
Nathan membuka pintu rumahnya. Dia mengetahui ada nin datang karena melihat sepatu sandal khasnya. Nathan sangat mengetahuinya. Dia segera pergi menuju ruang tengah dan memberikan salam pada nin dan kak Jesy.
“Rafa masih tidur?” tanyanya sambil membuka almamater lalu dilipat dan disimpan di sofa dengan rapi. Kemudian dia duduk di samping nin.
“Lagi mandi,” jawab Jesy.
Kini Nathan menyandarkan punggungnya lalu menutup mata. “Kalau mau tidur di kamar aja.” Sahut Jesy.
“Cuman sebentar aja kak, sambil nunggu Rafa selesai mandi.”
“Oke deh.”
Jesy mengambil buah apel dari kulkas lalu memotongnya jadi beberapa bagian dan membawanya ke ruang tengah.
“Ayo ma, dimakan apelnya,” ucap Jesy sambil melahap apel.
Mereka terpaku dengan menonton tv, belum ada yang memulai pembicaraan. Mungkin karena kehabisan topik kah? Bisa jadi. Tapi mungkin juga tidak ingin banyak bicara. Sampai tak lama kemudian Rafa keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil, walaupun sudah dikeringkan dengan hair dryer.
“Ngga pusing kamu keramas? Padahal baru sembuh,” sahut Jesy.
“Ah, nggak kak. Justru kepala Rafa jadi ngerasa seger kak.” ya walaupun cuman sebentar, nanti juga panas lagi kalau rambut Rafa sudah kering total.
Jesy segera membangunkan Nathan dengan menepuk pelan pundaknya dan berkata, “Rafa udah keluar tuh. Nathan mau mandi juga?”
Karena suara kak Jesy, mata Nathan terbuka dengan perlahan. Dia mengangguk lalu bangkit dan segera menuju kamar mandi. Dia berjalan melewati Rafa yang sedari tadi berdiri di balkon kecil samping kamar mandi, Nathan berkata, “Rafa, mau handuk kakang. Tolong.” Rafa yang mendengarnya menoleh sebentar lalu mengambil handuk Nathan yang dijemur dan tak jauh jangkauannya darinya.
“Nih.” Rafa memberikan handuk kakang dengan tangan kanannya.
“Terimakasih.” Nathan segera masuk ke kamar mandi dan membasahi diri.
Setelah kemungkinan rambut Rafa kering banyak, ia bergabung ke ruang tengah. Sambil memakan beberapa cemilan.
“Besok masih izin atau mau sekolah?” tanya kak Jesy.
Pikirannya masih belum bekerja. Jika ia masih menetap di rumah, Rafa akan sendirian dan banyaknya tidak melakukan apapun. Tapi tiba-tiba dia merasa malas jika pergi ke sekolah. “Rafa masih belum kepikiran. Lihat nanti saja kak,” jawab Rafa dengan ragu.
Notif ponsel Rafa berbunyi, nama Abel tertera pada layar ponselnya.
Abel : Haloo Rafaa?
Besok masuk ga nih? Abel kangenn gada temen ngobrol :(
Fa : Gatau bel
Abel : Masih demam kah?
Fa : Udah mendingan sih
Abel : Yaudah kalo gitu besok masuk ya?
Adnan : Iya ayo besok masuk. Sepi nih gada Rafa
Tiba-tiba air mata Rafa menetes setelah membacanya. Ada apa dengan Rafa? Bagaimana bisa ketikan mereka membuat air mata Rafa jatuh? Padahal ia merasa biasa saja dengan sebelumnya, tapi entah kenapa berbeda dengan yang sekarang.
“Rafa kenapa?” tanya kak Jesy karena ia menyadari tingkah Rafa.
Fa : Ok, besok Rafa sekolah
Abel : Yeeey!! See u!
Adnan : Sampai ketemu di sekolah
Senyum Rafa merekah dan moodnya jadi bagus. Dia jadi sangat bersemangat dan tidak sabar untuk hari esok. Cukup banyak yang perlu disiapkan.
“Rafa ke kamar dulu, mau nyiapin buat besok,” ucap Rafa sambil berdiri lalu pergi ke kamar. Dia menyiapkan seragam sekolah di gantungan luar agar besok langsung dipakai, lalu menyiapkan mata pelajaran untuk hari esok juga. Untungnya tidak ada tugas dan materi pun sudah ia catat jadi Rafa hanya berleha-leha, dia malahan membaca komik di ponselnya sebelum tidur.
Sementara itu, Nathan keluar dari kamar mandi dan segera menuju kamarnya. Setelah itu bergabung ke ruang tengah.
“Nin hari ini nginep?” tanya Nathan.
“Ngga. Bentar lagi mau pulang.”
“Kenapa ngga nginep aja? Udah malem,” sahut Jesy kecewa.
