
Rencananya hari ini Aldrich akan mengajak gadisnya pergi membeli peralatan atau baju baju untuk bayi mereka nanti. Pria itu sudah menginjinkan gadisnya untuk keluar namun hanya saat dirinya ada menemani, selebihnya tidak boleh
Sebenarnya Airene belum menyiapkan apapun perihal bayi, ada sih namun itu pemberian dari mertuanya, lalu dari paman paman mudanya, sisanya pada maid membuat sebuah baju rajut untuk anaknya kelak. Dia juga baru berfikir ketika melihat kamar bayi nya kosong hanya berisikan kotak tempat tidur kedua bayinya
Gadis itu sedang menunggu kepulangan prianya, dia ingin pergi tapi juga tak mau jika harus menganggu waktu kerja yang berharga. Pasti pria itu sedang mengurus sebuah proyek besar, tidak biasanya Aldrich pulang terlambat seperti ini. Arah pandangnya melihat ke jam dinding dikamar itu, menunjukkan pukul 6 petang. Pusat perbelanjaan seperti mall memang masih buka, dia bisa datang kapan saja sepertinya
Karna sang mertua Alan yang memilikinya, jadi bebas untuk datang jam berapapun
Mood gadis itu berubah, yang tadinya sangat semangat untuk pergi berubah menjadi malas dan tak semangat lagi. Gadis itu sudah menunggu terlalu lama, sampai sampai merasa bosan memutuskan untuk tak pergi
Biar Aldrich meneruskan pekerjaannya saja, dia bisa membeli perlengkapan bayi mereka nanti saat pria itu sudah ada waktu untuk menemaninya
Gadis itu memutuskan untuk istirahat diranjang besarnya bersama satu novel yang belum selesai dia baca. Deru kendaraan sebenarnya sudah terdengar memasuki pekarangan rumah, Airene saja yang tidak mendengarnya karna terlalu fokus membaca
ahhh
Perutnya tiba terasa sakit, rasa sakitnya berbeda dari yang biasa dia rasakan. Tanpa sadar gadis itu mencengkram perutnya, mulas dan melilit
Gadis itu merasakan ada sesuatu yang mengalir dipahanya, dia sedang memakai sebuah gaun rumahan jadi tentu saja terasa langsung. Menengok sekilas untuk melihat, cairan bening bercampur darah sudah mengalir banyak. Ketubannya pecah
Padahal usia kandungannya baru saja memasuki 8 bulan kehamilan, terkahir kontrolpun dokter Risa berkata baik baik saja dan akan lahir normal diwaktu yang tepat. Namun apa yang terjadi sekarang, apa ia akan melahirkan? sekarang?
arghh ahhh
Airene mencoba memanggil manggil prianya yang masih belum kembali juga, Tetapi karena harus menahan rasa sakit menyengat ini suaranya tak terdengar oleh siapapun. Maid atau bodyguard diluar tidak bisa mendengar suara kecilnya, ditambah kamar ini kedap suara. Jika tidak membuka pintu itu maka orang orang tak akan mendengar suaranya, serasa percuma saja memanggil manggil. Bahkan jika berteriak dengan kencangpun mereka tak akan mendengarnya
" tolongg.... ahhh.. ssakkkit.. " Tubuh kecilnya merosot kelantai saat mencoba untuk berdiri, gadis itu semakin mencengkram perutnya. Kakinya sudah berlumuran dengan darah dan air ketuban begitu juga kasur yang tadi ditempatinya
" To..long... siapapunn.. hiks... sakit " Airene menumpu satu tangannya di karpet yang kini sudah basah dengan darahnya yang tak berhenti keluar, gadis itu menahan agar tubuhnya di ambruk dan membuatnya kesulitan untuk bangun
Rasanya pandangan gadis itu sudah buram oleh air mata dan kesadaran yang sedikit demi sedikit menghilang, dia mencoba untuk tetap sadar karna jika pingsan sekarang ntah apa yang akan terjadi pada dirinya dan kedua bayi yang dikandungnya. Disatu sisi dia juga tak kuat untuk mengangkat tubuhnya sekedar berjalan kearah pintu keluar
Arghhhh hikksss
Darah semakin banyak dan banyak keluar mengalir dari pahanya, rasanya gadis itu sudah tak kuat menahan sakitnya. Dia juga sudah tak kuat untuk tetap terjaga
trakkk
Pintu terbuka, memperlihatkan Aldrich masuk kedalam kamarnya dan tak memperhatikan sekitar pada awalnya
" sayaa.. "
degg
Aldrich melihat gadisnya yang sudah terbaring lemah diatas karpet bulu didalam kamar mereka, menatapnya terkejut karna tangan, kaki dan sekitaran gadis itu sudah dipenuhi oleh cairan merah pekat yaitu darah
" JAMES SIAPKAN MOBIL!!! " panik, pria itu panik melihat kondisi gadisnya
