
" Kau yakin pria itu menyebut namanya? "
" Ya sir, dia diperintahkan untuk menusuk miss Airene "
Ternyata benar orang yang sedang bermain main dengannya adalah pria itu
Seringai menghiasi wajah Aldrich, kali ini ia tak akan membiarkan apa yang sudah terjadi pada gadisnya begitu saja. Mulai sekarang pria itu akan menerima akibatnya karna bermain main dengan orang yang salah
Aldrich mematikan sambungan telfon itu, kali ini ia tak akan menahan dirinya lagi
" James? " Dave bertanya karna tak mungkin kalau klient. Mereka memberitahu bahwa saat ini posisi ceo dan wakil ceo sedang cuti dan diambil alih oleh direktur sementara
Mengiyakan pertanyaan itu dengan mengangguk " Kita tidak perlu menahan diri lagi "
Selama ini mereka menahan untuk tidak bergerak karna ingin tau terlebih dulu siapa yang mengincar mereka dan bagaimana mereka melakukannya
Kejadian pagi ini cukup membuat Aldrich marah, gadisnya diserang begitu saja. Pria itu lepas dari pandangannya, pandangan bodyguardnya. Hal itu membuatnya marah pada dirinnya sendiri, kenapa bisa bisa nya dia tak fokus dan membiarkan pria itu mendekati gadisnya dan menyerang. Untung saja gadisnya itu bisa melawan, kalau tidak ntah lah apa yang akan terjadi
Bagaimana jadinya jika Airene terluka, bagaimana ia bisa menjelaskannya pada sikecil nanti
" Aku ingin kalian fokus mulai dari sekarang, kita akan memantau terus apa yang akan mereka lakukan. Sampai hal itu terjadi, aku ingin kalian langsung bergerak tak perlu menahan diri "
" Lakukan apa yang bisa kalian lakukan "
" Aku ingin kalian menghabisinya "
Aldrich berbicara seperti biasa namun nadanya tersirat akan perintah yang harus dipatuhi
Bagi Dave, Riel dan Xavier perkataan apapun yang diucapkan Aldrich untuk mereka adalah mutlak. Sekali pun mereka harus melukai seseorang, ucapan Aldrich bagai perintah yang tak bisa mereka hindari
Mereka tau bahwa hal seperti ini pasti akan terjadi cepat atau lambat
Airene mencoba memahi alur percakapan yang ia dengar, namun tak ada satu pun yang ia mengerti. Ia hanya mengandalkan perasaannya yang berkata bahwa akan ada hal yang terjadi
" Sekalipun kamu pemegang sabuk hitam, jangan pergi kemanapun tanpa aku atau bodyguard disamping mu " kali ini Aldrich memberi perintah mutlak pada Airene
" Kamu tau dalang penyerangan ini? "
Aldrich mengangguk
" Siapa? "
Matanya tajam menatap lurus kedepan " LUCA "
Hal yang Airene tak pahami adalah motif dibalik penyerangannya yang didalangi oleh pria yang barusan di sebut Aldrich. Menurut Dave, pria itu tiba tiba menyerang tanpa alasannya yang jelas. Memang pria itu adalah pria yang merebut ibu kandung dari sikecil, tapi Aldrich bahkan berkata dengan mulutnya sendiri. Dia tak melakukan apapun pada pria itu selain tak menerima pemesanan beberapa jenis senjata
Aldrich tak melakukan balas dendam karna wanitanya berpaling atau apa, ia hanya menolak pemesana atas nama pria itu
Airene juga mendengar tentang kegilaan pria itu, pria yang menjual para wanita, barang terlarang dan sebagainya. Bahkan kegilaannya tak sampai situ, beberapa kali pria itu terlibat dalam pembantaian berantai dan polisi menutup diri dari kasus itu karna tak mau berususan dengan kegilaan pria itu
Motifnya juga tak jelas
Pria itu hanya menyerang ketika ia mau menyerang dan tak melakukannya jika ia tak mau. Terdengar gila memang, namun itu lah dirinya. Itulah LUCA yang banyak orang tau
" Kenapa dia menyerang ku? " Pertanyaan yang sebenarnya sudah Airene tau jawabannya
" Karna kau gadis yang ada disisi seorang Aldrich " Riel berkata malas
Biasanya mereka harus mengetatkan keamanan untuk sikecil felix namun mereka sekarang harus melakukan 2x lipat dari biasanya
" Gadis yang bisa menaklukan anak dari mafia terkenal, bagaimana mungkin mereka melewatkan untuk tidak menargetkan mu? " Dave menjelaskan alasan alasanya yang ada
Xavier menatap laptopnya namun tetap mendengar kan percakapan itu " Karna kau target yang mudah didapatkan "
degg!!
