
Aldrich memberikan waktu pada gadisnya untuk menenangkan diri, ia tak memaksa Airene untuk ditidur dikamar dengannya seperti biasa. Tapi ia mengijinkan gadisnya untuk menempati kamar kamar sendiri. Sikecil berada didalam kamarnya dan masih nyenyak dalam tidurnya, biarlah. Hanya untuk malam ini, ya hanya untuk malam ini ia membiarkan gadisnya itu menenangkan diri sendiri
Bisa mendapat ruang untuk dirinya sendiri saja sudah membuat Airene senang, ia tak memerlukan apapun. Yang ia perlukan hanya ruang untuk menenangkan diri, tak mungkin ia menempati kamar Aldrich bukannya menenangkan diri yang ada dirinya semakin gugup untuk menghadapi hari esok
Ya hari esok dimana ia harus bertemu dengan kedua orang tua Aldrich
Pagi datang lebih cepat dari yang Airene bayangkan, rasanya baru saja ia tertidur beberapa menit. Dan sekarang bahkan matahari sudah sedikit naik, menandakan hari sudah pagi. Airene buru buru membersihkan dirinya, ia harus berdandan sangat rapih dan sopan kali ini
Ia tak mau meninggalkan kesan tak menyengkan pada kedua orang tua Aldrich
Memang dirinya belum begitu menerima ajakan dari atasannya itu, dimana ia menjadi pendamping dari seorang Aldrich Callisthenes. Bukannya ingin menolak atau bagaimana, ia nyaman memang berada di sekitaran atasannya itu. Tapi ia begitu terkejut jika Aldrich mengajaknya dengan mendadak, Airene bahkan tak tau jika atasanya itu menyukai dirinya? Tidak ada hal yang bisa Airene banggakan dari dirinya, selain keahlianya dibidang pekerjaan. Tak ada lagi yang bisa ia banggakan hingga seorang Aldrich Callisthenes menyukainya
Pantulan cermin memperlihatkan pakaian yang baru saja menjadi pilihan Airene, ia memilih dress hitam selutut. Tak terlalu mewah memang terkesan simple malah, Airene menggelung rapih rambut panjangnya. Ia juga memakai perhiasan simple, salah satunya tusuk rambut indah berwarna merah muda. Tidak banyak yang disiapkannya, hanya mungkin mentalnya?
Setelah beres dengan persiapannya, Airene melangkah menuju kamar atasannya karna ia perlu memandikan dan menyiapkan keperluan sikecil
tukkk.. tukkk...
Airene mengetus pintu besar dihadapannya, tak mungkin juga ia melenggang masuk tanpa tau kesopanan. Walaupun ia sudah sering tidur dikamar ini
Pintu terbuka, memperlihatkan Aldrich yang sudah selesai dan rapih dengan stelan yang biasa ia kenakan. Berbeda dengan sikecil yang masih berlarian kesana kemari dengan handuk yang masih melilit tubuhnya
" uwahhh mommy momyyy " Ujarnya ketika melihat siibu yang sedari ia membuka matanya tak terlihat
Aldrich menghembuskan nafasnya, sungguh anaknya ini tak bisa diatur " Felix pakai dulu bajunya "
Sikecil malah berlari kearah Airene tanpa memperdulikan handuk yang sudah tersingkap itu " Mommyy.. momyyy.. kenapa mommy tadi malam ga bobo sama felix? "
Sipemilik kamar mempersilahkan Airene untuk masuk dan menyiapkan anaknya yang susah untuk diatur itu " Ohh.. mommy ketiduran dikamar sebelah " jawab sekenanya mamasuki ruangan itu
