As Long As I Got You

As Long As I Got You
Plane



Perjalanan menuju Dubai memang sangat lama, sejujurnya Airene bahkan belum pernah menginjakan kaki di Dubai. Tapi ia tahu bagaimana negara itu dan semua tentang hingar bingarnya


Untuk 16 jam kedepan, mereka harus bersabar dan berdoa sepanjang perjalanan ini agar sampai dengan selamat tanpa ada halangan apapun. Mereka baru terbang selama 1 jam, berarti ada 15 jam lagi waktu yang harus mereka lewati. Felix kembali tertidur dipelukannya, anak itu tertidur setelah menggenggam tangan ayahnya dan berhenti menangis. Tak berbeda dengan Felix, Airenepun mulai merasakan kantuk. Ia tidak tertidur sama sekali karna mempersiapkan semua perlengkapan yang harus dibawa


" Irene "


Airene kembali membuka matanya dan menatap atasannya itu " ya sir? "


" Kau bisa tidur bersama felix dikamar belakang " Al yang melihat Airene tak nyaman dalam tidurnyapun menawari kamar besar yang berada dibelakang tempat mereka duduk


Walaupun kursi ini nyaman, tapi tetap saja pinggangnya terasa sangat sakit. Ia bolak balik menyiapkan ini dan itu ditambah menggendong Felix sedari tadi. Hingga


duggg


Pesawat mengalami tubulance yang lumayan keras, hingga Airene terdorong kesisi Aldrich yang ditahan oleh Aldrich dengan kedua tangannya. Iya mendekap keduanya Airene dan Felix berada dalam dekapannya, dan tak lama turbulance pun berkurang


" Oyy oyyy kenapa ini? aku hampir memecahkan gelas ku " Riel berdumel karna celananya jadi basah oleh wine


Airene menatap horor karna kejadian barusan, ia pun sedikit takut jika pewasat mengalami turbulance seperti tadi


" Kau tak apa? " Al bertanya sembari masih mendekap keduanya


Anggukan adalah jawaban yang bisa ia berikan karna saat ini iya masih dalam keadaan syok dengan kejadian itu


huaaaaaa!!!


Felix terbangun tentu saja, turbulance sekencang itu pasti membangunkannya belum lagi ia terdorong hingga kesisi dan membuat guncangan itu membangunkannya


" Huaaa.. hiksss. mommm.. takut.. hikss takutt "


Kursi yang mereka duduki cukup besar, cukup untuk 2 orang sepertinya. Al yang masih mendekap mereka berdua, mengangkat tubuh Airene dan Felix agar berpindah duduk bersama dengan dirinya. Riel tak banyak berkomentar, ia hanya merasa senang temannya itu akhirnya mulai membuka dirinya. Berbeda dengan Airene yang melotot terkejut dengan tindakan yang baru saja Aldrich lakukan, ia mengangkatnya seakan Airene yang menggendong Felix hanya sebongkah kapas yang tak memiliki berat dan terlihat sangat ringan


" S... sir "


Al pun tak tahu apa yang membuatnya melakukan itu, iya hanya ingin mendekap keduanya. Melihat Airene yang ketakutan dan anaknya yang menangis keras membuatnya reflek melindungi keduanya.


" hiksss.. dadd.. daddy.. hikss "


Dengan tangan gemetar Airene mendekap erat tubuh Felix, ia pun sama takutnya dengan sikecil itu. Bagaimana jika turbulance seperti tadi terjadi lagi, apa yang terjadi disisa perjalanan mereka yang masih panjang itu


" Mohon maaf atas kejadian tadi sir, kami akan berusaha agar tidak terjadi lagi " Pramugari menyampaikan pesan yang dititipkan kepada pemilik jet itu


Al hanya diam sembari mengibas ngibaskan lengannya agar pramugari itu pergi dan kembali menuju tempat seharusnya


huaaaaa


" hikss.. mooo. mommy felix takut "


