
Setelah mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung, gejala yang dialami semakin hari semakin parah terasa oleh Airene. Gadis itu yang awalnya hanya menolak beberapa makan seperti seafood atau makanan berminyak. Sekarang dia bahkan tidak bisa memakan daging dagingan, mau daging itu dipanggang dibumbui atau dibuat apapun dia tak bisa memakannya karna aroma yang dikeluarkan daging itu membuatnya mual. Padahal daging adalah salah satu makanan yang baik untuk calon bayinya tapi sayang sekali menciumnya saja dia akan muntah
Dokter menyarankan dia untuk meminum susu ibu hamil, setelah membeli beberapa kotak dengan merek dan rasa yang berbeda. Hanya satu jenis yang bisa diterima oleh perutnya dan tak membuat dirinya mual ingin muntah. Sisanya semua terasa menjijikan dilidahnya sehingga dia memuntahkan semuanya
Makanan yang bisa dia makan saat ini hanya puding, beberapa potong roti lalu juga susu ibu hamilnya. Selebihnya tidak ada makanan yang diterima oleh perutnya, berat badannya juga berkurang sangat banyak. Awal saat diklinik mungkin berat badannya sekitar 55 kg, sekarang ketika mau mengambil resep obat yang sudah habis. Gadis itu iseng iseng untuk mengecek kembali berat badannya, apakah masi sama seperti 4 hari lalu atau tidak. Ternyata dalam 4 hari saja berat badannya sudah turun 3,5 kg
Apa aku bisa bertahan jika terus seperti ini?
Wajar jika Airene bertanya dalam hatinya, karna ini adalah kali pertama untuknya. Dia mengandung diusia yang cukup muda, lalu kondisi badannya dan calon bayi nya tak terlalu bagus, dia juga harus mengandung sendirian tanpa seseorang yang menemaninya. Pemikiran buruk pasti selalu menghantuinya, setiap malam tidurnya tak nyenyak. Dibenaknya penuh dengan pikiran pikiran buruk seperti, apakah tubuhnya akan kuat jika hanya memakan puding dan susu selama kehamilan? apa calon bayinya baik baik saja atau malah bertambah buruk? dokter berkata 9 bulan waktu normal bayi ibu untuk melahirkan, Airene berpikir apa dia bisa bertahan selama itu dengan tubuhnya sekarang?
Dokter berkata usia kandungannya baru berusia 2 minggu, mungkin sekarang sudah 3 minggu bayi itu bersemayam diperutnya. Usia nya masih sangat muda dan sangat sangat rentan, jika Airene tak berhati hati. Bisa saja dia kehilangan calon bayinya
Untung saja tabungannya cukup untuk menghidupi mereka berdua selama masa kehamilan ini, gaji yang diberikan pria itu tak main main. Dia memberikan gaji dengan jumlah yang sangat besar, sampai mungkin gadis itu bisa sedikit beristirahat tidak dulu mencari sebuah pekerjaan baru dan hanya fokus pada kondisi calon bayinya saja
Sudah semingu Airene meninggalkan negara itu, dia ingin tau apakah sikecil baik baik saja atau tidak. Setipa malam, gadis itu memimpikan anak kecil nan tampan yang biasanya selalu mengikuti dirinya kemanapun. Waktu yang singkat memang, tapi Airene tak menyesal. Walaupun dia mendapat perlakuan tak menyenangkan diakhir, tapi dia bersyukur karna bisa mengenal pria itu dan sikecil
Takdir
Biarlah takdir yang mengatur mereka, Airene akan menerimanya
Hujan selalu menemani hari harinya yang sepi, suara rintik hujan menutupi raungan kesedihan gadis itu sekarang. Dia menangis, dikala hujan lebat
Tak jauh berbeda dengan Airene yang sedang berjuang untuk bertahan demi dirinya dan calon bayinya, di sebuah rumah sakit terlihat sesosok anak kecil yang terbaring lemah diatas ranjang
Wajah nya pucat, walaupun alerginya sudah hilang dan dinyatakan sembuh. Penyebab sikecil itu masih berada di ruangan itu karna dia menolak untuk makan dan minum sejak dia menyadari bahwa sosok yang dia cari tak kembali. Sikecil itu menolak untuk berbicara dengan siapapun, bahkan dengan ayahnya. Di menolak makanan apapun yang disodorkan kemulutnya, anak itu hanya diam menatap kosong kearah langit langit diatasnya
Jarum infus dan vitamin tak lepas dari lengan kecilnya, tak bisa lepas tepatnya karna jika dilepas entah apa yang akan terjadi padanya. Menolak untuk makan dan minum, pasti tubuhnya sangat kekurangan cairan dan protein. Berat badannya pun sudah menyusut jauh, infus adalah satu satunya hal yang bisa mereka berikan pada sikecil
