As Long As I Got You

As Long As I Got You
That person's Orders



" Kau terluka? " Pertanyaan itu terlontar seketika mereka baru saja memasuki mobil


Josh pergi dengan beberapa bodyguard membawa pria yang tadi menyerang itu, John menyupiri mobil yang mereka naiki lalu satu mobil lagi mengikuti mereka dari belakang membawa barang belanjaan


Tentu saja walau pun baru terjadi penyerangan, Airene tak mau melupakan belanjaan yang sudah dia pilih dan ambil selama sejam itu. Penyerangan pria itu tidak menghentikannya untuk kembali kerumah bersama barang belanjaannya


" Tidak. Hanya otot kaki ku sedikit tegang karna bergerak tiba tiba " Sejak dirinya sibuk bekerja, diingat ingat lagi memang sudah lama terakhir kali mungkin saat sebelum luluh kuliah


Aldrich langsung mengecek dan melihat area kaki yang dimaksud itu, mungkin karna Airene memakai celana panjang yang lumayan ketat. Sehingga ketika dirinya bergerak tiba tiba, disamping ototnya yang sudah lama tidak dilatih. Celana ketat itu juga memberikan  sedikit tekanan


" Apa masih sakit? "


Ntah bagaimana Airene harus bersikap apa melihat salah satu kakinya Aldrich angkat hingga dipangku oleh pria itu. Tak lupa dia juga memberikan pijatan pijatan lembut dititik titik yang sekiranya memang sakit


" Ahh.. tidak nanti juga hilang sakitnya " ujarnya mencoba menarik kaki yang sedang dipangku pria itu tapi Aldrich menahannya


Mereka pun tiba dirumah setelah sekian lama terjebak kemacetan lalu lintas, Aldrich merangkul erat gadisnya sembari memperhatikan sekitar takutnya kejadian tadi terjadi lagi.


" Mommyy " sikecil berlarian masih memakai pakaian renangnya ketika melihat ibu dan ayahnya baru kembali


Airene melihat jam tangan di lengannya, bukannya sudah terlalu lama anaknya itu bermain air? dilihat kulit telapak tangan anak itu sudah mengkerut menandakan sudah terlalu lama berada didalam air


" Ko Felix masih pakai baju berenang? " Ujarnya menggendong sikecil


Sikecil memiringkan kepalanya bingung dengan pertanyaan sang ibu, bukannya memang dia disuruh berenang yah tadi oleh ibunya? " ya karna felix berenang mommy "


Benar juga, tak salah jawaban anaknya itu. Hanya sedikit membingungkan " Bukan begitu, felix dari tadi udah berenang kelamaan "


Mungkin sudah sekitar 3 jam dari waktu Airene berangkat belanja, berarti anaknya itu sudah berenang selama itu kan? " Ayo mandi, mommy juga mau mandi "


" Biar aku saja " Aldrich ingin ikut andil karna takutnya kaki gadisnya itu masih sakit


Airene menggeleng dan melangkahkan kakinya masuk menuju kamar mereka " Tidak biar aku saja sekalian "


Tanpa menunggu balasan dirinya meninggalkan Aldrich yang masih berdiri diam


Aldrich memutuskan untuk ke arah kolam renang tempat teman temannya berada, mereka harus tau apa yang sudah terjadi tadi. Bisa saja kali ini mereka yang akan kena?


Terlihat Riel dan Dave yang masih asik berenang dikolam besar itu, hanya xavier yang duduk tenang dipinggir kolam sembari meminum jus jeruk pesanannya


" Yo, dude. Wanna come in? " Riel menangkap sosok Aldrich yang sedang mendekati mereka


" No. Aku perlu memberitahu kalian sesuatu " Ujarnya ikut duduk disamping Xavier yang menatap nya aneh


Pasti


Pasti ada yang terjadi saat mereka berdua pergi berbelanja kan?


Dave dan Riel buru buru menaiki tangga kolam, mencari dan memakai bathrobenya dan langsung ikut duduk berhadapan dengan Aldrich


" Apa, apa yang terjadi katakan? " Riel selalu menjadi orang yang pertama bertanya


Karna jika salah satu dari mereka ada yang terluka, itu akan menjadi tanggung jawabnya


Aldrich menyilangkan kakinya, sedikit menggulung kemeja abu abu yang dia pakai. Cuaca sangat panas kali ini


" Ada orang yang menyerang kami "


" Bukan, maksud ku mereka menargetkan Airene seperti yang sudah kita prediksi sebelumnya "


byurrr


Xavier tersedak minumannya ketika mendengar hal itu, karna sebelumnya ia sudah memeriksa semua cctv yang ada di pusat perbelanjaan itu. Ya dia meretas semua camera cctv yang ada untuk melihat keduanya baik baik saja atau tidak dan mencari cari ada orang yang mencurigakan atau tidak


