
" Kau ingin tau semua nya kan? "
Apakah Aldrich akhirnya akan mengatakan yang sebenarnya tengah terjadi?
" Seperti yang kuduga, mereka mulai bergerak dan terlihat sedang mengintai gudang di las vegas " Xavie tiba tiba berkata sembari memperlihatkan laptop yang sedari tadi ia genggam
Dave dan Riel saling balas pandang, mungkin ini sudah waktunya agar mereka mulai bersiap siap? Bersiap siap untuk apa? tentu saja untuk menghadapi hal ini
" Kemari duduklah disampingku "
Airene menurut dan duduk disamping Aldrich, berhadapan dengan tiga serangkai itu.
" Apapun yang kami ucapkan sekarang kau harus merahasiakannya oke? "
Riel berkata dengan nada dan sorot mata yang sangat serius
Memang apa yang sedang terjadi? Seberbahaya itukah sampai sampai ia harus merahasiakan banyak hal termasuk percakapan ini
Dave menambahkan, jika menjadi Airene saat ini mungkin ia merasakan kebingungan yang sama seperti gadis itu, tapi apa boleh buat. Sudah terlambat untuk Airene melangkah mundur
" Apapun yang akan terjadi, cukup dengar perkataan Aldrich. Jika kau merasakan sesuatu yang aneh seperti sedang diikuti orang atau apapun beritahu kami secepatnya "
" Diikuti orang? wartawan maksudnya? " Airene masih berpikir bahwa yang menyebabkan masalah ini adalah wartawan
Riel menggeleng, raut wajahnya terlihat sedih " Ini lebih dari sekedar dikejar wartawan , tapi jika kau menurut. Mungkin segalanya akan berjalan dengan mudah "
Airene mengerutkan dahinya, memang apa yang harus iya turuti? bukannya selama ini dia selalu menurut pada semua ucapan Aldrich
Aldrich menghela napasnya, mencoba menormalkan ritme pernapasannya
" Kau tau apa yang kami lakukan sebenarnya, maksudku aku. Apa yang aku lakukan selama ini?"
Bukankah sudah jelas jika Aldrich menjalani sebuah perusahan yang bergerak dibidang IT dan pembangunan? Memang apa yang selama ini dia lakukan, Airene tak mengerti semuanya
" Perusahaan awalnya hanya untuk cangkang saja, pekerjaan asli kami bukan seperti ini "
Riel mengacungkan lengannya " Tapi aku tetap seorang dokter baik diperusahaan maupun usaha kami dibelakang "
" Usaha dibelakang? "
Aldrich memperlihatkan hasil transaksi kemarin " Pekerjaan asli kami adalah sebagai pemasok senjata ilegal, aku meneruskan usaha ayahku setelah ia memutuskan untuk pensiun dan fokus pada perusahaanya "
" Acara kedubai kemarin pun sebenarnya karna aku harus bertransaksi beberapa senjata yang sudah dipesan"
Aldrich diam sejenak menunggu reaksi yang akan diberikan gadisnya itu, ia tebak mungkin gadisnya itu sangat terkejut sekarang
Ia baru memberitahukan sedikit tentang dirinya yang sebenarnya
Tunggu, jadi maksud Aldrich adalah mereka pergi kedubai untuk melakuka transaksi senjata? dengan memabawa sikecil?
" Maksudmu kita pergi ke dubai untuk bertransaksi? "
" ya "
Pandangan Airene terlihat kosong, ia sedikit kecewa pada Aldrich. Namun apa yang bisa ia lakukan?
" Kau bertransaksi dengan mengajak felix? "
Airene bertanya sebuah hal yang diluar prediksi mereka maupun Aldrich, seketika tatapan kosong itu berganti dengan tatapan marah yang memandang mereka semua
" Akan lebih aman jika dia ikut " Aldrich menjawabnya dengan jujur, namun ia hanya menenangkan dirinya sendiri jika sikecil ikut dengannya semua akan aman. Malah sebaliknya
" Kau membawa felix untuk melakukan hal itu? "
" Dimana otak pintarmu itu!! dimana perasaan mu membawa anak kecil untuk hal seperti itu?!"
