As Long As I Got You

As Long As I Got You
Know it



Setelah melihat reaksi dari cucunya, kedua orang tua Aldrich tak bertanya tentang apa yang terjadi lebih lanjut. Keduanya tak ingin jika nanti cucu tersayang, cucu satu satunya menghindari mereka


" Granpa.. ini Felixnya mommy, jadi jangan granpa ambil "


Aldrich menatap anaknya banggga, terkadang anaknya itu bisa diandalkan disituasi situasi tertentu seperti ini. Mungkin ibunya tak akan banyak bertanya mengenai ia menjalani hubungan dengan siapa, berasal dari keluarga bagaimana, karirnya bagaimana. Namun berbeda jauh dengan ayahnya, ia adalah salah satu orang yang paling protektif kedua setelah Aldrich


Ketika Al pulang dan memberi tahukan bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya, kedua orangtuanya sangat senang sampai menghadiahi begitu banyak barang dan kebutuhan wanita itu. Dan saat sikecil lahir lalu baru berumur 2 minggu, Aldrich kembali kerumahnya beserta bayi yang masih erah di gendongannya


Dia berkata kepada kedua orang tuanya bahwa wanita itu pergi bersama pria lain dan meninggalkan Felix sendirian dirumah ketika Aldrich baru saja pulang dari kantor. Mengetahui hal itu pun kedua orang tuanya murka dan mencari cari dimana posisi wanita yang tega meninggalkan anaknya sendiri yang masih berusia 2 minggu


Sebelum mereka melangkah lebih jauh, ada Dave yang datang dengan menyarankan untuk mengubah semua dokumen kelahiran milik sikecil. Alan sebagai kakek dari sikecil pun mengurus semuanya sendiri, ia mengubah semua dokumen kelahiran terkait cucunya. Surat kelahira cucunya ia ganti, disebutkan bahwa sebelumnya tercantum nama dari ibu anak tersebut. Namun sekarang berganti menjadi anak itu hanya mempunyai seorang ayah dan tak mempunyai ibu


Menurut Dave jika kelak, wanita itu kembali dan ingin mengklaim Felix sebagai miliknya agar mendapatkan warisan dari Aldrich maupun Alan. Alan pun berfikir sama dengan teman anaknya itu, ia tak mau membuat sedikitpun kesalahan dan tidak akan membuat sedikit celah pun yang bisa dimasuki oleh wanita itu


Walaupun mengajukan test dna, jika dokumen kelahiran sudah tercatat secara resmi dan diakui negara itu. Seseorang tidak bisa mengklaimnya lagi karna dokumen resmi adalah acuan utama


Sedikit banyak orang tua Aldrich tak melarang anaknya itu untuk menjalin hubungan dengan wanita diluar sana, mereka hanya menginginkan kali ini anak dan cucunya mendapat kebahagian


Semoga dengan hadirnya Airene, mereka menemukannya


Airene yang mendengar ucapan sianak pun menunduk malu, bukannya dia mau diambil oleh granpa anak itu. " sttt felix " ujarnya pelan untuk mengahalu hal hal aneh yang akan dilontar kan sikecil


Martha ibu dari Aldrich tersenyum senang melihat betapa lengket cucunya menempel pada Airene " Kalau boleh tahu, siapa namamu nak? " bertanya dengan nada khas keibuan


" Airene, miss. Airene Laura Candelle "


Ibu Aldrich menyodorkan secangkir teh yang sudah ia siapkan "  Wah nama yang indah seperti orangnya |"


Menurut Airene ibu dari Aldrich ini adalah tipe orang yang ramah pada siapapun


" Ahh.. tidak,miss "


Martha menggenggam tangan suaminya " Perkenalkan aku Martha dan ini Alan suamiku, maaf jika dia banyak bertanya yah "


" sayangg " Alan tak terima dikatakan seperti itu


Airene yang bingung dan guguppun hanya menjawab " ahh.. tidak apa miss "


" Terimakasih sudah mau mengurus cucu kami yang manja itu, pasti kau kerepotan yah mengurusnya sendiri "


Sikecil memang tidak mudah ditaklukan, namun Airene punya beberapa cara untuk membujuknya " Tidak miss, Felix anak baik. Sekarang dia sedang gemar mewarnai "


" Aduhh cucu granny bisa mewarnai sekarang? boleh granny liat? " martha bertanya dengan semangat


Sebelum terun dari pangkuan Airene, Felix menatap kakeknya " Tapi granpa jangan ambil mommy felix, nanti felix sendiran lagi "


Alan yang mendengar itupun menyerah kalah sebelum berperang, ia tak bisa melawan jika cucunya sudah berkata seperti itu " Kan Felix punya daddy, granpa sama granny "


Sianak menggeleng keras " Tapi gaada mommy, sekarang felix punya mommy jadi granpa jangan ambil "


" kalau granpa ambil felix bakal bawa mommy pergi "


" daddy, granpa sama granny gaakan diajak "


Rasa takut kehilangan kembali memenuhi perasaan anak itu, dia tak ingin sosok yang selama ini dia inginkan sosok yang selama ini dia tunggu menghilang lagi dari kehidupannya


Aldrich dan Airene terkejut sampai mereka saling membalas pandang, dari mana anak itu tahu kata kata seperti ini " Felix, ga boleh ngomong gitu sayang "


Rasa takut kehilangan felix lebih besar dari pada rasa takut dimarahi oleh mommy dan daddnya " Tapi, nanti mommy diambil.. felix gamau mommy diambil sama granpa "


Aldrich menggendong anaknya itu, menaruhnya ditengah tengah kedua orang tuanya


" Granpa gaakan ambil mommynya Felix, jadi jangan menangis lagi yah "


