As Long As I Got You

As Long As I Got You
First Time



Satu minggu terlewati dengan baik setelah ia menyetujui kontrak dengan atasannya itu, ia pindah kerumah atasannya dan menempati kamar dilantai yang sama dengan kamar sang atasan. Menurut Al agar memudahkan Felix jika ia ingin bertemu dengan Airene atau dirinya, terlebih sekarang setiap malam Felix akan memintanya untuk tidur bersama dan ia tak keberatan akan hal itu


Hari harinya di kantorpun masih sama, ia menyusun dan membantu jadwal jadwal padat Al. Tak lupa karna kesepakatannya itu, Al selalu membawa Felix karna menurutnya lebih aman jika anak itu berada tak jauh darinya terlebih lagi sekarang dengan adanya Airene ia merasa terbantu dan tak keberatan untuk membawa bocah itu kekantor


Bisnis gelapnyapun masih berjalan, ia belum memberitahukan akan hal ini pada Airene karna kesibukan mereka berdua yang membuatnya selalu lupa akan hal itu. Hingga lusa ini iya harus melihat pengiriman senjata illegalnya sendiri dan membuat beberapa penawaran dengan mafia lainnya, kemungkinan besar ia akan membawa Airene dan sikecil. Berbahaya memang, tetapi akan lebih berbahaya lagi jika ia tak ada disamping mereka berdua


" Irene " Panggilnya pada sosok yang sedang menidurkan anaknya di sofa yang tak jauh darinya


" Ya sir? "


Al menatap serius pada Airene memang jika ia harus melihat pengiriman senjatanya sendiri, ada beberapa hal buruk yang biasanya terjadi " Aku ingin kau mengosongkan jadwalku mulai besok"


Airene menatap horor atasannya itu, mengapa ia harus berkata seperti itu disaat ia bahkan sudah mengatur jadwalnya untuk dua minggu kedepan " Mengapa sir? dan berapa hari ? agar aku bisa memberitahu pada para klien " Ia harus bersabar akan permintaan tak baik itu


" Mungkin empat hari atau seminggu " dengan entengnya Al menjawab pertanyaan Airene tak memikirkan betapa pusingnya nanti Airene menangani para klient yang sudah membuat janji agar bisa bertemu dengannya


Airene menghembuskan nafas yang  berat, ia baru saja selesai menyusun jadwal pertemuan atasannya itu selama seminggu kedepan. Dan sekarang atasannya itu meminta sesuatu yang lumayan membuat kepala nya pusing " Baiklah sir, apa akan dipindahkan ke minggu berikutnya? " kali ini Airene harus memastikan keinginan atasannya itu agar selaras dengan jadwal para klient


" Tidak "


Ipad yang sedari tadi Airene pandangpun terhenti seketika dan langsung menatap atasannya itu yang berada dikursi kebesarannya " Maksudnya sir? "


Al membalas dengan menatap Airene yang sedang disofa itu " Ada suatu hal yang harus ku urus, kau dan felix ikut bersamaku "


" Kami sir? " Firasat Airene mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk tentang ini, walaupun tak sepenuhnya benar


" Ya, kita akan ke dubai besok. Persiapkan dirimu dan Felix "


Dengan mata horor Airene memikirkan mengapa atasannya itu tiba tiba mengajaknya pergi keluar negri tanpa mengkonfirmasi dengan dirinya terlebih dahulu? ahh iya lupa sudah terikat dengan kontrak itu


" Dave akan mengurus ini, jadi kau hanya fokus persiapkan felix saja "


Airene menghembuskan nafas leganya, sementara ia tak akan pusing dengan pergantian jadwal yang sudah ada karna akan diurus langsung oleh wakil ceo. Seperti yang dikatakan al, ia hanya harus mempersiapkan dirinya dan sikecil Felix saja


" Baiklah sir, aku mengerti "


Jam menunjukan sudah pukul 5 sore yang menandakan sebagian besar karyawan disini sudah pulang begitupun dengan Al, Airene dan Felix yang tengah dalam perjalanan pulang kembali kerumah


" Mo.. mmyyy " Felix memanggil Airene yang berada disisinya, saat ini ia sedang berada dipangkuan ayahnya


Airene menatap sikecil sembari mengelus pucuk kepalanya " mhh.. kenapa? "


" Kita pergi? " Felix mendengar dari ayahnya bahwa mereka akan pergi


" Ya, kita akan berangkat besok anak baik "


