
Pernyataan malam itu berakhir dengan keduanya yang terdiam, baik Aldrich atau Airene mereka berdua tak mau melangkah atau membicarakan lebih dari itu. Jika di pihak Aldrich ia tak peduli apapun yang diinginkannya harus ia miliki, mau atau tidak Airene sudah menjadi miliknya sekarang dan gadisnya itu tak bisa menolaknya. Tentu saja Felix akan ia jadikan alasan, anaknya itu sudah sangat menempel dengan gadisnya jadi tak mungkin gadisnya itu tega meninggalkan anaknya.
Berbeda dengan Airene yang memikirkan semua kemungkinan dan keadaan yang akan terjadi kedepannya jika ia memutuskan untuk bertahan di samping seorang Aldrich. Memang ia merasa malu dan canggung jika berhadapan langsung dengan atasannya itu, tapi hanya malu dan canggung saja yang ia rasakan bukan perasaan tak nyaman berada di sekitar atasannya itu. Bahkan mereka sudah menghabiskan malam bersama diranjang yang sama pula, walaupun dengan sikecil tapi sama saja mereka menghabiskan malam bersama saling berdekapan
Sejak malam pernyataan bahwa atasannya itu meminta dirinya untuk menjadi ibu dari sikecil dan menjadi pendamping dirinya. Tanpa menjawab Airene hanya terdiam, ia bingung jawaban apa yang harus diberikan pada atasannya itu. Bukan berarti ia menolak pernyataan itu dan bukan berarti ia menerimanya juga
Perlu pemikiran yang matang jika ia harus menerima ajakan dari atasannya itu, ia sangat senang sekali jika menjadi seorang ibu dari anak yang tampan dan lucu seperti Felix. Tapi ia tak bisa membayangkan dirinya yang menjadi pasangan untuk seorang pria sukses, ceo terkenal dan dieluh eluh kan oleh banyak wanita itu. Apakah ia bisa mengimbangi karir dan pemikiran atasannya itu? apakah ia pantas mendampingi seorang Aldrich Callisthes
Malam terlewati dengan keduanya yang tak mengatakan apapun, pagi hari pun dijalani seperti biasanya. Mereka masih berada di negara dubai untuk beberapa hari kedepan mungkin perkiraan Airene. Seperti biasa dipagi hari ia menyiapkan pakaian untuk kedua ayah dan anak itu, lalu pergi kesebuah restoran mewah untuk sarapan
" mommyy " Sikecil yang sedari tadi bersama Riel pun meminta gendong padanya
Airene menerima uluran tangan Riel yang diatasnya ada sikecil " mhhh " ketika menerima sikecil dengan baik
" Felix mau mainan baru mommy "
" Tapi mainan Felix kan banyak dirumah " anak ini selalu membeli mainan baru setiap harinya memang
Riel yang mendengar itu memberi saran " Bagaimana kalau kita ke mall saja? " tawarnya karna kegiatan sarapan pagi sudah beres, toh di mall pun mereka bisa sekalian mencari makan siang
Al berpikir sebentar, memang ada barang yang ingin dibelinya sejak semalam " Baiklah, biar James kondisikan dulu " tentu saja ia harus menelfon pihak mall karna akan membawa rombongan bodyguard yang lumayan banyak itu
" asyikkkk beli mainan " sikecil hanya senang ketika pamannya itu mengajak kemall, ia sering kemall dengan kedua orang tua Aldrich tentunya karna mereka mempunyai beberapa mall besar yang tersebar di seluruh dunia
Airene hanya menurut saja mengikuti mereka, jika Aldrich menyetujuinya maka tak ada alasan baginya untuk menolak. Ia hanya mengikuti kemanapun mereka ingin pergi
Hingga tibalah mereka semua di sebuah pusat perbelanjaan mewah yang berada di negara itu, gedung yang menjulang tinggi dan ntah memilik berapa lantai itu. Riel jalan terlebih dahulu karna ia bilang ingin mencari sesuatu dan diikuti beberapa bodyguard saja. Sikecil Felix merengek ingin mainan jadi Airene pasrah dan membawanya mencari kids station
grepp
