
Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh atasannya itu sewaktu makan malam, ia harus menyiapkan beberapa perlengkapan baik miliknya dan milik sikecil Felix. Untung saja sikecil sudah tertidur diatas kasurnya saat ini, sehingga ia bisa menyusun barang tanpa mengkhawatirkan sikecil yang mengikutinya kesana kemari. Airene membuka 2 koper besar dihadapannya, yang satu untuk perlengkapan sikecil seperti baju, sepatu dan beberapa aksesoris lucu yang menurut Airene cocok sekali dipakai ketika mereka sampai di dubai nanti. dan koper satunya tentu saja untuk perlengkapannya, ia menyiapkan beberapa baju santai, baju kerjanya dan piayama tentu saja.
Airene tidak meminta bantuan para maid seperti apa yang di ucapkan Al, ia menyiapkan semuanya seorang diri karna tak enak jika meminta tolong kepada mereka yang notabenenya sesama pelayan seperti dirinya dan mengingat jam saat ini ia tak mau mengganggu jam istirahat yang seharusnya mereka dapatkan. Tak apa, tak ada pekerjaan berat yang ia lakukan. Membawa beberapa perlengkapan felix yang berada dikamar sikecil pun tak merepotkannya, ia menyusun semuanya rapih hingga tak ada barang yang akan tertinggal
Jam dikamarnya menunjukkan pukul 11.30 malam, tak mungkin ia pergi tidur setelah tahu jam berapa ini. Biarlah ia bisa tertidur nanti di pesawat, sikecil masih tertidur dengan nyamannya dikasur. Airene memutuskan untuk mandi saja, ia akan berangkat dengan piayama yang sama dengan yang dipakai Felix. Membelinya beberapa waktu yang lalu karna menurutnya lucu saja memakai piayam yang sama dengan anak asuhnya itu
Baiklah mari mandi dan menyiapkan puding anak itu hihihi
Jika puding kesukaan sikecil tertinggal ntah apa jadinya mereka nanti diperjalanan, mungkin Felix akan mengamuk dan menangis kencang karna hal itu
Berbeda dengan Aldrich yang tengah bersantai sembari meneguk vodka yang berada di genggamannya, ia hanya memikirkan semoga pertemuan kali ini berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan dari cecenguk yang biasa nya mengganggu
Tentu saja mencuri beberapa paket senjata biasanya terjadi dan berakhir dengan orang itu mati di tangan James yang diperintahkan Al untuk membuang tubuh mayat itu ke laut menjadi santapan para hiu tentu tak buruk. Ia hanya melanjutkan ekosistem yang ada kan? memberikan makanan pada hewan yang membutuhkan tentu saja itu adalah perilaku yang mulia
Luca
Al tersenyum sembari meminum vodkanya, ia teringat nama bajingan brengsek yang menghancurkan masa depan Felix. Ia mengingat kembali nama busuk itu yang sudah lama ia pendam sendiri, seseorang yang ingin ia lenyapkan dari muka bumi ini. Walaupun begitu ada rasa terimakasih dalam hatinya karna orang itu memperlihatkan bahwa wanita yang selama ini dicintainya, wanita yang menjadi ibu bagi seorang Felix Callisthenes adalah seorang wanita ****** yang hanya ingin menghabiskan uang dan kekayaanya. Wanita yang bahkan tak pantas menjadi seorang ibu dari Felix Callisthenes
Tentu saja siapa yang menyangka wanita yang ia cintai bermain dibelakangnya? Memang apa kekurangannya? uang? harta? kekuasaan? bahkan ia selalu menyempatkan untuk pulang sekedar melihat dan menanyakan wanita itu bagaimana perasaannya hari ini, apa yang ia inginkan dan apa yang ia mau pasti selalu ia penuhi. Hingga suatu saat, ia melihat wanitanya pergi memasuki hotel bersama seorang pria, wanita yang baru melahirkan anaknya kurang lebih 2 minggu yang lalu dan sekarang sedang memasuki hotel bersama pria, pria yang ia kenal dengan nama Luca Smith
