
Setelah kejadian itu, Airene kembali tersadar setelah tak sadarkan diri selama dua hari lamanya. Dia terbangun tiba tiba dengan nafas yang tercekat dan dahi yang dipenuhi oleh peluh ketika bermimpi tentang kedua bayinya yang pergi. Gadis itu terbangun dan langsung mengingat apa yang sudah terjadi
" Kau baik baik saja? ada yang sakit? aku panggilkan Riel sebentar "
Gadis itu tak sadarkan diri selama dua hari penuh, menurut penjelasan Riel. Luka yang diterima Airene tidak terlalu fatal kecuali kedua tangannya yang sementara mungkin tak bisa digunakan terlebih dahulu. Perutnya hanya tertancap sedikit ujung pisau jadi itu tak berpengaruh pada kedua janin yang di kandungnya
Lalu memar memar di wajahnya juga sudah diobati, beberapa minggu kedepan akan membaik jika mereka rutin memberikan salep khusus dilukanya. Kembali ke kedua tangannya, Airene mendapat 8 jahit dimasing masing telapak tangannya, lukanya terlalu menganga untuk dibiarkan menutup dengan perban. Waktu penyembuhannya pun pasti lama mengingat luka yang dalam
Karna kelelahan akibat perlawanan yang diberikan Airene, gadis itu terlelap selama dua hari penuh untuk mengembalikan tenaganya yang terkuras habis
Riel datang setelah Aldrich memijit tombol khusus yang terhubung keruangannya, perawat membawakan beberapa obat suntik dan obat tablet untuk diminum oleh gadis itu
" Sementara, kau tak bisa menggunakan kedua tanganmu " ujar Riel selesai memeriksanya
Keadaan kedua bayinya sedikit menurun, mungkin efek dari kondisi ibunya namun saat ini masih bisa dikatakan baik dan para dokter akan terus memantaunya
" Aku akan memberikan beberapa obat, ingat jangan dulu membuat kedua tanganmu basah. Jika perlu apa apa bisa beritahukan kepada perawat atau pria disebelahmu "
" Dan kau akan keluar jika keadaan sudah membaik, tak ada bantahan "
Riel menolak semua pemikiran tentang gadis itu yang dirawat dirumah saja, dia orang yang menentang itu. Bagaimanapun juga peralatan disini lebih banyak dan canggih, terkecuali jika Aldrich menyediakannya dia akan dengan senang hati merawatnya dirumah
" Aku akan menyediakannya " Tanpa ragu Aldrich menyetujui rencana dari temannya
Pria itu menyuruh James untuk membangun sebuah bangunan dibelakang rumah besarnya yang akan dijadikan seperti tempat berobat pribadi. Aldrich juga meminta Riel untuk menyiapkan dokter dokter dengan kemampuan mumpuni dan beberapa perawat agar mengisi gedung perawatan yang akan dia buat itu
" Kau serius? " Riel bertanya padahal sudah tau jawabannya, bukan hal aneh bagi temannya ini untuk membangun sebuah pusat perawatan pribadi di kawasan propertinya. Jika temannya itu mau, bisa saja sekalian membangun sebuah pusat perbelanjaan di hutan yang ternyata sudah dibeli oleh Aldrich
Seluruh kawasan ini sudah dibeli olehnya, jadi dia bebas jika ingin membangun sesuatu tanpa mengganggu tetangga lain karena memang mereka tak punya tetatang
" Ya, rekrut semua pegawai yang menurutmu berkompeten. Kita akan membangun sendiri pusat perawatan "
Riel menyiyakan dan langsung pergi sesuai yang diinginkan temannya itu untuk mencari bibit bibit unggul penerusnya
Aldrich jadi terpikirkan untuk juga membangun sebuah pusat keamanan pribadi di sekitar rumahnya, untuk Xavier agar lebih leluasa melakukan pekerjaannya. Para bodyguard dan maid juga bisa menempati tempat itu secara leluasa, Aldrich baru terpikirkan hal ini
" Uhhh.. uhhh " gadis itu mulai merasakan sakitnya, tangannya berdenyut denyut nyeri
" Jangan di genggam seperti ini, nanti tambah sakit " suara lembut pria itu menuntun gadisnya agar berhenti saling menautkan kedua lengannya
Pria itu membawa telapak tangan gadisnya untuk dikecup, rasa bersalah kembali hadir ketika melihat gadisnya terbangun karna rasa sakit yang mulai terasa. Airene tak bisa minum obat penghilang rasa sakit karna sedang mengandung, jadi mau tak mau membiarkan rasa sakitnya terasa
