
Mereka berakhir dengan tidur bersama diranjang itu dengan posisi selalu felix berada ditengah tengah keduanya, awalnya Airene ingin menolak ide untuk menempati kamar yang sama dengan atasannya itu. Ia tak ingin menimbulkan rumor rumor tak baik yang bisa saja sikecil dengar lagi pula ia dan atasannya itu tak memiliki hubungan apapun selain sebagai atasan dan sekertaris
Felix merasa senang karna ia tak perlu susah susah membujuk ibunya itu untuk mau tidur bersama, selama ini biasa ia tidur bergantian dikamar Airene dan ayahnya selama beberapa malam. Hanya sewaktu dirinya sakit saja ibu dan ayahnya tidur diranjang yang sama dengan dirinya
" nghh mommy " Felix sedikit terbangun karna sebelumnya ia sudah tertidur dengan waktu yang cukup lama
Ia lihat Airene masih tertidur sembari memeluk dirinya dan juga ayahnya yang tertidur sembari mendekap mereka berdua " mmoommyyy " ujarnya membangunkan sang ibu karna takut hanya ia seorang diri yang terbangun
Airene mengedip ngedipkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk melalui matanya " mhhh.. kenapa sayang " melirik jam dinakas tempat tidur itu menunjukan pukul 7 pagi
" Felix gabisa tidur lagi mommy " jelas sikecil karna merasa cukup dengan waktu tidurnya
" Kemarilah " Airene menyuruh felix untuk mendekat
Ia mendekap anak itu erat, wajah anak tampan itu cukup membuatnya bersemangat dipagi hari ini " Memang udah pagi sih yah " merasa kesiangan karna matahari sudah mulai menyinari kedalam kamar
" Felix mau susu momm "
Kebiasaan sikecil dipagi hari pasti meminta susu dan pancake sebagai sarapan, felix sangat menyukai susu coklat dengan pancake stoberi yang banyak.
" Tapi felix mandi dulu baru boleh minum susunya "
Baru tersadar bahwa bukan hanya mereka berdua yang berada dikamar ini, terlihat Aldrich sudah membuka matanya dan sedang menatap pada dirinya yang sedang mendekap sikecil. Airene juga melihat lengan atasannya itu yang melingkar sedari tadi memeluk pinggang mungil nya
" sss... sir " merasa tak enak karna terus menerus ditatap seperti itu
Sikecil berbalik ketika merasakan pergerakan pada ayahnya " daddyyyy "
greppp
Memeluk ayahnya dengan erat, sebelum adanya sosok Airene masuk ke kehidupannya Felix. Ada sang ayah yang selalu memeluknya sesaat mau tidur dan bangun dari tidurnya. Sosok Aldrich lah yang pertama sikecil lihat
" Selamat pagi sayang " Aldrich menerima pelukan erat itu dan mengecup dahi bocah itu
Pagi nya terasa sempurna karna pertama kali yang ia lihat saat terbangun adalah pemandangan dimana anaknya sedang didekap erat oleh gadisnya itu
" Pagi dadddyyy "
" Eh felix lupa " sikecil melepaskan pelukan pada ayahnya dan menghampiri Airene yang sedari tadi terdiam canggung
" Mommy selamat pagi muahh " kali ini gantian sikecil yang mengecup dari sang ibu dan mengucapkan selamat pagi
Kenapa anak ini lucu banget sihh
Airene membalas dengan mengecup pipi anak itu " Selamat pagi juga sayang "
Sikecil tertawa senang karna kali ini ia bisa mengucapkan selamat pagi dan malamnya berdua kepada sang ibu dan ayahnya. Aldrich bangun terlebih dahulu, dan bodohnya Airene baru tersadar kalau sedari tadi atau mungkin tadi malam. Aldrich tak memakai baju atas piayama nya dan hanya mengenakan celana bawahnya saja
Terlihat tubuh sehat nan atletis yang dimiliki oleh seorang Aldrich Callisthenes itu, otot ototnya terbentuk dengan sempurna, dada bidang yang banyak disukai wanita, tak lupa otot six pack yang dimilikinya menambah kesan sempurna sesungguhnya
Pantas saja jika Aldrich selalu terlihat seksi dan tampan saat tubuhnya itu dibalut oleh stelan kemeja dan jas yang mahal
Jangan lupakan wajah Airene yang sudah memerah karna melihat pemandangan seperti surga di pagi hari ini, tak seharusnya ia tertidur duluan jika kejadiannya akan seperti ini
" Suka dengan yang kau lihat? " Aldrich mengeluarkan smirk jahilnya, melihat wajah gadisnya yang sudah seperti kepiting rebus itu membuat jiwa jiwa jahilnya bangkit
Airene dengan gelagapan memandang ke arah lain, tapi itu tak berhasil karna Aldrich menghalanginya " Kenapa? suka melihatku seperti ini? " semakin Al menggoda Airene semakin merah juga wajah nya yang menahan malu itu
Hingga Aldrich mendekatinya perlahan, ia mendekati Airene yang masih melihat kearah lain tidak berani menatap matanya. Aldrich sengaja mendekati gadis nya itu, ia merasa belum cukup puas untuk menggodanya
" ssss... si.. sir " suara gugup pun tak bisa Airene tahan, karna atasannya itu semakin lama semakin mendekat kepada dirinya. Jangan lupakan tubuhnya yang tidak terbungkus kain apapun
" mhhhh " deheman dalam nan berat itu membuat darah Airene berdesir tidak tau kenapa
" Srrr, sirrrr " yang kali ini sudah mulai ketakutan, ia takut atasannya itu melakukan yang tidak tidak didepan anaknya sendiri
greppp !!!
