As Long As I Got You

As Long As I Got You
Closer



Meraka akhirnya tiba di Dubai, tidak dibandara tetapi langsung turun dikediaman Aldrich yang berada di negara itu. Rumah yang sangat sangat besar hingga mempunyai landasan pribadi di halamannya, sebenarnya rumah yang berada di Callifornia pun mempunyai landasan pribadi. Hanya saja sedang dalam proses perbaikan jadi mereka menuju bandara untuk melakukan penerbangan sementara saja agar lebih mudah.


Jet pribadi itu mendarat dengan aman dilandasan yang berada dihalaman rumah itu, jam menunjuk kan hampir malam. Namun langit sore masih terlihat sedikit menyinari tempat mereka berada, Airene dan Felix mengalami jetlag yang lumayan parah. Sikecil mengeluh sakit pada kepalanya dan Airene yang merasa mual ketika keluar dari jet itu


" Mommy.. kepala Felix sakit " Sikecil mengeluh dalam gendongan ayahnya, Airene menyerah untuk menggendongnya karna ia merasa lemas dan mual, ia takut menjatuhkan sikecil jika memaksakan diri untuk menggendongnya


Keadaan Airene pun tak berbeda jauh dengan Felix, namun selain mereka berdua yang lain dalam keadaan baik baik saja. Mungkin karna mereka sering sekali berpergian dengan menggunakan pesawat, berbeda dengan Airene yang jarang berpergian ke luar negri dan sikecil yang juga jarang dibawa Aldrich berpergian menggunakan pesawat


" Kau baik baik saja? biar Riel memeriksa mu " Ujar Al sembari menuntun anaknya dan Airene memasuki sebuah ruangan yang diyakinin sebuah kamar itu


Airene menggeleng tanda tak usah, cukup istirahat saja ia akan kembali pulih " Tak usah sir, aku hanya perlu istirahat saja "


Sikecil terlihat merengek pada Airene, kepalanya masih sakit membuatnya menjadi sangat manja pada ibunya itu " moomyy.. mau sama mommyy " ia meminta Airene untuk menggendongnya yang dilarang Al


" Kalian istirahat dulu disini, aku pergi sebentar. Nanti kita makan bersama disini saja " izin Al pada keduanya yang sudah duduk dipinggir ranjang


Dengan menahan mual Airene bertanya, takut jika Al membutuhkan dirinya mendampingi sebagai sekertaris " Apakah aku perlu siap siap sir? " bertanya dengan sopan, bagaimanapun ia adalah sekertaris dari atasannya itu. Sudah sewajarnya jika ia harus mendapampingi atasannya itu jika masalah pekerjaan tentu saja


Tiba tiba Aldrich mendekat, ia mendekat dan membereskan anakan rambut yang terlihat berantakan di dahi Airene " Kamu disini saja, temani Felix dan istirahat. Jika butuh sesuatu panggil Riel atau John "


Walaupun terkejut dengan apa yang barusan Aldrich lakukan, Airene hanya mengangguk paham dan tak bertanya lebih lanjut


" daddy mau pergi? " kali ini sikecil yang bertanya karna mendengar ucapan ayahnya barusan


Aldrich mencium dahi dikecil itu " Iya daddy pergi sebentar, felix disini saja sama mommy ya. Jangan nakal " Felix malah mendekat pada Airene dan memeluknya


" Jangan keluar tanpa John, jika butuh apa apa panggil saja dia. Kalian mengerti? "


Keduanya hanya mengangguk, lagi pula keduanya tak ada tenaga bahkan untuk sekedar membersihkan diri.