Kamar sikecil dan kamar atasannya itu terhubung oleh satu pintu yang menghubungkan kedua kamar besar. Jadi Airene biasanya mengambil pakaian sikecil dalam kamarnya melalui pintu yang terhubung itu. Lalu memandikan sikecil dikamar atasannya karna memiliki kamar mandi yang lebih besar dari kamar lainnya
" Kenapa ga bangunin felix biar tidur sama mommy " Sikecil masih protes karna ditinggalkan oleh ibunya walau hanya semalam
Airene dengan telaten mengeringkan tubuh sikecil, memakaikannya parfum yang aman untuk anak seusianya dan memakaikan pakaian satu persatu, walau susah karna anak ini tak mau diam " Karna felix udah tidur nyenyak jadi kasihan kalau bangun kan? "
Aldrich berjalan memakai jas dan jam tangan yang belum sempat ia pakai karna mengejar anaknya yang sedang berlarian itu " felix ingat, kita akan ke granpa dan granny " mengingatkan anaknya untuk tak bertingkah terlalu banyak
" Granny? "
" Iya, jadi jangan berlarian disana ok "
Felix menatap Airene yang sedang menyisir rambutnya " Kalau felix lari, mommy kejar kan? "
" Iya kalau mommy kuat berlari "
" Memang mommy ga kuat yah? "
Setelah selesai dengan semua perssiapan Airene menggendong anak itu " Yaa.. kaki mommy sakit nanti. Jadi Felix gaboleh lari lari " memberi penjelasan pada bocah memang aga sulit
Mereka semua sudah siap, Al berkata bahwa mereka akan melewatkan sarapan pagi karna sudah ditunggu oleh kedua orang tua Al. Tentu itu tidak berlaku bagi sikecil yang terus terusan merengek meminta ibunya untuk dibuatkan pancake seperti biasanya
" Mommyy pancake mana felix " ujarnya memeluk erat lengan Airene
" Nanti yaahh.. felix minum susu coklat dulu yah " Airene mengambil susu yang biasa sikecil minum dalam tas yang sudah ia siapkan. Mereka berada dimobil menuju kediaman kedua orang tua Aldrich
Walau bukan pancake tapi susu coklat adalah hal lain yang ia sangat sukai " Nanti digranny, mommy bikinin pancake yah "
Bagaimana bisa memasuki dapur seseorang yang baru akan ia temui sekarang, ntah dirinya yang salah karna terlalu memanjakan anaknya itu atau memang anaknya saja yang sedang menguji kesabarannya
" Nanti granny yang masak " Aldrich mencoba membantu setelah melihat situasi yang tengah dialami Airene
Sikecil menggeleng tanda tak setuju " felix maunya pancake mommy dadd "
Sifat keras kepala yang sangat mirip sekali dengan ayahnya, mungkin sudah menjadi aliran darah turun temurun dikeluarga ini. Airene bahkan kewalahan jika sikecil atau atasannya itu sudah mengeluarkan sifat yang satu itu
Itu hal yang biasa bagi Aldrich dan Felix selaku tuan muda dirumah ini namun tidak dengan Airene
Bulir bulir keringat dinginnya mulai bermunculan, kegugupan yang ia rasakan semalam malah melebihi ketika ia sampai dirumah itu
Rumah dimana kedua orang tua Aldrich berada
" Selamat datang tuan muda "
Semua maid dan bodyguard yang berjejer itu menyambut mereka dengan lantang, sebagaian maid memandang panasaran paa wanita yang dibawa oleh tuan mudanya dan beberapa hanya diam menunduk.