aku yang terlalu bodoh melihatnya seperti wanita polos cih
Hanya satu kesalahannya, kesalahan seorang Aldrich Callisthenes yaitu memberikan takdir yang buruk pada putra satu satunya. Ia tak memberikan kehangatan keluarga, kehangatan seorang ibu yang semestinya didapatkan oleh Felix. Ia tak bisa mewujudkan kehidupan yang bahagia untuk anaknya, walaupun segala kebutuhannya terpenuhi tetapi perasaan kasih sayang orang tua yang lengkap tak bisa Felix rasakan sejak lahir
Airene
Nama gadis aneh yang bekerja menjadi sekertarisnya, mengapa aneh? di hari pertamanya bekerja bahkan ia sudah mendapat kepercayaan dari anaknya sikecil Felix. Tentu Felix mempunyai pengasuhnya sendiri, pengasuh yang setiap minggu nya selalu berganti karna berbagai alasan. Dimulai dari sikecil yang tak suka pada pengasuhnya karna ketahuan menggodanya, lalu karna salah satu pengasuhnya memberikannya kripik udang dimana anaknya itu sangat sangat alergi terhadap udang dan tentu saja ia memberikan hukuman setimpal untuk pengasuh bodoh itu karna membahayakan nyawa anaknya dan yang terakhir pengasuh anaknya membawa Felix atau bisa dikatakan menculiknya dan meminta sebuah bayaran agar Felix dilepaskan, karna hal itu ia lebih memilih membawa anaknya itu kemanapun ia pergi selagi tempat itu aman dan nyaman untuk anaknya
Hingga seorang gadis yang baru ia ketahui mendapat kepercayaan anaknya, kepercayaan yang bahkan sangat sulit didapatkan oleh nya yang notabenenya sebagai ayah kandungnya. Airene bagai cahaya yang akhirnya menyinari kehidupan Felix, anak itu memang butuh sekali banyak perhatian dan wajar saja jika saat ini ia begitu lengket pada Airene
Hal itu pula yang membuat seorang Aldrich ingin mengenal sosok Airene, sama seperti anaknya. Ia juga ingin tahu sosok yang membuat nyaman anaknya itu, apakah ia berbeda dari wanita ular itu atau sama saja seperti dia
Jam menunjukan pukul 11.30, masih ada waktu sekitar 30 menit sampai waktu berkumpul yang sudah disepakati. Aldrich berjalan menuju kamar mandi didalam kamarnya, pikirnya berendam selama 15 menit cukup untuk menghilangkan penat dan stress yang ada dipikirannya.
Airene memutuskan untuk tetap memakai piayama yang sama seperti yang sikecil pakai setelah ritual mandinya selesai, menurutnya mengapa harus berdandan dengan heboh kalau 15 - 16 jam kedepan mereka hanya menghabiskannya didalam pesawat? Ai juga menyiapkan puding,cookies, dan beberapa makanan lainnya yang bisa ia bawa untuk sikecil. Bisa saja ia memesan makanan di pesawat nanti, tetapi ia akan lebih tenang jika sikecil makan apa yang ia buat saja untuk keamanan
Mungkin aku akan pakai coat saja yah dan membawa selimut yah
tokk.. tokk
Terdengar suara ketukan yang berasal dri luar kamarnya, ia segera memakai coat yang tadi sudah ia rencanakan untuk pakai. Berjalan membuka pintu itu secara perlahan, ia tak mau membangunkan sikecil yang sedang terlelap dengan tengannya. Terlihat sikembar Jhon dan Josh berdiri di hadapannya
" Maaf miss mengganggu anda, sir memerintahkan kami membawa barang bawaan miss dan tuan muda " ujar si ceria Josh
Airene mempersilahakn keduanya masuk " Maaf perlahan lahan yah, Felix masih tidur "
Sikembar hanya mengangguk dan melangkah dengan perlahan
Terdapat 2 koper besar dan 1 tas makanan yang sudah Airene siapkan " Maaf merepotkan kalian, 2 koper dan 1 tas itu. Sisanya biar aku saja yang bawa "
" Baik miss " Mereka membawa kedua koper itu keluar kamar tanpa menyeretnya tetapi mengangkatnya agar tak menimbulkan suara