Aldrich menutup kamar itu, terlihat dua orang bodyguardnya sudah menjaga didepan pintu mereka sesuai intruksi. Ia tak mau jika nanti terjadi hal hal yang tidak dia inginkan, bahkan rumah besarnya ini terisi penuh dengan puluhan bodyguard. Semua bodyguard ini disiapkan hanya untuk Airene dan anaknya, tak lupa ia menitipkan mereka berdua pada Riel dan John yang akan tinggal dirumah sementara ia pergi bertransaksi


" Ingat jika ada yang mencurigakan segera melaporkannya pada ku, jangan sampai mereka berdua keluar dari rumah ini. Mengerti? " ujarnya penuh penekanan pada kedua bodyguard itu


Ia melangkah tegas menuruni tangga karna kamar keduanya berada dilantai 2, terlihat James dan Riel yang menunggunya diruang keluarga rumah itu


" Berapa lama kali ini? " tanya Riel, ia sudah sering sekali ikut bertransaksi dengan Aldrich. Biasanya ia ikut langsung dalam setiap pertemuan, namun kali ini berbeda karna ia disuruh untuk menjaga Airene dan sikecil Felix saja


Mengedikkan bahu tanda tak tahu, biasanya jika bertransaksi seperti ini tidak akan berlangsung lama. Namun jika pihak pembeli melakukan penawaran dan lain sebagainya mungkin akan memakan waktu sedikit lebih lama dari biasanya " Ntahlah, aku ingin secepatnya selesai "


Riel menghembuskan nafasnya " Kuharap berjalan dengan lancar, ingat kau sudah punya anak dan ISTRI, oke? "


Ntah mengapa sebutan istri itu membuatnya tersenyum hangat, ia tak keberatan jika temannya itu memanggil Airene dengan sebutan 'istrinya'


" Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku " ujar Al melangkah keluar dari kediamannya


" Ku harap tak akan terjadi " Riel menambahnya sembari melangkah memasuki kamarnya


Transaksi kali ini dilakukan digudang kosong yang berada jauh dari kediaman Aldrich, ia sengaja memilih tempat itu agar transaksi berjalan dengan lancar dan kalau pun tidak berjalan dengan lancar seperti biasa ia akan menyuruh James untuk membereskan semuanya


Transaksi ini bernilai 100 juta dollar, itu yang membuat Aldrich ikut turun dan mengurus semuanya dengan teliti karna tentu saja bukan jumlah yang sedikit. Perjalanan menghabiskan waktu 50 menit dari kediaman Al, terlihat rombongan yang Al bawa memasuki sebuah gedung tua terkesan sepi namun terbilang sangat besar juga


" sir, kita sudah sampai " Setelah memberitahukan itu, James turun terlebih dahulu lalu membuka pintu belakang dimana atasannya berada


Ada sekitar 4-5 mobil hitam dibelakang mobil yang dinaiki Aldrich, jumlahnya memang terlihat banyak namun kebalikannya. Malah jumlah ini sedikit dikurangi dari yang biasa James bawa untuk atasannya, karna sebagian anggota berjaga untuk tuan muda kecilnya itu.


Aldrich keluar dari mobilnya, ia membetulkan letak kacamata hitam dan jas yang dikenakannya. Ia tak suka jika terlihat tak rapih.


" Ayo cepat " ujarnya dingin


4-5 orang bodyguard jalan terlebih dahulu didepan Al, disisinya ada James dan Josh juga dibelakang tersisa beberapa bodyguard yang mengikuti langkahnya


Gedung itu gelap dan sangat besar karna tak ada barang barang didalamnya, terlihat ditengah gedung itu terdapat beberapa orang yang duduk dan berdiri berjaga dibelakang orang yang duduk itu. Tentu saja itu pembeli yang akan bertransaksi dengannya


" Selamat datang di dubai, Sir Callisthes " Terlihat seorang pria yang lumayan sudah berumur berdiri dari duduknya dan menyambutnya dengan tawa meriah


Beberapa wanita penghiburpun disiapkan dengan baik, sepertinya penyambutan untuk dirinya terlalu berlebihan. Banyak botol botol berisikan alkhol dan wine mahal berjejer, tak lupa beberapa barang yang iya kenal betul tapi tak memakainya. Aldrich tak pernah minum alkhol dengan para pembeli atau klientnya, ia sangat menjaga apapun yang diminum atau dimakannya tak terkecuali minuman itu. Dan para wanita penghibur? Al bahkan tak pernah bermain dengan wanita lain selain ibu asli sikecil, ia tak mau terkena penyakit bodoh karna kelalaiannya