" Uwah dadddy "
Sikecil beralih pada gendongan ayahnya, Aldrich memang sengaja mendekati Airene untuk membawa anaknya agar bisa mandi bersama. Namun menggoda gadisnya itu tak buruk juga
Airene yang tahu bahwa atasannya itu hanya ingin mengambil anaknya terketuk kaku, ia malu karna sudah berpikiran yang tidak tidak pada atasannya. Tentu saja mana mungkin atasannya itu tertarik pada dirinya yang biasa biasa ini, ia hanya ingin mengambil anaknya yang sedari tadi mendekap Airene
Aldrich melangkah menuju kamar mandi bersama sikecil " Aku dan Felix mandi duluan, siapkan baju untuk kami "
Ingin rasanya Airene hilang dari muka bumi ini, ingin sekali rasanya bersembunyi disuatu tempat yang tidak akan bisa ditemukan oleh siapapun. Rasa malunya sudah berada pada level maks dan ia ingin kabur dari perasaan itu
Suara kran air dan gemiricik sudah terdengar dari dalam kamar mandi itu, menandakan keduanya sudah memulai ritual mandi pagi mereka. Aldrich yang meminta untuk disiapkan bajunya dan Airene memulainya dengan membereskan ranjang terlebih dahulu
Lalu ia melangkah ke arah koper sikecil yang belum ia bereskan, memilih dan mengambil beberapa pakaian yang akan dipakai felix lalu berjalan ke walk in closet memilih pakaian atasannya itu. Ia tak tau apakah yang harus disiapkan itu stelan bekerja atau stelan santai, makannya ia menyiapkan keduanya sehingga Aldrich tinggal memakainya saja
20 menit waktu yang diperlukan oleh keduanya, mereka keluar dengan hanya memakai bathrobe dan melangkah menuju walk in closet meninggalkan Airene yang terdiam melihat pemandangan yang belum terbiasa untuknya
Terdengar suara atasannya itu yang masih berada di walk in closet " Kami akan menunggumu dibawa " ujarnya
Airene melangkah memasuki kamar mandi itu dan memutuskan untuk berendam sebentar karna badanya terasa sedikit pegal dan sakit di beberapa bagian. Karna kesiangan mungkin mereka akan sarapan diluar, biasanya Airene bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan maupun bekal sikecil
Pakaian hari ini jatuh pada dress simple berwarna cream sepanjang lututnya. Tinggi badan Airene tidak begitu tinggi, sehingga dress diatas lututnya itu memberikan kesan simple namun lucu dipakai oleh wanita wanita muda. Ia memutuskan untuk menguncir rambut coklat panjangnya dengan kuciran kuda simple, cuaca terlihat sangat menyorot kali ini dan ia tak mau kepanasan jika rambutnya tetap tergerai. Sedari dulu Airene memang tak begitu banyak menggunakan make up tebal diwajahnya, bahkan saat kekantor pun ia hanya berdandan simple namun rapih. Jadi pilihannya jatuh pada liptint pink yang membuat kesan cerah dan sehat pada bibir kecilnya
Tanpa ingin membuat yang lain menunggu, ia melangkah dengan tergesa menuruni tangga sampai kelantai 1 itu. Aldrich sudah rapih dan duduk di ruang tamu bersama beberapa bodyguardnya dan terlihat sikecil yang sedang merengek meminta pancake untuk sarapannya kali ini
" Mommyy " sikecil yang melihat ibunya sudah siap pun beralih merengek padanya meminta pancake
" pancake Felix mana "
Aldrich dan Riel terlihat sedang mendiskusikan sesuatu yang ntah apa Airene dtak mengerti tentang pembahsannya hingga
" sudah siap? " tanya Aldrich pada Airene yang baru bergabung dengan mereka