" Karna jika mereka mendapatkan mu, mereka juga bisa mendapatkan tuan muda. Lempar satu dapat dua " Dave tertawa canggung mencoba membenarkan ucapan Xavier yang aga tak enak didengar itu
Namun Airene berpikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan Xavier dan Dave. Mereka menargetkan dirinya karna dirinya saat ini yang selalu bersama sikecil. Jadi mereka menargetkan dirinya untuk dapat keduanya
Tatapan Airene tentu saja sedih, saat ini keadaannya tidak bisa dibilang baik baik saja
" Jadi apa yang harus aku lakukan? "
Aldrich menatapnya sembari meraih lengannya untuk ditautkan dengan lengannya
" Cukup berada di pandangan ku dan menuruti semua yang aku katakan "
Kapan juga Airene tak mendengar ucapan pria itu
" Aku akan mengawasi beberapa camera disekitar sini, bisa saja dia sudah menanamkan benihnya bukan? " Memang keahlian Xavier adalah urusan seperti ini
Untung saja mereka berada dirumah yang sama, jadi jika ada keperluan apapun bisa cepat dibicarakan
" Memang pria itu seberbahaya apa yang kalian bicarakan? " Airene ingin tahu lebih banyak tentang pria yang sedang mengincarnya
Dave menuangkan wine pada beberapa gelas didepannya lalu menyesapnya sedikit demi sedikit " Vodka memang terbaik disaat seperti ini, apa apaan dengan rasa wine ini " protesnya tak suka
Riel mengganti gelas itu dan menuangkan apa yang diinginkan temannya itu " Bahkan dia seorang pria yang melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia mau "
" Seperti? "
Aldrich menarik gadisnya dan memeluknya dihadapan ketiga pria itu yang menatapnya sini " Dia melakukan apapun dear, jika dia menginginkan mu. Mungkin dia berani datang kesini menyatakan perang lalu membawa mu pergi? "
" Atau meneror mu dengan pesan pesan dan hadiah hadiah yang bahkan tak bisa disebut hadiah " Dave kembali meneguk minuman itu
" Jangan lupakan jika dia bosan, dia akan membuang mu untuk dipakai oleh para pengikutnya" Riel bergedik ngeri mengatakannya
" Bisa saja dia menjual organ mu " Xavier ikut meneguk minumannya bersama Dave
Seperti memang pria itu sudah gila, ya gila
" Orang yang kecanduan obat obatan seperti dia cenderung melakukan apapun tanpa berpikir. Aku mendengar bahwa pembantaian baru baru ini juga dia yang melakukannya " Riel sebagai dokter dan sebagai kaki tangan Aldrich tentu mengetahui berita yang sudah dibicarakan dimana mana ini
Dave membuka toples cookies sembari masih menegak minumannya " Ya aku tau itu, korbannya ada puluhan bukan? tapi polisi bahkan tak bisa menangkapnya "
" Kenapa? " Pertanyaan aneh dilontarkan oleh Airene
" Karna mereka tak mau berurusan dengan mafia seperti kami "
" Sudah biasa jika mereka tak akan ikut campur dalam masalah kami "
" Cih.. beberapa dari mereka bahkan secara terang terangan menutup mata "
Xavier ikut menjelaskannya, walau kadang kata kata yang diucapkannya sangat tajam seperti pisau
" Dia akan melakukan apapun yang dia mau. Sebebas dan seberbahaya itulah dirinya "
" Menantang para mafia lain mungkin hal biasa untuknya dan parahnya lagi mereka meladeni pria gila itu dengan senang "
" Hanya beberapa saja yang tak menanggapinya seperti kami "
" Jadi jika kamu nanti bertemu dengannya, lari dan menghindar atau segera beritahu aku mengerti? " Aldrich memberikan perintah mutlaknya
Sebenarnya banyak sekali yang sudah pria itu lakukan, jika harus dijelaskan satu satu mungkin akan memakan waktu yang lama.
Jadi cukup sampai dimana Airene tau bahwa pria itu sangat berbahaya dan jika bertemu kelak, Aldrich berharap gadisnya tidak akan pernah bertemu pria itu