
" sttt mhh"
Gadis itu akhirnya terbangun dari tidur terpanjang yang ia rasakan sejak awal dia mengetahui tentang kehamilannya. Suara ribut diluar membuatnya terganggu sehingga terbangun dari tidur panjangnya. Perlahan lahan gadis itu mencoba untuk membuka matanya, mencoba menerima cahaya putih yang menyorot kedalam kedua matanya. Kepalanya terasa pusing dan sakit, tenggorokannya pun kering karna terakhir kali dia minum hanya saat ketika meminum susu hamilnya kemarin
Tapi
Tunggu
Setelah membiasakan diri dengan cahaya yang masuk, dia akhirnya bisa membuka kedua matanya. Hal pertama yang ditangkapnya adalan dinding putih dan aroma obat yang kuat tercium disetiap suduh ruangan ini. Dimana ia berada? bukan kah terakhir kali dia pingsan karna tak kuat menahan sakit dikepalanya. Lalu dimana dia sekarang, dinding disekitar ruangan ini berwarna putih yang tentu berbeda dari warna cat dikamar mandi tempat dia berada terakhir kali
Airene ingin mencoba untuk mendorong tubuhnya terbangun, tapi jangankan untuk terbangun. Mengangkat tangannya saja rasanya sulit sekali, gadis itu hanya melihat bahwa tangannya sekarang sudah tertancap jarum yang mengalir pada infusan yang ada disisinya. Jadi apa seseorang menemukannya, lalu membawa dirinya ke klinik dokter Roberth tempat biasa dia memeriksakan keadaannya?
Sepertinya tidak
Gadis itu merasa asing dengan ruangan bercat putih bersih ini, jika ia berada di klinik dokter Robert sekarang. Pasti dia akan cepat menyadari hal itu, dia tak akan merasa asing dengan klinik karna sudah kurang lebih selama sebulan ini terus bolak balik kesana. Yang lebih aneh lagi, cat diklinik setaunya berwarna putih gading dan hanya memiliki 2 kamar inap sederhana berbeda dengan kamar yang ia tempati sekarang. Walaupun tak bisa bangun dan hanya berbaring, Airene tau bahwa kamar ini luas karna ia bisa melihat dengan sedikit lirikan matanya
Lalu dimana dia sebenarnya?
Siapa orang yang menemukan dirinya saat tak sadarkan diri dikamar mandi? apa tetangganya, tapi dia belum berkenalan dengan tetangga lain selain ibu penjual daging dan pemilik rumah yang dia sewa. Ahh apa ibu pemilik rumah yang membawanya kemari?
Huaaaa
degg!!
Gadis itu terdiam seketika, dia tau. Dia sangat tau suara tangisan yang baru saja didengarnya, Airene tau sekarang siapa yang membawanya kemari
" Mommy myy... huaaaaa "
Suara diluar sana semakin kencang, anaknya saat ini sedang menangis keras dan dia. Airene ingin berlari lalu mendekap tubuh anak itu, tapi tak bisa. Kakinya tidak mau mendengar perintahnya, bulir air mata terjatuh begitu saja. Teriak pun dia tak sanggup apalagi menyuruh tubuh lemah ini untuk bangun
" Lepass.. lepass.. mommyy.. myy.. uhukk.. my " Suara anaknya semakin keras dan keras saja, gadis itu juga mendengar suara dari beberapa orang yang dikenalnya
Airene menggapai gapai udara kosong dihadapannya " Fe... lixxx " Suara tercekat
Dugg.. trakk...
Pintu terbuka dengan paksa, terlihat sikecil yang sudah sangat Airene rindukan sedang ditahan masuk oleh beberapa orang. Termasuk pria itu, pria itu mencoba menahan anaknya yang terus memaksa masuk. Felix langsung menangis dan mencari cari kamar Airene ketika ia mendengar pembicaraan kedua kakek neneknya yang berkata ibu nya sedang dirawat dirumah sakit yang sama seperti dirinya. Seperti biasa, sikecil itu langsung mencabut selang infusnya dan berlari kesana kesini dengan tubuh ringkihnya
Airene ingin mendekap anak itu, apa yang terjadi padanya. Kenapa anak itu masih memakai pakaian khusus pasien rumah sakit, apa anak itu masih sakit? sikecil itu masih sakit dari awal dia meninggalkannya?
grepp
Aldrich yang sedang berusaha menggendong anaknya itu agar kembali ke ruangannya malah mendapat gigitan kecil yang lumayan keras ditangannya. Anak itu menggigitnya ketika ia memeluknya dengan erat, reflek Aldrich melepaskan dekapannya dan membuat anaknya itu bisa terlepas berlari kencang mendekati sosok yang masih terbaring di atas ranjang.