“Nanti aja. Kapan-kapan mama menginap disini.”
“Nathan antar ya!”
Nin menolak. Ia khawatir kalau Nathan pulang malam. “Ngga usah. Nin pulang pakai taksi aja.”
“Ih gausah ma. Biar Jesy antar mama aja, sekalian mau beli beberapa makanan penutup.” Jesy segera memakai cardigan dan mengambil kunci mobil di atas lemari kecil dekat sofa. “Jesy siapin mobil dulu ya.”
Mama juga tidak bisa menolak karena ia tahu bagaimana sikap Jesy. Dia mengalah dan ikut dengan keputusan Jesy. Padahal takutnya mama merasa merepotkan banyak Jesy nanti, tapi yasudahlah.
“Nin hati-hati ya. Jangan lupa pola makannya tetep dijaga. Jangan sungkan juga buat hubungi Nathan atau kak Jesy,” ucap Nathan sambil menghela napas.
Nin tersenyum mendengar Nathan khawatir padanya. Dia lega ada yang mengkhawatirkannya. Dan ketika melihat Nathan, tiba-tiba saja ia teringat dengan Agha dan Nana. Nathan memiliki keduanya. Begitupun dengan Rafa. Dia cenderung mirip dengan Agha. Ya walaupun sikapnya lebih cuek Nathan, tapi Rafa sangat mirip dengan karisma yang ia miliki namun juga tertutup persis seperti Agha. Mereka berdua saat kecilnya sangat cerewet dan tidak bisa diam, namun ketika umurnya memasuki masa remaja menjadi tertutup. Wajar, karena sedang di masa pertumbuhan juga. Semoga saja tidak apa-apa pada mereka dan lebih memilih untuk terbuka walaupun tidak secara langsung. Agak sedikit khawatir juga, tapi nin percayakan pada mereka. Sudah saatnya mereka yang memutuskan dan memilih, biar orang-orang dewasa yang membantu mereka dan memberi beberapa saran mungkin?
“Kamu juga hati-hati ya Nathan. Jaga kesehatan kamu jangan lupa istirahat, jaga adik kamu. Nin lihat kamu sering kelelahan ya?”
Cukup terkejut mendengarnya. Apa mungkin sikap Nathan terlihat jelas? Dia hanya terkekeh mendengarnya. Memang benar tapi ya mau bagaimana lagi, sudah resiko Nathan.
“Jangan lupa istirahat Nathan. Ingat! Kesehatan itu paling penting. Nin minta tolong sama Nathan ya. Tolong tepatin janji nin buat jangan lupa istirahat dan jaga adik kamu.” Nin tersenyum, Nathan melihatnya cantik. Dan tiba-tiba saja ada bunda dalam pikirannya. Awalnya senyum Nathan merekah ketika melihat nin tersenyum, namun jadi berhenti karena teringat dengan bunda. Sosok yang sangat Nathan rindukan selama ini dan hatinya pun tidak pernah berbohong. “Nin pulang dulu ya. Kalau Jesy bandel jangan sungkan buat hubungi nin, biar nin kasih tahu suaminya.” Nathan tertawa kecil mendengarnya lalu mengangguk setuju.
“Semoga selamat sampai tujuan.” Nathan mengecup punggung tangan nin.
Wanita tua itu pergi dengan meninggalkan senyumnya, menuju lokasi Jesy berada. Dia memasuki mobil dan duduk di kursi depan lalu berkata, “Masih sama aja ya ternyata.”
Jesy tertawa mendengarnya, “Iya nih. Masih awet. Gilby hebat ngerawat peninggalan abang satu ini.”
“Maaf ya, nin malah merepotkan orang lain dan bukan meminta tolong padamu.”
“Tidak apa-apa. Sekarang giliran Jesy yang fokus menjaga anak-anak,” jawab Jesy dengan tersenyum lalu ia menancapkan gas dan meninggalkan rumah.
Nathan mengetuk pintu kamar Rafa berkali-kali, tapi tidak ada jawaban darinya. Dia membuka pelan dan melihat Rafa tertidur pulas sambil memegang ponselnya. Nathan segera memindahkan ponselnya ke meja samping ranjang lalu memakaikan selimut. Dia duduk sebentar di sampingnya dan memandang Rafa. Pipi gembulnya kini sudah hilang, tidak segembul dulu. Apa mungkin karena jarang makan kah? Atau mungkin memang sudah takdir Rafa di usia sekarang. Andai Rafa bisa merasakan bersama ayah. Dia sedih banget ketika menyadari tidak memiliki memori bersama ayah. Nathan jadi merasa tidak enak pada Rafa. Ia harus memberi perhatian lebih untuknya. Nathan bangkit meninggalkan Rafa. Dia perlahan menutup pintu dan berkata, “Selamat tidur.”
-o0o-