Aldrich melingkarkan kembali lengannya pada pinggang mungil Airene, ntah sudah berapa kali ia melakukannya dan ntah berapa kali juga Airene terkejut menerimanya. Namun Aldrich hanya berjalan santai sembari menuntun Airene yang terdiam, ia juga tak merasa melakukan sesuatu yang aneh atau mengganggunnya
Hanya Airene saja yang masih menganggap itu aneh dan mencoba untuk membiasakan diri
Terlihat bagian kids station memiliki bagian yang sangat besar, terdapat banyak sekali jenis mainan yang disukai anak anak. Tentu saja ini adalah surganya anak anak dan sikecil Felix yang langsung meminta turun berlarian mencari mainan yang ia inginkan. James dan beberapa bodyguard bahkan mengikutinya dengan kesusahan karna lari anak itu bisa dibilang cepat
" felix jangan lari " Airene ingin mengejar anak nakalnya itu karna berlarian, tapi niatnya itu terhenti karna cekalan tangan dari atasannya
Aldrich menautkan jari jarinya dengan jari jari gadisnya, ia menggenggam lengan itu erat " biar saja, biar James yang mengejarnya "
Mendapat perlakuan seperti itupunĀ Airene terdiam, wajahnya terlihat bersemu merah tanda dirinya sedang malu. Banyak pasang mata yang melihat dirinya bergandengan dengan Aldrich, mungkin mereka melirik pada pakaian yang ia kenakan. Airene hanya memakai dress bunga bunga selutut yang sangat sederhana, berbeda dengan Aldrich yang memakai stelan kemeja rapih tanpa jasnya itu.
" si.. sir " panggil Airene karna semakin tak enak diperhatikian sejak tapi
" mhhh "
Airene melirik sedikit pada atasannya itu " Bisa tolong lepaskan? "
" Tidak "
" Tapi sir " sebelum Airene melontarkan penjelasannya
Aldrich terlebih dahulu menoleh padanya " Tidak, memang apa salahnya menggenggam tangan istriku " ujarnya tanpa menyadari posisi meraka yang sedang menjadi pusat perhatian
" Tapi s.. sir " Airene mencoba melepaskan genggaman tangan itu
" Panggil namaku mulai sekarang "
Tentu saja pasangan mana yang saling memangil dengan sebutan baku seperti itu, jika belum ada panggilan sayang untuknya setidaknya gadis itu harus memanggil namanya bukan? begitulah hal normal yang dilakukan pasangan lain
Dan Airene menentang itu, bagaimana ia bisa memanggil atasannya itu dengan namanya? otaknya bahkan menolak untuk memikirkan cara lain agar tidak memanggil atasannya itu dengan sebutan nama
" Aku " belum sempat Airene melanjutkan ucapannya
greppp
Benar saja, Airene sedari tadi merasa aneh. Tak mungkin atasannya yang terkenal akan pemikiran yang teguh menuruti ucapannya secara cuma cuma. Lihat lah keadaannya sekarang, berada dalam dekapan erat Aldrich yang mengalungkan lengan di pinggulnya. Keadaan sekarang malah memperburuk situasi menurut Airene
" mommyy " Sikecil berteriak sembari membawa banyak mainan yang sudah ia pilih, bodyguard dan james pun terlihat membawa beberapa barang yang diingkan bocah itu
Keadaan semakin ramain saja, orang orang semakin mebicarakan Airene sebagai wanita simpanan si ceo tampan. Mereka berpikir bahwa selama ini bukan anak itu yang tek mempunyai ibu, tetapi ibunya yang bersembunyi
Kali ini fokus Airene teralihkan oleh melihat betapa banyak mainan yang dibawa anak itu, mungkin ada sekitar 20 kotak mainan yang masih masing dibawa oleh james dan beberapa bodyguard " Sayang.. bukannya ini terlalu banyak yah " ujarnya mencoba menghitung berapa banyak yang harus dibayar atasannya itu nanti
Sikecil hanya ternyum, pikirnya jumlah ini lebih sedikit dibandingkan kalau ia pergi bersama granpa dan granny nya " Tidak mommy, ini sedikit. Felix hanya pilih mainan yang ga da dirumah "
" Tapi ini terlalu banyak sayang, kurangi yaah? " Airene mencoba membujuk anaknya itu