" felixxx... " bahkan Martha tak kuat menahan tenaga anak kecil yang sedang sakit itu, ntah dari mana berasalnya semua kekuatan itu
" mommy.. " felix langsung menghampiri sosok itu, dengan susah payah kaki kecilnya mencoba menaiki kursi tunggu yang memang selalu ada di samping ranjang rumah sakit. Felix menaiki bangku itu dan ketika sudah sampai
Felix melihatnya
Dia akhirnya bertatapan dengan sosok yang selama ini dicarinya dan sosok itupun membalas tatapan matanya.
Air mata sudah tak terbendung lagi, baik sikecil atau Airene mereka berdua sama sama menangis dan saling mendekap membalas satu sama lain mencoba mencurahkan kerinduan masing masing. Aldrich hanya menatap dalam diam, ia tak berani mengganggu acara keduanya. Biarlah saat ini, biar mereka mencurahkan kerinduan satu sama lain. Ia akan menunggu sampai waktu yang tepat, Aldrich tak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya
Martha yang melihat cucunya sedang mendekap sosok itu pun memilih untuk mengundurkan diri dan membiarkan mereka berdua untuk sekarang. Dia dan suaminya Alan memutuskan untuk pulang dan menunggu sampai kedua merasa lebih baik
Felix masih mendekap erat sosok itu, tangisannya sudah mulai mereda namun ia masih dengan erat enggan melepaskan barang sedikit saja. Airene pun sama, dia masih rindu pada sikecil ini. Rasanya sudah lama sekali tak memeluk tubuh kecilnya yang sekarang semakin kecil saja, anak ini kehilangan banya berat bahan. Gadis itu tau karna merasakannya saat mendekap sikecil
Tangannya yang lemah mencoba menepuk nepuk punggung kecil itu perlahan, dia sedang menenangkan tangis sikecil yang perlahan lahan menghilang digantikan dengan suara dengkuran halus menandakan Felix sudah jatuh tertidur
" mhh "
Airene merasakan sakit pada perutnya, nyeri itu kembali datang selalu setelah dirinya baru membuka mata dan bangun. Perutnya selalu terasa nyeri seperti ini, ditambah dengan dikecil yang sedang mendekap tubuhnya erat sedikit menimpanya. Berat sikecil ringan memang, tapi tetap saja tekanan seringan apapun membuat perutnya merasa nyeri
Gadis itu melihat pria itu sedang memindahkan sikecil yang berada di atas tubuhnya ke arah salah satu sofa diruangan itu. Aldrich memindahkan sikecil perlahan karna anak itu baru saja tertidur kelelahan menangis kencang dan ia melihat ekspresi menahan sakit dari wajah gadisnya itu. Jadi pria itu memutuskan untuk memindahkan anaknya, membuat gadisnya merasa nyaman tanpa beban pada perutnya
" Aku panggilkan dokter sebentar " ujar pria itu menekan salah satu tombol yang ada di atas ranjang
Airene tak berani untuk menjawabnya apalagi membalas tatapan pria itu, ia takut diberikan tatapan yang sama saat kejadian dahulu. Gadis itu tak mau merasakan sakit yang sama hingga ia memilih diam dan mengalihkan pandangannya kearah lain
Beberapa orang berjas dokter dan perawat memasuki ruangannya, terlihat juga ada Riel diantara mereka. Seorang wanita berjas dokter mendekatinya terlebih dahulu sembari mengarahkan stetoskop yang selalu berada dilehernya.
" Aku akan memeriksa mu miss permisi " Dokter itu mengarahkan stetoskop dingin keatas perut gadis itu yang memperhatikannya
Bajunya sedikit tersingkap karna dokter itu butuh memeriksa beberapa bagian di perutnya, Riel menatap kearah lain berbeda dengan pria itu yang menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan. Tatapannya tajam, seakan bisa menembus perutnya
Tunggu
Jika pria itu yang membawa dirinya kemari, berarti ia sudah tau bahwa dirinya sedang mengandung anaknya? Itu mengapa tatapan serasa tajam ketika dokter ini memeriksa perutnya
Pria itu sudah tau
Tak mungkin jika dirinya tak tau, pasti pria itu sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh pada dirinya saat ia tak sadarkan diri
Bagaimana ini
Apa pria itu akan menyuruhnya untuk menyingkirkan kandungannya? atau malah ingin mengambil bayi yang ada dalam kandungannya?
