
“Ya benar, saya tahu kalau Nana berusaha. Padahal saya udah minta Nana untuk menjaga jarak dengan saya, tapi tetap saja dia ganggu saya terus," Iby memberikan senyum tipis.
“Saya masih belum pasti untuk mempercayakan Nana pada anda, tapi dari yang saya lihat sepertinya Nana mempercayai anda. Tolong jaga kepercayaannya, jangan sampai membuat Nana kecewa. Terimakasih telah berkenalan dengan Nana, terimakasih juga telah mengenal Nana,” jelas Iby.
“Suka?” Iby yang baru saja meminum air mineral, kini tersedak setelah mendengar pertanyaan Agha.
Semudah itu kah dia bertanya? “Ngga usah di jawab,” lanjutnya.
“Tolong-"
Agha menyela. “Saya akan diam, itu perasaan kamu. Jadi itu tanggung jawab kamu juga,"
Tak lama kemudian Nana datang. "Baru ditinggal sebentar udah deket ya..” Iby menatap Agha dengan tersenyum, sementara Agha dengan santainya meminum air mineral. Wah nyebelin juga ya orang ini haha.
Kejadian kecil yang cukup berarti untuk Nana. Saat Agha memberinya sendok juga garpu. Ada goresan kecil yang Iby rasakan saat melihatnya, benar apa yang dibilang Nana, dia perhatian.
Iby yang sudah mengenal Nana jauh lebih lama tidak pernah merasa kalau Iby memberi kehangatan pada Nana. Hanya perasaan Iby.. entahlah bagaimana dengan perasaan Nana.
***
Sudah selama dua bulan lebih Agha tak kunjung sadar. Nana jadi penasaran, apa yang membuat Agha betah di alam sana? Padahal banyak sekali yang ingin aku lakukan dengan Agha disini, terutama bersama anak-anak.
Aku melihat keluar jendela, ada cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan. Pertama kalinya cahaya matahari masuk semenjak Agha koma. Aku jadi teringat di suasana yang sama saat Agha memberi ku bunga yang padahal sebenarnya aku tidak terlalu suka bunga. Akan tetapi bunga yang Agha berikan saat itu terlihat sangat cantik, putih seperti tisu.
Saat itu aku menunggu Agha di belokan jalan kecil yang hanya muat dengan satu mobil. Jalanan ini tidak terlalu menanjak, aman untuk di lalui kakek dan nenek. Yang paling aku sukai dari belokan ini adalah pemandangannya.
Walaupun pemandangannya dipenuhi dengan rumah-rumah warga, tapi sangat enak untuk dilihat mata secara langsung. Karena disini para warga masih menggunakan warna cat taun 80’s. Ya terlihat seperti itu dan masih banyak rumah warga yang berinterior bangunan jaman dahulu.
Katanya mereka sangat menghargai kenangan pada rumahnya jadi sengaja untuk tidak mengubahnya. Hanya memperbaiki atau memperbarui sewaktu-waktu sudah tidak bisa digunakan.
Agha datang dengan memberikan ku senyuman manisnya. Hari ini dia terlihat tampan dengan kemeja berwarna biscuit. Agha sangat cocok dalam memakai apapun. Namun entahlah hari ini dia terlihat sangat tampan, sehingga jantung ku tak kuasa menahan debarannya.
“Maaf terlambat,” ucapnya.
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa, lagian Nana nyantai kok,”
Kami pun pergi menulusuri jalanan, sengaja. Aku sih sebenarnya yang minta, soalnya bosan kalau terus menerus pakai mobil Agha. Setidaknya sekali-kali keluar dengan berjalan kaki, supaya sehat juga kan haha.
Padahal umur ku sudah dewasa, tapi kelakuan ku masih lah seperti anak kecil. Aku menelusuri cat panjang berwana putih di sepanjang jalan, seru aja sih menurut ku. Berjalan sesuai dengan garis putih panjang dan tidak boleh keluar dari garis.
Bisa dibilang ini merupakan latihan kefokusan benar kan? Sehingga terkadang aku tersandung karena langkah ku sendiri. Agha dengan sigap menangkap ku agar aku tidak terjatuh.
"Hati-hati!” pipi ku kini terlihat seperti kepiting rebus, mungkin karena cuacanya yang panas kali ya? Haha sepertinya.
Saat kami memasuki jalanan yang cukup besar, ada sebuah acara kecil disana. Bazar lokal namanya, menarik.
Aku meminta izin pada Agha untuk membeli makanan pedas. Soalnya dia kadang suka memarahi ku. Secara tidak langsung, perkataan yang Ia lontarkan pada ku seakan seperti mengancam ku haha. Untungnya Agha memberiku izin yuhuyy, aku segera membeli cumi dan gurita bakar.
Kami menikmati perjalanan ini. Agha yang terlihat kepanasan akibat memakan cumi bakar, padahal sudah ku bilang masih panas cuminya tapi dia malah mengabaikan perkataanku. Terkadang Agha juga susah untuk dikasih tahu, malah ngeyel.
Kemudian saat kami menyebrang jalan, lagi-lagi aku menginjak trotoar sesuai garis. Itu membuat Agha dengan refleks menarik ku hingga aku terjatuh ke pelukannya.
“Hati-hati. Ini kita lagi nyebrang jalan, jangan seenaknya,” aku menjadi ciut karenanya.
Agha tidak ingin aku berbuat aneh-aneh lagi, makanya Ia merangkul ku. Mengunci akses ku bergerak agar tidak melakukan apa-apa, cih gak bebas deh aku.
Hingga sampai di penghujung jalan, kami melihat ada toko bunga yang banyak sekali macamnya. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan bunga. Karena pada akhirnya bunga itu akan mati, jadi percuma saja jika aku membelinya.