Sikecil masih tetap menangis dengan kencang dan Airene yang terlihat masih syok


"  sttt.... Tidak apa sayang " Al melingkarkan tangannya memeluk Airene dan Felix, ia ingin menenangkan keduanya di waktu yang bersamaan, melihat keduanya ketakutakn membuatnya kasihan


" Cih, tak seharusnya aku ikut denganmu " Riel memandang kesal pada pemandangan love bird didepannya


" Mataku melihat sesuatu yang tak benar " ucapnya iri


" kalau begitu, keluar dan mati saja kau "


Al memandang tak suka pada teman dihadapannya, ia selalu iri jika melihat Aldrich seperti ini


" hiks... daddyy "


Setelah beberapa saat Airene mengumpulkan kesadarannya ia melihat bahwa lengan Aldrich memeluknya dengan kencang, bahkan lengan itu memeluk anaknya yang berada didada depan Airene


" Lihat, daddy melindungi kita. Tidak akan terjadi apa apa sayang... stt sttt maafkan paman pilot " Dengan tangan gemetar Airene mendekap anak itu


" hiksss. hiksss.. "


Al mencoba ikut menenangkan anaknya " Hanya bergoyang sedikit sayang, maaf membuatmu takut "


" hikss.. hiksss "


Felix tak mudah dibujuk sebenarnya, ia tetap menangis dan memeluk Airene erat " Ahh.. Felix mau pudding? mommy bawa banyak puding untuk felix "


" hikss.. pudding... hikss "


Anak itu, antara masih takut dan ingin memakan puding membuatnya bingung " Iya pudding, Felix mau? mau yaa? mommy suapin oke? "


Posisi mereka masih sama, Airene dan Felix berada dalam dekapan Aldrich. Mereka bertiga duduk di satu bangku? sebenarnya mhh bukan duduk dibangku itu, tapi mhh Airene duduk di mhh pangkuan Aldrich?


" Sir " Airene meminta Al untuk melepaskan dekapannya, ia ingin kembali ketempat duduknya dan mengambil pudding ditas nya


Bukannya melepaskan pelukkan itu malah Al mengeratkannya, ia tak mengizinkan kedua orang yang berada di pangkuannya untuk berpindah " Biar Riel saja yang bawa puddingnya "


Orang yang tersebut malah menatap aneh pada Al, sejak kapan ia menjadi pelayan Aldrich " Aku bukan pelayan mu, dude "


Airene yang merasa tak enak pun meminta turun, tentu saja ia tak enak jika harus menyuruh Riel " Sir, biar aku saja yang membawanya " ketika ia bergerak Al mengetatkan pelukannya


" Dimana puddingnya? " Tanya Al pada Airene


" Ditas berwarna biru, sir "


Al yang pahampun memanggil James " James, ambilkan pudding ditas biru "


" Baik sir "


Riel masih menatap tak suka pada Aldrich didepannya, ia memangku Airene dan memeluknya begitu erat. Apa maksudnya itu? apakah temannya itu ingin menyombongkan diri karna membawa seorang wanita dan iya tidak? atau ia ingin memperlihatkan  caranya meluluhkan hati seorang wanita? ntah apapun maksudnya Riel tidak menyukainya


" Apa yang kau lihat? " Seakan tau bahwa sedari tadi Riel menatap mereka dan sedikit membuat Airene tak nyaman karna kikuk


" Lihat kelakuanmu pak duda " Riel menampakkan wajah tak bersahabat


Tak mau kalah Aldrich pun berkata dengan dingin " Setauku aku bahkan tak pernah menikah "


deggg


Tak pernah menikah? apa yang baru saja Airene dengar sebenarnya. Mengapa ia harus mendengar pernyataan dari atasanya itu yang membuat dirinya penasaran? Jika tak pernah menikah lalu sikecil ini??