Rasanya setelah memperhatikan aga cukup lama dan tidak ditemukan orang yang mencurigakan, ia pun menutup laptopnya dan ikut bergabung dengan yang lain. Dipikirnya tak akan terjadi apa apa


Namun


Dia salah


Ini salahnya karna tidak memperhatikan sekitar dengan benar


" Maaf aku tidak memperhatikan sekitar dengan benar " ujarnya merasa bersalah karna ini sudah menjadi tugas yang dipercayakan kepadanya namun ia membuat kesalahan


Dave menepuk nepuk pundak Xavier, hal seperti ini bisa saja terjadi. Tapi dave berharap ini yang terakhir kalinya terjadi " Lalu apa yang terjadi? Kalian terluka? "


Aldrich menggeleng, ekspresi aneh dipancarkan olehnya. Ekspresi berpikir sekaligus kagum


" Bukan kami yang terluka tapi pria itu "


Ketiga nya menatap aneh, namun seketika mengerti karna bukan kah temannya itu membawa banyak bodyguard? mungkin salah satu dari bodyguard itu yang menghalau pria penyerang itu?


" Pria siapa? bodyguard mu? perlu ku obati sekarang? " Riel sudah bersiap siap dengan situasi seperti ini


" Tidak. Kami sama sekali tidak terluka, bodyguard pun tak ada yang terluka "


Dave jengah karna temannya itu berbicara setengah setengah " Lalu siapa? Shitt.. kau membuat ku menunggu !! "


Aldrich merebahkan dirinya pada sandaran kursi yang ada dibelakangnya " Pria itu, pria yang menyerang Airene yang terluka "


" Pria itu? kau menghalaunya? " Dave bertanya dengan gemas


Aldrich menggeleng " Tidak, Airene menendang pergelangan tangan pria itu hingga pisau terjatuh lalu kembali menedang perut dan tengkuk pria itu "


" Dengan keras "


Ucapan Aldrich seolah olah sedang berputar putar dipikiran mereka bertiga saat ini, mereka butuh waktu untuk mengolahnya


Hingga


" Whatt!!! " Ketiga pria itu berteriak terkejut ketika baru saja mengolah apa yang diucapkan Aldrich


Dave menutup mulutnya tak percaya, Xavier menepuk tangannya dengan kagum lalu Riel yang membuka mulutnya lebar karna tak percaya


" Kau bilang apa? gadis itu? " Riel ingin memastikan bahwa ucapan temannya itu benar


" Ya, dia maju seakan tak takut dengan pisau tajam yang sedang diacungkan padanya itu "


" Ya kau benar juga, sejak awal gadis itu memang terlihat tak takut " Riel menambahkan pemikirannya


Airene bukan merasa takut sewaktu mereka mengatakan yang sebenarnya, gadis itu malah marah karna mereka melibatkan dikecil tanpa tau apa yang akan terjadi nantinya.


" Saat kejadian itu terjadi, kulihat memang dia seperti orang yang sudah terlatih, bahkan tendangannya lebih keras dari pada James yang mantan atlit itu "


" Kupikir kau harus meminta penjelasan padanya " Dave memberi saran untuk temannya itu


" Ya aku akan bertanya padanya "


Orang yang mereka bicarakan sedari tadi sudah menyelesaikan masakannya untuk makan siang saat ini, karna bahan masakan yang melimpah ia pun membuat banyak sekali makanan.


Keempat pria itu pun ikut bergabung setelah mengganti pakain masing masing. Airene mempersilahkan semuanya untuk menyantap makanan yang sudah tersedia diatas meja. Sikecil berada dalam gendongannya karna terlalu lama berenang membuat bocah itu mengantuk dan malas untuk makan jika tidak Airene yang menggendongnya


Aldrich sedari tadi diam, dia sedang menunggu moment yang tepat untuk bertanya pada gadisnya. Ia ingin menanyakan banyak hal tentang Airene yang ternyata dia belum mengenal banyak tentang gadisnya itu


Airene menidurkan sikecil dikamar karna bocah itu tertidur ketika baru saja menyelesaikan suapan terakhrinya. Niat nya dia akan melanjutkan membuat cemilan untuk disimpan dan dimakan nanti


" felix sudah tidur? " Tanpa disadari Airene, Aldrich sudah berdiri sembari menyandarkan tubuh nya di pintu masuk kamar


" mhh yaah, baru saja "


Aldrich mengangguk mengerti " Kalau begitu ikut aku keruang keluarga "


Mungkin pria itu ingin membicarakan kejadian di supermarket tadi pagi yah?


