
Setelah kejadian dimana sikecil menangis kencang karna mencari Airene pun, kedua kakek dan nenek ini memanggil dokter keluarga mereka.
Memang hanya sebuah goresan, namun goresan itu sangat banyak dan beberapa mengeluarkan darah segar walau tak banyak. Tak mu mengambil resiko jika nanti cucu mereka terkena infeksi atau virus lainnya
Felix masih menangis ketika dokter datang untuk mengobati lukanya, perasaannya penuh dengan ketakutan dan sakit karna kakinya yang terluka itu
Dirinya masih memeluk erat Airene tanpa mau melepaskannya, bahkan ayahnya membujuk untuk melepaskan pelukan itupun ia tolak mentah mentah
Dokter berkata bahwa kaki sikecil baik baik saja dan akan sembuh dalam beberapa hari kedepan, ia juga menyarankan untuk mengganti perban itu setiap hari hingga lukanya sembuh. Ia juga berkata sudah mensterilkan lukanya jadi tak akan ada masalah dikemudian hari
Dokter itu memohon undur diri pada Alan, sembari memberikan resep yang harus ia tebus
Alan menerima resep itu dan memerintahkan Path yang menjadi sekertarisnya untuk menebus resep itu
Cucu nya masih saja menangis, luka dikakinya sudah selesai diobati. Obatnya pun sedang ditebus oleh sekertarisnya dan gadis yang dia caripun sedang memeluknya
" Sudah yaah cucu granny berhenti menangisnya, nanti kepala cucu granny sakit jika menangis terus " Martha membujuk cucunya yang masih menangis itu
Airene mengambil segelas air yang disediakan kepala pelayan tadi, dia berusaha untuk meminumkannya pada felix
" Sayang.. sudah yah, maaf tiba tiba menghilang. Sudah yah berhenti menangisnya, minum dulu yuk nanti ternggorokannya sakit " Airene meminumkan segelas air itu perlahah lahan
Alan yang melihat cucunya masih menangis pun ikut membujuknya " Cucu granpa mau liat kino ga? kino udah punya anak loh. Cucu granpa belum liat kan? " Ujarnya yang membuat sikecil sedikit tertarik dan akhirnya menatap sikakek
" hikss.. Kino "
Sikakek sedikit bersemangat karna felicx akhirnya mau menatap dirinya " Iya kino, cucu granpa belum liat kan? mau liat yuk sama granpa " Mencoba menggendong nya namun ditolak sikecil
" Hikks.. sama mommy "
" Sama daddy aja yah? " Aldrich mencona membujuk anaknya, tak mungkin Airene dibawa melihat kino yang disebutkan ayahnya itu
" ngga mau, mau sama mommy... hiks "
Ntah apa yang dimaksud kino kino itu, Airene hanya mengikitu langkah kaki kedua orang tua Aldrich yang menuntun mereka ke halaman belakang. Tempat itu aga jauh dari pintu halaman belakang yang tadi mereka lewati
Terlihat bangunan yang lebih mirip sebuah kandang dari pada bangunan itu. Ada beberapa orang yang menyambut mereka ketika memasuki kandang itu, Airene tidak tau hewan apa yang akan diperlihatkan oleh ayah atasannya itu
Orang orang yang tadi menyambut mereka pun membuka pintu dari besi itu, Aldrich mendekat dan mendekap gadisnya. Ia merasa bahwa gadisnya itu akan ketakutan ketika mengetahui hewan yang menempati seisi ruangan ini
" Kau yakin ikut masuk? " Tanya Aldrich memastikan
Airene menatap heran pada atasannya itu, memang perlu keyakian untuk memasuki kandang ini? memang ada apa didalam sana? jika ibu Aldrich saja berani kenapa dirinya tidak?
Mereka memasuki kandang yang ukurannya sangat besar dan luas itu, besi besi membentuk sebuah ruang disisi kanan dan dikirinya. Yang pertama terlihat adalah burung hantu putih besar perti salju
Airene nampak tertarik dan menyukai burung hantu itu karna terlihat cantik dimana
" Cantik "
Alan yang mendengar itupun berhenti dari langkahnya dan menatap burung hantu yang menjadi salah satu koleksinya " Burung hantu itu memang cantik, hanya beberapa ekor yang tersisa didunia ini. Salah satu nya berada disini "
Mendengar penjelasan itu Airene sempat terkejut, berarti hewan ini akan punah bukan begitu? Jika akan punah mengapa masih ada orang yang bisa memeliharanya?