" Kau tau kan jika terus seperti ini? " Riel mengganti infus lama dengan yang baru, dia juga menyuntikan beberapa vitamin penting ketubuh felix yang saat ini baru tertidur
Aldrich tak lepas memandangi anaknya, sejak hari pertama dia menyerahkan seluruh tugasnya di kantor kepada James. Dia tak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan meninggalkan sikecil lagi " Lalu apa yang harus aku lakukan? " Kondisi Aldrich pun sama kacaunya dengan sikecil, wajahnya yang tampan sekarang dihiasi oleh kantung mata hitam yang kentara dengan warna kulitnya. Dia hanya tertidur jika ibunya sudah datang dan menggantikannya menjaga sikecil tanpa meninggalkan ruangan itu
" Kau lebih tau jawabannya daripada diriku bukan? "
Pria itu tau, dia tau. Sejak menyadari bahwa gadisnya sudah pergi dari negri ini, dia menyuruh Xavier untuk melacaknya dan mengerahkan seluruh anggotanya untuk pergi mencari gadis itu. Namun, seminggu sudah berlalu tapi belum ada perkembangan yang berarti
" Sial, aku juga mencarinya. Aku ingin mencarinya tapi aku tak mungkin meninggalkannya lagi "
Aldrich ingin pergi mencari gadis itu sembari menunggu kabar baik yang bisa saja sewaktu waktu Xavier berikan, tapi disatu sisi dia tidak bisa meninggalkan sikecil yang kondisinya masih buruk dan belum terkondisikan
" Lalu untuk apa aku selama ini? aku akan menjaganya, aku pastikan tak akan ada yang memeriksanya selain diriku!! Pergi lah dan cari dia!! obati dirumu dan obati anak ini "
Ingin sekali rasanya Riel melempar peralatan medisnya pada teman bodohnya itu, tapi dia masih sangat sangat sayang pada dirinya sendiri dan masih ingin hidup lebih lama karna bisa saja Aldrich mengeluarkan Eagle nya dan dia berakhir diruang mayat
Pintu terbuka, menampilkan kedua orang tua pria itu yang melangkah masuk. Sejak hari pertama keduanya bergantian untuk menjaga cucu satu satunya, Alan juga memerintahkan sekertarisnya untuk membantu perusahaan anaknya yang saat ini sedang ditinggalkan
" Ibu dan ayah akan menjaganya, kamu bisa pergi untuk mencarinya. Lebih cepat lebih bagus, keadaan felix lama lama memburuk " Martha menyimpan puding yang sudah dia buat sesuai dengan resep yang ditinggalkan gadis itu, tapi sikecil belum pernah mau mencobanya
Alan duduk disalah satu sofa, ruangan dikecil berpindah ke kelas paling atas karna kakeknya ingin cucunya itu mempunyai ruangan yang besar dan nyaman. Terdapat ruang main pribadi didalamnya dan beberapa ruangan lain seperti kamar tidur untuk penunggu juga ada
" Pergilah, kau sama kacaunya dengan sikecil. Ayah sudah menelfon seorang teman di london, dia akan ikut melacak bersama Xavier. Jadi kau tinggal tunggu dilondon, dan tunggu kabar terbaru " Alan juga ikut menggerakkan anak buahnya untuk membantu. Padahal gadis itu terlihat dibandara london namun tiba tiba menghilang begitu saja tanpa jejak
Jarang sekali ayahnya itu ikut membantunya, biasanya dia hanya diam sambil memantau saja namun sekarang berbeda karna mungkin kondisi sikecil yang terus menurun
Berbicara tentang sikecil yang berhenti berbicara, itu terjadi ketika dia terbangun untuk kedua kalinya setelah efek suntikan yang diberikan Riel habis, felix kembali mengamuk dan berteriak dimana ibunya berada kenapa dia masih tak melihatnya dimanapun. Riel tak bisa kembali menyuntikan obat itu karna terlalu berbahaya untuk sikecil, jadi mereka hanya bisa menahan felix untuk tak turun dari ranjang itu dan berlari
Felix masih terus berteriak dan menangis mencari ibunya, ketika keadaan sudah mendesak. Aldrich mengatakan yang sejujurnya pada anak itu, kemana Airene, kenapa dia pergi apa penyebabnya. Aldrich utarakan semua pada anak itu, usianya memang masih kecil terbilang belia malah tapi kepintaran anak itu membuatnya mengerti apa yang sedang terjadi
Setelah Aldrich selesai menjelaskan, anak itu tiba tiba terduduk diam. Suaranya sudah habis karna berteriak, tangisnya masih terus berlanjut walau sudah tak ada teriakan yang keluar lagi. Anak itu terdiam, dan mulai tak mengeluarkan suaranya sejak itu
Felix memutuskan untuk diam dan menolak untuk berbicara dengan siapapun