
huekkk hueekkk
Pagi hari diwarnai dengan suara muntahan Airene yang membangunkan kedua orang ayah dan anak yang masih tertidur lelap itu. Sebenarnya wajar jika seorang ibu hamil mengalami morning sickness hanya mungkin frekuensi yang berbeda di pada setiap orangnya. Faktor yang memicu pun berbeda beda, ada yang memang begitu saja terjadi ada karna faktor stress siibu dan masih banyak lagi.
Menurut dokter diklinik waktu itu, memang jika mengandung bayi kembar aga berbeda dari biasanya. Terkadang siibu bisa sangat kuat dan terkadang juga siibu mengalami hal yang sama dengan yang dirasakan Airene. Mengandung bayi kembar pun tak semudah yang dibayangkan sebelumnya, banyak resiko dan banyak yang harus diwaspadai oleh siibu
60% kehamilan bayi kembar berakhir dengan prematur karna ketuban pecah didalam ovarium sebelum masuki minggu ke 37 kehamilan. Bayi kembar juga mempunyai resiko berat kurang dari normal yang terjadi pada kebanyakan kehamilan kembar. Resiko kehilangan salah satu janin pun menjadi faktor dari kehamilan kembar, jika sang ibu tak di cek dengan baik oleh dokter spesialis kandungan. Kondisi siibu sangat penting pada kehamilan bayi kembar
Aldrich terbangun ketika mendengar suara gadisnya yang muntah muntah, dia membawa sebuah wadah besar yang berada didalam kamar mandi agar Airene tak perlu turun seperti kemarin malam. Ia baru terpikirkan sekarang
" huuekk... huekkkk " Airene memegang wadah itu dan mulai memuntahkan semua yang ada diperutnya
Aldrich membantu mengelus elus tengkuk gadis itu sembari menekan tombol darurat untuk memanggil perawat
tetttt.. tetttt..
Suara panggilan tombol itu langsung terhubungan ke ruangan para perawat, namun berbeda dengan tombol ruangan ini. Aldrich memintannya untuk juga terhubung ke ruangan para dokter yang memang menangani gadisnya seperti dokter Risa dan Riel. Jam baru menunjukan pukul 7 pagi, ntah dokter Risa sudah ada atau tidak dikantornya yang jelas kalau Riel selalu ada didalam ruangan karna memang Aldrich yang memintanya untuk standby
" Kenapa? " Riel memasuki ruangan bersama dua perawat wanita
" Sedari malam dia terus muntah muntah " masih memijit tengkuk gadisnya
Riel membawa kotak obat di genggamannya, dia sudah meresepkan obat yang disetujui oleh dirinya dokter Risa dan ahli gizi. Mereka semalaman meresepkan obat yang bisa membantu gadis itu dan menguatkan janinnya tanpa berefek pada tubuh gadis itu.
