
Setelah ada klient wanita kemarin, Aldrich menjadi lebih pendiam dari biasanya. Dia tak banyak berbicara ketika mereka berada dimobil untuk pulang kerumah, dia juga tak berbicara sepanjang malam dan menghabiskan waktunya diruang kerja miliknya dan Airene tak tau apakah pria itu kembali kekamar atau tidak. Dia tertidur bersama sikecil dikamarnya
Airene tak banyak bertanya, dia takut untuk bertanya sebenarnya. Dia takut jika dirinya bertanya, akan mengganggu pria itu jadi dia mengurungkan niatnya. Sepertinya memang klient kemarin adalah klient penting sebuah proyek yang tengah mereka garap? mungkin Aldrich banyak diam karna memikirkan tentang proyek penting itu
Ntah sudah berapa lama Airene tak berbicara dengan santai kepada pria itu, dia hanya berbicara sepentingnya saja seperti makanan sudah siap, air sudah siap, bajunya sudah disiapkan, dan beberapa dokumen yang perlu dibawa kekantor, jika sudah berbicara tentang jadwal hari ini baik dirinya atau Aldrich akan kembali diam dan mengerjakan tugas masing masing seperti saat ini
Gadis itu membacakan apa saja jadwal hari ini yang sudah ia susun sedemikian rupa, Aldrich menolak melakukan pertemuan diluar gedung perusahaan jadi gadis itu menyusun setiap pertemuan harus berada di dalam gedung ini. Hanya ada dua jadwal pertemuan hari ini, dengan perusahaan kontraktor dan sebuah perusahaan arsitek. Aldrich harus menghadirinya setelah makan siang hingga sore hari, jadi jadwal pagi ini kosong dan pria itu hanya harus menandatangani beberapa proposal
Setelah membicarakan jadwal hari ini yang hanya dibalas anggukan, Airene kembali ke tempat duduknya tanpa berbicara lebih dari yang seharusnya. Dia kembali duduk dengan tenang dan mulai mengerjakan tugasnya. Perutnya sedikit sakit sedari pagi tidak tau karna apa, Airene juga hanya memakan beberapa suap lalu sisanya meminum segelas susu putih
Perutnya sakit seperti kram dan itu sedikit mengganggunya beraktivitas, dia menahannya
Felix perlahan lahan sudah terbiasa dengan ruangan bermainnya, dia juga berani bermain sendiri didalam ruangan itu sekarang tanpa ditemani oleh Airene. Sikecil lebih asik berada didalam ruangan itu dari pada menemani ibunya seperti biasa
Hening
Tak ada yang mengeluarkan suara
Baik Airene atau Aldrich mereka sama sama terdiam sibuk dengan kegiatan masing masing, sepertinya mood keduanya belum membaik sejak kemarin. Aldrich yang sebal dikunjungi tiba tiba lalu Airene yang tak berani memulai jika pria itu tak dulua mengatakan apapun
brakkk!!
Pintu terbuka paksa dengan lebar, memperlihatkan seorang wanita bersurai pirang seperti wanita kemarin dengan wajah masam terlihat sedang marah. Airene terkejut karna mejanya dekat dengan pintu itu, suara yang ditimbulkannya sangat besar sampai terdengar ke ruangan Dave yang berada satu lantai dibawah.
" Apa maksudmu melarangku kesini ha? " wanita itu berjalan mendekati Aldrich dengan wajah merah menahan amarah
Airene langsung menghalangi wanita itu untuk mendekat kepada atasannya, setaunya jam segini tak ada klient yang meminta pertemuan mendadak. Sebagai sekertaris ini adalah tugasnya " Maaf, miss. Jika tak ada janji silahkan keluar " dengan sopan dia berujar
Wanita itu bergerak maju dengan heels yang dikenakannya, pakaiannya sama seperti kemarin hanya berbeda warna saja " Siapa kau? berani beraninya melarangku menemui kekasih ku!! "
degg
Kekasih? apa yang dikatakan wanita itu? kekasih siapa? Aldrich kah?