Seakan tau apa yang sedang dipikirkan gadisnya, Aldrich sedikit menambahkan penjelasannya
" Memang akan punah, tapi tak ada hewan yang tak bisa ayahku dapatkan "
Pemerintah bahkan tak berani untuk melarang seorang Alan Callisthenes, Penggerak perlindungan satwa terancam punah pun pernah mengunjungi Alan dan memberitahunya untuk melepaskan beberapa hewan yang dilindungi itu. Tentu saja alan menolak, ia membeli hewan hewan itu seharga jutaan dolar dan pemerintah bahkan tak mau menggantinya
Hingga suatu saat, hewan hewan yang terancam punah itu pun berhasil berkembang biak dan melahirkan beberapa satwa baru. Berkat hal itu, pemerintah akhirnya membiarkan Alan yang mengurus beberapa hewan punah itu. Lagi pula menurut pemerintah, Alan berhasil mengembangkan satwa punah dengan semua kerja keras dan uangnya sendiri
Alan menyediakan ahli gizi untuk menakar setiap makanan satwa yang berada dikandangnya, mendatangkan beberapa dokter hewan terkenal untuk mengecek kesehatan satwa setiap harinya. Tak lupa ia juga memilih orang orang yang sudah profesional untuk mengurus semua satwa disini
Martha tidak melarang suaminya untuk melakukan hal itu, ia juga menyukai beberapa satwa yang dikoleksi suaminya. Tugasnya hanya mendukung keinginan sang suami saja
Setelah burung hantu, ada burung elang yang juga terancam punah. Dilanjutkan dengan beberapa pinguin lucu, buaya, aligator. Dan ada kangguru, koala, hewan yang disebut kucing emas pun ada.
Hingga mereka berjalan cukup jauh dari pintu masuk, terlihat ada ular. Ntah ular apa namun sangat panjang dan besar, ular itu berwarna kehijauan. Besarnya dan panjangnya bahkan menghabiskan semua ruang yang ada di kandangnya
" Mommmy.. ular ular "
Airene bergidik ngeri melihatnya, dengan reflek dia mendekati Aldrich dan mendekap sikecil dengan erat. Bagaimana jika sikecil berlari dan nekat tanpa sengaja masuk kekandang ular itu? Sangat mudah sekali bagi ular itu untuk menyerang dan menelan sikecil bulat bulat
" Kandang dirancang sangat matang, tak apa aman disini " Aldrich tersenyum ketika gadisnya itu mendekat
Aman aman bagian mananya yang disebut aman
Pokoknya selama berada dirumah ini, Airene harus memperhatikan anaknya dengan baik baik
Alan terus mengajak mereka berjalan semakin dalam
Ternyata kandang ini lebih luas dari apa yang dibayangkan, jika seperti bisa saja tempat ini disebut kebun binatang? Selain tempatnya yang luas dan besar, koleksi satwanya yang banyak bisa menjadikan tempat ini kebun binatang
" Sebentar lagi kita lihat anak anaknya kino "
Semakin dalam satwa yang terlihat semakin seram seram saja, ada reptil yang ntah apa namun besar. Kura kura yang ukurannya tak bisa disebut normal, kucing hutan, singa, harimau, dan tibalah mereka diakhir kandang ini
Airene melihat seekor blackpanther, ia melihat beberapa blackpanther kecil yang mengeliling seekor blackpanther yang besar. Mungkin itu ibunya?
" Kino! " Sikecil memekik meminta turun, namun ia baru ingat kalau kakinya sedang terluka
Alan pun berjalan menghampiri cucunya, ia akan menggendong cucunya kali ini
" Lihat anak kino ada banyak kan? " sikakek menyombongkan hasil kerja nya
Sicucu yang melihat itupun tertawa senang " Iya kinonya jadi banyak granpa "
Martha memperhatikan interaksi antara cucu dan suaminya itu, suaminya bukan tipe orang yang banyak bicara sebenarnya. Sama dengan anaknya yang suka sekali diam dan tak banyak bicara, mungkin sifat itu diturunkan turun menurun. Untung saja cucunya tidak
Dia menghampiri anaknya yang sedang bersama dengan gadis itu " Kino itu ada dari waktu Aldrich kecil loh " ujarnya kepada gadis anaknya
" Eh.. iyakah miss? " Airene ikut kedalam percakapan itu
" ibuu " Aldrich tak mau membuat kesannya buruk, ibunya kadang melakukan sesuatu yang tak terduga
" Iya iya, saat kino dibawa kemari. Mungkin waktu itu Al baru berumur 14 tahun yah? "
" Dulu kino lansung akrab dengan Aldrich, bahkan tanpa pawang pun ia berani memasuki kandangnya "
Memang tidak ada takut takutnya atasannya itu " Wahh kino berumur panjang yah, syukurlah "
Sikecil yang sudah puas melihat anak anak kino pun kembali meminta gendong pada Airene, hari pun sudah sore ternyata. Mereka menghabiskan waktu banyak untuk melihat lihat semua satwa yang ada disini
Pertanyaan yang dilontar kan sikecil sewaktu mereka berjalan keluar dari kawasan kadang itu
" Tidak "
Tentu saja Airene tak akan mengijinkannya sampai kapanpun, mungkin pengecualian jika sikecil sudah besar?