Menyelimuti sikecil terlebih dahulu baru Airene bangkit dan mengikuti langkah Aldrich yang membawanya ke ruang keluarga dilantai bawah


Memang sudah sepaket sepertinya, dimana Aldrich pasti ada ketiga temannya yang selalu hadir kapanpun, lebih tepatnya jika ada hal hal penting yang harus dibicarakan


Dave dan Riel terlihat sedang memakan puding yang ntah darimana mereka mendapatkannya, Xavier sedang sibuk mengotak atik laptop yang ada dipangkuanya


Aldrich mengajak Airene untuk duduk bersampingan dengan ketiga orang itu yang ada dihadapannya


" Boleh aku bertanya? " Aldrich memulai percakapan yang sudah ia tunggu sedari tadi


Tentu saja memang kapan dia melarang Aldrich untuk bertanya? " Boleh, silahkan "


Airene menyamankan posisi duduknya, dia juga meminta sikembar untuk membawa kan mereka minuman " Sejak kapan kau melihat pria itu? "


" Sejak kita masuk, aku melihatnya berdiri tidak jauh dari pintu masuk " dan dia pikir bahwa pria itu adalah pengunjung biasa


Dave ikut dalam percakapan, ia perlu mengkonfirmasi sesuatu " Kau melihatnya sejak awal? kalau begitu kenapa tidak memberitahu Aldrich atau bodyguard? " Dave juga penasaran akan ini


Airene mengangkat bahunya " Aku tak tau kalau dia akan menyerang, kupikir pengunjung biasa saja "


Memang tidak salah juga mencurigai seseorang, namun mereka juga perlu berhati hati agar tak salah mencurigai orang


" Lalu dari mana kamu tau kalau dia mengikuti kita? aku bahkan terus menerus melihat sekitar tapi tidak sadar akan hal ini " Aldrich meresa kecewa karna kejadian kali ini


" Pantulan cermin di kulkas itu? aku melihat setiap aku bergerak, dia pun ikut bergerak dan semakin mendekati ku "


" Ahh aku mendapatkan rekaman cctvnya ? Xavier berkata sembari memperlihatkan laptop yang sedari tadi di otak atik itu


Airene juga ikut melihatnya, rekaman cctv itu juga menampilkan saat dirinya menendang pria itu


Aldrich menatapnya tajam " Lalu kenapa kamu tidak menghindar dan malah melawannya? "


" Karna aku hanya berpikir untuk menyingkirkan pisau itu saja "


Hembusan nafas terdengan dari orang disampingnya " Darimana kamu bisa melawannya? kau tau aku takut jika kamu terluka " ujarnya jujur pada gadis itu


Airene menyesal karna membuat Aldrich mengkhawatirkan dirinya, namun ia bisa menjaga dirinya sendiri " Maaf, tapi kamu tak usah takut. Jika hanya melawan beberapa orang tanpa senjata aku bisa melakukannya "


Riel seketika mendelik, bagaimana seorang gadis dengan perawakan seikit kurus itu berkata bisa melawan beberapa orang " Jangan bercanda dengan keselamatan dirimu sendiri "


" Ya, kau tak boleh main main dengan itu. Ingat ada sikecil yang menunggumu " Dave ikut menimpali


Airene menyadari bahwa apa yang dilakukan nya berbahaya jika saja ia gagal menyingkirkan pisau itu , tapi " Aku bisa, aku ini pemegang sabuk hitam. Jika hanya menghindar saja aku bisa melakukannya "


Aldrich menatap tak percaya pada gadisnya itu begitu juga ketiga temannya yang bereaksi sama seperti nya " Its not funny, honey "


Tubuhnya memang kurus tapi memang dia benar benar memegang sabuk hitam setelah mengalahkan beberapa seniornya dikampus " Ishh.. Aku ini benar benar pemegang sabuk hitam, bahkan setara para atlit kau tahu " tak suka dengan reaksi yang mereka berikan


" Bagaimana bisa? "


" Itu tak mungkin "


" Ya aku juga tidak mempercayainya "


Mereka semua memberikan reaksi yang masih sama dengan menunjukan wajah tak percaya pada apa yang diucapkan gadis itu


" Yasudah kalau tak percaya. Aku ini memang memegang sabuk hitam, namun imun ditubuhku lemah jadi aku tidak bisa masuk menjadi atlit karna sering kelelahan "


Ucapannya kali ini baru dipercayai mereka semua setelah Xavier yang mencari data tentang dirinya ikut dalam sebuah klub karate dan memperlihatkannya


" Lihat ada kan buktinya. Aku tak masuk dalam tim utama bukan karna kemampuanku yang kurang tapi karna kondisi fisikku yang kurang bagus "


kringgg!!


Terdengar ponsel Aldrich berdering memberhentikan percakapan mereka


Aldrich melihat ponselnya, tertera nama James yang menelfon nya


" Maaf menganggu anda, sir "


" Ya, ada perlu apa? "


" Saya baru saja selesai melakukan introgasi pada pria itu sir "


" Lalu? kau mendapatkan sesuatu? "


" Pria itu terus menerus berkata harus membunuh miss Airene, hingga saya terus menerus menekannya "


" Apa yang dia katakan? "


" Pria itu berkata LUCA, lalu menutup mulutnya hingga saat ini "