As Long As I Got You

As Long As I Got You
Lost



Setelah memakan ayam panggang keinginannya, Airene menemui sikembar Josh untuk mengantarnya ke kantor Aldrich. Tentu saja pria muda itu langsung mengiyakan dan dengan segera menyiapkan mobil untuk mereka, Airene juga meminta untuk tidak terlalu banyak membawa orang. Maksudnya bodyguard, gadis itu berpikir tak perlu membawa banyak orang. Mereka hanya pergi ke kantor Aldrich, jadi cukup Josh saja yang mengantarnya


Airene membawa wadah berisikan sisa ayam panggang yang sudah ia sisihkan untuk sikecil dan ayahnya. Mobil mulai melaju meninggalkan kediamannya


Perjalanan terasa biasa saja hanya mungkin sedikit berbeda karna gadis itu sudah lama tak merasakan udara luar dan juga pergi keluar. Airene sengaja membuka kaca mobil agar udara menerpa dirinya


Tapi, saat dalam perjalanan menuju kantor Aldrich. Tiba tiba mobil yang mereka tumpangi dihadang oleh dua mobil besar, dan beberapa orang turun dari mobil tersebut


Ada sekitar 10-12 orang yang menghadang mereka sembari menodongkan pistol kepada Airene. Gadis itu melihat Josh yang ada di kursi pengemudi, pria muda itu juga mengalami situasi yang sama seperti dirinya. Yang berbeda wajahnya sudah penuh luka sana sini karna mencoba melawan orang orang tak dikenal ini. Jumlah mereka kalah jauh jika ingin melawan, apalagi mereka berdua tidak dibekali dengan senjata apapun


" Kau wanitanya Callisthenes? " Salah satu dari pria yang memakai topeng bertanya padanya


Airene menjawab pertanyaan itu acuh tak acuh malah terkesan seperti menantang orang dihadapannya " Wanitanya? ya memang aku, kenapa? apa yang kau inginkan? "


" Bawa dia! dan biarkan pria itu mati disini! "


duggg... drakkk... bukkkkk


Gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang orang ini tanpa merassa bersalah memukuli Josh bertubi tubi. Darah sudah bercecer dimana mana, Airene tak bisa melawan karna kedua tangannya yang terikat dan seorang pria yang masih menodongkan sebuah pistol kearah pelipis kanannya sebelum mereka membawanya pergi dengan salah satu mobil tadi


Airene hanya berharap pria muda itu bisa selamat setelah mendapat luka yang cukup parah seperti itu. Kedua matanya ditutup oleh sehelai kain, gadis itu tak bisa melihat apapun selain kegelapan. Ntah bagaimana nasibnya nanti


Tanpa diketahui orang orang itu, Josh sudah mengirimkan sebuah sinyal tanda bahaya yang terkoneksi langsung dengan perangkat bossnya. Pria muda itu sempat memijit tombolnya ketika orang orang tak dikenal memukulnya secara membabi buta, dia juga sudah menyelipkan sebuah gps kecil kesalah satu orang yang saat itu sedang memukulnya. Dengan ini mereka akan tau kemana orang orang itu membawa nyonya Callisthenes pergi


Orang orang itu membawa Airene kesebuah ruko tua yang jauh dari pusat kota, ruko ini juga mereka gunakan untuk bersembunyi dari kejaran orang orang Aldrich


Akhirnya setelah beberapa lama, ikatan yang menutup pandangan gadis itu dibuka. Airene mencoba membiasakan cahaya yang masuk sebelum membuka matanya dengan benar untuk melihat sekitar. Ia berada di sebuah ruko besar nan usang, terlihat sangat kotor dan berantakan sampai sampai gadis itu ingin muntah dibuatnya


Salah satu dari mereka mendudukan Airene di sebuah kursi, tak lupa mengikat tangannya kebelakang kursi itu menghindari Airene untuk kabur. Orang orang berpakaian hitam berjaga di setiap sudut ruangan ini dengan memegang sebuah senjata


" Apa dia benar wanitanya Callisthenes? "


" Benar, dia mengakui dirinya sendiri sebagai wanita orang itu " Jawab mereka yang membawa gadis itu, serasa sudah paham dengan situasi saat ini. Airene menatap pria pria di depannya tanpa rasa takut


" hmmm... jadi begitu yaah " Gumamnya


Salah satu dari pria dihadapannya mendekati Airene


Airene menatap nyalang padanya " Apa yang kau inginkan dariku?! "


Mereka sedikit menertawakan pertanyaan gadis itu " Kami tidak mau apapun darimu, kami hanya ingin nyawa Aldrich Callisthenes dan Alan Callisthenes "


Mendengar kedua nama itu disebut, emosinya memuncak " Kau!! "


" Aduhh aduhhh... Kau begitu cantik saat marah seperti ini, apa pria itu juga tertarik padamu melihat sisi mu yang seperti ini? bagaimana jika kau merasakannya juga? " Pria didepannya mulai mendekati gadis itu


Beberapa pria yang sedang berjaga di setiap sudut ruangan menertawai mereka, terlihat juga malah mendukung tindakan dari teman satu kelompok mereka.


