seperti itu tiba-tiba. Aneh banget emang nih orang.


“Hati-hati Nathan. Dia orangnya bahaya, orang jahat.”


“Om Gilby baik.” kini bagian Gilby yang tertawa bangga. Dan mengejek-ejek Jesy.


“Loh kok?” Jesy menyerngit kebingungan.


“Om Gilby selalu bantu Nathan dan Rafa kalau kami kesulitan. Walaupun Nathan ngga pernah memintanya, tapi Om Gilby inisiatif datang kerumah. Entah murni dari om Gilbynya atau memang disuruh nin.” Benar juga. Nana pernah bilang pada Jesy kalau mama suka meminta tolong Gilby untuk membantu Nana dan membantu menjaga anak-anak padahal Nana tidak pernah memintanya. Dia juga bilang kalau Gilby merasa tidak direpotkan, dan malahan Gilby senang bisa membantu Nana. Nana juga bersyukur dan sangat berterima kasih, tapi lama kelamaan jadi tidak nyaman untuknya. Hidupnya terlalu bergantung pada Gilby. Aneh rasanya dan juga posisi Nana masih memiliki Agha. Akan tidak baik kalau sering berkontak dengan Gilby. Seakan jatuhnya Nana sudah melupakan Agha. Tidak baik bukan? Apalagi sampai membuat hatinya goyah karena Gilby.


Pikiran Jesy masih tetap sama, ada maksud dibalik semua tindakan Gilby. Mendekati anak-anak dengan kurun waktu yang lama bukan hal yang biasa. Entah bagaimana dengan pandangan atau perasaan dan sikap mama pada Gilby, Jesy tidak tahu. Memang benar kalau Gilby orang baik, Jesy setuju. Bisa dibilang juga dia segalanya dan banyak disukai banyak orang-orang, apalagi para wanita. Namun kalau sudah begini, Jesy merasa kurang setuju. Entah kenapa. Mungkin juga ada beberapa yang membuat Jesy masih mempertimbangkan Gilby. Tapi tetap saja kembali lagi pada keputusan dari anak-anak dan juga mama.


-o0o-