
Kandungan Airene sudah memasuki minggu ke sembilan kehamilan, bisa dibilang calon bayinya cukup kuat berkat perawatan intens yang diberikan oleh Riel dan Dokter Risa dengan sabar dan tanpa henti hentinya melakukan semua upaya agar dirinya dan calon bayinya bisa bertahan
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa janinnya terlalu kecil dari ukuran normalnya. Kondisinya juga tak begitu baik kemarin jadi kemungkinan buruk bisa saja terjadi kapan saja
Namun
Berkat perawatan yang diberikan, sekarang gadis itu sudah bisa memakan buah buahan yang dia sukai. Nyeri di perutnyapun sudah tidak terlalu sering terasa. Ia juga bisa memakan bubur lembut khusus buatan ibu mertuanya. Martha juga sangat mendukung menantunya itu, setiap hari dia membuat makanan makanan yang baik untuk ibu hamil dan calon cucunya
Aldrich memberitahu akan hal itu kepada kedua orang tuanya, bahwa Airene yang sedang mengandung dan bagaimana kondisinya. Saat awal tau, martha menangis karna ibu yang sedang hamil lebih beresiko untuk yaa seperti itu. Jika kondisinya tak membaik, martha juga takut akan cara kelahiran cucunya nanti
" Ibu bawakan bubur ubi manis untuk hari ini, dan sup tulang sapi. Jika mual jangan dimakan yaah " Martha menyusun semua kotak bekal yang dibawanya dari rumah ke meja khusus pasien
Dia tak merasa di susahkan oleh keadaan menantunya itu, kalau bisa bahkan ia ingin sekali mengurusnya dirumah " Terimakasih tapi ibu tidak perlu repot repot seperti ini " Airene takut ibu mertuanya kelelahan, karna makanannya selama beberapa minggu ini dipasok langsung oleh ibu dari pria itu
Martha memberikan makanan yang berbeda beda dan bervariasi setiap harinya, bahkan 3x sehari dengan menu yang berbeda beda. Airene merasa mertuanya itu berlebihan, ia tak mau jika nanti karna membuatkan semua ini ibu mertuanya akan jatuh sakit akibat kelelahan
" Tidak ibu tidak repot, lagipula ada maid yang membantu. Ayo cepat coba, cucu granny pasti sudah lapar "
Ketika Aldrich memberitahu kedua orangtuanya bahwa mereka akan mempunyai cucu lagi. Orang pertama yang sangat senang adalah ibunya, martha sangat senang karna akan kedatangan anggota keluarga baru. Ia juga mulai membeli peralatan peralatan bayi yang sebenarnya masih sangat lama untuk terpakai tapi ia tetap membelinya
Apalagi ketika mengetahui bahwa Airene sedang mengandung anak kembar. Jiwa jiwa neneknya mulai bangkit dan tumbuh lagi, secara khusus bahkan martha mempunyai ahli gizi agar menantu dan kedua calon cucunya tidak kekurangan nutrisi. Dia juga membeli dan memakai bahan bahan berkualitas serta harus organik sesuai anjuran ahli gizi
Makanan yang dia buat setiap harinya pun sudah melewati seleksi dari dokter ahli gizi. Tak ingin kalah dari istrinya, Alan juga ikut merayakan kehamilan menantunya itu dengan memberikan saham yang sangat banyak. Beberapa pusat perbelanjaan untuk kedua calon cucunya
Alan juga meminta untuk Aldrich segera menikahi menantunya, dia ingin menggelar acara semewah dan semegah mungkin. Semua koleganya akan dia undang untuk merayakannya, menantu dan anaknya hanya cukup diam dan biarkan ia sendiri yang menyusun acara pernikahan tersebut
Tapi
Aldrich berkata jika pernikahannya belum bisa terlaksana sekarang " Ayah, Irene masih perlu bedrest. Aku takut jika perayaan itu akan membuatnya lelah dan kembali sakit " keadaan gadis itu memang belum stabil, terkadang merasa baik namun bisa berubah buruk dalam sekejap
" Tidak sekarang juga, sampai keadaannya stabil baru aku akan mulai merancangnya "
Hanya perlu satu kata dan semuanya beres tak perlu lelah mengurusnya. Biarkan sekertarisnya dan uang yang digelontorkannya yang bekerja
Airene masih berada dirumah sakit, kondisinya belum terlalu stabil hingga Riel belum mau memutuskan langkah selanjutnya. Perawatan dirumah berbeda dengan perawatan yang ia dapatkan dirumah sakit. Bisa saja ia merawat gadis itu dirumah, karna memang mereka menempati rumah yang sama
Sikecil juga mulai mau dititipkan kepada kedua kakek dan neneknya, anak itu sudah percaya sekarang tak mungkin Airene akan pergi lagi membawa kedua adiknya. Dia juga sudah mulai kembali seperti sedia kala menjadi anak yang pintar dan ceria
Felix ikut saat neneknya akan memberikan makanan untuk ibunya dan kembali saat sudah selesai. Dia menjadi anak yang penurut dan dengan sabar menunggu sampai ibunya pulih untuk pulang bersamanya
