
Sesuai dengan prediksi Xavier dan orang orang yang dengan tak lelah terus bergerak mencari kebaradaan gadis itu. Mereka akhirnya menemukan titik terang dimana gadis itu berada, setelah menanyakan hal itu ke orang orang sekitar disebuah desa yang cukup jauh dari pusat kota. Seorang penjual daging memberi tahukan bahwa sosok yang mereka cari berada dirumah ujung gang sana, namun pedagang itu berkata sudah lama tak melihat gadis yang sedang mereka cari. Dia hanya melihat gadis itu pertama kali saat membeli dagingnya,lalu ketika gadis itu pergi mengunjungi klinik sisanya dia sudah tak melihat keberadaan gadis itu. Entah gadis itu masih tinggal dirumah tersebut atau tidak, bibi penjual itu hanya menunjukan letak rumah nya saja
" Aku menemukannya " kata kata yang sudah Aldrich tunggu selama berminggu minggu ini
Xavier mengarahkan titik lokasi pasti dimana keberadaan gadis itu " Disini, kita harus segera kesana sebelum gadis itu menyadarinya "
" Ya kita kesana sekarang "
Aldrich membawa mobilnya sendiri menuju desa itu, kurang lebih mungkin menghabiskan waktu 1 jam perjalanan dari kota. Mereka tak bisa menggunakan jet pribadi karna menurut Xavier, didesa itu tidak ada landasan atau lahan luas yang bisa dipakai untuk mendaratkan jetnya. Jadi mereka harus menggunakan jalur darat, pilihan terbaik saat ini
Airene masih menutup mata erat tepatnya ia tengah pingsan sejak semalam karna jatuh saat berjalan menuju kamar mandi. Dia terjatuh saat dirinya baru saja sampai ditujuannya karna kepalanya tiba tiba berdenging dan yang terjadi selanjutnya adalah suara jatuh yang berasal dari tubuhnya yang menghantam dinding kamar mandi. Beberapa hari kebelakang ini memang gejala yang dirasakannya terasa berbeda dan malah terasa lebih parah dari biasanya
dukkk!!!
Gadis itu mencoba untuk menahan rasa sakit dikepalanya karna sedikit terkantuk dinding, dia sudah berusaha untuk bangun sebelum terjatuh mecoba menahan sakit dikepalanya. Namun, dirinya sudah tak kuat. Tak ada tenaga lagi dan berakhir jatuh di lantai dingin kamar mandi itu, pandangannya menggelap, perlahan lahan kesadarannya mulai hilang hingga dia tak tau lagi apa yang terjadi
Mungkin dia akan bangun dipagi harinya seperti yang sudah dia alami
Aldrich tiba setelah 50 menit perjalanan karna dirinya yang membawa mobil sangat kencang membelah jalanan yang sedang hujan. Cuaca hari ini sungguh sedang tak bersahabat sepertinya, jalanan licin, kabut menghalangi pandangan dan hujan deras yang bisa saja menyebabkan kecelakaan jika mereka tak berhati hati ketika melewatinya
Xavier ikut bersamanya karna yang tau dimana letak gadis itu adalah dirinya, dia juga menunjukan arah menuju desa itu.
" dude " Xavier memegang erat erat pegangan tangan di atas kepalanya didalam mobil itu. Sungguh temannya itu tak main main saat menjalankan mobil secepat ini di kondisi seperti saat ini
Aldrich tak merasa terganggu dan hanya fokus menatap ke jalanan yang penuh dengan kabut menghalangi
" Ya? kenapa? ada pergerakan? " pria itu malah bertanya takut jika gadisnya sudah tau akan rencananya dan segera pergi dari desa itu sebelum dirinya datang
" Tidak, dia tak bergerak sejak aku menemukannya. Bisa kah kau pelankan sedikit laju mobilmu? aku masih ingin kembali dengan utuh " Xavier bukan tipe orang yang banyak berbicara atau protes akan keputusan yang diambil temannya itu. Tapi kali ini, dia menentang Aldrich karna mengendarai mobil yang lumayan sangat kencang itu
Aldrich menggulirkan matanya malas, dia harus segera bertemu gadisnya tapi malah disuruh untuk mengendarai mobil dengan lambat " Pegangan saja yang erat dan percayakan saja semua padaku "
Tak ada keraguan memang dari ucapan temannya itu, Aldrich orang yang bisa dipercaya tapi tidak dengan mempercayakan nyawanya kepada pria itu
Mereka tak bisa membawa mobil masuk melalui gang sempit ini, jadi Aldrich memutuskan untuk memarkirkan mobilnya sembarang karna sudah ada beberapa orang bawahannya yang menunggu kedatangannya.
