
Ingin rasanya Aldrich cepat cepat melahap gadisnya dan membuat gadis itu seutuhnya menjadi miliknya. Setelah mendengar ungkapan gadis itu bahwa dia mempercayakan semuanya dan memberikan semua yang dia punya memicu adrenalin sebagai seorang pria meningkat dengan pesat ?
Gadis itu harus menjadi miliknya, gadis itu miliknya
Yang ia harus lakukan adalah menjadikan gadis itu sebagai satu satunya wanita yang akan menemaninya hingga tua kelak bersama semua anak anak yang dilahirkan oleh gadis itu
Adrenalinnya kian bertambah ketika membayangkan wajah anak mereka kelak, bagaimana wajah anak anaknya yang dilahirkan oleh gadis itu? Bagaimana rasanya mempunyai anak bersama gadis itu
Sebelum pikirannya semakin menjadi jadi
Dia teringat akan satu hal penting yang menggagalkan rencananya
Felix
Sikecil itu tidur bersama mereka setiap malam, bagaimana bisa melahap gadisnya jika sikecil ada ditengah tengah mereka berdua? Bagaimana mungkin menyuruh sikecil tiba tiba untuk kembali tidur dikamar nya dan menyisakan kami berdua?
Sikecil akan menangis jika tak melihat ibunya
Gadisnya pun pasti gundah gulana karna tak melihat anaknya
Dan dirinya? dirinya pasti sedang melihat sikecil yang menangis dan gadisnya yang khawatir jika itu benar terjadi
Lalu apa yang ia harus lakukan? membawa gadisnya pergi dari rumah ini dan kembali dimalam hari sebelum sikecil tidur? dia yakin pasti itu tak akan terjadi, dia tak bisa memprediksi waktu yang akan dihabiskan jika berduaan dengan gadisnya itu
Dia ingin selama bersama gadis itu, namun tak bisa karna sikecil yang selalu menempel padanya. Jadi bisa dikatakan sikecil pengganggung? tentu tidak. Bukan seperti itu
Aldrich cukup mengerti dengan alasan kenapa anaknya itu tak bisa lepas dari gadisnya dan pasti gadisnya juga memilih Felix ketimbang dirinya yang sudah besar ini
Namun masalah kali ini lumayan penting untuknya, sangat bahkan
Ia harus menemukan cara agar hanya untuk malam ini, ya hanya untuk malam ini saja anaknya itu bisa tidur seorang diri dan meninggalkannya berdua bersama gadisnya
Ada misi penting yang harus terlaksana
Setelah percakapan di ruang baca, mereka berdua melanjutkan aktivitasnya masing masing. Airene yang memandikan sikecil lalu bersiap untuk memasak makan malam, Aldrich yang membicarakan sesuatu dengan James dan Dave diruang kerjanya
Karna seperti yang diketahui ada beberapa pekerjaan yang harus langsung diurus oleh ceo utama dan tidak bisa diwakilkan. Begitu juga dengan Dave sebagai wakil ceo, tugasnya adalah mengkaji dan melihat apalah proyek itu layak atau tidak sebelum diserahkan ke ceo utama yaitu Aldrich
Ruangan itu dipenuhi oleh tumpukan tumpukan proyek yang harus mereka baca dan selesaikan paling lambat minggu ini. Baru saja beberapa hari Aldrich dan Dave yang tak masuk kerja, pekerjaan mereka sudah menumpuk sangat banyak seperti ini
Dave mungkin akan meminta Xavier untuk membantunya membereskan semua dokumen yang berserakan ini, ia harus lebih cepat selesai dan memberikannya untuk disetujui oleh Aldrich
" Kau tau kan apa yang ku benci? " Dave sedang duduk dikarpet bulu yang ada diruang kerja Al dengan berbagai dokumen di pangkuannya
Aldrich sedang membaca dokumen sebuah proyek di kursi kebesarannya, tak lupa memakai kacamata karna pandangannya sedikit buruk " Apa? " ujarnya acuh masih menatap dokuemen didepannya
" ****, lihatlah tumpukan dokumen dokumen ini. Seperti aku tidak bekerja 1 tahun saja " Dave menghempaskan dokumennya kesal
James yang melihat itu merasa tak enak karna dirinya yang tak bisa menjadi pengganti keduanya dan malah membawa banyak dokumen kerumah
" Maaf merepotkan mu sir, tapi saya bingung karna saya tak bisa menanganinya "