Airene menatap pria dibelakangnya yang sudah berdiri dari duduknya, pria itu mendekati mereka berdua. Airene ingin meminta penjelasan pada pria itu, kekasih? lalu dirinya siapa?
" Kau menyuruh para bodyguard untuk mencekal ku masuk? kau tau betapa susahnya aku berada disini? " wanita itu masih terus terusan mengungkapkan kekesalannya
Para bodyguard hanya melihat dari daun pintu, tak berani ikut campur karna mereka sudah lalai membiarkan wanita yang disebut kemarin oleh atasannya dilarang memasuki perusahaan apalagi sampai memasuki ruangan nya. Dave terlihat datang dengan tergesa gesa, dia pikir mereka telah diserang karna suara yang ditimbulkan begitu keras
Namun pandangannya terkejut melihat wanita yang dia kenal dulu ada sedang berhadapan dengan Airene yang sedang menahan wanita itu agar tak mendekati Aldrich
Seperti nya gadis itu tak tau apa yang sedang terjadi
" Kau pikir aku tak bisa kemari karna penjagaanmu itu? "
Airene masih kekeh teguh melindungi atasannya, biasa saja wanita ini melakukan macam macam
" Sudah kukatakan kemarin untuk berhenti kemari!! Apa mau mu sebenarnya? " Aldrich melangkah menyamai tubuhnya sejajar dengan gadisnya
Mood nya hancur karna wanita ini tiba tiba muncul kembali dan menemuinya tiba tiba
" Kenapa aku tak bisa? ada anak ku disini. Kau melarang ibu kandungnya bertemu dengan anaknya sendiri? "
Seketika Airene menatap Aldrich yang ada disisinya, jadi wanita ini. Wanita yang juga kemarin datang adalah ibu kandung dari sikecil? kenapa pria itu tak mengatakan apapun? kenapa dia hanya diam tak menjalaskan apa apa sampai ia tau akan hal ini sendiri
" Apa maksudnya ini? " Suara Airene sedikit bergetar, dia mengetahui fakta penting tapi pria itu tak mengatakan apapun padanya
Wanita di hadapannya itu memandang rendah pada gadis didepannya, dia menyilangkan tangan didada sembari membawa pandangannya naik dan turun menilai penampilan gadis didepannya, dan tersenyum remeh " Jadi ini mainan baru mu? kau bersama gadis kecil ini? "
Mainan baru? Siapa? dirinya? dirinya disebut mainan baru oleh wanita dihadapannya? Apakah dirinya terlihat seperti mainan di mata wanita itu? Hatinya sedikit bergetar kecut. Tanpa mengetahui apapun lalu sekarang malah direndahkan tanpa dibela oleh siapa pun?
Apa ini yang disebut cinta? apa pria ini memang mencintainya atau menjadikannya pelampiasan semata?
" Keluar "
" Keluar! "
" Irene "
Gadis itu menatap tak percaya pria disebelahnya, jadi kata kata itu memang benar untuk dirinya? kenapa pria itu menyuruhnya keluar bukannya wanita ini yang seharusnya keluar dibanding dirinya? Jadi benar dirinya tak berharga sampai sampai tak boleh ada disini mendengar percakapan mereka. Dia tak bertanya banyak tapi sudah disuruh keluar, apalagi jika dia bertanya dan mengamuk? mungkin pria itu akan langsung menendangnya keluar dari hidupnya
Airene menurut dan keluar dari ruangan itu, melewati Dave yang mau berbicara padanya tapi gadis itu malah melewatinya begitu saja. Pikirannya tertuju pada sikecil felix yang berada diruangan lain tapi masih berada didalam ruangan itu. Dia berharap sikecil tak mendengarkan percakapan yang macam macam, dia berharap felix tak keluar dari ruangannya
Jika anak itu keluar mungkin dia akan mengenali bahwa ada wanita yang menjadi ibu kandung datang untuk menemuinya. Dan Airene tak mau itu terjadi, egois? ya dia ingin sedikit egois. Jika Aldrich tak membelanya dan malah menyuruhnya pergi, setidaknya ada sikecil yang selalu menyemangatinya
Kemana kakinya melangkah?
