
Airene menatap pria didepannya dengan seksama, gadis itu mendengarkan sedari tadi apa saja yang diucapkan pria itu. Apa saja yang dilakukannya, bagaimana pandangan pria itu ketika mengungkap kembali luka dihatinya. Airene melihat semua itu
Pria dihadapannya terlihat benar benar menyesali apa yang sudah terjadi, memang ekspresinya masih datar seperti biasa tapi Airene tau bahwa kata kata maaf yang terlontar dari mulut pria itu benar adanya. Pandangan matanya berbeda tak seperti biasanya, kali ini pria itu menatapnya seakan terluka. Sorot matanya memperlihatkan luka dan penyesalan terdalam
Memang Airene masih tak mempercayai kata kata pria itu, ia masih takut untuk cepat cepat mempercayainya kembali. Tapi ia juga tak menolak untuk mendengarkan apa yang mau diucapkan oleh Aldrich. Belum memaafkan untuk saat ini bukan berarti dia tak memberikan kesempatan untuk pria itu menjelaskan semuanya dan mencoba menjadi seseorang yang mendengarkan penjelasan orang lain terlebih dahulu sebelum menindaknya
Gadis itu tau dia bukan siapa siapa bagi pria didepannya, dia hanya kebetulan saja terpilih menjadi salah satu sekertaris dari sekian banyak orang yang mendaftar. Kebetulan juga anak dari atasannya menyukai dirinya dan kebetulan atasannya nyaman disisinya. Semua ini hanya kebetulan bagi gadis itu, karna dia belum pernah mendengar pria itu mengungkapkan perasaanya yang sebenarnya. Airene hanya dipinta untuk tetep tinggal bersama pria itu
" Kamu.. sudah tau? " dengan suara parau, gadis itu ingin memastikan sesuatu yang akan berpengaruh bagaimana nanti dia harus bersikap, pergi atau tinggal
Airene ingin memastikan
Aldrich yang tau kemana arah pembicaraan ini mengangguk " Ya, beberapa waktu lalu "
" Bagaimana menurutmu? " gadis itu bertanya tentang kehamilannya yang sudah diketahui oleh pria di depannya
" Menurutku? kamu ingin mendengar reaksiku setelah mengetahui kabar kehamilanmu atau tentang kondisimu saat ini? " jika diingat saat itu, baik Aldrich atau Airene sama sama mengkhawatirkan mungkin lebih mengkhawatirkan gadis itu
" Semua "
Aldrich membawa lengan gadis itu untuk dikecup " Menurutmu, apalagi reaksi yang akan diperlihatkan setelah mengetahui gadis yang kucintai mengandung anakku? tentu saja aku senang mendengar hal itu "
Pria itu menatap gadisnya yang tengah terkejut, sejujurnya Airene sudah siap dengan apapun yang akan diucapkan pria itu. Dia sudah siap jika harus meninggalkan Aldrich kalau pria itu tak menerima calon bayinya, gadis itu siap kembali untuk menghilang. Tapi jawaban yang diberikan pria itu sama sekali jauh dari ekspektasi yang sudah ada dipikirannya
Airene berpikir pria itu akan menolak kehadiran calon bayinya
" Jangan lihat ekspresi ku, raut wajahku tidak bisa dijadikan tolak ukur perasaan yang sedangku alami saat ini " baru saja gadis itu akan menyalahkan reaksi Aldrich yang selalu datar hingga dirinya juga selalu salah dalam mengartikannya
" Kau tau, saat aku memasuki rumah itu. Rasanya sangat hening hingga aku berpikir bahwa kamu sudah pergi melarikan diri sebelum kami datang, ntah apa jadinya jika aku tak mencarimu kesemua ruangan dan menemukan tubuh dingin dengan mata tertutup rapat "
Gadis itu hanya tertawa kecil, dia ingin melihat ekspresi prianya saat itu apakah akan berbeda atau sama saja datar seperti biasanya
" Mungkin itu kali kedua aku pingsan dikamar mandi "
Pandangan Aldrich langsung membelalak menatap gadisnya tak percaya, jadi itu bukan kali pertama dialami gadisnya " Jika kamu melihat wajahku waktu itu mungkin akan tertawa keras "
" mhh aku ingin melihatnya " kembali ke topik awal " Jadi hanya senang saja? "
" Lalu apalagi selain perasaan senang? aku akan melakukan semuanya sampai keadaanmu membaik dan kedua calon bayi kita sehat didalam sana " Aldrich memberanikan diri untuk mengelus permukaan perut gadisnya yang masih rata " Dokter berkata mereka terlalu kecil dan kekurangan nutrisi, ini pasti karna salahku yang membiarkan semua ini terjadi "
" maafkan aku "
Sedari tadi Aldrich terus mengucapkan kata maaf sembari menatap sendu kearahnya yang sebenarnya bukan ini yang Airene mau " Jika kamu merasa bersalah, bisa jelaskan padaku semuanya? " untuk pertama kalinya Airene bertanya, biasanya ia akan menunggu sampai Aldirch mau menjelaskannya terlebih dahulu