Jam menunjukan pukul 11.55, 5 menit lagi waktu yang sudah ditentukan. Saatnya membangunkan sikecil yang masih tertidur tak merasa terganggu sedari tadi
" Sayang.... " Airene menepuk nepuk pelan pucuk kepala anak itu
Felix merasa terganggu dan sedikit terbangun " Mommmy " ujarnya sembari mengantuk
" Ayo, daddy udah nunggu dibawah sayang "
Felix menggelengkan kepalanya, ia masih mengantuk dan malas untuk bangun. Airene yang melihat itupun dengan perlahan menggendong sikecil " Baiklah, felix tidur saja biar aku gendong yah " ia menggendong sikecil, lalu membungkusnya dengan selimut yang tak terlalu tebal tapi cukup hangat untuk anak itu
Berjalan membawa tas gendong dipunggungnya dan sikecil beserta selimutnya tentu saja membuatnya sedikit susah berjalan, ia harus berhati hati jika menuruni tangga nanti
aku takut kami akan terjatuh
Didalam pikirannya, tangga itu lumayan tinggi dan sedikit curam. Pandangan matanya sedikit tertutup oleh buntalan selimut yang berisikan sikecil. Tetapi, sesaat ia membuka kamarnya. Terlihat atasannya, Aldrich yang terlihat sedang menunggu mereka berdua? ahh maksudnya menunggu sikecil mungkin. Airene yang melihat itupun menyapa sang atasan
" sir "
Al mengerutkan keningnya, ia melihat buntalan selimut yang lumayan besar berada digendongan Airene, lalu ia tak melihat anaknya berada " Dimana Felix? " tanyanya penasaran
Airene hanya tertawa dan sedikit mendekat memperlihatkan apa yang ada di gendongannya
" Ini Felix sir, lihatlah. Saat aku bangunkan ia bilang masih mengantuk jadi aku menggendongnya saja "
Anaknya itu memang luar biasa random dan menjadi sangat manja " Biar aku saja, kau kesulitan kan? " melihat postur tubuh Airene yang kecil dengan buntalan yang menutupi separuh tubuhnya tentu saja pemandangan yang mengkhawatirkan
" Tak apa sir, nanti jika berpindah ia akan bangun dan menangis "
Tentu saja ia paham akan hal itu tapi melihat Airene ia sedikit kasihan " Kalau begitu biar aku bantu "
Greep!!
Al mengalungkan tangannya kepinggang Airene yang membuat gadis itu terkejut " ss.. sir "
" Kau akan terjatuh jika turun seperti ini "
ahh tentu saja ia memperdulikan anaknya yang bisa saja aku jatuhkan sewaktu turun dari tangga
Mereka berdua menuruni tangga perlahan, dengan tangan Al yang memegang erat pinggang Airene. Ia takut keduanya terjatuh maka dari itu memegangnya dengan erat, para maid yang melihat itu hanya tersenyum senang. Begitu pula para bodyguard yang senang karna akhirnya bossnya yang dingin itu sedikit melelehkan es yang ada dihatinya. Pemandangan yang sungguh indah, keluarga bahagia pikir mereka
" Berikan tas mu "
Al meminta tas yang sedari tadi terlihat digendongan punggung Airene
Mereka akan memasuki mobil dan jika tas itu tak ia lepas, akan tak nyaman selama perjalanan menuju bandara nanti. Airene melepas salah satu tangannya yang sedang menggendong Felix, perlahan melepaskan tali tas itu tanpa membuat banyak pergerakan. Jika tas itu tak diberikan kepada dikembar untuk dibawa, mungkin tas itu berisikan peralatan yang penting menurut Al
Dengan perlahan Airene memasuki mobil beserta Felix yang berada digendongannya
" nghhh.. mommy " Anak itu sedikit terbangun karna pergerakan Airene
" stttt.. tidur lagi sayang, maaf membangunkan mu "
Al yang menatap kedua orang dipinggirnyapun terdiam, Felix memakai piayama yang sama dengan yang dipakai Airene. Lalu ia memakai pakian santai berwarna hitam sendirian? bukankah sangat terlihat jika mereka keluarga yang tidak bahagia dan sedang bermusuhan? Mengapa anaknya itu memakai pakaian yang sama dengan Airene tapi tidak dengannya?