Felix terdiam sembari menggenggam kwekk kwekk " Puding boleh? "


AIrene tersenyum menatap anak itu, sekarang mungkin ia sudah ketagihan masakan Airene yang sangat beragam itu " Felix mau bawa puding? "


" sekarang puding bawa "


Ntah apa yang diimaksud itu hingga membuat Al, Airene bahkan James yang sedang menyetirpun bingung


" Felix mau makan puding sekarang? lalu membawanya juga nanti begitu? " Sibocah hanya mengangguk sembari tersenyum senyum kegirangan. Al yang melihat kelakuan anaknya hanya menggeleng gelengkan kepalanya pasrah


" Baiklah kita akan membuat banyak puding oke "


Mendengar itu seketika Felix merasa sangat senang hingga melompat lompat di pangkuan ayahnya " mhh mhh mommy "


Ketika sampai dirumah, hal pertama yang dilakukan Airene adalah memandikan Felix terlebih dahulu. Mengganti pakaiannya, lalu barulah ia membersihkan dirinya dan memakai pakaian rumah yang nyaman. Berbeda dengan Al yang langsung memasuki ruang kerjanya diikuti oleh James dan Jhon .


Sudah waktunya ia membuat makan malam, memang ada para pelayan dan koki yang biasa memasak makanan untuk Al dan Felix. Tetapi semenjak ia tinggal dirumah ini, ia mulai memasak yang awal mulanya hanya untuk Felix. Ia memasak menggunakan bahan bahan yang tak akan menimbulkan alergi untuk Felix, juga membuat banyak sekali cemilan yang bisa felix makan kapanpun ia mau. Lalu tanpa sengaja Felix memberikan hasil masakkannya kepada ayahnya itu hingga Al menyuruhnya kalau sempat membuatkan mereka makan karna sesuai dengan selera mereka tentunya


Airene mulai mempersiapkan bahan masakan untuk makan malam ini, tak lupa ia juga menyiapkan bahan bahan untuk membuat puding karna seperti yang sudah dipinta oleh Felix. Beberapa pelayan membatu menyiapkan segala peralatan makan dan mencuci beberapa bahan masakan, Tak luput dari pandangan. Felix yang sedang duduk di tak jauh dari Airene, bocah kecil itu memperhatikan mommynya sembari memakan puding yang ada dikulkas


Berbeda dengan Aldrich yang tengah membicarakan hal serius dengan para tangan kanannya.


" Ingat, perketat penjagaan disetiap sudut rumah. Aku akan membawa keduanya dan tak mau ada masalah " Tentu saja bagi Al, baik Felix atau Airene keduanya sama sama penting baginya dan ia tak mau sesuatu terjadi ketika ia melakukan transaksi nanti


James mengangguk paham " Baik sir "


Al menatap ipad yang sedang digenggamnya, melihat jumlah dan jenis senjata yang akan dikirim nanti " Beri tahu untuk bertemu ditempat biasa, dan tak lebih dari 10 menit "


Ia tak suka membuang buang waktu seperti menunggu seseorang, ia lebih senang menghabiskan waktunya menatap sikecil dan Airene yang selalu tertawa menyenangkan


" Maaf sir, apakah pesanan dari sir Luca akan diproses? "


Luca? ia ingat nama yang sangat dibencinya, namanya yang bahkan kalau bisa ia tak ingin mendengar namanya seumur hidupnya. Luca, Luca Smith. Pria yang membuat Al sangat ingin membunuhnya, ia salah satu mafia cartel spanyol yang memang tak besar dan tak seberpengaruh dirinya tetapi namanya aga dikenal sebagai pemasok narkoba ke berbagai belahan dunia. Memang didunia gelap ini apa saja bisa dijual, narkoba, senjata, organ tubuh bahkan manusia. Tetapi berbeda dengan Al, ia hanya menjual senjata dan perlengkapan teknologi lainnya. Ia tak mau menjual narkoba apalagi organ tubuh manusia, mungkin jika ia membutuhkannya nanti suatu hari nanti


Luca adalah orang yang menjual apapun demi mendapat keuntungan, mengapa ia sangat membencinya? Tentu saja karna Luca meniduri wanita yang melahirkan Felix. Wanita yang seharusnya sedang menggendong anaknya dengan lembut, tetapi ia malah memergoki keduanya sedang bercumbu hebat di ranjang sebuah hotel.


