
Karna sudah lama sejak terakhir kali cucu dan anaknya mengunjungi kediamannya. Martha meminta meereka untuk menginap semalam saja, ia ingin menghabiskan waktu bersama cucu satu satunya itu
" Menginap disini saja yah? Granny mau tidur sama Felix " Ujar nya setelah acara makan siang berakhir
Airene menatap horor pada permintaan ibu dari atasannya itu, jika hanya felix dan Aldrich yang diminta dia tak akan merasa canggung seperti ini. Bagaimana bisa ia tetap tenang disituasi yang sangat tak menguntungkan ini
" Daddy kita menginap? "
Sebenarnya sikecil itu ingin tinggal lebih lama bersama kedua kakek dan neneknya, ia ingin bermain bersama sang kakek. Tak lupa dia juga ingin menunjukan sedikit koleksi hewan yang dimiliki kakeknya itu
Aldrich menyetujuinya, ia setuju karna dirinya perlu berbicara sesuatu hal pada gadisnya selagi sikecil bermain bersama kedua orang tuanya
kedua orang tuanya membawa sikecil untuk bermain di hutan kecil yang ada dihalaman rumah, kediaman mereka memang diapit oleh pepohonan yang rindang dan sangat luas itu.
Tersisa kedua orang yang sedang terdiam memikirkan pikiran mereka masing masing, jika Airene yang bingung harus berkata apa dan sebagai apa posisinya saat ini. Aldrich sedang memikirkan cara agar mengikat gadisnya itu
" Irene " Suara nya terdengar lebih dalam dari yang biasnya
Yang dipanggil pun menoleh, saat ini mereka sedang berada diruang baca yang hanya orangtua atau Aldrich yang bisa memasukinya " Ya.. ssir? "
Jantung nya berdegup kencang, ini pertama kalinya mereka berbicara seperti ini dan hanya berduaan saja tanpa adanya orang lain
Aldrich menatap dalam iris kecoklatan cerah itu, ia ingin gadis dihadapannya ini menjadi miliknya. Harus menjadi miliknya
" Namaku, panggil aku dengan namaku "
Seribu kali sudah Aldrich memintanya namun gadisnya ini masih terus memanggilnya dengan sebutan formal, " Ma.. maaf, ss... sir ah tidak Al.. Aldrich "
Dirininya belum terbiasa dengan sebutan itu, selama ini jika ia memanggilnya terbiasa dengan sebutan formal sebagaimana normalnya atasan dan sekertaris
" Kau mengerti situasi saat ini? "
Tentu saja Airene tak mengerti " mmmmhhh.. tidak "
Aldrich mendekat, ia duduk pas dihadapan gadisnya " Apa kau punya seorang kekasih? "
Pertanyaan yang tiba tiba saja terlontar dari mulutnya, ia hanya ingin bertanya saja. Mau gadisnya sudah punya kekasih atau tidak, tetap saja ia akan memilikinya
Yang mendengar pertanyaan pun terkejut, bagaimana ia bisa punya kekasih jika sehari hari saja dia habiskan untuk bekerja
" Ti.. tidak punya sir, maksudku Al "
Gadisnya itu tak mungkin mempunyai waktu untuk mencari kekasih bukan " Kau ingat dengan apa yang aku katakan kemarin? "
Airene hanya mengganguk tanpa menjawab dan masih melihat mata orang yang ada dihadapannya
" Bukan karna Felix yang sudah dekat denganmu, mungkin ya itu juga bisa dikatakan sebagai alasannya tetapi "
Kini sorot mata itu berubah memandangnya dengan sangat serius
" Aku ingin kau menjadi ibunya karna yang aku inginkan hanya kau "
" Mungkin terdengar aneh bagimu iyakan? " Airene dengan reflek menganggukan kepalanya
Dan itu sangat lucu dimana Aldrich " Aku diam karna sifat ku pada dasarnya pendiam, tapi aku selalu memperhatikan mu tanpa kau tahu "
" Jika kau merasa aku diam dan acuh karna tak menyukai kehadiranmu kau salah "
" Aku diam karna aku menikmati setiap momen yang kau lakukan dengan sikecil felix, aku tak mau mengganggu anak itu. Ia baru saja mendapatkan perasaan yang salam ini ia mau dan aku berterima kasih padamu karna memberikanya "
Airene mendengarkan setiap kata perkata yang diucapkan pria itu
" Aku pernah gagal, namun aku belum pernah menikah. Aku harap kau mengerti tentang itu, aku tak akan bertanya bagaimana perasaan mu padaku "
" Apa yang kau harasakan, apakah kau menyukai ku atau tidak aku tak peduli itu "
" Aku hanya akan menjadikan mu miliku hingga kau tau apa arti semua ini "
Cupp !!!