Sikecil masih terus merengek meminta pancake dan susunya " Maaf membuat anda menunggu sir " dengan nada seikit penyesalan
Mereka menaiki satu mobil limosin dan yang lainnya memakai mobil hitam seperti biasanya, Felix seperti biasanya yang duduk dipangku oleh Airene, lalu Aldrich berada disisi mereka dan Riel beserta James berada di hadapan mereka
Riel mengeluarkan tablet dari dalam tasnya dan menunjukan beberapa gambar pada sikecil " Lihat ini restorannya, nanti disana felix bisa pesan semua pancakenya "
Ketika ia mendengar kata makanan favoritnya, seketika itu juga bocah itu berhenti merengek pada ibunya " Pancake? "
" Iya pancake, mereka punya pancake yang sangat enak " Riel memperlihatkan beberapa menu pancake yang ada untuk mengalihkan sikecil
Airene duduk dengan tidak nyaman karna ia memakai dress diatas lutut ditambah sikecil yang tak mau diam membaut dress nya semakin naik dan memperlihatkan paha pucat miliknya. Ia tak enak karna ada Riel dan juga James yang berada percis di hadapannya itu
" Felix bersamaku saja " Al mengetahui jika sedari tadi dress yang dikenakan Airene terus menerus naik hingga memperlihatkan paha pucat gadisnya itu
Ia tak suka jika sesuatu mengenai gadisnya itu dilihat oleh orang lain, tak terkecuali temannya dan orang kepercayaanya itu. Jadi lebih baik jika anaknya yang sedang sangat bersemangat itu berpindah duduk dengannya dari pada melihat ketidanyamanan gadisnya itu
Airene sangat berterima kasih pada atasannya itu karna sudah mengerti situasi yang sedang ia alami, walaupun kedua orang dihadapannya tidak melihat kearahnya. Namun tetap saja ia tak mau hal itu terjadi
Mobil yang ditumpangi mereka pun memasuki sebuah restoran yang terlihat indah dan mewah, tentu saja ini dubai yang terkenal dengan segala kemewahan yang ada. Sikecil terlihat bergandengan tangan dengan Riel memasuki restoran itu terlebih dahulu, Aldrich berada diluar mobil sedang menunggu Airene yang membetulkan letak dressnya
" Sudah? " ketika melihat Airene yang keluar dari mobilnya
Tentu tindakan itu membuat seorang yang ditanya terkejut, karna ia tak menyangka bahwa atasannya itu sedari tadi diam dan menunggunya membetulkan dress yang tadi naik itu
" Maaf sir membuatmu menunggu "
Beberapa bodyguard terlihat berjaga jaga disetiap sudut, mungkin James susah meminta izin pada pemilik restoran? karna tak mungkin jika ia membawa begitu banyak bodyguard dan meletakkannya disetiap sudut
" Ayo "
Aldrich mengalungkan lengannya pada pinggang Airene, ia tahu bahwa sang empunya mendadak kaku dan tegang akibat perlakuannya. Hanya ingin memberitahukan pada orang oarang yang sedari tadi melirik kearah Airene dengan tatapan menjijikan. Memang penampilan Airene terlihat sangat cantik pagi ini, dress cream muda yang cocok dikulit putih pucat nan mulusnya itu membuat beberapa mata menjijikan menatapnya
Ia ingin mereka tahu bahwa Airene, ya Airene adalah gadisnya, miliknya
Mendapatkan perlakuan seperti itu, airene hanya diam dan mengikuti setiap langkah Aldrich yang membawanya memasuki restoran itu. Ia bahkan tak merasa bahwa beberapa mata menatap mereka iri, mungkin karna ia berjalan bersama seorang pria yang terkenal sukses dan kaya raya?