Al menyadari bahwa wanita ular itu hanya ingin uang dan kekayaannya saja, ia bahkan tak peduli pada Felix yang baru saja ia lahirkan susah payah dan malah bermain dengan lelaki lain diluaran sana termasuk Luca. Ia menjadi wanita simpanan Luca selama ini, dan ia bersyukur bahwa Felix benar benar darah dagingnya dari hasil test yang dilakukan Riel


98% membuktikan bahwa Felix merupakan darah dagingnya dan Aldrich bersyukur akan hal itu, ntah apa jadinya Felix jika ia hidup bersama ibunya saat ini. Saat ia tahu bahwa Felix benar berar darah dagingnya, ia mulai mengganti semua dokumen terkait Felix dan wanita itu. ia mengganti disemua dokumen bahwa Felix hanya mempunyai Ayah dan tak mempunyai ibu dan itu tercatat di dokumen resmi negara. Hingga wanita itu tak akan bisa mendapatkan Felix bagaimanapun caranya


" Singkirkan saja dia, aku tak sudi menerima pesanannya " Al sedikit emosi karna hal ini lumayan sensitif baginya, luka lama yang tergores kembali


John yang mengerti memberikan isyarat pada James agar diam " Baik kami mengerti sir "


Al berdiri ketika ia merasa bahwa pembicaraan ini sudah selesai " Ingat untuk tak menerima pesanan dari orang itu "


" Baik sir "


Menyebut namanya saja ia tak sudi, apalagi harus berurusan dan bekerja sama dengan orang seperti dia


" daddd... dadddy.... " Terdengar sikecil yang mencarinya dengan sedikit berteriak


Ruang kerjanya berada dilantai yang sama dengan kamar mereka dilantai 2, jika suara Felix terdengar sampai sini berarti anaknya itu sedang berteriak sekencang kencangnya mencari dirinya


Al melangkah turun menghampiri anaknya yang saat ini dengan heboh nya memanggil manggil namanya, terlihat Felix sedang duduk di kursi bar yang tak jauh dari tempat Airene yang terlihat sedang memasak


Felix yang menatap ayahnya datangpun tersenyum kegirangan " dadd.. daddy... boleh bawa pudding? " Al menatap anak itu, semenjak Airene tinggal bersama mereka hal hal yang berhubungan dengan Felix baik makanan atau minuman bahkan cemilan sikecil ia buat sendiri, dan itu menguntungkan Al. Ia tak perlu takut ada bahan macam macam didalam makanan yang akan dimakan sikecil


" Tak boleh merepotkan sayang... "


Mungkin jika ia jadi Airene saat ini, ia akan menyerah. Karna apa? karna Airene mengurus segala hal tentang Felix dan Al. Mulai dari menjadi sekertaris pribadi, mengurus semua jadwal dan berkas yang harus ditanda tangani Al, tak lupa ia selalu membawa Felix kemanapun, menyiapkan perlengkapan Felix, makan dan minuman bahkan cemilan mereka berdua. Sebenarnya Airene hanya membuat makanan dan cemilan itu untuk Felix saja, namun suatu ketika anaknya itu menyuapi hasil masakan Airene yang kebetulan sesuai dengan seleranya. Jadi sejak saat itu Airene membuat berbagai makanan untuk mereka


" Tidak dadd.. mommy bilang boleh buat " Felix meminta gendong pada Al


Al menatap anaknya itu, betapa ia tak beruntung hadir didunia ini karna mempunyai ayah sepertinya dan ibu yang bahkan tak mau mengakuinya " Sudah bilang terimakasih? "


Dengan senyum lucunya Felix menggeleng " Belum dadd.. heheh " Senyum yang selalu berhasil menghilangkan kegundahan hati seorang Aldrich


" Mooo.. mommyyyy "


Airene yang merasa terpanggilpun menoleh, ia melihat anak itu sudah berada dalam gendongan ayahnya " Ya, apa kau membutuhkan sesuatu? "


" Terimakasih Mommy "


degg!!!