Benar apa yang dikatakan James, semua pekerjaan yang bisa dia kerjakan pasti dia selesaikan tanpa membuat kegaduhan seperti ini. Dia pun ingin mengerjakannya sendiri, namun apa boleh buat jika jabatannya tak lebih tinggi dari kedua orang yang sedang kesal saat ini
Aldrich sedikit melonggarkan kacamatanya " Tidak, kau melakukan hal yang benar James. Orang itu saja yang malas mengerjakannya "
Dave tidak terima dengan ucapan yang baru saja terlontar dari temannya itu, tak sepenuhnya kesalahan ada pada dirinya. Semua ini berawal dari kebodohan temannya itu bukan? mereka tidak bisa menjalani aktivitas seperti normalnya setiap hari dilakukan karna temannya itu kan? lalu sekarang dia berkata apa? dia berkata bahwa dirinya malas dengan semua ini? jika tak ada kejadian seperti kemarin mungkin saat ini dirinya sedang berada dikantor, mengerjakan sedikit dokumen lalu pulang dan bersenang senang
Sungguh ingin rasanya menghajar wajah tampan temannya itu, walau dia tau pasti tak akan bisa
" Malas? jika aku malas lalu dokumen apa yang saat ini berada di atas mejamu sialan "
Ya Dave sudah memeriksa beberapa dokumen yang saat ini kembali diperiksa oleh Aldrich, urutannya adalah Dave memeriksa terlebih dahulu lalu persetujuan akhir ada di Aldrich
Aldrich acuh tak acuh mendengar makian itu, memang sudah seharusnya mereka bekerja dan menyelesaikan semuanya bukan? untuk apa mengeluh akan sesuatu yang memang harus dikerjakan
" Diamlah dan cepat bereskan "
Makin menjadi jadi saja kekesalan Dave pada temannya itu
Hingga
Tukkk tukkk
Pintu ruangan ini terketuk dari luar, James dengan sigap bangun dari duduknya dan berjalan membuka pintu tersebut.
Terlihat Airene yang berdiri dibalik pintu itu
" Maaf menganggu kalian, tapi makan malam sudah siap " ucapnya pada semua yang ada disitu
Saking banyak dokumen yang mereka periksa, sampai mereka melupakan waktu yang sudah berjalan sangat lama itu. Mereka mengerjakan dokumen itu selepas makan siang lalu sekarang Airene memberitahukan bahwa makan malam sudah siap? Luar biasa buka waktu yang mereka habiskan untuk menghasilkan puluhan juta dolar itu
" Baiklah kami akan menyusul " Aldrich menjawab ajakan gadisnya
Dirinya bahkan sampai melupakan bahwa ada misi yang harus dituntaskan namun rencana itu gagal dan dia lupakan karna James yang membawa banyak sekali dokumen penting yang harus dia periksa
Airene kembali berjalan ke ruang makan, sikecil dan Riel sudah sedari tadi duduk dengan banyak buku buku yang di pegang Riel
" Nah.. Besok kita akan menanam tanaman ini " Riel menunjukan sebuah buku tentang tanaman obat pada sikecil Felix
Riel mengibas ngibaskan jarinya " Waktu terbaik untuk menanamnya adalah dipagi hari dear "
" Felix juga mau lihat buku paman semuanya "
" Boleh boleh, nanti felix ke kamar paman aja yah " Sepertinya ini sebuah kesempatan mendapatkan penerus dirinya
Kali ini posisi duduk berubah, dengan sikecil yang bersebelahan dengan Riel dan Airene yang duduk sendiran
" mommy "
Airene yang mendengar itupun mendongak " Apa sayang "
" Felix mau bobo sama paman Riel boleh? "
Pasti anaknya itu sudah terkena racun ilmu yang diberikan pamanya " Boleh tapi jangan merepotkan paman yahh "
Aldrich, Dave dan Xavier ikut bergabung bersama mereka. Kerut wajah kesal masih terlihat menghiasi wajah Dave
" daddyy " Panggil sikecil ketika melihat ayahnya sudah duduk
" ya? "
" Boleh felix bobo sama pama Riel? "
Aldrich menatap terkejut pada anaknya, bagaimana anaknya itu bisa tau bahwa dirinya akan melakukan suatu hal malam ini dan memintanya untuk tidur sendiri namun malah anaknya itu yang terlebih dahulu meminta izin untuk tidur bersama Riel
Tentu saja
Kapan lagi anaknya itu meminta tidur bersama orang lain bukan ?