Gadis itu hanya terus berjalan kemanapun kakinya mau melangkah, dia menuju lift untuk menuruni satu lantai dibawah lantai ini. Yaitu lantai milik wakil ceo, terdapat beberapa meja dan kursi disudut lorongnya. Bodyguard juga tak sebanyak yang ada diatas lagi, jadi tempat ini pas untuk suasana hatinya sekarang
Airene duduk disalah satu kursi yang ada, dia hanya diam selama beberapa puluh menit menunggu semuanya selesai. Kenapa dia harus menunggu bukannya pergi dari sini? karna barang barangnya ada diruangan itu, dia tak bisa pergi tanpa dompet dan smartphone.
30 menit terlewati begitu saja, dan gadis itu masih diam tak melakukan apapun selain duduk
tingg!!
Pintu lift terbuka, gadis itu kira bahwa Dave akan kembali keruangannya tapi dia salah. Gadis itu melihat wanita tadi berjalan keluar dari lift dan mendekati dirinya dengan senyum aneh
" Sayang sekali kau tidak mendengarkan percakapan kami " wanita itu memulai percakapan tanpa melihat lawan bicaranya yang bahkan tak mau melihat wajahnya
Wanita itu menaikan dagunya " Kau sebagai mainannya mungkin terkejut, tapi yah sudahlah. Tunggu saja kejutan yang sudah aku berikan "
Wanita itu membalikkan badannya untuk meninggalkan Airene yang diam saja " Semoga kau suka kejutan dariku "
Akhirnya wanita itu pergi juga, Airene tak mau mendengar apapun lagi. Dia tak membutuhkan penjelasan apapun, dia tak membutuhkan semuanya
Mau hubungan pria itu dan wanita itu, kejutan yang diberikan wanita itu lalu kelanjutan hubungannya dengan Aldrich. Dia tak mau tau tentang hal itu sekarang, perutnya terasa sakit sedari tadi tidak tau apa penyebabnya.
Waktunya mengambil barang barang
Airene melangkah memasuki lift menuju lantai teratas, dia berniat untuk mengambil tasnya dan pergi dari sini. Kemanapun asal tak berada disini dengan pria itu, biar sikecil lebih aman bersama ayahnya. Lagi pula siapa dirinya?
huaaaaa
Teriakan terdengar sesaat gadis itu baru sampai dilantai yang dituju, para bodyguard semuanya berkumpul diruang ceo utama. Airene mengenal teriakan ini, ini adalah teriakan sikecil. Apa anak itu mencari dirinya sehingga berteriak sekencang ini?
Airene sedikit berlari mendekati arah suara itu, pasti anaknya mencari dirinya karna dia tiba tiba pergi begitu saja. Ketika baru sampai di daun pintu ruangan itu
Airene
Airene melihat sikecil yang sedang dipangku oleh Dave dengan bersimpuh di karpet bulu yang ada diruangan itu, Airene melihat wajah anak itu yang sudah dipenuhi oleh bintik bintik merah. Mulutnya sedikit mengeluarkan busa dan mata anak itu yang memerah mengeluarkan bulir bulir air mata
Apa yang terjadi
Dia hanya meninggalkan anak itu sebentar lalu ini bisa terjadi?
Plakkk!!
Terdengar suara nyaring kulit yang tertampar, siapa yang ditampar? Airene mau mendekati anak itu tapi sebelum dekat dengan sikecil felix. Gadis itu mendapat sebuah tamparan keras di pipi kanannya, tamparan itu membuat kulit pipinya seketika memerah dan sudut bibirnya terluka sedikit mengeluarkan darah
Airene mendapat tamparan keras dari Aldrich
Ya pria itu yang menamparnya
" Berani beraninya kau meracuni anak ku!! "
Suara lantang pria itu terdengar ditelinganya yang masih berdengung, siapa yang meracuni sikecil? Airene baru melihat ada kotak bekal makanan yang berceceran di sisi anak itu, dia melihat ada cumi dan udang yang terlihat berserakan dimana mana
Apa ayah anak itu berpikir bahwa dirinya yang memberikan kotak bekal itu?