Aldrich hanya menatap acara tawar menawar anak dan ibu itu, ia tersenyum mengingat Airene yang teguh untuk berhemat dan anaknya yang terbiasa membeli apapun yang ia mau. Salahnya juga tak pernah melarang sikecil jika memiliki keingan apapun, ia selalu menurutinya dan akan membayar berapapun. Berbeda dengan Airene yang mencoba mengajarkan anaknya itu berhemat dan memilih membeli barang barang yang diperlukan saja
Jika anaknya ingin pun ia bisa membeli seluruh barang yang ada ditoko ini, namun mungkin gadisnya itu akan memarahinya
" Tak apa, biarkan saja untuk kali ini " Aldrich mencoba membela anaknya yang masih teguh mempertahankan bahwa semua mainan yang dipilihnya penting
Airene yang mendengar itu sedikit sebal, ayah dan anak itu tak berbeda satu sama lain. Sangat senang sekali menghambur hamburkan uang
" Horeee... terimakasih daddy mommy " Sikecil berlarian mendekati keduanya
Ketika waktunya membayar, Al menyuruh james untuk membayar dan bodyguard membawa belanjaan sikecil yang terbilang banyak itu
Felix berada dalam gendongan ayahnya " Daddy kita mau kemana? "
Siayah melangkah melewati beberapa toko pakaian mahal yang terkenal dan berhenti ketika melihat sebuah toko perhiasan mewah " Membeli oleh oleh untuk Granny " ujarnya memasuki toko itu bersama Airene yang terus berada dalam dekapannya
Tak sulit untuk dirinya menggendong sikecil dengan satu tangan, itung itung melatih kembali otot ototnya yang sudah lama terdiam. Aldrich menatap kesekeliling, ia mengambil beberapa perhiasan seperti kalung, cincin dan beberapa gelang. Hingga
Matanya terhenti pada sebuah kalung berdesign simple namun elegant, terdapat batu mulai berwarna pink ditengahnya yang membuat kalung itu sangat indah. Aldrich pun membelinya beserta beberapa barang yang kana dibawanya sebagai oleh oleh
Airene yang kurang begitu tertarik pun hanya diam melihat lihat saja, sebenarnya ia ingin duduk dikursi itu tanpa harus mengikuti Aldrich yang berjalan kesana kemari milih perhiasan. Melihat kondisi kakinya sepertinya akan membengkak karna terlalu banyak berjalan, kakinya memang selalu membengkak jika ia melakukan aktivitas berjalan yang berlebihan
Tampak Riel yang datang menghampiri mereka setelah memberi beberapa barang untuknya dan untuk oleh oleh dibawa pulang
" Pemandangan yang sangat langka melihat tuan Aldrich Callisthenes memilih perhiasan " ujar Riel dengan nada mengejek
Memang ia rasa jarang sekali melihat temannya itu membeli dan memilih barang yang ia mau, biasanya ia akan menyuruh james atau john untuk membelikannya
Aldrich memandang tak suka pada temannya itu, ia merasa mengapa mempunyai teman teman yang memiliki sifat seperti Reil dan Dave " Diam saja kau "
" Ezz, dude. Tapi bisakah dipercepat? aku sudah memesan sebuah restoran tak jauh dari sini untuk makan siang kita "
Mengingat banyak nya barang yang harus dihitung pun memakan waktu aga sedikit lama, sikecil sudah merengek meminta jatah susunya. Airene pun sudah tak kuat jika berdiri lebih lama dari ini, ia memiliki riwayat anemia dimana kepala akan sakit jika berdiri terlalu lama. Lagi pula sejak pagi hingga hampir menjelang sore ini mereka berkeliling dalam mall
" Mommy susu " Sikecil meminta gendong pad Airene, memang mereka sudah melewatkan sedikit jam waktu siang
Airene mengelus dahi anak yang berada digendongannya itu " Tunggu sebentar yah, tunggu selesai dulu "
James menghampiri tempat dimana atasannya itu berada " Semua selesai sir "
Tanpa berlama lama Aldrich kembali mengalungkan lengannya pada Airene dan menuntunnya menuju restoran yang sudah Riel pesan itu
Memang banyak mata yang melihatnya bahkan diam diam memotret setip kegiatan yang dilakukan dirinya bersama Airene
Tinggal menunggu waktu saja agar kedua orang tuanya tau tentang keberadaan Airene