" Irene "
Merasa terpanggil Airene pun menoleh " iya sir? "
Airene menatap pakaiannya dan kembali menatap atasannya itu " Ah maaf sir memakai piayama, karna perjalanan lama. Aku memutuskan untuk memakai piayama "
Bukan ini jawaban yang Al mau tentu saja " Piayama yang sama? "
Ahh Airene mengerti pertanyaan atasannya itu sekarang, maksudnya ia bertanya mengapa piayama mereka sama begitu?
" Aku membelinya kemarin sir, karna terlihat lucu jika tuan muda memakainya "
Piayama itu berwarna kuning cerah dengan karakter yang sama seperti mister kwekk kwekkk, tentu saja Felix terlihat sangat lucu memakainya
" Apa tak boleh sir? aku akan menggantinya kalau begitu " Airene merasa tak enak ditatap atasannya itu
Bukan, bukan tak boleh. Ia hanya merasa sedikit cemburu melihat mereka berpakaian sama, namun bukan berarti ia mau memakai piayam mister kwekk kwekk juga
" Tidak, itu cocok "
ahh apa ini? apa yang ia katakan? cocok? mengapa aku harus malu ish ishh
Airene hanya diam tak menjawab, ia menyembunyikan wajah malunya pada sikecil yang sedang berada digendongannya. Tentu saja ia malu, atasannya yang dingin itu memuji pakaian kami cocok
Tanpa terasa mereka telah sampai dibandara yang dituju, Airene baru berpikir kalau atasannya itu tak memberikannya tiket dan tak menanyai apakah ia punya pasport atau tidak. Mereka memang sudah sampai dibandara, tetapi mobil ini terus melaju hingga ke landasan pesawat. Mobil baru berhenti ketika mereka tiba dilandasan pesawat yang aga jauh dari landasan pesawat lainnya. Terlihat ada pesawat yang aga kecil dari pesawat lainnya
sebentar
bukannya
ini
Jet pribadi?
Airene sampai terkejut melihatnya, tentu saja seorang Aldrich Callisthenes yang terkenal akan kekayaannya yang berlimpah tak mungkin menaiki pesawat yang sama dengan orang lain bukan? Tentu saja jet pribadi bukan barang aneh yang ia punya dari sekian barang barang yang mungkin tak Airene tahu. Privasi adalah hal yang sangat dijunjung tinggi oleh seorang Aldrich
Hingga ia melihat pemuda yang waktu itu mengobati sikecil, siapa namanya yaah. R R ahh Sir Riel
Al keluar terlebih dahulu, ia membawa tas Airene dan meminta James menyimpannya dibangku jet mereka. Hingga " Lenganmu " Ujarnya meminta Airene
Dengan sedikit bingung Airene mengulurkan satu tangannya, memberikannya pada Al yang langsung ia genggam. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang sikecil yang masih tertidur. Al menggenggam tangan Airene erat membantunya untuk keluar dari mobil itu
" wah wahh wahh... apa yang aku lihat ini? " Pemuda bernama Riel itu mendekati mereka berdua
Al hanya mendengus karna kemarin ia tak sempat menjelaskan siapa Airene sebenarnya " Diam kau " ujarnya ketus
" Ezz dude, Ahh mommynya Felix kan? " ntah menyindir atau apa, Airene tak menjawab apapun " Perkenalkan aku Reil, Riel Storm. Jika kau sakit atau sekedar membutuhkan teman ngobrol, silahkan hubungi aku " Airene menerima uluran tangan Riel dengan kikukk
" Airene Laura Candelle, sir " Hanya sebentar ia mengulurkan tangannya untuk menerima jabatan tangan Riel hingga Aldrich menariknya dan menggenggam tangannya kembali
" Diam saja kau, atau ingin aku hancurkan rumah sakitmu? " Al tak suka jika Airene dekat dekat dengan lelaki lain selain dirinya
Riel tertawa puas melihat reaksi temannya yang satu itu, ternyata benar sesuai dengan apa yang dikatakan Dave padanya. Tak hanya mencarikan sekertaris bagi temannya yang dingin kitu, tetapi mungkin saja ibu bagi sikecil yang sedang meringkuk dalam gendongannya
" hahahahaha lucu sekali "