Aku sempat melihat Agha yang melirik ke toko bunga. Namun karena Agha menyadari aku yang meliriknya, Ia lantas menyuruh ku untuk tetap lanjut berjalan.
Tapi entahlah, berjalan berdua dengan Agha terasa cukup lama. Walaupun kami tidak sering singgah, hanya saat aku benar-benar menginginkan sesuatu dan kebetulan untuk mengisi perut juga kami baru memutuskan untuk singgah. Itu pun tidak lama.
Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang, aku juga sudah merasa lelah karena lama berjalan. Sudah lama juga aku tidak berjalan sejauh ini, itu cukup membuat ku mengeluarkan banyak tenaga.
Aku mengusulkan pulang dengan menaiki bus, untungnya Agha setuju. Karena jika kita pulang menggunakan taksi, aku tak kuasa membayarnya karena jarak kami sekarang dengan rumah ku itu cukup jauh huhu. Pastinya akan mahal. Kalau dengan bus kan tidak terlalu berat juga ongkosnya hehe.
Selama perjalanan pulang, ternyata aku tertidur pulas. Terlihat aku yang sangat kelelahan karena sudah menghabiskan waktu dengan Agha menelusuri jalanan.
Agha mengantar ku sampai depan rumah, memastikan aku pulang dengan selamat. Namun saat di tengah perjalanan, langkah ku berhenti karenanya.
Ia memint aku untuk singgah sebentar di gazebo dekat komplek rumah ku. Katanya ingin beristirahat sebentar. Alasannya cukup aneh juga sih, tapi yasudah lah toh hanya untuk beristirahat saja.
Kita berbincang hal-hal lain sebentar sampai akhirnya Ia bertanya pada ku. “Kenapa Nana ngga suka bunga?” aku menghela nafas, dan mengalihkan pandangan ku.
“Aku ngga suka bukan karena aku alergi sama bunga, tapi Agha tahu sendiri kan? Kalau bunga itu akan cepat mati, makanya Nana ngga suka kalau membeli bunga. Sayang aja gitu, walaupun Nana tahu kalau bunga itu cantik,"
“Agha tahu kalau bunga itu pasti akan mati, begitu juga dengan manusia Na. Tapi bunga juga bisa membuat seseorang menjadi hidup, Na. Setidaknya bunga memberikan kehidupan bagi seseorang di ruang yang kosong. Ngga cuma itu, bunga juga bisa memberi kenangan yang indah pada orang itu. Jangan fokuskan pada akhir dari kehidupan bunga, Na. Coba deh, Na..” jelas Agha.
Aku merasa pembicaraan Agha berbeda, tapi sebenarnya apa yang diucapkan Agha itu benar. Lalu tiba-tiba saja Agha memberi ku sebuah buket bunga berwarna putih. Aku sendiri tidak tahu bunga apa itu, karena aku baru pertama kali melihatnya.
“Agha memberi bunga ini dengan setulus hati Agha, ini Agha sendiri udah memberanikan diri lho Na..” aku tertawa mendengar ucapannya.
Agha terlihat malu saat mengucapkannya. Hahaha lucu sekali. Aku mengelus lembut bunga itu, greget aja lihatnya. Bunga itu juga sangat cantik, entahlah bunga itu membuat ku tertarik saat melihatnya.
“Blanc Carnation..” ucap Agha tiba-tiba, aku menoleh padanya.
“Agha liat bunga itu seperti liat kamu Na, cantik. Dan ini perasaan Agha pada Nana selama ini," pipi ku memerah lagi.
“Agha udah mempersiapkan diri secara matang-matang,” gumam Agha.
“Kenapa?” tanya ku kebingungan, Agha menelan ludah lalu menggeleng.
Sebuah notif pesan dari ponsel ku berbunyi, tertera nama Jesy dan mama disana. “Nana pulang, ya! Mama udah nyariin Nana. Terimakasih banyak Agha, hati-hati di jalan!” pamit ku lalu meninggalkan Agha.
Ditengah perjalanan menuju rumah, aku membuka pesan Jesy.
Jesyy. "Gimana jawabanmu, Na?"
Nanaiu. "Maksud kamu?"
Jesyy. "Loh? Bang Agha ngga bilang? Abang bilang ke Jesy katanya mau lamar kamu, Na.."
Mata ku terbelalak melihat pesan Jesy, Agha? Jadi sedari tadi tujuan percakapan ini….? Dan tujuan Agha memberi ku bunga ini…?
Aku mengecek kembali buket bunganya, ternyata ada sebuah benjolan di samping buket. Aku segera membukanya, tertera nama ku dan Agha disana. Kenapa aku baru menyadarinya? Bodoh banget kamu Na! kamu ngga peka!
Aku berlari menghampiri Agha, ku harap Ia masih berada disana. Maaf aku telat menyadarinya, Gha. Ku harap aku tidak terlambat, ku harap Ia tidak pergi jauh, ku harap Ia masih menunggu ku disana. Tidak ada! Dia tidak ada ditempat itu! Mata ku mencari kehadiran Agha dengan tergesa-gesa, untungnya dia belum pergi jauh. Segera saja aku menghampirinya.
“Agha!” teriak ku.
Agha menoleh saat mendengar suaraku. Aku segera memeluknya. Detak jantung Agha dan aku memiliki irama yang sama, aku bisa merasakannya.
“Maaf Nana baru menyadarinya, Gha. Nana terima!” air mata ku mengalir deras.
Aku tidak tahu harus bagaimana mengekspresikannya, terlalu bahagia. Akhirnya hari itu datang juga. Agha memasangkan cincin pada ku, aku kembali memeluk Agha dengan erat. Dia bergeming, tapi aku tahu sebenarnya Ia senang.