" Miss, ini puddingnya " Hingga James datang membuyarkan pemikiran pemikiran aneh yang saat ini ada dikepala Airene, ia menyerahkan pudding itu yang diterima baik oleh nya


" Terimakasih James "


Sikecil memandang pudding itu dengan binar binar mata yang sangat bercahaya, saat ini pikiran takutnya sudah teralihkan oleh semangkuk pudding yang selalu dibuatkan mommynya


" Mommy mommy pudingg pudingg? " dengan gembira anak itu sedikit menggoyang goyangkan tubuhnya, membuat Airene sedikit kesusahan dengan posisinya saat ini


" iyaa iyaa pudding, jangan banyak bergerak sayang nanti pudding nya tumpah "


Airene mulai menyuapi pudding itu perlahan lahan pada sikecil, Aldrich hanya diam menatap mereka berdua dan Riel yang sibuk dengan smartphone nya


" Dadd.. daddy.. dadddy mau pudding mommy " Tawar anak itu karna sedari tadi ayahnya hanya diam menatapnya makan sendirian


" Memangnya boleh daddy minta? " Tanya Al pada anaknya itu


Felix berpikir lalu menatap Airene yang masih menyuapinya " Mommy.. daddy boleh pudding makan? "


" Makan pudding maksudnya? "


Anak itu mengangguk ria masih menerima suapan dari mommynya " Tentu saja boleh, aku membuat banyak untuk kita semua "


" daddd.. daddy boleh kata mommy " tatapnya pada siayah yang diam saja, lalu bocah itu sadar ketika ayahnya tak bisa bergerak karna menggendong Airene dan dirinya


" Mommy.. daddy suapin "


Airene menatap horor permintaan anak asuhnya itu, kenapa hari ini begitu banyak sekali hal yang terjadi. Keadaannya saat ini pun bisa dibilang tak cukup baik " yaaaa? "


Sikecil dengan teguh meminta ibunya tetap menyuapi ayahnya " Mommy.. daddy suapin "


Sebentar, bagaimana ia bisa menyuapi ayah sianak itu jika posisinya saat ini saja susah untuk sekedar bergerak " mhhh... Susah sayang... nanti puddingnya tumpah "


Al yang mendengar itupun mencari cara " Tahan puddingnya " Ketika selesai mengucapkan itu, Al mengubah posisi duduk Airene dan Felix menjadi menyamping mengarah ke jendela pesawat itu tanpa menurunkan mereka berdua


" uwahhh.. kuatt daddy kuatt " Sikecil kegirangan karna menurutnya itu seru seru saja seperti sebuah atraksi dipikirannya berbeda dengan AIrene yang terdiam mencoba memproses apa yang sedang terjadi


" Puddingg mommy puddingg "


Mau tak mau, yaah mau tak mau. Ia mengangkat sendok berisikan pudding itu dan memberikannya pada Al " Maaf, sir " ujarnya sopan, ingin sekali rasanya tenggelam dalam lautan sekarang agar bisa menyembunyikan ekspresi  malunya


" enak kan daddy puding? " anak itu meminta persetujuan dari ayahnya


Al mengangguk, memang makanan apapun yang dibuat Airene selalu pas sesuai dengan seleranya " Iya sayang enak "


Riel mendelik tak suka, pemandangan macam apa lagi ini. Ia harus melihat pasangan baru itu suap suapan setelah berpeluk pelukan?


" Paman Riel mau? " tanya anak itu dengan polosnya


" Tidak, buat Felix saja dan DADDY. Paman nanti saja " sengaja tentu saja Riel menyebut Aldrich dengan penekanan


Tanpa ingin mendengar apapun Airene hanya fokus menyuapi kedua orang yang memakan pudding ini dengan sangat lahap hingga menghabiskan 2 wadah besar


" Felix masih mau? "


Sikecil hanya menggeleng " Felix mau susu mommy "


Susu mommy? maksud anak ini iya ingin susuku? susu,  susu yang berasal dari tubuhku? bagaimana bisa


Baik Riel maupun orang orang yang berada disitu tertawa mendengar ucapan polos dari anak kecil itu yang membuat semua orang salah paham " Ingin yang coklat mom "