" Mommyyy " Teriak sikecil yang sudah duduk manis menunggu kedua orang tuanya bersama Riel temannya itu sedang menatap jengah kepada mereka
Terdengar beberapa orang berbisik bisik ria membicarakan sebutan sikecil padanya, beberapa orang bahkan terang terangan berbicara dengan nada yang sedikit kencang. Mereka membicarakan bahwa Airene adalah wanita pengganti yang disuruh untuk mengurus anak dari seorang ceo terkenal itu. Tak salah juga sebenarnya, memang Airene dikontrak untuk menjadi pengasuh sikecil tetapi bukan sebagai wanita pengganti seperti apa yang disebutkan
" Jangan didengar " Kali ini Riel menimpali, sudah menjadi resiko bagi siapapun wanita yang akan menjadi pendamping dari temannya itu
Pria dewasa tampan dan berkuasa namun memiliki satu anak diluar pernikah yang tidak diketahui siapa ibunya, lalu sekarang anak itu memanggil sosok Airene dengan sebutan mommynya yang membuat orang saling bertanya tanya. Apakah itu ibu dari sikecil? apakah wanita itu memanfaatkan sikecil? apakah wanita itu sengaja mengambil hati sikecil terlebih dahulu lalu mengambil hati sang ayah. Itulah beberapa pikiran yang ada didalam otak para cecunguk itu
Airene menautkan jarinya erat, ia bahkan tak menjawab panggilan sikecil karna mendengar beberapa orang tengah bergosip ria melihatnya rendah
" daddy " sianak memandang sedih pada ibunya yang hanya menunduk diam " mommy sakit? " tanya pada sang ayah
Siayah yang duduk disisi Airene pun menggendongnya " Tidak mommy ga sakit " Aldrich sengaja mengencangkan suaranya, ia ingin mereka dengar bahwa gadis yang mereka sebut sebut itu adalah miliknya
" Mommmy " sikecil meminta gendong pada ibunya, Airene yang menyadari bahwa tak seharusnya ia membuat sikecil khawatirpun menerima uluran tangan felix untuk iya gendong
Dengan senyum Airene membereskan rambut acak acakan anaknya " yaa? "
" Mommy sakit yah? " sikecil menatap sedih wajah yang berada diatasnya itu
Airene menjawab dengan gelengan " Tidak sayang, tadi sepatu mommy ada pasirnya jadi mommy nunduk buat bersihinnya "
" Benarkah? "
" Iya sayang, ayo tadi felix mau pancake kan? mau pancake yang mana lihat " tak mau berlarut larut dan membuat anaknya khawatir Airene mengambil buku menu itu dan memperlihatkannya pada sikecil
Pilihannya tentu saja pancake stoberi yang sejak pagi ini ia inginkan, Airene hanya memesan menu english breakfast dan segelas mochaccino, Riel memesan pancake sama seperti felix dan Aldrich yang memesan menu yang sama dengan Airene namun meminta wine putih untuk minumannya
Mereka menghabiskan waktu sarapan dengan penuh canda tawa karna sikecil Felix yang tak ada habis habisnya berceloteh ria membicarakan kembali nyamm nyamm yang tidak dibawa ayahnya, lalu kartu sakti pemberian granpanya yang terpaksa ia titipkan pada sang ayah
Semuanya senang melihat celotehan lucu anak itu
Aldrich membawa mereka semua mengunjungi beberapa tempat terkenal di negara itu, mulai dari restoran salt bae yang terkenal, wahana balon udara yang membuat mereka bisa melihat pemandangan dari atas udara, sampai mengunjungi pasar malam yang sudah terkenal di negara itu
" Irene " Aldrich membuka pembicaraan yang sejak tadi diam, mereka semua baru tiba kembali dikediaman setelah menghabiskan makan malam mewah disalah satu restoran
Sikecil sudah tertidur dan berada dalam gendongan Airene " Ya sir " jawabanya sembari melangkah memasuki kediaman Aldrich
" Nanti saja dikamar " Airene menatap curiga pada atasannya itu, mengapa mereka harus berbiaca dikamar dan tidak berbicara disini saja ?
Pintu kamar itu terbuka, hal pertama yang Airene lakukan adalah meniduri sikecil di ranjang kamar itu. Ia melepas sepasang sepatu kecil dan mengambil tisu basah untuk menyeka wajah tampannya. Setelah selesai, ia menatap atasannya itu yang sedang diam duduk di salah satu kursi yang berada di dalam kamar itu
" Anda ingin membicarakan sesuatu sir? " Airene berjalan menghampiri atasannya itu
Ia duduk berhadapan dengan Aldrich, terlihat wajah serius atasanya itu seperti sedang memikirkan sesuatu
" Irene "
Situasi ini membuat Airene sedikit bingung, apakah kontraknya akan diakhiri? apakah ada sesuatu yang terjadi pada perusahaan selama mereka pergi ke dubai?
" Iya, sir? "
Aldrich menatap jauh kedalam iris mata bewarna coklat cerah itu dihadapannya
" Aku ingin kau menjadi ibu Felix "
degg
Tanpa ragu ia menuturkan keinginannya setelah berpikir beberapa saat dan meminta saran pada temannya. Airene membelalak matanya, apa maksud dari atasannya itu. Menjadi ibu dari sikecil? maksudnya ibu yang seorang ibu itu? artinya ia dan atasannya itu akan menikah begitu?
" Ma.. maksud anda sir? "
" Aku ingin kau menjadi ibu dari felix dan pasanganku " Ujar Aldrich tegas tanpa terlihat keraguan sedikitpun
Airene mencoba mencerna apa yang dikatakan atasannya itu, ia diam dan berpikir tentang apa yang harus dilakukannya sekarang