" byee byee mommy.. besok felix kesini lagi sama granny " sikecil mengecup kedua pipi ibunya
" Daddy jagain mommy yaah " beralih dengan mengecup ayahnya
Martha membawa kembali kotak bekal makan dibantu dengan maid pribadinya, " Kalau ingin sesuatu jangan sungkan memberitahu ibu yaah. Ibu pulang dulu, jangan lupa habiskan " sembari menuntun cucunya keluar dari ruangan rawat itu
Tersisa Airen dan Aldrich menatap pintu ruangan yang mulai tertutup. Hubungan keduanya masih seperti biasa, walau pria itu sudah menjelaskan semuanya. Dia juga sudah meminta maaf akan apa yang sudah dilakukannya, Airene masih tak berani untuk berkata bahwa dirinya sudah memaafkan pria itu
Airene masih merasakan sakitnya
Dia tak mau lagi memutuskan semuanya dengan terburu buru, gadis itu akan menunggu sampai saatnya tiba. Apakah ucapan pria itu benar adanya atau kembali menyakitinya seperti kemarin
" Ingin makan sesuatu? " Aldrich sudah menyerahkan seluruh urusannya kepada Dave, saat ini dirinya hanya ingin fokus merawat Airene
Hubungan mereka memang berangsur angsur secara perlahan membaik, Aldrich mulai memperhatikan semua detail kecil tentang gadisnya. Dia tak mau jika harus diberitahukan lagi oleh temannya, harga diri sebagai seorang pria sedikit tergores. Dia juga tak suka mengetahui kalau temannya lebih tau akan gadisnya dibandingkan dengan dirinya
Membuatku kesal saja
Airene melihat wajah kusut pria itu, pikirnya ada sesuatu yang terjadi di perusahaan karna mereka sudah lama tak mengeceknya dan menyerahkan semua urusan kepada Dave dibantu oleh Xavier " Apa ada sesuatu yang terjadi? "
Aldrich seketika menatap gadisnya, apa dia membuat gadis itu khawatir? " Tidak, hanya mungkin ada sesuatu. Aku ingin membicarakan ini dengan mu "
" Ya bicarakan saja "
Sebelumnya, rencana pernikahan ini tercetus oleh kedua orang tuanya yang memaksa untuk diadakan acara ini. Bukan seperti Aldrich merasa terpaksa untuk menikahi gadisnya itu, tapi memang dia belum meminta persetujuan dari gadisnya. Ia tak bisa mewujudkan keinginan orang tuanya jika gadisnya menolak
Bagaimanapun gadisnya berhak memilih
Tapi
Dia akan berusaha meyakinkan gadis itu
" Mungkin kamu mendengar hal ini dari ayah ku, aku tidak akan membebanimu jika kamu tak ingin. Tapi percayalah, tidak bukan. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua "
Pandangan mata pria itu berubah, pria itu memandang Airene dengan tatapan membara dan serius disetiap ucapan yang ia lontarkan. Bukan tatapan marah dan kesal seperti kemarin
" Aku ingin menikahi mu "
degg
Airene menatap tak percaya, dia pikir. Mereka hanya akan hidup bersama karna terikat oleh calon bayi yang dikandungnya, Airene berpikir bahwa Aldrich masih mencintai mantan dan ibu kandung dari sikecil
Dia juga tak terlalu berharap untuk dinikahkan oleh pria itu, asalkan kedua calon bayinya mendapat kasih sayang seorang ayah. Dirinya tak masalah dinikahkan atau tidak
" Maksudmu? " pandangan tak percaya
" Jangan berpikir bahwa aku menikahimu karna kedua bayi ini, tidak. Aku memang ingin menikahimu karna itu kamu "
Aldrich mengambil sesuatu dari kantung celananya, dia sudah meminta pendapat ibunya tentang hal ini. Pria itu mengeluarkan kotak yang berisikan sebuah cincin indah
Cincin itu nampak sederhana namun disatu sisi juga terlihat mewah. Banyak batu mulia kecil menghiasi seluruh cincin itu. Menjadikan cincin yang simple namun orang akan tau betapa mahalnya barang itu
Aldrich khusus membuatnya sesuai dengan apa yang diinginkan dirinya
" Berikan aku kesempatan untuk membuktikan padamu, aku akan melakukan segala hal. Semua yang ingin kau tau aku akan menjawabnya dan semua yang aku sembunyikan akan ku ungkapkan "
Airene terpanah oleh ucapan pria itu, dia sudah mengacungkan kotak cincin dihadapannya. Namun gadis itu diam sejenak, dia teringat akan sesuatu
" Jika aku menerimanya, kamu akan berkata jujur tentang semuanya? " Aldrich menganguk mengiyakan
" Bahkan jika aku bertanya tentang masa lalumu? "
Pria itu mengulurkan tangannya untuk menggenggam lengan gadisnya. Ia mengambil cincin yang berada dikotak itu, dan dengan perlahan menyematkan cincin itu dijari manis gadisnya. Tak lupa ia juga memberikan sebuah kecupan
" Ya, tidak akan ada hal seperti kemarin. Mari hadapi ini bersama sama "