" Duduk, duduklah sir. Aku menyediakan wine tahun lama sesuai kesukaanmu " Ujar pria tua itu menuangkan segelas wine merah dan memberikannya pada Al


Tentu saja iya menolak " Aku tak minum dengan sembarang orang " terkesan angkuh memang, tetapi inilah Aldrich Callisthes yang terkenal angkuh dan dingin itu


buahhahahhaa


" Seperti rumor yang dibicarakan benar " Nada pria itu sedikit mengejeknya


Ia tak peduli pada ejekan pria itu, yang harus ia lakukan adalah bertransaksi dengan cepat dan benar lalu pulang melihat kedua orang yang mungkin sudar menunggunya


Al duduk dengan santai menatap pria itu digoda sana sini oleh beberapa wanita penghibur


" Jadi bagaimana kesepakatan kita? " membuka pembahasan karna ia tak ingin terlalu lama berada disini


Pria itu meminum beberapa teguk alkohol, jika dilihat keadaannya sungguh menjijikan bagi Aldrich. Beberapa tanda kecupan wanita wanita itu terlihat dimana mana, bajunya yang sudah tak lagi rapih dan beberapa butir obat obatan yang menghias kursi yang pria itu duduki


" Sesuai dengan penawaranku diawal, 100 juta dolar untuk sepaket senjata milikmu sir callisthenes "


Al pikir transaksi kini tak akan menghabiskan waktu lama " Kau bisa kirimkan uangnya, lalu aku akan mengirimkan paket itu secepatnya " uang terlebih dahulu lalu barang ia kirimkan begitulah biasanya


Pria itu tertawa keras kembali, sepertinya ia sudah sedikit mabuk " Baiklah baik, aku akan mengirimkan uang nya segera. Lalu apakah barang yang kumau ada padamu sir? "


 Memang lelaki ini meminta suatu barang yang tak Aldrich jual dan tak mau ia jual, ia hanya akan menjual berbagai senjata dan kelengkapannya


" Kau tahu sir, pria bernama Luca? ia biasanya menjadi pemasok terbesarku. Tetapi ntah kenapa ia menghentikan pasokan dan yah aku kesulitan karna itu "


" Luca? "


Pria itu mengangguk sembari memainkan salah satu wanita penghibur yang ada disisinya


" ya, hampir semua orang mendapatkan pasokan barang itu darinya. Mereka semuapun aku dapatkan darinya " pria itu menunjuk beberapa wanita penghibur disana


Al tak heran jika pria bernama Luca itu menjadi pemasok wanita wanita penghibur, ia sudah terkenal akan hal itu. Semua orang tahu apa yang ia jual


" Tidak, aku tak menjual barang itu "


" Seperti yang diharapkan dari sir Callisthenes kami, baiklah aku akan mengirimkan uangnya sekarang. Dan minggu dibulan kedua ini, aku meminta persediaan fn fall dan mg3 tersedia"


James mencatat itu dan melihat stok yang ada digudang " Tersedia sir " ujarnya pada aldrich


" Baiklah, aku pergi " Al berdiri dan melangkah untuk meninggalkan gudang dan pria itu hingga


" Ku harap kau akan menjualnya sir, selamat bersenang senang " pria itu melanjutkan acara bercumbu rianya dengan wanita penghibur itu


Inilah kenapa alasannya Al tak sembarangan bermain diluar, ia tak mau memakai barang yang sudah terpakai oleh orang lain. Ia tak suka wanitanya bermain dengan pria lain intinya, karna alasan itu juga Aldrich meninggalkan ibu kandung sikecil


" Semuanya lancar tanpa kendala sir " James berujar senang karna kali ini, di transaksi kali ini berjalan dengan lancar tanpa gangguan tanpa ia harus mengeluarkan desert eagle yang sedari tadi berada didalam sakunya