Aldrich mendorong dirinya untuk mendekati Airene dan memberikan kecupan yang pertama bagi gadisnya itu
Hanya kecupan, kecupan ringan yang melambangkan betapa ia sangat menjaga dan menginginkan gadisnya itu
Ia ingin gadisnya merasakan apa yang ia rasakan tanpa harus berkata kata
Airene yang terkejut mendapat perlakuan seperti itu membelalakan matanya, ia tak menyangka kalau atasannya itu sedang mengecup bibirnya
ya bibirnya
bibirnya yang belum sama sekali di kecup oleh orang lain
dan kali ini
Aldrich lah yang mengecupnya untuk pertama kali
Aldrich menyudahi kecupan dibibir Airene, ia membawa bibirnya untuk sekali lagi mengecup dahi gadisnya yang terlihat bersemu malu
cupp !!
" Mungkin akan ada beberapa hal yang membuatmu terkejut nanti, tapi tolong mengerti akan hal ini ya "
Tentang bisnis apa yang ia lakukan dan acara bertransaksi kemarin, Aldrich masih belum siap untuk mengatakannya sekarang. Biarlah gadisnya tau secara perlahan lahan, ia tak mau jika gadisnya itu tahun dan tak menerimanya. Dia akan pergi sama seperti wanita itu dulu
Airene tak mengerti apa maksudnya, pikirannya teralihkan oleh kecupan yang Aldrich berikan. Mungkin untuk sekarang mengatakan bahwa dirinya juga menyukai Aldrich masih terlalu dini.
Apakah ia menyukai dan mencintai atasannya itu nanti setelah mengerti semuanya
Aldrich membawa tangannya untuk menyentuh pipi gadisnya yang bersemu itu, melihat betapa merahnya pipi gadis itu membuatnya sedikit tersenyum " Jadi untuk sekarang mari kita nikmati kebersamaan ini ya? "
Airene mengangguk setuju, sudah terlambat baginya untuk melangkah mundur jika sudah seperti ini
" Ayo, pasti sikecil sedang mengamuk karna dirimu yang menghilang " sedikit tawa terdengar ditelinga Airene
Dia baru pertama kali mendengar atasannya itu tertawa selama ia bekerja padanya dan tawa nya cukup menggetarkan hatinya
Setelah percakapan yang aga serius diruang baca itupun keduanya memutuskan untuk kembali bergabung dengan kedua orang tua Al dan sikecil.
Benar saja apa yang dikatakan Aldrich barusan, terlihat sikecil yang tengah menangis berlarian mencari ibunya dari satu ruangan ke ruang lainnya diikuti oleh Alan yang mengikutinya dan bingung harus melakukan apa
Sedari tadi mereka membawa cucunya itu untuk memetik beberapa buah yang ada dihalaman depan, semua terjadi seperti biasanya. Alan yang menggendong cucunya dan Martha yang membawa keranjang untuk mengisinya dengan buah buahan
Hingga tak berapa lama, cucunya itu meminta turun. Wajah nya terlihat seperti baru mengingat sesuatu
" Mommy " ujar cucunya sembari melihat kesekitar
Felix mencari dimana kedua orang tuanya berada, ia tak melihat kedua orang tuanya mengikuti dirinya atau tidak ke taman depan rumah itu karna dirinya berada dalam gendongan sikakek
Menyadari bahwa kedua orang tuanya tak ada pun membuat dirinya sedikit panik, di dalam pikirannya ibunya pergi karna tadi pagi ia melihat bahwa Airene sedang dimarahi oleh kakeknya
Dia pun berlari tak tentu arah mencari keberadaan ibunya
Tak terlihat ibunya bersembunyi dibatang batang pohon pun membuat air matanya mulai menggenang dan turun karna sudah tak tertampung lagi
" mommyy.. hikss mommyy "
Alan dan Martha mengejar cucunya, walaupun lambat karna mereka sudah tak kuat berlari namun mereka tetap mengejar cucunya yang tiba tiba menangis itu
" mommy.. hikss. mommy " sikecil masih melihat lihat sekitar memastikan ada atau tidaknya airene
Martha mencoba untuk menggendong cucunya itu dan ditolak olehnya " Kenapa sayang? kenapa tiba tiba berlari? Cucu granny mau apa coba katakan "
Alan pun seketika panik karna istrinya terpeikik terkejut cucunya tiba tiba berlari " Kenapa sayang? katakan sama granpa mau apa "
" mommy.. hikss. hikss "
Kedua suami istri ini pun akhirnya mengerti, kenapa cucunya tiba tiba berlari kesana kemari seperti mencari sesuatu. Memang gadis bernama Airene itu tidak ikut dengan mereka ketaman depan, anaknya dan gadis itu memliki sesuatu yang harus dibicarakan katanya
Dia tak menyangka jika cucunya akan menangis seperti ini
Felix kembali berlari mencari cari keberadaan sosok yang sedari tadi tak dilihatnya, ia menaiki tangga menuju pintu utama dengan tergesa gesa dan menangis.