" Diam atau ku kirim kau naik pesawat ekonomi ha " Wajah ketus Al masih tetap menatap sebal pada temannya itu, Riel dan Dave memilik sifat menyebalkan yang sama
" Baiklahh baiklahh, maafkan aku oke dude "
Airene hanya menatap diam melihat pertengkaran kecil antaran dua teman itu, ia hanya memikirkan kenapa atasannnya itu masih menggenggam erat tangannya
" nghh.. mommy "
Felix terbangun karna suara yang lumayan berisik, mereka diluar tentu saja berisik apalagi saat ini sedang di bandara
" Maaf daddy membangunkanmu " Al mengelus pucuk kepala anaknya, ini salahnya karna berbicara keras disamping anaknya yang tengah tertidur
" Semua sudah siap sir " James mengabari semuanya untuk segera memasuki jet itu
Al mengalungkan tangannya kembali ke pinggang Airene, membantunya menaiki tangga jet itu dan duduk dengan nyaman dikursi sebelahnya berhadapan dengan Riel yang menatapnya jenaka
Airene menatap takjub seisi jet pribadi itu, semuanya terlihat mewah dan mahal. Tersedia beberapa kursi nyaman yang saling berhadapan, dan ntah ruangan besar apa yang ada dibelakang kursi penumpang. Airene dan Felix duduk dekat jendela jet itu. Disusul Al yang berada disisinya, Riel yang ada dihadapannya dan James beserta beberapa bodyguard dibelakang mereka.
" mhh.. mommy takut " Felix memeluk erat Airene yang sedang berusaha memasangkan sabuk pengaman untuk mereka berdua
Riel yang menatap itu santai setelah selesai memasang sabuknya sendiri " Sikecil itu takut naik pesawat " jelasnya
Memang terlihat dari wajah Felix yang tegang bersembunyi dibawa selimut didepan dadanya
" tak apa sayang, nanti kita bisa melihat bintang diatas sana " Airene menunjuk jendela yang ada diluarnya
Pilot mulai dengan mengucapkan nomer penerbangan dan tujuannya lalu mulai lepas landas dari bandara menuju Dubai. Lumrah memang ketika lepas landas mengalami sedikit goncangan, itu mengapa para pramugari menyarankan untuk memasang sabuk pengaman
" Hikss.. mommy.. takut.. takutt " Sikecil yang merasakan goncangan itu mulai menangis, rasa takut nya semakin menjadi jadi
Riel tertawa melihat betapa manjanya sikecil itu pada Airene, berbeda dengan Airene yang berusaha menghentikan tangisan bocah itu " Paman pilot akan berhati hati sayang, hanya sebentar. Lihat sudah tidak berguncang lagi kan? "
Walaupun benar guncangan sudah berkurang, tetapi tak mengurangi rasa takut yang tengah dialami bocah itu " Tapi Felix takut mommy " dengan wajah lucunya yang penuh dengan air mata Felix menatap Airene yang sedang tertawa
" Lihatlah wajah tampan mu, mister kwekk kwekk akan tertawa jika melihatnya haha "
Sabuk pengaman boleh dilepas sekarang, meraka sudah stabil dan tak begitu mengalami goncangan yang banyak. Memang tak nyaman memakai sabuk pengaman ditambah memakainya bersama sikecil ini, Airene meraih tas yang berada di kakinya. Ia mengambil tisu basah untuk mengelap bekas air mata anak lucu itu
" Perlihatkan wajahmu "
Felix mengangkat wajahnya sesuai intruksi Airene " Jangan menangis, anak lelaki harus kuat seperti daddy " Dengan telaten Airene membersihkan sisa sisa air mata diwajah anak itu
" Seperti daddy? "
Airene mengangguk sembari masih membersihkan wajahnya " Iya seperti daddy "
Felix meraih lengan ayahnya yang berada disisinya " Daddy kuat? "
Al meraih tangan kecil itu dan mengecupnya " Tentu saja "
" daddy kuat untuk Felix dan mommy? "
Riel dengan tidak tahunya tertawa karna pertanyaan anak kecil itu yang membuat Airene malu dan menyembunyikan wajahnya
" Ya tentu saja, untuk mu dan mommy "