Tak selamanya transaksi berjalan dengan lancar seperti ini, mungkin 3 banding 10 transaksi. Biasanya ketika atasannya itu datang, para pembeli melakukan penawaran ulang agar harga yang sudah ditentukan bisa dikurangi sesuai yang mereka mau dan membuat atasnya itu murka lalu mengamuk


Ada suatu ketika mereka sudah sampai ditempat seharusnya yang sudah dijanjikan tetapi beberapa pembeli malah menodongkan senjata mereka dan mengancam untuk membunuh atasannya itu yang berakhir dengan mereka yang mati sia sia


Itu mengapa ia selalu membawa banyak bodyguard untuk melindungi atasannya, bukan karna tak bisa menjaga diri sendiri. Tetapi keselamatan sang atasan adalah prioritas utamanya


" Ya, siapkan makan malam sekarang " Al memasuki mobilnya dengan langkah aga tergesa


Ia ingin segera bertemu dengan anaknya dan gadis itu, gadis yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya. Gadis yang membuatnya sangat penasaran akan dirinya


" Ingat jangan pernah menerima pesanan dari pria yang tadi disebutkan " tak lupa Al mengingatkan kembali kepada bawahannya agar menuruti apa yang ia mau


Jangan sampai mereka menerima pesanan orang itu bahkan memprosesnya, ia hanya datang sendiri untuk bertransaksi diwaktu tertentu saja. Tak semua transaksi ia datangi sendir


" Baik sir, kami mengerti "


Jam ditangannya menunjukan waktu sudah hampir pukul 9 malam, mungkin anaknya dan Airene sudah bangun dari tidurnya? atau mungkin mereka melanjutkan tidur malamnya. Rasa nya ia ingin cepat cepat sampai dan melihat mereka berdua


Disisi lain, terlihat ada dua orang yang saling mendekap satu sama lain sedang tertidur dengan nyenyaknya diatas kasur yang besar dikamar itu. Kedua nya tak terbangun sedikitpun dari waktu Aldrich meninggalkan mereka hingga saat ini


Dokter muda Riel sedang menikmati masa masa tenangnya tanpa ada pasien yang datang, tanpa adanya perintah dari temannya itu dan tanpa adanya adegan adegan bermesraan pasangan yang dimabuk asmara itu. Ia melihat jika temannya itu mulai tertarik dengan gadis yang belum lama ini bekerja padanya, setelah melewati pertemanan selama bertahun tahun bersama ia sangat mengetahui sifat dan sikap Aldrich jika sedang tertarik pada seseorang


Ia bukan tipe pria yang mengungkapkan apapun yang dirasanya, tetapi ia adalah tipe pria yang diam memperhatikan dan melakukannya dengan sikapnya. Sama seperti kejadian dipesawat tadi saaat terjadi turbulance, temannya itu melindungi gadis disisinya dengan reflek tanpa berpikir apa apa. Ia bahkan tak melepaskan wanita itu hingga mereka sampai ditujuan mereka, temannya itu lebih memperlihatkan tindakannya dari pada kata kata


Kekanak kanakan sekali


Riel sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai keluarga Aldrich berharap bahwa kali ini, gadis yang membuat Al tertarik gadis yang bahkan sudah mendapatkan hati sikecil ini tidak seperti wanita tak tahu diri sebelumnya. Wanita yang hampir saja menghancurkan hidup temannya itu jika kami, Aku dan Dave tak mengingatkannya bahwa ada sikecil Felix yang membutuhkannya


Aku berharap, kali ini mereka berdua mendapatkan kebahagiaan sebenarnya. Kebahagiaanya yang sudah lama sekali mereka tunggu, kasih sayang seorang ibu pada anaknya dan kasih sayang yang tulus pada pasangannya tanpa melihat dan memanfaatkan uang,harta dan kekuasannya