" Apa miss merasa nyeri pada daerah perut?" Airene hanya menjawab dengan anggukan, suaranya masih terpendam
" Aku akan memberikan beberapa perawatan, bisa miss sebutkan merk susu yang selama ini di konsumsi? "
Airene menatap dokter wanita itu " en..fam..maa " suaranya terdengar serak dan samar terdengar saking kecilnya
" Baiklah, kami akan menyediakan susu itu dan penguat kandungan. Sementara miss harus istirahat penuh atau bed rest sampai keadaan sedikit membaik, kalau begitu aku permisi miss. Sir Aldrich " Dokter perempuan itu undur diri diikuti perawat perawat lainnya, dia harus memberitahu ahli gizi soal susu yang dikonsumsi gadis itu
Riel melangkah mendekatinya, dia berdiri disisi ranjang gadis itu " Aku akan mengganti bed ini dengan kasur king size agar nyaman untuk mu melewati masa bed rest ini. Jika kau perlu sesuatu bisa beritahukan kepada ku atau pria itu, atau bisa menekan tombol merah itu dan perawat akan segera menghampirimu. Ingat, bahkan untuk kekamar mandi pun kau harus memberitahu kami. Mengerti? " Seperti biasa Riel akan memberikan saran yang amat sangat banyak, Airene juga menghargai Riel karna ia tak bertanya lebih dan hanya memberi saran sebagai seorang dokter saja
Benar apa yang dikatakan Riel, sesaat pria itu keluar dari ruangannya. James dan yang lainnya masuk membawa berbagai barang dan sebuah kasur king size yang akan menggantikan bed rumah sakit biasa yang sekarang sedang ia pakai. Mereka mengerjakan semuanya dengan sangat perlahan meminimalkan suara yang keluar karna bisa membangunkan sikecil yang masih terlelap di sofa
Walau dikerjakan perlahan, pekerjaan mereka dibilang cepat dan rapih. Hanya butuh waktu 15 menit dan semuanya selesai seperti yang diperintahkan. Penampakan kasurnya saat ini sama besarnya dengan yang ia pakai sewaktu masih berada dirumah pria itu
Omong omong tentang pria itu, sedari tadi ia hanya diam dan tetap menatapnya dengan intens. Bahkan saat semua orang sudah pergi seperti sekarang, pria itu masih memperhatikannya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun
Gugup
Airene gugup karna berpikir reaksi apa yang akan diberikan pria itu padanya, pikiran pikiran buruk mulai menghinggapinya satu persatu. Semua kenangan buruk yang sudah terlewatipun kembali berputar putar dipikirannya seperti cd rusak
" Peganglah " saat semua pemikiran buruk menghinggapinya sampai ia tak sadar bahwa pria itu sudah berada disisinya dan siap siap seperti akan menggendongnya untuk berpindah ranjang
Lengan kekar pria itu melingkar membalut tubuhnya, pria itu mengangkatnya tanpa hambatan yang berarti dan segera membawanya kekasur yang baru selesai disiapkan. Diturunkannya gadis itu perlahan, Aldrich ingat perkataan temannya jika tekanan sekecil apapun akan melukai gadisnya jadi ia menurunkan gadis itu perlahan takut menyakitinya
Setelah menurunkannya dengan aman, Aldrich menggeser tiang infusan lebih mendekat kearah gadisnya. Ia juga membawa bed bekas ke sisi ruangan dan menaruhnya disana
" Masih sakit? " ujar pria itu kembali mendekati gadisnya dan duduk ditepi ranjang
Airene hanya menganggukkan kepala, tenggorokannya masih sakit
Aldrich membawa sebuah gelas dan sebuah sedotan, ia juga menahan kepala gadis itu untuk membantunya meminum air digelas " Minumlah perlahan " gadis itu menerimanya dan menghabiskan setengah gelas air, sekarang tenggorokannya tidak terlalu sakit
Pria itu menarik selimut dan menutupi tubuh Airene sampai ke dadanya
" Pasti banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan, kau bisa menanyakannya nanti. Sekarang istirahatlah, aku akan menjaga kalian disini "