Pria itu menyalakan sebatang rokok, dan membuang asapnya pas di hadapan gadis itu


" Hukk... uhukkkk.. " Airene terbatuk menghirup asap rokok itu


" Kalian pikir, kalian bisa melawan seorang Callisthenes? " bodoh memang jika mencoba memancing orang orang ini


" Apa yang bisa kau lakukan?! Cukup duduk diam disini sampai kami berhasil menghabisi semua garis keturuna Callisthenes! "


Airene sedikit memajukan tubuhnya " Tidak akan terjadi selama aku masih hidup!! "


plakkk!!!


Pekik Airene merasa sakit karna pria didepannya tampak sedikit kesal mendengar ucapan gadis itu dan memukulnya hingga dia terjatuh bersama dengan kursi yang didudukinya


uhh


Jerit gadis itu sakit dan langsung melihat kearah perutnya, dia takut terjadi apa apa pada kedua calon bayinya karna terjatuh cukup keras


haaa


Gadis itu bernapas lega


" Hey, apa tadi kau bernapas lega? " Tanya pria itu dan menendang perut Airene dengan pelan, gadis itu menatapnya dengan takut. Dia takut bayi bayinya terluka didalam sana


Riel berkata untuk menghindari guncangan atau bahkan luka langsung pada perutnya seperti tekanan atau sebagainya. Walau pelan tendangan pria itu cukup membuatnya takut


Pria itu melihat reaksi Airene yang berlebihan ketika ia menendang ke arah perut gadis itu, dia juga baru memperhatikan perut buncit gadis dihadapannya. Dia lalu kembali menendang perut itu sembari terus melihat reaksinya, karna rasa penasaran akan penyebab dari reaksi yang diperlihat kan gadis itu. Pria ini merobek dengan paksa kaos kebesaran yang dipakai Airene dan menampakkan perut buncit khas wanita hamil


" Perut mu buncit? " pria itu bertanya tanya


Pria lainnya mendekati mereka, " Dia tampak gemuk lalu perutnya buncit. Apa dia sedang mengandung? "


Pria yang tadi merobek kaos Airene menusuk nusuk permukaan perut buncitnya " Ini keras dan tidak berlemakk wahhhh "


Airene menatap kedua pria dihadapannya dengan tatapan ketakutan " Jangannn!! jangan sentuh !! jangan "


" Jadi kau sedang hamil yahh? "


" Dia sedang hamil? benar benar hamil? " Pekik kedua pria itu senang sekaligus tak percaya


Airene sedang berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya, hanya tinggal menunggu waktu sampai ikatan itu terlepas


" Bagus, kita bisa menghabisi sekaligus seluruh keturunan Callisthenes. Ini luar biasa, pasti boss akan sangat senang mengetahuinya "


Pria yang sedang meroko menatap rendah wanita dibawahnya " Kita bisa melihat pria itu memohon dan bahkan bisa membuatnya mencium kakiku "


" Jangan harap dia melakukan itu!! " Pekik Airene yang akhirnya berhasil melepaskan ikatan ditangan


Salah satu dari pria itu akan menembaknya, tapi berhasil ia hadang dengan melemparkan kursi tempat duduknya tadi lalu menendang tepat di pergelangan tangan sampai pistol yang di genggamnya terlepas


Pistol yang terjatuhpun jatuh tepat di kakinya


Airene mengambilnya segera dan langsung menodongkan pistol itu pada pria yang baru saja ditendangnya. Pria pria yang berjaga menatap kagum pada gerakan lincah gadis itu, sepertinya memang gadis itu bukan gadis sembarangan. Gerakannya terlatih, namun gerakannya tak terlalu leluasa karna perut buncitnya


" Kau bukan orang sembarangan yah? "Tanya pria yang sedang berada di dalam kukungannya


buhahahhaha


" Kami semakin bersemangat untuk menghabisimu dan yang lainnya "


Airene melihat teman teman pria ini mulai mendekatinya sembari mengacungkan senjata senjata mereka " Jangan mendekat, atau aku akan menembak pria ini " ancam gadis itu


Bajunya sedikit terbuka memperlihatkan perut buncitnya, untung saja tak terlalu rusak dan dia masih bisa memakainya


Pria yang sedari tadi didalam dekapannya pun tersenyum, Airene sudah melihat lihat sekitar dan menemukan ada satu pintu besar yang sepertinya mengarah keluar dari gedung ruko ini. Airene berjalan mundur perlahan sambil mencoba membuka pintu itu dan berniat untuk berlari ketika pintu itu terbuka


Sampai sebuah tangan besar mencekiknya dari arah belakang


" Arghhhh "