Deru banyak mobil sudah terdengar diluar kediaman itu, tanda bahwa Al dan yang lainnya sudah kembali dengan selamat dan sukses. Pintu pun terbuka, rumah itu terlihat sepi walaupun ada banyak bodyguard yang berjaga disetiap sudutnya. Al pun tak melihat anaknya dan Airene berada


" Mereka belum bangun jika kau mencari " Riel keluar dari kamarnya hanya untuk sekedar menyapa temannya itu yang kembali tanpa luka sedikitpun


" Sejak aku pergi? " tanyanya sembari melonggarkan dasi dan membuka jasnya


Riel duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu " Ya sejak kau pergi, mungkin kelelahan " jelas sekenanya


" James perintahkan yang lain untuk beristirahat dan makan malam "


" Baik sir " James melangkah mendekati beberapa bodyguard yang ikut dengannya untuk memberitahukan perintah atasannya itu


Al melangkah menuju tangga yang akan membawanya kepada kedua orang yang sedari tadi ingin ditemuinya, ia juga memerintahkan bodyguard yang berjaga didepan kamarnya untuk beristirahat. Tak mau digangu oleh keberadaan semua bodyguard itu saat ia berada didalam kamarnya.


Pintu basar itu terbuka, Aldrich melangkah dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Pandangannya jatuh pada kedua orang yang sedang berdekapan dan tertidur dengan lelapnya. Senyumnya tak bisa ia sembunyinya, di lubuk hatinya ia membenarkan bahwa seharusnya inilah yang terjadi jika ia mempunyai sebuah keluarga utuh


Sebenarnya  tak mau mengganggu waktu tidur mereka, tetapi mengingat keduanya belum makan malam. Mau tak mau iya membangunkan keduanya, diawali oleh membangunkan gadisnya, ya gadisnya


" Irene, irene bangunlah " Aldrich mengelus elus pelan pipi gadisnya itu


Airene yang merasa terganggu pun membuka sedikit matanya, dan yang dilihatnya membuatnya sedikit terkejut. Ia melihat atasanya itu sedang mengelus pipinya, ditambah dasi yang longgar dan kemeja yang ia tarik kesiku. Membuat atasnya itu terlihat sangat seksi


" Ma.. maaf sir " dengan suara serak khas bangun tidurnya


Aldrich masih betah mengelus pipi gadisnya " Kau lelah tak apa tapi makan malam terlebih dahulu dengan sikecil ini "


Makan malam? Airene menatap jam gantung yang ada di kamar itu, jam itu menunjukan pukul 9.30 malam dan tentu saja itu mengejutkannya. Karna perasaanya ia baru tertidur beberapa menit saja


Dengan tergesa gesa Airene bangkit dari tidurnya, ia merasa tak enak sampai atasannya itu bahkan membangunkannya sendiri


" Bangunkan Felix, aku mandi terlebih dahulu " Al bangkit lalu memasuki salah satu ruangan yang diyakini adalah kamar mandi itu


" Sayang bangun yukk "  Airene mengelus ngelus pundak sianak itu yang masih nyaman dengan alam mimpinya


" felix sayang, bangun yukk,, daddynya felix udah pulang "


Sikecilpun terbangun, ia bangkit dan mengucek kedua matanya " nghhh dadd "


" Iya daddynya Felix udah pulang, bangun yuk kata daddy felix harus makan dulu baru boleh tidur lagi " sikecil hanyak mengangguk paham, mencoba mengumpulkan semua kesadarannya


Airene bangkit dari ranjang itu dan berjalan menuju koper mereka, ia membukanya dan mulai menyiapkan piayama baru untuk dikecil dan dirinya. Cuaca aga sedikit hangat atau mungkin bisa dikatakan panas disini, jadi Airen memilih piayama berlengan pendek saja


trakk


Pintu kamar mandi terbuka, dengan reflek Airene menoleh kearah suara itu. Ia tak bermaksud apa apa hanya reflek saja hingga apa yang dilihatnya membuatnya terkejut. Berdiri seorang Aldrich dengan rambutnya yang masih basah dan hanya mengenakan bathrobe tanpa baju yang melekat dibaliknya