" Kenapa gaboleh momyy? kan lucu anaknya kino "
Lucu itu sewaktu kecil, ntah apa jadinya jika hewan itu sudah besar
" Gaboleh pokonya, kalau anak anjing atau kucing baru boleh "
Al tersenyum jenaka. ternyata gadisnya itu takut
" Daddy boleh kan? kata granpa ambil aja kinonya "
Kali ini sikecil meminta bantuan pada ayahnya
" Kalau mommy bilang tidak ya tidak sayang "
" Felix boleh main nanti sama anak kino tapi disini aja nanti granpa yang menemani yah? " Itung itung menemani mereka pikir Martha
Mereka pun akhirnya tiba dirumah utama, Martha menyuruh felix, Airene dan Aldrich untuk beristirahat dan bertemu nanti saat makan malam tiba, beberapa jam kedepan. Mereka bisa menggunakan waktu itu untuk membersihkan diri
Airene sebenarnya ingin membantu untuk menyiapkan makan malam, tapi hal itu dilarang karna sudah ada koki yang mengurusnya jadi Airene cukup menunggu sampai makanan jadi saja
Dari sekian banyak ruangan yang ada di rumah ini, Martha mempersilahkan untuk anaknya menempati kamar miliknya bersama gadis itu. Martha paham akan hal hal itu, ia juga ingin anaknya agar mengenal gadis itu sedalam dalamnya
Namun berbeda dengan Airene yang merasa malu akan hal itu, bagaimana bisa ibu dari atasannya itu malah dengan ramahnya mempersilahkan dirinya menempati kamar Aldrich. Harusnya kan mereka mendapatkan kamarnya masing masing
Aldrich pun menerimanya dan tak ada niatan untuk memberikan kamar lain pada Airene, bukankah sudah biasa menghabiskan malam diranjang yang sama?
Sikecil sedang ikut dengan kakeknya, setelah segala bujuk dan rayu yang sudah dilontarkan seorang Alan Callisthenes dan janji bahwa Airene tak akan meninggalkannya pun ampuh membuat anak itu menurut dan ikut bersama kakek dan neneknya
Tersisa Airene dan Aldrich yang berada dalam kamar itu berduaan saja
" Aku akan mandi terlebih dahulu " Ujarnya melangkah memasuki kamar mandi
Suara gemericik terdengar menandakan Aldrich sudah memulai mandinya
Airene menatap sekeliling kamar yang dimiliki Aldrich itu, kamar dengan nuansa hitam abu abu khas Aldrich pun menghiasi seluruh kamar ini. Kamar ini bahkan lebih besar dari kamar yang ada dirumah Aldrich
Masih memikirkan bagaimana bisa ibu dari atasannya itu sendiri yang mempersilahkan dirinya menempati kamar ini
takk
Pintu terbuka menampilkan Aldrich yang sudah selesai mandi pun membuat pipi Airene bersemu, bagaimana tidak
Tubuh atas Aldrich tak tertutup oleh kain apapun, jadi ia bisa melihat otot otot dan perut sixpacknya itu
" Ka.. kkalau begitu giliranku " Airene masuk ke kamar mandi dengan tergesa
Ia masih tak terbisa dan tak akan terbiasa dengan pemandangan itu
Mendinginkan kepalanya dengan berendam adalah hal yang dia pilih, berendam membantu tubuhnya kembali segar dan tak memikirkan macam macam
" Segarnyaa "
Beberapa saat sampai ia pikir sudah cukup untuk berendam pun membilat tubuhnya
Dan
Tunggu
Ia lupa bahwa tak mempunyai baju untuk ganti
Memang dirinya tak menyiapkan baju ganti karna tak berpikir akan menginap seperti ini, bajunya yang tadi pun tak bisa ia pakai kembali. Karna keringat dan sudah basah oleh air
Lalu bagaimana ini?
Terlihat ada bathrobe yang menggantung dibalik pintu, Airene pikir akan memakainya dan meminta maid untuk mencarikan baju ganti untuknya
takk!!
Pintu terbuka dengan Airene yang hanya dibalut bathrobe yang bahkan tak menutupi bagian paha putih pucat mulusnya
deggg
Airene melihat Aldrich tengah berdiri menatap dirinya dilemari yang tengah terbuka dan beberapa pakaian di tangannya
Mereka saling tatap untuk waktu yang lumayan lama
Hingga
Aldrich melangkah mendekat kepada Airene yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi itu
" Kau mencoba untuk menggodaku? " ujarnya yang semakin mendekati Airene
Airene gelagapan bingung apa yang harus ia lakukan " Ti.. titidak sir, Aku. Ak aku lupa tak punya baju ganti " ungkapnya jujur
Tentu saja melihat gadisnya tak berpakaian seperti ini membuat dirinya aga yahh kalian tau terbangun
" Kau yakin tidak sedang menggodaku? "
" Te.. tentu saja tidak sir "
Hingga
Cup
Aldrich mengecup dalam bibir gadsinya itu, bagaimana ia tahan jika melihat gadisnya seperti ini
Airene terlihat kehabisan nafas karna menerima serangan yang tiba tiba itu, jangan lupakan skill percintaannya yang masil 0 itu
Aldrich melepaskan pagutan mereka, terlihat gadisnya sudah kehilangan nafas
" Jangan coba coba menggoda ku sayang, jika itu terjadi maka aku tak akan berhenti meski kau memohon "
Suara yang sungguh dalam, membuat Airene merasakan gelenyar aneh yang membuatnya ikut tergoda