cupppp
" Maaf membuatmu terluka "
" Dan terimakasih sudah menjaga mereka berdua, kamu tau. Kamu sangat hebat sampai mereka berdua tak terluka sedikit pun "
Dokter Risa berkata kedua bayinya baik baik sana, tusukan itu tak berpengaruh pada keduanya. Tapi, Airene disarankan untuk istirahat full sampai keadaanya membaik dan mengembalikan tenaganya
Aldrich mengangguk, mengapus peluh pada dahi gadisnya " Ya.. mereka baik, tapi tetap mulai sekarang kamu harus ditemani oleh bodyguard. Jangan seperti kemarin "
Seakan teringat bagaimana keadaan Josh yang terakhir kali tak sadarkan diri sebelum ia dibawa masuk ke dalam mobil " Bagaimana.. bagaimana Josh? apa dia baik baik saja? "
James menemukan pria muda itu dalam keadaan wajah yang hampir dipenuhi oleh memar dan darah, Josh sempat mengucapkan sesuatu sebelum menutup matanya. Dia mengatakan nomor mobil dan arah perginya mobil mobil asing itu
" Keadaannya tidak terlalu bagus, Riel sedang merawatnya. Ia akan siuman setelah beberapa hari "
Gadis itu menghembuskan nafas lega
Setidaknya pria muda itu masih hidup dan bernafas walau mengalami luka yang sangat banyak. Salah dirinya yang kukuh hanya ingin pergi berdua dengan Josh, jika ia menuruti ucapan Aldrich. Mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi
" Sekarang "
Aldrich menarik selimut untuk menutupi tubuh gadisnya sampai ke dagu. Jam menunjukkan pukul 2 pagi, yang berati gadis itu terbangun pada tengah malam karna mimpi buruk. Riel sudah memeriksannya dan berkata semuanya baik. Jadi saatnya untuk gadis itu kembali tidur mengistirahatkan dirinya
" Tidurlah.. Aku akan menjagamu disini, jangan takut " menepuk nepuk pelan tubuh gadisnya agar merasa nyaman
Pria itu tau gadisnya terbangun karna mimpi buruk, pasti kejadian itu meninggalkan bekas trauma untum gadisnya. Apalagi dia sedang mengandung dan berusaha keras untuk melindunginya. Aldrich takut jika rasa trauma itu terus muncul dan mengganggu gadisnya
Dia tak mau hal itu terjadi lagi
Awalnya dia hanya ingin menghabisi Luca dan para bawahannya saja, tapi melihat wanita yang dulu bersama dirinya. Wanita yang melahirkan sikecil lalu pergi meninggalkannya. Dia melihat wanita itu juga ikut andil dalam apa yang dialami oleh gadisnya
Wanita itu ikut dalam rencana ini, walau nanti pasti sikecil bertanya tentang kemana ibu kandungnya. Ia akan mengatakan dengan jujur beserta alasannya sampai anak itu paham kenapa dia melakukannya
Juga sebelumnya, Aldrich meminta James mengadakan sebuah upacara pemakaman kecil untuk wanita itu. Dia dimakam kan jauh dari kota ini, di sebuah desa kecil tempat dimana wanita itu dilahirkan
Aldrich masih mempunyai hati memakamkan wanita itu dengan layak agar nanti jika Felix bertanya. Dia bisa mengunjungi makam ibunya di desa itu
Berbeda dengan Luca, Aldrich membiarkannya begitu saja di dalam ruko kosong itu beserta para anak buahnya yang sudah gugur. Aldrich membiarkannya tanpa mau susah susah mengadakan upacara pemakaman baginya
Mereka semua dibiarkan begitu saja sampai ada orang yang akan menemukannya atau mungkin para polisi? Polisi tak akan berani mengusik dirinya, malah sebaliknya. Polisi pasti berterimakasih karna sudah membereskan salah satu kasus miliknya. Luca sudah lama dicari oleh polisi karna keterlibatannya dengan bisnis obat terlarang
" Kamu tetap disini kan? " Airene bertanya sebulum memutuskan tidur kembali. Dia tidak mau ditinggalkan
" Ya aku tetap disini "
Tapi gadis itu masih terus menatap prianya " Boleh.. aku minta pelukan? "
Aldrich tertawa
Ternyata gadisnya itu ingin di peluk saat tidur, tentu saja dia tak akan menolak permintaan gadisnya itu dan segera menaiki ranjang lalu mendekap hati hati tubuh gadisnya
Mereka berbagi kehangatan satu sama lain sampai akhirnya jatuh tertidur
.