Bodoh nya ia, tentu saja susu kemasan yang diingin kan anak ini. Bagaimana mungkin ia ingin susunya sendiri, sungguh bodoh sekali pemikiran anehnya ini " Ahh.. mhh. susu coklat yah mhhh "


Buahhahahaahha


Riel tertawa cukup kencang melihat percakapan duo ibu dan anak yang aneh itu, ia tak bisa memahami kelucuan mereka berdua


" Berhenti tertawa " ujar Al yang melihat wajah Airene sudah seperti kepiting rebus itu


" ahh.. sir, maaf aku ingin mengambil susu "


" Biar James saja " sepertinya memang Al tak ada niatan untuk melepaskan Airene dalam pelukannya


Memang bisa diakui berada dalam pangkuan atasannya itu nyaman, ia tak merasa pegal atau sakit dibagian manapun hanya mungkin ia harus menahan malu nya saja didepan orang orang yang menatap mereka sembari tersenyum jahil.


" Mommy "


" Ya? "


Airene membereskan bekas susu sikecil yang terlihat mengotori sekitar pipi dan bawah mulutnya


" mommy.. Felix sayang? "


Mulai lagi pertanyaan aneh yang terlontar dari anak itu " Maksud Felix, mommy sayang sama Felix atau tidak begitu? "


Sikecil mengangguk antusias " Tentu saja mommy sayang Felix dan mister kwekk kweeek " tawanya


" Benar mommy sayang Felix? " pertanyaan yang terus menerus ditanyakan dikecil


Airene menyipitkan matanya berpikir  " Benar sayang memangnya kenapa? " kali ini iya membereskan rambut berantakan anak itu dan membetulkan posisinya


" Mommy tidak pergi lagi? "


degg !!


Bukankah pertanyaan ini seharusnya ditujukan pada ibu aslinya bukan dirinya?


" Tidak, memangnya mau pergi kemana aku? "


Felix memiringkan kepalanya bingung " Lalu sekarang mommy disini sama Felix? "


" Ini kan Mommy sama Felix "


" Lalu, kenapa mommy pergi waktu Felix kecil? "


Semua orang terdiam, begitu juga Riel yang sedang asik tertawa pun terdiam mendengar pertanyaan menyedihkan dari anak itu. Al hanya menatap Felix tanpa ikut berbicara


" Kenapa mommy tinggalin Felix? felix nakal yah waktu kecil jadi mommy pergi? " sikecil menambahkan dengan wajah sedihnya


Ntah apa jawaban yang tepat diberikan untuk anak itu, Airene bingung menjawab pertanyaan itu


" Felix, jangan ganggu mommy " Kali ini Al buka suara, ia tak mau menyeret Airene dalam masalahnya


Hembusan nafas berat mengiringi jawaban Airene " Felix ga nakal " ia menyentuh pipi anak itu dan mengusapnya


" Felix anak baik, baik sekali sampai mommy kagum lihatnya "


" Saat itu mommy ada urusan jadi Felix sama daddy "


Terlihat Felix yang tak mengerti jawaban dari Airene " Tapi mommy ninggalin Felix " ujarnya sedih


" Orang bilang Felix ga punya ibu, Felix cuma punya daddy "


Al melirik James yang sedari tadi ada dikursi yang tak jauh darinya, ia ingin mengetahui siapa orang yang berkata seperti itu hingga anaknya mendengar sesuatu yang buruk


" Felix sendirian kalau daddy pergi "


" ada paman Josh dan Granny sih "


" Tapi felix mau sama mommy, Felix mau bilang sama orang itu kalau Felix punya mommy "


" Iya kan momm? "


Memang berat menjadi anak yang tidak mempunyai ibu atau orangtua lengkap, Airene memahami hal itu sangat " Nanti Felix bilang sama mommy siapa orangnya oke? biar mommy beri pelajaran orang itu. Seenaknya bilang anak tampan ku tak punya ibu, " emosinya menggebu gebu, tak seharusnya anak sekecil itu mendengar hal hal buruk seperti ini