Aldrich melingkarkan lengannya pada pinggul Airene, ia ingin semua orang tahu bahwa wanita ini adalah miliknya. Sikecil masih berada dalam gendongan Airene karna tak mau turun, hingga kepala maid mendekati mereka
" Selamat datang tuan muda, mari kami antar menuju tuan besar "
Beberapa maid mengikuti langkah mereka, hal itu sedikit membuat Airene tak nyaman karna dirinya tak terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Airene mengalihkan pikirannya pada rumah yang saat ini sedang ia kunjungi. Rumah ini sangat besar, memang berbeda designnya. Jika design rumah Aldrich sangan modern dan legent, namun rumah ini memiliki design seperti kastil kerajaan. Mewah nan megah
Jalan dengan perlahan hingga sampai kesebuah ruangan yang terlihat seperti ruang keluarga, terdapat beberapa foto yang terpajang di dindingnya. Mulai dari foto kedua pasangan yang mungkin orang tua Aldrich, lalu beberapa foto felix dan ada juga foto Aldrich
" Duduklah dulu " Aldrich menuntun mereka menduduki salah satu sofa yang ada
Tak jauh dari mereka ada sebuah pintu yang terbuka, memperlihatkan seorang pria dan wanita yang sudah sedikit berumur. Airene dengan reflek berdiri kembali sembari masih menggendong sikecil, wanita yang berada disisi pria itu pun melangkah dengan senyum lembutnya
" Cucu kuu " Ujarnya membentangkan tangan untuk memeluk Felix
" Graannnnnnyyy "
Sikecil turun dengan sedikit berlari menghampiri kedua orang itu, pria yang sangat mirip sekali dengan Aldrich namun mungkin versi sudah berumurnya.
" Selamat datang dirumah kami, maaf menyuruh kemari dengan tiba tiba yaah " senyum lembut khas keibuan tak luntur dari wajahnya
Berbeda dengan pria yang mirip dengan Aldrich sedang menatap tajam pada Airene, seperti sedang menilai penampilannya
Aldrich menghampiri wanita itu dan menyebutnya ibu " Ibu " ujarnya mengecup pipi sang ibu
Siibu pun membalas dengan mengecup dahi anaknya " Anakku "
Hingga pria yang diketahui ayah Aldrich berkata " Duduk "
Aldrich dan Airene pun duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya dan sikecil yang berada di gendongan ibunya Aldrich
" Jadi apa yang terjadi? " Ayah dari atasannya itu memulai pembicaraan
Aura mengintimidasi memenuhi ruangan ini, Airene hanya diam karna tak tahu juga harus berkata apa " Tak ada yang terjadi ayah " Aldrich menjawab dengan nada santai tanpa takut
" Tak terjadi apa apa? Lalu berita apa yang kulihat ini ha!! " Ujarnya dengan nada sedikit naik
Hal itu mengagetkan sikecil yang sedang berada disisinya, ia terkejut karna suara lantang dari kakeknya yang baru didengarnya " Mommmy " sikecil meminta turun dari neneknya dan berlari mendekap Airene yang langsung memeluknya
Kedua orang tua Aldrich terkejut melihatnya, bahkan dengan maid yang ditugaskan untuk menjaganya saja sikecil tak mau. Anak itu sangat sensitif sekali kepada orang orang ada ada disekitarnya, ia bukan tipe anak yang bisa lulu dengan mudah
Namun kali ini, mereka melihat gadis yang baru dibawa anaknya dengan tatapan terkejut. Bagaimana bisa cucu mereka yang terkenal susah untuk percaya pada orang lain dengan eratnya memeluk gadis itu dan bahkan memanggilnya dengan sebutan ' mommy '
" Granpa marahin daddy sama mommy.. huaaaa " Sedikit banyaknya anak itu bisa merasakan bahwa saat ini kedua orang tuanya sedang dimarahi oleh kakeknya
Ibu Aldrich kelabakan karna mendengar cucu kesayangannya mulai menangis akibat suara lantang suaminya " Tidak sayang tidak, Maafkan grandpa yah "
Sikecil menatap kakeknya dengan air mata yang sudah jatuh dipipinya " Grandpa marahin mommynya felix.. hiks "
Mendapat tatapan lucu dan menyedikan dari cucunya pun Alan menyerah, ia tak ingin cucunya itu membenci dirinya " Tidak granpa cuma lagi nanya sama " ia terdiam sebentar " Mommynya felix"
Aldrich tersenyum menang, tak ada yang harus ia jelaskan jika kedua orang tuanya sudah melihat mengapa Airene dan alasan ia memilihnya