Airene langsung menolehkan pandangannya kearah lain, jantungnya bisa copot jika ia melihat pemandangan indah itu terlalu lama. Ia juga tak bisa menyembunyikan rasa malunya dan wajahnya yang memerah karna melihat itu


Al dengan santai nya melewati Airene dengan keadaannya sekarang menuju tempat pakaiannya, ia tak merasa terganggu oleh pandangan malu malu yang terpancar dari gadisnya itu


" Kamu sama felix mandi terlebih dahulu lalu turun keruang makan, aku menunggu disana " kali ini Aldrich berbicara dengan nada yang tak seperti biasanya, ia berbicara dengan nada lembut dan dalam


Airene yang menedengar itu hanya diam menunduk menyembunyikan wajahnya pada tumpukan pakaian yang sedang ia gengam hingga Al beres dengan pakaiannya dan melangkah keluar dari kamar itu.


" Mommy.. kita mandi? mandi? " Sikecil Felix sudah berhasil mengumpulkan kesadarannya


" Ahh.. yahh.. felix mandi sama mommy yah "


Ya memang tak masalahkan mandi bersama dengan anak sekecil ini? lagi pula dia adalah anak asuhnya


" yee mandi sama mommy asikk "


Tanpa berpikir panjang, Airene menggendong sikecil dan segera melangkah masuk menuju kamar mandi. Ia tidak mau membuat semuanya menunggu


Airene menggendong sikecil dan berjalan membuka ruangan itu, sebenarnya ia juga tak tahu dimana letak ruangan makan itu. Saat mereka tiba di kediaman ini, Airene hanya berjalan sesuai dengan Aldrich yang menuntunnya saja.


Terlihat rumah ini sangat besar dan megah, memang berbeda design dengan kediaman atasannya itu yang berada di Callifornia. Tapi sungguh ia terkesima dengan kemegahan rumah ini, Airene menuruni tangga satu persatu dengan perlahan. Karna ada Felix dalam gendongan jadi ia harus extra berhati hati


" Selamat malam miss " John menyapa keduanya yang baru menuruni tangga


Membalasnya dengan senyuman " selamat malan John " ujarnya


" Biar aku tunjukan ke ruang makan miss "


" Ah terimakasih banyak John "


Ntah menghabiskan berapa ratus juta dolar untuk membangun rumah mewah nan megah khas Aldrich itu, mereka melawati beberapa ruangan. Dari ruang tamu, ruang keluarga, dan bahkan kolam renang yang ukurannya terbilang sangat besar


" Mommy... felix renang boleh " sikecil itu mulai berceloteh karna tergoda ketika melihat kolam renang disini lebih besar daripada yang ada dirumahnya


Airene langsung menggeleng tanda tak setuju, selain waktu sudah malam udara sekarang lumayan dingin dan ia tak mau felix kembali terserang demam " ngga sayang, ngga sekarang udah malem "


" Besok boleh mom? " tanyanya masih dengan semnagat membara


" Tanya pada daddy saja yah " Semua kegiatan yang dilakukan sikecil harus melalu persetujuan atasannya itu


" daddyy " Felix berseru kencang ketika mereka memasuki ruang makan yang ditunjukan oleh John, terlihat Aldrich dan Riel sudah duduk dengan tenang banyak makanan yang sudah tersedia didepan mereka


" Jangan berteriak sayang "


Felix dan Airene duduk di sisi kanan Aldrich yang duduk di kursi utama, dihadapan mereka terdapat Riel yang sedang menyesap wine.