Kedua kakek dan nenek itu memeluk cucu kesayangan mereka, tak ada hal yang lebih membahagiakan ketika sikecil menjadi ceria dan sehat. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk cucunya dan itu wajar wajar saja bagi Airene


Airene menatap anaknya yang berada di pelukan kakek dan neneknya " Ayo, felix harus ngomong apa? " mencoba membujuk anaknya


Felix memeluk leher kakeknya dan berkata " Maaf tadi Felix ga sopan sama granpa "


Sikakek pun dengan senang membalas pelukan kecil cucunya " Iya, granpa juga minta maaf yah"


Aldrich melihat senang pada apa yang sedang terjadi, walaupun dulu ia hampir menyerah untuk mengurus dan membesarkan sikecil Felix namun kedua orang tua dan teman teman yang dia punya selalu mendukungnya. Dan lihat sekarang, sikecil itu bahkan bisa meredamkan emosi ayahnya yang biasanya tak bisa dikontrol oleh siapapun termasuk ibunya


" Maaf nyonya, tuan besar dan tuan muda. Makan siang sudah siap " Kepala pelayan menghampiri mereka semua


Aldrich menuntun Airene dengan menggenggam tangannya, mumpung tidak ada sikecil yang biasanya hadir ditengah tengah mereka.


" si.. sir " cicit Airene yang hanya bisa didengar oleh Aldrich


Sudah diberitahu bahwa gadisnya itu harus memanggil namanya tapi ia sama sekali tak ada niat seprtinya " Namaku sayaang "


Tentu saja Airene ingin menolak, tetapi mendapat paksaan dari atasannya itu mau tak mau ia menuruti itu " Al.... "


" katakan lagi "


Senang sekali memang Aldrich menggoda nya " Al... Aldrich "


Dan untuk pertama kalinya, akhirnya gadisnya itu memangil namanya


" Mhh.. kenapa? " tanya yang penasaran


Airene sebenarnya merasa tak enak, ia datang tanpa membawa apapun lalu sekarang dia ikut dalam acara makan siang keluarga itu


" Apa tak apa? " Tanyanya sebelum mereka memasuki ruang makan


Merasa aneh dengan pertanyaan yang terlontar pun Aldrich meliriknya " Tentang? "


" Aku tak memabwa apapun, apa tak apa ikut makan bersama kalian? "


Semakin Aldrich bingung dengan pertanyaan gadisnya, memang ada aturannya untuk mengikuti acara makan siang ini. Acara makan siang ini kan disiapkan untuk menyambut dirinya


Ibunya menyiapkan semua kepala koki yang ada dirumah ini untuk menyambut felix dan Airene, mungkin gadisnya itu tak menyadari maksud dari perintah ayahnya


Mereka memasuki ruang makan yang sangat megah, berjejer beberapa kursi saling berhadapan dengan ukuran meja yang tak bisa dibilang kecil itu. Jangan lupakan, sudah tersedia berbagai jenis makanan yang beberapa diantaranya Airene baru melihatnya


Alan duduk dikursi depan sebagai kepala rumah ini, disisi kanannya ada Martha disisi kiri ada Aldrich dan sejajar dengan Aldrich, Airene duduk dengan rasa gugup yang luar biasa


Seperti biasa sikecil duduk dipangkuannya, jadi kebiasaan sikecil setiap makan harus selalu Airene yang menyuapi


" Maaf, aku tak tahu apa kesukaan mu. Jadi aku menyuruh koki untuk menyiapkan beberapa makanan "


Beberapa? bahkan beberapa yang disebutkan itu terlihat sangat banyak berbanding terbalik dengan apa yang ibu Aldrich ucapkan


" Ayo kita mulai makan siangnya "


Dimulai dengan Martha yang mengambil beberapa lauk untuk suaminya, Airen yang bingung harus melakukan apa pun diam sebentar


" Ayo nak, pilih saja makanan kesukaanmu " Ibu Aldrich menatap lembut pada anak anaknya


Dengan memberanikan diri setelah diam beberapa saat, dia mulai mengambil beberapa lauk untuk atasannya dulu. Tak banyak, dia hanya mengambil makanan yang sekiranya atsannya itu suka. Lalu berlanjut dengan mengambil beberapa lauk untuk sikecil


" Cucu granny masih disuapin " Melihat gadis yang dibawa anaknya lebih dulu menyuapi cucunya dibanding dirinya


Sikecil tampak acuh mendengar neneknya itu " Kan mommynya Felix "


Tak ada yang salah memang, neneknya hanya ingin menyuapi cucunya itu karna sudah lama sekali mereka tak datang berkunjung. Namun melihat keduanya begitu akrab, dia pun mengurungkan niatnya


Aldrich dan Alan memakan makanan yang sudah disiapkan dengan tenang sembari melihat anak dan cucu mereka yang lahap disuapi Airene


" Mommy bawa pudding "


Ahh.. bagaimana ia bisa lupa membawa pudding yang sangat amat berharga bagi anaknya itu


Dengan perasaan bersalah dan wajah kikuknya Airene menjawab jujur " Maaf, tadi lupa ga dibawa "


duarrr


Terlihat wajah sikecil mengerucut menahan tangisnya " Kenapa mommy ga bawa pudding felix "


" Karna felix lari lari waktu mau dipakaikan baju, makannya mommy lupa "


Memang benar ia melupakan hal itu karna terlalu sibuk menangkap felix yang berlarian


Martha hanya tersenyum melihat interaksi keduanya


Alan sedikit memperhatikan namun rasa curiganya masih belum hilang akibat kejadian masa lampau


Dan Aldrich yang memandang senang, ia senang bahwa kedua orang tuanya bisa melihat bagaimana sosok Airene yang saat ini sangat penting baginya