" Ambilkan air untuknya " Aldrich secara reflek menuruti apa yang dipinta temannya dan memegang sebuah gelas berisikan air putih
" Untuk sekarang kau coba meminumnya terlebih dahulu tanpa makan, jika rasa mualnya sudah berkurang. Coba lah makan sesuatu yang kau inginkan " Riel memberikan beberapa tablet obat, memberikannya pada Aldrich agar dibantu oleh pria itu
" huekkk.. huekkk " Airene masih tetap mencoba mengeluarkan sesuatu yang hanya cairan bening saja
Aldrich menyeka bekas muntahan gadisnya terlebih dahulu dengan lap basah yang diberikan oleh seorang perawat, pria itu mengelapnya dengan telaten tanpa menyakiti gadisnya. Dia juga terlihat tak jijik melakukan itu, Riel sampe terpanah karna pertama kalinya dia melihat temannya yang terkenal dingin dan acuh bisa mengurus seseorang
" Minum dulu obat nya yaah " Aldrich memberikan satu persatu tablet obat dan membantu gadis itu untuk meminumnya
Airene menerimanya satu persatu, pahit memang tak enak tapi lidahnya juga sudah pahit jadi obat itu tak begitu berpengaruh padanya. Sepuluh menit terlewati dan dia merasa lebih baik dari sebelumnya, pusing dikepalanya berkurang begitu juga rasa mualnya yang berangsur membaik. Dia tak begitu merasa mual seperti tadi
" Merasa lebih baik? mau mencoba makan sesuatu? " Riel menawari jika saja gadis itu mengalami ngidam semacamnya
Aldrich sudah membasuh wajahnya, dia siap jika sewaktu waktu gadisnya mau makan sesuatu dan dia harus membelinya keluar " Mau coba buah? aku belikan buah yah? " menurut ibunya, wanita hamil biasanya suka makan buah buahan. Jadi dia berinisiatif untuk menawari itu
Gadis itu berpikir sebentar, dia menimbang nimbang apa yang diinginkan dirinya sekarang. Sebenarnya dia ingin buah mangga, namun takut memuntahkannya " mhhh... mangga? " tak mungkin ia menolak jika pria itu sudah menawarinya, bisa atau tidak yang penting dia sudah mencobanya
" Aku sudah menambahkan beberapa vitamin, nanti siang dokter Risa akan memeriksamu kembali. Ingat jangan turun dari ranjang kalau bukan dalam keadaan penting " karna memang gadis itu sedang menjalani bedrest total
Riel meninggalkan ruangan itu untuk mengambil obat sikecil yang kelupaan, Aldrich sedang keluar bersama James untuk mencari makanan dan buah buahan yang sekiranya bisa dimakan gadisnya
Tersisa Airene yang tengah melihat sikecil terbangun dengan rambut acak acakannya, anak itu akhirnya terbangun setelah tertidur semalaman tanpa terbangun sedikitpun. Sepertinya memang anak itu tidak tidur dengan nyenyak selama ini
Airene mengulurkan tangannya untuk merapihkan anakkan rambut felix, gadis itu juga sedikit menghapus bekas air mata anak itu " Selamat pagi " ucapnya saat sikecil sudah sadar
Felix yang melihat sosok itu ada, tidak pergi seperti sebelumnya pun langsung memeluk sosok didepannya. Dia tak mau jika Airene kembali menghilang jadi ia akan memeluk ibunya itu sampai dia yakin bahwa sosok itu tak akan pergi lagi
" hiksss.. mommyy "
Sudah lama sekali rasanya ia tak berbicara dengan orang orang, suaranya keluar hanya untuk memanggil ibunya itu " mo...myy hikssss "
Airene belum bisa banyak bergerak, jadi dia hanya membalas pelukkan anak itu dengan posisinya yang bersandar ke sandaran ranjang " sttt.. jangan menangis "
" Mommy ninggalin felix ... hiksss "
Pasti sikecil mencari cari dirinya saat ia memutuskan untuk pergi. Kalau berpamitan mana mungkin anak itu akan mengijinkannya untuk pergi. Airene harus mencari cara agar anak itu tidak merasa trauma akibat ia tinggalkan kemarin
Sikecil menggeleng tak setuju dengan ucapan itu, ibunya sudah pergi lama sampai ia bahkan tak ingat sudah berapa lama " Mom.. hikss pergii hikss "