Mencarinya kesetiap ruangan yang ada dirumah ini. Dia memerlukan waktu karna rumah kakeknya sangat besar dan mempunyai banyak ruangan
Tak terpikirkan olehnya untuk bertanya pada paman paman bodyguard yang sedari tadi diam berdiri menjaga sekitar, ia hanya berpikir untuk mencari sosok itu secepat mungkin
Ketika dirinya merasa lelah karna menangis sembari berlari kesetiap ruangan dan bahkan tak menemukan sosok itupun terdiam. Tangisannya semakin kencang dan kencang saja karna sosok yang ia cari sedari tadi tak ditemukannya
Kakek dan neneknya baru memasuki ruang utama dengan memakan sedikit waktu untuk berlari pelan, mereka melihat pemandangan yang sungguh membuatnya sedih
Cucunya, cucu satu satunya yang mereka sayangi tengah menangis kencang diruang utama. Sepatu yang dikenakan sikecilpun sampai ntah kemana, menyisakan sedikit goresan pada telapak kaki kecil itu
huaaaaaaaaa
Martha mencoba kembali menggendong cucunya, ia tak tega melihat sikecil menangis dengan kencang seperti itu " Sayang.. stt ... tunggu disini biar granpa yang cari mommynya Felix yah "
Alan melihat goresan pada kaki cucunya, ia marah pada Aldrich yang tak memberitahukan bahwa felix akan mencari gadis itu sampai seperti ini
Belum Alan melangkahkan kaki mencari anaknya itu, pintu ruang baca terbuka. Dia melihat anaknya sedang bersama gadis itu keluar dari ruang baca
Airene yang bingung kenapa Felix berteriak dan menangis sekencang itu, ia tak mendengarnya didalam ruang baca karna ruangannya kedap suara.
Sikecil yang melihat sosok itu adapun meminta turun pada neneknya
Ia berlari dengan kaki yang penuh gorengan itu mendekap erat sosok ibunya
Airene membentangkan tanganya menerima dekapan anak itu, walaupun masih bingung penyebab ia menangis seperti tadi
" mommy.. hikss.. mommy "
Sikecil menangis sembari masih memeluk erat lehernya " sttt.. kenapa anak baik menangis mhh? "
" hikss hikss mommy jangan pergi hikss.. "
Martha mendekat kearah cucunya, ia mengelus elus pucuk kepala anak itu " Tadi dia tiba tiba berlari dan menangis karna tak melihatmu "
Jadi anak ini menangis sekencang itu karna tak melihat dirinya?
" momyy hikss.. jangan.. hikss "
Airene menepuk nepuk punggung anak itu mencoba menenangkannya, Martha pun memberitahu pada keduanya bahwa felix terluka karna berlarian tanpa alas kaki
Alan yang melihat itu seketika terdiam, cucunya menjadi sangat menempel pada gadis itu hingga sebentar saja tak melihat keberadaannya. Cucunya menangis keras seperti tadi
Kali ini ia akan mencoba, mencoba mempercayai gadis itu. Ia akan mencoba untuk kembali membuka hatinya setelah dulu melihat anaknya begitu hancur. Ia berharap kali ini, kebahagian yang akan hadir ditengah tengah keluarga mereka
" Tolong obati kakinya dulu "