" Tuan mudaku masih sakit kepalanya tidak? " Riel menanyakan keadaan pasien prioritas utama


Sikecil menggeleng penuh energi sambil tersenyum senang " Tidak, tidak sakit lagi paman "


" Bagus kalu begitu, Miss Airene bagaimanan keadaan mu? " Memang sedari kecil menurut para ibu dipanti Airene memiliki imunitas tubuh yang buruk


" Masih mual tapi tak apa sir " kepalanya bahkan seperti terombang ambing


Riel memberikan beberapa bungkus obat di hadapan Airene " Ada obat anti mual dan pusing, kau bisa meminumnya setelah makan "


Airene merasa tak enak karna Riel disini bertugas untuk menjaga sikecil saja bukan dirinya " Terimakasih banyak sir "


Riel menggoyangkan lengannya " Panggil aku Riel, aku bukan atasanmu "


Walaupun sudah disuruh Airene merasa tak enak jika harus memanggilnya hanya dengan namanya itu. Waktu makan malam terlewati dengan sedikit rasa canggung pada Airene tapi tidak denga Aldrich yang terlihat santai saja tanpa merasakan apapun


Sikecil felix terus berceloteh dengan menanyakan pada semua orang kenapa hanya mister kwekk kweekk saja dan tidak membawa teman temannya yang lain


" Kenapa daddy ga bawa nyamm nyamm "


Al menatap anaknya itu sedikit tersenyum " Karna nanti pesawatnya penuh sayang "


Felix mendengus tak suka dengan jawaban ayah nya " mommy.. nanti kita bawa semuanya pakai pesawat felix aja. Jangan bawa daddy "


Buhahahaha Riel tertawa jahil melihat sikecil mewarisi sedikit kesombongan ayahnya itu


" Pesawat felix? " tanya Airene yang sedang mengelap sisa makanan dipipi felix


Dengan angkuh nya sikecil berkata " iya pesawat felix mommy.. cuma mommy, kwekk kwee, nyam nyam, mister cat yang boleh ikut. Daddy gaboleh ikut "


" Pesawat felix kan punya daddy " kali ini Al berseru tanpa mau kalah dari anaknya


" Tidak, Grandpa bilang itu punya felix "


Tunggu sebentar, maksudnya pesawat. Pesawat yang sama seperti yang dipakai mereka kemarin menuju kesini? pesawat jenis jet pribadi nan megah dan mewah itu? lalu anak asuhnya berkata memilikinya karna diberi oleh kakeknya? ohh keluarga macam apa ini yang menghadiahi bocah kurang dari 3 tahun sebuah jet pribadi


" Nanti mommy aja yang ikut, kita jalan jalan ke ke jepang " sikecil memunculkan smirk angkuh pada ayahnya yang sedang menatap ia berceloteh


" Memang tuan muda punya uang? " Riel tak mau kalah untuk ikutan dalam kisruh keluarga temannya itu


Sikecil terlihat membuka sleting yang ada pada mister kwekk kweek, ia membawa boneka itu karna merengek ingin membawanya makan juga katanya. Terlihat ia memegang sebuah kartu, kartu hitam yang terlihat seperti kartu atm itu. Airene terkejut melihatnya, itu adalah blackcard. Kartu yang tak memiliki batasan apapun dalam penggunaanya, pemilik kartu ini bisa membeli apa saja tanpa adanya limit dan bagaimana anak sekecil ini memiliki harta yang begitu luar biasa dimatanya


buahahahah Riel kembali tertawa, mengingat tak aneh jika kakek dan nenek dari felix memberikan sesuatu seperti itu


" kata grandpa, felix bisa jajan apa aja pake kartu ini. Jadi felix gausah minta uang daddy buat ajak mommy jalan jalan "


Al menggelengkan kepalanya, ia meresa kedua orang tuanya berlebihan dalam memanjakan anaknya itu


" Sayang, jangan menyimpan kartu ini sembarangan " Airene menggenggam tangan kecil itu, pantas saja banyak bodyguard yang menjaga felix jika ia saja mempunyai sesuatu yang berbahaya bagi anak seusianya itu


Airene mengambil sebuah dompet yang memang berada didalam mister kwekk kweekk, terlihat ada beberapa kartu yang terpajang didalamnya membuat kepala Airene semakin pusing