Pasti sulit sekali untuk membujuk anak itu " Bukan begitu sayang, mommy mhh ada urusan kemarin yaa. Jadi harus diselesaikan dulu, mommy mau pamit tapi felixnya masih bobo "
Felix masih menyembunyikan wajahnya di perut gadis itu, masih dengan tangisan yang tak henti hentinya " Tapi.. hikss.. pergi "
Suatu ide terbersit di pikiranya, mungkin dia harus mencoba cara ini siapa tau berhasil kan " Ahh felix tau, didalam perut mommy ada adenya felix lohh "
" Adik? " sikecil mengangkat kepalanya sedikit untuk memandang ibunya, dia mencoba mencari pembenaran dari ucapan gadis itu
Airene mengangguk dan membawa lengannya untuk mengelus permukaan perut yang masih rata itu " Iya, disini ada adiknya felix. Jadi berhenti menangis, felix kan akan jadi kaka besar nanti " gadis itu kembali menyeka sisa sisa bulir air mata
Pandangan sikecil berubah dari yang tadinya murung dan sedih menjadi ceria dan penasaran. Felix bahkan sudah duduk dengan menghadap ke perut ibunya, mencoba mencari dimana adiknya berada
" Mana adik nya mommy? "
Tawa menghiasi suasana ruangan ini, wajah lucu penasaran anak itu membuat Airene tak bisa menahan tawanya " hahaha.. belum sayang, masih ada disini" menunjuk perutnya " Tunggu adik bayi besar dulu, baru felix bisa bertemu nanti "
" Lama mommy? "
" Tidak, sekitar 7 bulan lagi mungkin? felix mau bertemu adik bayi? "
Felix yang ditanyapun mengiyakan dengan senang, tawa sudah menghiasi wajah pucatnya " Ya.. felix nanti punya teman main, nanti adik bayi mainnya sama kaka aja "
" mhhh felix mau jaga adik bayi untuk mommy? "
" Felix bakal jaga adik bayi buat mommy"
" Kalau begitu, mohon bantuannya yaah. Felix akan punya dua adik bayi nanti "
Setidaknya Airene merasa senang, felix tak menolak keberadaan adiknya nanti. Dia senang bahkan anak itu lebih bersemangat dibanding dirinya
takkk
Pintu terbuka, Aldrich masuk sembari membawa beberapa kantung bersama dengan James yang membantunya. Mungkin ada 6 kantung besar yang ia bawa, ntah apa yang sebenarnya pria itu beli
Melihat anaknya sudah bangun, Aldrich melangkahkan kakinya mendekati anak itu. Bagaimanapun anaknya sedang sakit, infus anak itu pun belum dipasang kembali karna melihat kondisi kemarin yang tak memungkinkan
" Felix " ujarnya duduk didekat gadisnya
Sikecil seperti mau tak mau melihat ayahnya, dia masih kesal karna ayahnya itu malah melarang dirinya untuk bertemu dengan ibunya. Dia juga sedikit merasa bersalah karna sudah menggigit ayahnya tapi dia tidak menyesal
Ayahnya pantas mendapat gigitannya
" Felix " untuk kedua kalinya Aldrich memanggil anaknya itu
Airene yang melihat keduanya berusaha untuk sedikit membantu " Sayang, dipanggil daddy " jika ibunya yang sudah berbicara, mau tak mau sikecil menurutinya dan memandang ayahnya
" Maaf "
" Daddy minta maaf " Aldrich hanya tak mau gadisnya merasa terganggu, dia juga harus beristirahat dan kalau ada sikecil. Mungkin gadis itu yang malah merawat anaknya
Mau sekesal apapun, mau semarah apapun. Felix tak akan pernah bisa mengabaikan ayahnya terlalu lama. Bagaimanapun ia hidup hanya bersama ayahnya, dia percaya Aldrich mempunyai alasan untuk itu. Hanya waktu itu dirinya terlalu senang sampai sampai tak memperdulikan ucapan ayahnya
" Maaf daddy hanya tak ingin mommy terganggu istirahatnya. Felix boleh marah sama daddy " Aldrich hanya luluh oleh anaknya, dia akan melakukan apapun untuk anak itu. Tapi sekarang, ia punya Airene. Sosok itu sama pentingnya seperti sikecil
Anak itu mulai berkaca kaca kembali, sebenarnya tak ada yang salah. Hanya dirinya yang mencari orang untuk disalahkan saja " Maafin felix daddyy " sikecil sedikit berlari diatas ranjang untuk mendekap ayahnya
Felix hanya tak mau Airene pergi meninggalkan dirinya dan Aldrich seperti wanita itu meninggalkan mereka.