" Tapi kamu tau jika menyuruhku pergi malah membuatku berpikir macam macam? "
Aldrich sedikit mengacak ngacak rambutnya, ia bingung cara menjelaskan pada gadisnya tanpa kesalahpahaman lagi " Iya aku tau pasti kamu berpikir macam macam, tapi aku lebih memilih kamu berpikir macam macam dari pada bertemu dengan wanita ular itu "
" Kenapa? boleh aku tau? " bagaimanapun Airene selalu meminta kesediaan pria nya, dia juga tak akan memaksa jika prianya tak mau
Pria itu berpindah dari kursinya ke sisi ranjang, ingin mendekati gadisnya " Tidak mungkin wanita itu datang tanpa merencakan sesuatu, jika wanita itu datang pasti ada saja hal yang akan terjadi seperti kau tau. Yang memberikan kotak bekal itu adalah dirinya, wanita itu bahkan berani untuk melukai anak kandungnya. Dan aku takut jika ia melihatmu, ia akan melakukan suatu hal yang buruk "
Airene menatap tak percaya, bagaimana bisa wanita itu tega meracuni anaknya sendiri
" Dia yang melakukan itu? "
Aldrich mengangguk menyiyakan, " Dave melihatnya dan baru memberitahuku setelah kau pergi, kamu lihat sendiri kegilaan wanita itu "
" Tapi seharusnya kamu bilang saja apa yang sedang terjadi, jika aku tau. Aku pasti akan membawa felix untuk pergi dari situ "
Gusar menghiasi wajah pria itu " Ya, aku tau tidak seharusnya aku menyimpan ini sendiran. Aku salah karna tidak memberitahumu sejak awal, tapi yang terpikirkan olehku saat itu hanya menyuruhmu pergi agar tak mendengar ucapan wanita gila itu "
" Aku tak mau kata kata busuknya mempengaruhi dirimu dan membuatmu pergi meninggalkan kami yang malah aku sendiri yang membuat mu pergi " Aldrich menekuk wajahnya, dia memutuskan kontak mata dengan gadisnya
" Saat itu aku reflek, karna emosi berkata padaku bahwa kamu yang selalu membawa bekal makanan felix sampai lagi lagi aku mengetahuinya dari oranglain. Kotak bekal yang selalu kamu pakai berbeda dengan kotak bekal yang diterima felix waktu itu "
" Betapa bodohnya karna teledor tak memperhatikan gadis itu sampai membuatmu dan sikecil terluka. Aku patut disalahkan atas kejadian ini "
Airene mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi pria yang masih menekukkan wajahnya itu, selama ini memang terjadi kesalahpahaman diantara mereka karna salah satu dari mereka tidak mengungkapkan hal yang penting hingga ini bisa terjadi " Jika kau menjelaskannya lebih awal, aku tidak akan pergi dan merindukan kalian disana " Aldrich menikmati setiap usapan yang diberikan gadis itu, bebannya selama ini seperti menghilang begitu saja saat dirinya mengungkapkan seluruh kejadian yang terjadi
" Aku bahkan mencarimu selama sebulan ini, ayah juga menyuruh anak buahnya untuk ikut mencarimu karna felix "
Airene sedikit menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat pada pria itu, usapan yang ia berikan sepertinya membuat pria itu mengantuk. Aldrich bahkan secara tidak sadar menidurkan dirinya di sisi gadis itu sembari mengalungkan lengannya disekitar perut Airene
" Oiya, kenapa sikecil ini masih berada dirumah sakit? apa ia kembali sakit? " Airene bahkan terkejut melihat kondisi sikecil yang lebih memprihatinkan dibanding dirinya. Felix terlihat lebih kurus dari yang terakhir kali ia lihat, sangat jauh berbeda
" Saat dia menyadari bahwa kamu pergi, awalnya anak itu memangis dengan kencang sampai mencabut infusannya sebanyak 2x. Riel bahkan harus menyuntikan obat tidur agar anak itu tak mengamuk "
Airene menatap tak percaya dikecil yang masih tertidur disisinya " Dia apa? "
" Felix kembali terbangun dan menangis mencari cari dirimu sampai mungkin dia mendengar percakapan kakek neneknya yang membicarakan kamu sudah pergi dari negri ini. Mulai dari situ ia berhenti menangis, berhenti berbicara kepada kami dan menolak untuk makan. Yang ia makan hanya resep puding yang kamu tinggalkan, ibuku membuat puding itu atas dasar resep yang kamu berikan "
Gadis itu tak percaya jika akan jadi seperti ini, ia tak menyangka bahwa sikecil sampai menolak untuk makan " maka dari itu, jangan. Jangan pernah tinggalkan kami lagi "
Kata kata terakhir yang Airene dengar sebelum tergantikan oleh suara dengkuran halus yang menandakan pria itu sudah tertidur. Airene menyelimuti keduanya, dia tak tau kedepannya akan seperti apa. Tapi dia akan mencoba sekuat mungkin untuk tetap berada di sisi mereka