Dengan langkah tergesa pria itu berjalan menyelusuri gang ini, menurut informasi yang dia dengar dari Xavier bahwa rumah gadisnya berada di ujung gang ini. Jadi dia hanya harus berjalan sampai ujung gang untuk menemukan rumahnya
Hanya ada satu rumah diujung gang ini, rumah yang sangat sangat sederhana dengan banyak tanaman rambat menghiasi dinding dindingnya. Terdapat pagar rumah kecil yang sedikit terbuka dan saat Aldrich memegangnya pagar itu tak terkunci
Pria itu sedikit marah karna gadisnya teledor dan membiarkan pagar rumahnya tak terkunci tapi disisi lain ini juga memudahkan dirinya untuk langsung masuk menuju rumah itu jadi dia mencoba meredam kemarahannya. Aldrich memasuki halaman rumah itu namun tak mendengar adanya suara aktivitas dari dalam rumah itu. Semuanya sunyi seperti tak ada orang yang tinggal di rumah itu
Mengetahui hal itu, Aldrich takut jika gadisnya sudah pergi terlebih dahulu sebelum dia sampai kesini. Bisa saja gadisnya tau bahwa dirinya akan menjemputnya kembali dan segera bergegas pergi
Xavier melangkah terlebih dahulu mencoba untuk memutar kenop pintu yang tak terkunci lagi. Pagar dan pintu gadis itu tak terkunci
Bodoh nya gadis itu
Bagaimana kalau ada sekelompok orang mabuk yang memasuki rumahnya dan mencelakai gadis itu. Atau bagaimana jika sekawanan perampok masuk kedalam rumah yang tak terkunci ini
Aldrich marah kembali mengetahui hal itu, dia marah karna keteledoran gadisnya yang bisa membuatnya diserang kapan saja. Pagar dan pintu tidak dikunci memudahkan siapa saja yang mau masuk kedalam rumah ini
Tanpa berlama lama, Aldrich melangkah masuk kedalam rumah gadisnya. Dia melangkah setelah Xavier membukakan pintunya dan menunggu dirinya masuk terlebih dahulu.
" Aku akan berjaga disini, kau bisa masuk terlebih dahulu "
Tidak ada tanda tanda gadisnya berada di dalam rumah ini, keadaan masih sunyi dan hening seperti saat pria itu baru melewati pagar rumahnya. Keadaan didalam rumah pun tak berbeda jauh dengan itu, Aldrich memutuskan untuk mencoba menelusuri setiap ruangan yang ada. Mencari dimana gadisnya berada
Matanya menangkap daerah seperti ruang tamu karna terdapat beberapa sofa dan perapian tapi dia tidak melihat sosok gadisnya. Gadis itu tak ada di ruangan ini, Aldrich melangkah dengan langkah sangat pelan. Dia membawa langkahnya menuju ruangan selanjutnya yaitu dapur?
Aldrich masih tak melihat sosok gadis itu ketika dirinya sampai diruang dapur, dia kembali mencoba memasuki ruangan lain yang terlihat seperti sebuah kamar. Aldrich membuka ruangan itu, Jejak seseorang menempati ranjang itu terlihat karna sprei dan selimut diatas ranjang itu seperti sudah dipakai oleh seseorang
namun
Pria itu tak melihat sosok gadisnya, jejaknya memang ada dan terlihat tapi tidak dengan sosoknya. Dia mendekati ranjang itu dan mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Dingin, ranjang itu dingin seperti memang tak ada orang yang tidur diatasnya atau ranjang itu sudah ditinggalkan lama hingga terasa sangat dingin seperti ini. Aldrich diam seketika, dia diam mencoba berpikir tentang apa yang sedang terjadi. Pandangannya menyisir setiap sudut dikamar ini dan terjatuh pada suatu ruangan dengan pintunya yang sedikit terbuka
Aldrich mendekati ruangan itu, tak boleh ada satupun ruangan yang terlewat
Deggg
Ketika lengannya memegang gagang pintu dan menariknya. Pria itu melihat gadisnya, yaa gadisnya yang sedari tadi dia cari. Sedang terduduk tak sadarkan diri di sebuah ruangan yang disebut kamar mandi
Airene terlihat duduk tak sadarkan diri dengan tubuh yang menyender pada dinding dekat pintu masuk kamar mandi. Aldrich melihat bibir gadisnya sudah membiru, kulitnya juga berubah lebih pucat dari biasanya. Matanya tertutup rapat seperti tak ada tanda tanda untuk terbangun, Aldrich diam syok melihat pemandangan yang ada didepannya. Tangannya sedikit gemetar ketika merasakan tubuh dingin dari gadisnya itu, nafasnya samar samar masih terasa walau sangat pelan.