Dia tidak akan menyianyiakan kesempatan ini
" Tentu, boleh sayang "
Sikecil berteriak kesenangan karna dia akan membaca buku buku tanaman sepanjang malam bersama pamannya itu, namun ada satu orang yang terdiam seakan baru terpikirkan satu hal
Jika anaknya akan tidur bersama Riel malam ini
Lalu
Dirinya akan tidur berdua dengan sang ayah?
Blushh... Wajahnya memerah mengetahui bahwa keputusan yang sudah diambilnya salah, bagaimana bisa dia melupakan hal penting seperti ini?
Sudah gila pikirnya
Aldrich memakan makan malamnya dengan tenang, memikirkan apa yang akan terjadi nanti bersama gadisnya membuat dirinya tak bisa menyembunyikan senyum kecil yang sedang menghiasi wajahnya
Makan malam selesai, Riel membawa sikecil kekamarnya dengan beberapa toples cookies dan susu untuk felix, James izin undur diri karna harus menguru sesuatu diluar. Lalu Dave dan Xavier yang kembali kekamar Dave karna berjanji untuk membantu membereskan beberapa dokumen
Aldrich sedang berada di ruang kerjanya, dia menyelesaikan beberapa dokumen terlebih dahulu sebelum melahap gadisnya
Berbeda dengan Airene yang baru menyelesaikan mandi malamnya dan memakai gaun tidurnya. Dia berpikir apa yang akan dilakukan pria itu jika mereka hanya berduaan saja dikamar ini?
Waktu menunjukan sudah pukul 10 malam, Airene hanya berbaring tanpa melakukan apapun diatas ranjang besar itu sendirian. Biasanya dia sedang membacakan dongeng untuk sikecil namun sekarang anak itu sedang menginap dikamar sebelah bersama pamannya
Sepi
Sepi pikirnya karna hanya sendirian diatas ranjang yang besar itu
krekkk
Pintu terbuka, memperlihatkan Aldrich yang melangkah masuk kedalam kamar. Airene seketika bangkit dari tidurnya, dia sedikit canggung mengetahui bahwa akan tidur bersama pria itu walaupun sudah sering bersama sikecil
" Ahh, ituu... " Belum sempat menyelesaikan ucapannya
Aldrich melangkah langsung menuju kamar mandi, terdengar suara shower dari dalam sana. Pikiran Aldrich saat ini ingin cepat cepat bersama dengan gadisnya. Secepat yang dia bisa
krekk
Pintu terbuka dengan Aldrich yang hanya mengenakan bathrobe sembari mendekati Airene
Ia tau akan jadi apa malam ini
Namun tak berani membayangkannya karna terlalu malu
" Irene " Suara Aldrich memanggilnya, suara dalam serak khas dirinya yang membuat Airene merinding
" Y.. Ya? " Mereka saling bertatapan dipinggir ranjang besar itu
Aldrich membawa lengan gadisnya untuk diciumnya " Kau tau aku tak akan memaksa jika kau tak ingin " dia lebih memilih kenyamanan gadisnya diatas apapun
Airene merinding merasakannya, dia meneguhkan hatinya bahwa dirinya harus percaya pada pria itu. Pria yang sudah membolak balikkan perasaannya, pria yang sudah memberikan dunianya pada dirinya seorang
" Tidak, aku ingin. Aku ingin membuatmu menjadi satu satunya pria bagiku "
Mendapat lampu hijau dari sang gadis, Aldrich langsung melakukan misi pentingnya dengan senang