Bangg
Akhirnya, akhirnya Airene meledak juga. Ia sudah menahannya selama ini, menahan perasaan takut, penasaran dan perasaan lainnya yang lumayan menganggung sejak kemarin
Kali ini ia ingin melepaskan semuanya
Aldrich sedikit terkejut karna mendengar gadisnya berteriak untuk pertama kalinya, Dave, Riel apalagi Xavier hanya diam tak mengatakan apa apa lebih tepatnya tak berani untuk bersuara
Mereka yang tak takut senjata malah takut ketika mendengar gadis itu berteriak
" Kau membawa felix!! bagaimana bisa kau berfikir itu yang terbaik ha!! "
" Bagimana jika terjadi sesuatu padanya!! kau tau apa maksudku kan? "
" Persetanan dengan apa yang kau lakukan, aku tak peduli!! Jika aku tau kau membawa kami hanya untuk melakukan itu, aku akan mengambil penerbangan kembali dan membawa felix bersamaku"
Tak ada yang berani mengeluarkan suaranya, bahkan Aldrich pun hanya terdiam mendengar itu
Memang benar tak seharusnya ia bawa sikecil ke medan perang antara dirinya dan para pembeli sesuatu bisa saja terjadi saat dirinya bertransaksi dan tak menutup kemungkina jika felix bisa saja berada dalam bahaya
Airene menghembuskan nafasnya, ia memejamkan matanya untuk beberapa saat menetralkan emosinya
" Beri tau aku jika kau ingin melakukan transaksi atau apapun itu, aku akan menjaga felix dengan diriku sendiri "
Nadanya semakin pelan dan pelan saja, Airene sudah mengeluarkan semuanya. Ia tak peduli tentang siapa sebenarnya seorang Aldrich, ia tak punya hak untuk mengubah dan mengatur seseorang
" Mulai sekarang, aku akan mengurus semua hal tentang sikecil. Kalian bisa melakukan apapun tapi jangan bawa sikecil. Kau tau apa yang dilihatnya bisa berpengaruh pada perkembangannya nanti "
haaaaa
" Aku tak menyangka tak ada satu pun dari kalian yang memberi tahu hal ini adalah keselahan "
Aldrich diam, tangannya mencengkram satu sama lain. Ia berpikir memang benar apa yang dikatakan gadisnya, dia bodoh karna lebih mementikan transaksi daripada anaknya
" Beritahu aku apa yang sedang terjadi, aku harus tau apa yang mengancam keselamatan kita semua. Bukan begitu? " Airene berani menatap iris abu abu itu langsung, tak ada ketakutan dimatanya seolah iya sudah terbiasa akan hal itu
" Ada, ada satu orang yang bertanggung jawab akan hal ini "
Aldrich percaya jika gadisnya itu bisa menghadapi semuanya
" Siapa? katakan "
Xavier akhirnya memberanikan diri untuk ikut dalam percakapan setelah kemarahan Airene tadi, memang benar wanita itu menakutkan " Luca, pria itu bernama luca " Xavier memperlihatkan sebuah foto yang sedang terpampang dilaptopnya
Airene menyelidik foto itu, takutnya ia pernah bertemu dengan orang itu tanpa dia sadari " Lalu kenapa dengan pria ini? "
" Sedari dulu memang pria ini selalu ikut campur " Dave meminum wine yang ada dimeja itu, otaknya perlu refreshing setelah dimarahi oleh Airene
" Ikut campur? "
" Ya dia selalu ikut campur, dalam hal apapun " Aldrich ikut menyesap wine merah itu
" Memang apa yang dia lakukan? "
Riel bersandar pada sandaran sofa, matanya menatap langit langit diruangan itu " Ntah lah, padahal dia sudah mendapatkan wanita itu "
Semakin bingung saja pikiran Airene mendengar penjelasan setengah setengah dan berbeda beda orang seperti ini
" Siapa? wanita siapa? jangan membuatku marah lagi "
Ketiganya seketika menunjuk Aldrich, lebih baik Aldrich yang menjelaskannya sebagai orang yang paling tau akan masalah ini
" Ibu ... "
" Ibu siapa? apa? katakan " dengan tidak sabaran Airene bertanya
" Ibu asli felix, dia pergi dengan pria itu "
Jadi sikecil ini punya seorang ibu yah, Airene pikir jika felix adalah anak hasil ons yang dilakukan Aldrich. Ternyata bukan yah
" Lalu kenapa? kenapa dengan pria itu dan wanita itu? "
" Awalnya kami pikir karna Aldrich menolak pemesanan sejumlah senjata dari pria itu " Riel menjelaskan sembari membuka toples cookies, ia tak tahan melihat kepingan makanan manis itu
" Lalu? "
Dave menautkan kedua lengannya, menahan dagu sembari menatap lurus " Aku juga ingin tahu apa yang dia inginkan. Tak mungkin hanya karna pemesanan itu "
" Ya, itu hanya alasan alternatif saja " Xavier yang selama ini mengawasi segala gerak gerik pembeli maupun klient dikantor yang bertemu dengan Aldrich
" Lalu apa yang akan terjadi saat ini? " Airene perlu memastikan semuanya
Aldrich pun sedang berpikir tindakan apa yang harus ia ambil " Kita tunggu sampai salah satu dari bawahannya terlihat. Motifnya masih belum jelas, aku juga tak tau apa yang membuat dirinya melakukan ini "
" Aku tak pernah membalas semua perbuatan yang sudah dia lakukan, aku hanya tak mau menerima pesanan darinya. Itu saja "
Memang benar, Aldrich hanya menolak pemesanan itu. Ia tak membuat keributan ntah apa yang pria itu mau
Airene mencoba untuk memahami semuanya, ia perlu waktu. Ia perlu waktu untuk menerima semuanya.
" Sekarang kau sudah tau siapa aku dan bagaimana aku "
" Kau tau sudah terlambat untuk melangkah mundur " Aldrich ingin menahan gadisnya agar tak pergi dari sisinya
Airene dengan lantang berkata " Aku tak akan mundur "
" Lalu setelah kau mengetahui hampir semuanya, bagaimana pandanganmu terhadapku? apa kau membenciku sekarang? "
Untuk ukuran orang normal mendapat penjelasan seperti tadi mungkin akan langsung meninggalkannya dan tak akan menemuinya lagi, mungkin?
" Aku tak membencimu "
" Aku hanya kecewa karna kau tak memperhatikan felix, itu saja "
" Aku tidak akan melarangmu, kau boleh melakukan apapun seperti sebelumnya namun jangan bawa felix "