" Ada mommy dikantor daddy "


Ternyata ada tikus tikus kecil tak tau diri berada dikantornya pikir Al " Sayang, nanti bilang sama daddy siapa yah " Al berkata lembut tanpa menakuti anaknya


Felix menggeleng " Felix maunya bilang sama mommy, ke daddy nanti aja "


Memang perkataan itu tak pantas, biar Airene saja yang memberi pelajaran pada orang itu


" Jadi mommy gaakan pergi kan? " anak itu masih meminta kejelasan


" Mommy gaakan pergi sampai Felix bilang ga butuh mommy lagi " kontrak, kontrak itu yang bisa mengikat hubungan antaranya dan Felix


Sikecil lompat lompat kegirangan " Asiikk.. asikk... Felix punya mommyy "


Ahh tampannya anak ini ketika ia tertawa dengan riang, inilah yang seharusnya ia rasakan.  Merasa senang tanpa adanya gangguan apapun, Al merasa  gagal menjadi seorang ayah. Ia tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk anaknya, ia juga tidak bisa memberikan kasih sayang seorang ibu


" Iya iya, sekarang bobo yukk. Anak baik harus tidur " Airene membenarkan posisi bocah itu menjadi bersandar didadanya dan memeluk dirinya


Felix memeluk Airene dengan erat " Jangan tinggalin Felix yaah " anak itu menutup matanya, menikmati tepukan lembut dari Airene


Airene pun terlihat mengantuk, ia belum tertidur sama sekali sedari tadi tepukkan yang ia berikan pada anak itu berefek juga kepada dirinya. Ia merasa sangat mengantuk sekali, Felix sudah tertidur dengan nyaman didekapannya. Giliran dirinya yang menunggu untuk tertidur


hingga


plukkk...


Kepala Airene jatuh pada lengan Aldrich yang sedari tadi mendekap mereka berdua tanpa berbicara, ia menikmati percakapan dan kegiatan yang dilakukan anaknya dengan Airene tanpa mau mengganggu keduanya. Aldrich membetulkan kepala Airene yang terjatuh agar menyender pada dadanya, tak lupa membetulkan letak selimut agar keduanya tidak kedinginan


" Apa yang akan kau lakukan sekarang? " Pertanyaa yang sedari tadi Riel tahan


Al mendekap mereka tanpa membuat pergerakan " Maksudmu? " ujarnya dingin


Riel menggulirkan matanya jengah, terkadang memang Al menyebalkan dimatanya


" Anakmu, dan wanita itu "


Tak suka dengan sebutan itu Al mendengus " Ia punya nama, jangan memanggilnya 'wanita itu' "


" Baiklah baiklah, Airene. Bagaimana kau akan mengurusnya? anakmu sekarang bahkan tak bisa lepas darinya. Aku menyukai kalau kau sekarang sudah membuka hatimu, tetapi jangan sampai kesalahan terlulang lagi. kau harus berhati hati "


" Jangan menceramahiku " ujar Aldrich tak suka


" Hanya saran, apakah kau tidak bisa membedakan yang mana saran dan yang mana menceramahi? pokoknya, aku tak ingin kau dan sikecil kembali kemasa kelam itu "


Ya, masa yang tak ingin Al ingat. Masa dimana seluruh hidupnya hancur karna wanita sialan itu, wanita yang ingin sekali ia lenyapkan dari muka bumi ini. Walaupun memang terbilang Airene baru memasuki dunianya, dunia dimana mungkin tak akan pernah terbayangkan oleh Airene. Tetapi ia ingin mengenal lebih jauh wanita ini, ia ingin mengatahui segalanya tentang Airene. Ia ingin merasakan perasaan yang sudah terlebih dahulu anaknya rasakan, ia ingin mencari rasa nyaman pada wanita itu. Perasaan pulang yang sesungguhnya


Wanita yang membuatnya penasaran dan jatuh hati pada kepolosan dan kebaikannya