" Ingat, felix ga boleh liatin kartu ini sembarangan oke? " Bisa saja penjahat melihatnya dan mengambil kesempatan untuk merampok mereka


Dengan memiringkan kepalanya bingung felix bertanya " Memang kenapa mommy? "


" Pokonya gaboleh sayang, lebih baik kartunya dititip didaddy saja yah? " saran Airene mengingat ia juga tak mau suatu hal terjadi dikemudian hari


" ngga mommy.. nanti felix gabisa jajan sepuasnya "


Ntah ajaran siapa yang menjadikan anak ini paham sekali tentang uang " Nanti kalau felix jadi anak baik, daddy bakal kasih felix hadiah tapi ada syaratnya. Biar kartu kartu ini daddy saja yang simpan yah"


Sikecil menggeleng teguh pada pendiriannya yang tak setuju " Mommy aja yang pegang, kan mommy sama felix terus "


Merinding, bagaimana ia bisa tenang jika memegang dompet yang berisikan beberapa Blackcard didalamnya " Tidak mommy gamau, kan felix kalau jajan bisa minta daddy. Lagian felix mau jajan apa? kan makanan mommy yang buat setiap hari "


" Tapi mommy "


" Tidak sayang, belum waktunya buat felix. Nanti kalau felix udah besar minta lagi kartu ini pada dadddy "


Riel melirik Aldrich yang diam menatap percakapan anaknya dan gadisnya itu, tak biasanya seorang wanita menolak anak kecil yang memberikannya blackcard secara cuma cuma seperti Airene. Berbeda dengan wanita ularnya dulu yang selalu mencuri kartu kartu yang berada didompetnya dan memakai kartu itu seenaknya


" daddy " sikecil menyodorkan dompet pemberian kakek dan neneknya pada ayahnya sesuai apa yang dikatakan Airene " Felix titip ini kata mommy "


Al menerimanya dan berkata " Kenapa? Felix kan bisa pegang sendiri "


Sikecil menggeleng " Kata mommy tunggu Felix besar baru boleh, sekarang titip di daddy aja " melangkah kembali meminta gendong Airene yang sedang tersenyum bangga


" Nanti kalau felix udah besar baru boleh pegang lagi yah "


" Iya mommyy "


Tepukan tangan dari Riel mengakhiri acara makan malam yang kali ini begitu hangat dan ceria menurutnya, ia juga baru pertama kali melihat sikecil begitu menurut pada apa yang dikatakan Airene. Riel terlebih dahulu memasuki kamarnya yang berada dilantai 1


Sikecil dan Airene pun melangkahkan kakinya kembali menuju kamar besar yang sebelumnya mereka pakai, tanpa menanyakan dimana letak kamar untuk Airene sebenarnya. Ia berfikir bahwa akan menempati kembali kamar itu karna barang barang dirinya dan sikecil berada disana.


Hingga sosok Aldrich yang mengikuti mereka berdua sampai ke kamar itu


Karna merasa ada yang aneh Airene pun bertanya " Sir, apa ada yang bisa aku bantu? " ujarnya takut takut atasannya itu mengikutinya karna ingin mengatakan sesuatu


" Tidak, tidak ada " Aldrich melangkah mendahului Airene dan membuka pintu kamar itu


" Lalu kenapa anda disini sir? "


" Karna ini kamar ku "


Airene diam seketika, memang kamar itu terlihat sangat besar berbeda dengan kamar kamar lainnya. Lalu, ketika ia ingat kembali. Aldrich memasuki kamar ini untuk mandi dan mengganti pakaiannya di walk in closet yang mana berarti itu membuktikan bahwa benar kamar ini miliknya


" ehh... kalau begitu dimana kamar yang bisa aku tempati sir? " tentu saja ia bertanya karna mungkin saja sebelumnya Aldrich terpaksa membawanya kekamar ini dengan alasan dirinya yang sudah sangat mengantuk


" Disini "


" Maksudmu, sir? "


Al menatapnya sembari tersenyum kecil " Disini bersamaku dan Felix "