Apakah seperti ini rasanya jika ia membesarkan seorang anak? mengurusnya membimbingnya dan lalu ia mengucapkan terimakasih yang tentu saja membuat dirinya sangat sangat senang. Rasa lelahnya tergantikan oleh senyuman keceriaan yang diberikan si kecil


" Hee... Mengapa tuan muda ku ini mhhh? Sama sama sayang " Airene tersenyum membalas si kecil, ia senang sangat senang walaupun lelah tetapi tak apa asal sikecil sehat dan ceria


" Ahh.. Ayo makan, makan malam sudah siap. Sir, biar aku saja yang menggendong Felix "


Aldrich menatap anaknya yang terlihat sangat senang karna akan digendong oleh Airene, tapi tidak. " Tak apa biar aku saja "


" momyy daddyy " sianak protes karna ayahnya tak memberikannya pada Airene


Dengan anggukan paham mereka semua berjalan menuju ruang makan utama dirumah ini, biasanya hanya Al dan Felix saja yang duduk dan makan diruang makan itu. Para bodyguard dan maid memiliki ruang makan mereka sendiri


" Mau sama mommy. daddd "


Felix turun dari pangkuan ayahnya itu dan berjalan menuju kursi sebelah ayahnya, sudah menjadi rutinitas jika ia makan bersamaan dengan mommynya itu


" Dengan daddy saja, kasian mommy lelah "


Felix menatap ayahnya, benar saja jika mungkin saja mommynya lelah karna mengurusnya selama ini " Mommy lelah? karna felix yah? " dengan mata berkaca kaca Felix bertanya, ia takut ditinggalkan oleh Airene


" Tidak sayang, tidak lelah untuk Felix tidak " Airene langsung mendekap sikecil dengan erat takut ia menangis


" Maaf Felix merepotkan mommy "


Anak sekecil itu sudah mengerti tentang perasaan orang orang didekatnya ternya, atau mungkin ia dipaksakan mengerti karna keadaan?


Tentu saja hal seperti ini tak merepotkannya " Tidak sayang, lihat aku semakin berotot saja karna menggendongmu "


" Mommy tak akan meninggalkan Felix? "


Ohh tuhan pertanyaan macam apa ini, anak itu menanyakan hal yang menurutnya sangat susah untuk dijawab. Ia tak akan meninggalkannnya selama atasannya itu memperpanjang kontrak mereka


" Tentu saja tidak sayang, kemana mommy akan pergi jika tuan muda kecil ada disini mhhh "


Makanan sudah mulai tersaji didepan mereka, mulai dari pembuka hingga desssert yang sudah dibuat Airene tadi mulai terjadi diatas meja


" Ayo makan " jika yang punya rumah sudah mempersilahkan barulah mereka memulai acara makan malam ini


Airene mengambilkan beberapa lauk untuk atasannya itu terlebih dahulu, lalu mengambil lauk untuk dirinya dan sikecil yang ada dipangkuannya. Ia menyuapi Felix seperti biasa, walaupun ada maid yang biasa menyuapinya tapi menyuapinya sendiripun tak terlalu merepotkan


" Mommy "


" Ya? "


Felix menatap puding yang berada tak jauh darinya " Puding mommy "


Dengan bingung Airene menjawab anak asuhnya itu " Iya itu puding, Felix mau? habiskan makannya dulu baru boleh makan puding ya "


Felix menggeleng, bukan itu maksudnya " Pudingnya mommy untuk besok? "


Jadi anak asuhnya itu menanyakan puding yang akan dibawa besok? apakah menurutnya jika ia memakan puding sekarang, ia tak dapat membawanya selama perjalanan? lucu sekali anak ini


" Untuk besok sudah disiapkan sayang, jadi yang disini untuk Felix makan sekarang "


Dengan berbinar binar Felix mengangguk dan menerima suapan terakhirnya


" Irene "


Kali ini bukan Felix yang memanggilnya tetapi atasnnya itu, tak mungkin sikecil memanggil namanya langsung


" Ya sir? "


Al menaruh sendok diatas piringnya, bergantikan dengan wine merah yang berada di genggaman tangan kanannya


" Kita akan pergi jam 1 ini "


" 1 malam sir? " Airene bahkan belum mempersiapkan barang barangnya dan sikecil yang bisa saja banyak karna mengingat kemungkinan akan lama berada disana


Al menyesap wine itu sedikit demi sedikit " Ya, perjalanan sangat lama. Persiapkan kebutuhanmu dan felix, beritahu maid jika kau memerlukan sesuatu "


" Baiklah sir, aku akan mempersiapkan semuanya "


Dengan anggukan paham al menjawab " Aku akan membawa Riel, pukul 12 tengah malam nanti ku harap sudah siap semua. Kita akan pergi kebandara "


Airene menatap lemari jam yang tak jauh darinya, sekarang menunjukan pukul 8 malam. Berarti ada sekitar 4 jam untuk menidurkan sikecil dan mempersiapkan semua