Dengan segara pria itu meraup menggendong gadisnya dengan hati hati, ia berjalan dengan perlahan menuruni lantai atas. Para maid yang melihatpun terkejut dengan kondisi nyonya nya, mereka tak mendengar suara apapun jadi mereka juga tak tau apa yang sudah terjadi
hikss hikss
Gadis itu sudah pucat pasi karena kehilangan banyak darah, dia juga merasa sakit diperutnya semakin menjadi jadi " hikss... hikss ... sakitt "
Melihat itu, langkah kakinya semakin cepat menuju mobil yang baru saja James siapkan. Ternyata salah satu bodyguard mendengar teriakan bossnya dan langsung memberitahukannya pada James yang ada di lantai bawah
Perjalanan menuju rumah sakit Riel terasa memakan waktu yang banyak akibat dari efek paniknya, pria itu mendekap gadisnya hati hati didalam mobil. Mengusap usap perutnya berharap rasa sakitnya menghilang, dia tak tega melihat Airene yang sudah sangat pucat seperti ini
" Sabar sayangg, tahan. Sebentar lagi kita sampai "
" ****! cepatlah James, kau tak lihat gadisku mengerang kesakitan ha! "
Saking paniknya karena melihat darah yang mengalir tak berhenti sejak tadi, pria itu malah melampiaskan kekesalannya pada seorang pria yang sedang membawa mobilnya diatas kecepatan rata rata. James memacu mobilnya sangat kencang sampai beberapa kali akan menabrak pengendara lain
Ntah apa yang terjadi sampai gadisnya seperti ini, mereka sudah melakukan pengecekan berkala dan dokter dokter itu berkata kondisi gadisnya baik dan bagus tak ada kendala untuk melahirkan normal di waktu yang sudah di prediksi. Namun apa sekarang? dia menemukan gadisnya sudah berlumuran darah dan kesakitan,
Mereka sampai di rumah sakit setelah melewati masa masa tegang mendengar tangis, jeritan kesakitan Airene. Riel yang sudah diberitahupun bersiap bersama dokter Risa dan beberapa perawat. Mereka sudah menyiapkan ruang bersalin normal dan operasi jika memungkinkan, ketika mobil itu sampai. Semua perawat bergegas untuk membawa Airene keruang perawatan
Riel tau temannya itu sedang menahan amarah dan kesal terhadap dirinya tapi itu urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan gadis itu beserta kedua bayinya
Dokter Risa langsung memeriksa kondisi Airene, dia berkata untuk menyiapkan banyak kantung darah, infus dan lain sebagainya. Mereka harus cepat mengeluarkan bayi bayi ini atau keduanya tak akan selamat
" Ini harus dilahirkan secara normal, sudah terlambat untuk mengoprasinya " Dokter Risa berkata meminta persetujuan dari Aldrich dan Riel selaku dokter pribadi gadis itu
Aldrich yang bingung menatap gadisnya yang sudah terbaring lemah diatas bangkar ruangan melahirkan, apa gadisnya bisa melahirkan anak mereka secara normal? apa dia kuat?
Semua pemikiran buruk hinggap di kepalanya, berbeda dengan sikecil felix yang dilahirkan secara operasi dan diwaktu yang tepat. Airene malah berbanding terbalik dengan pengalaman yang sudah dia lewati, jadi pria itu bingung harus berkata apa. Disatu sisi dia takut kehilangan gadisnya tetapi dia juga tak ingin kehilangan kedua bayinya
" Apa tak bisa operasi saja? " Aldrich masih meminta kebijakan lain
Riel menggeleng, jika dokter spesialis kandungan sudah berkata dan menyarankan seperti itu berarti mereka tak punya pilihan lain " Tidak, kau bisa menemaninya disini. Aku akan pergi mencari kantung darah sebanyak banyaknya " pria itu berlari keluar ruangan guna mencari stok darah
Aldrich memutuskan untuk mendekati gadisnya, gadis itu terlihat sangat pucat dengan peluh menghiasi wajahnya " Irene " ujarnya menggenggam salah satu lengan Airene yang tak diinfus
" Kau dengarkan apa kata dokter? aku akan menemanimu disini. Berjuanglah untuk anak kita, kamu bisa pasti bisa sayangg " Keduanya sama sama terlihat rapuh, mereka mencoba saling menguatkan satu sama lain
Airene menggenggam erat lengan prianya, dia sudah siap apapun yang akan terjadi. Dia tidak takut lagi, sekarang sudah ada Aldrich bersamanya. Gadis itu akan berjuang melahirkan anaknya
" Tolong dengar aba aba dariku, jika kubilang dorong kau dorong dan tahan napasmu sampai aku berkata boleh oke " Dokter Risa sudah bersiap dengan perawat wanita yang akan membantunya
" Kamu bisa sayang "
" Doronggg!! "
Arrghhhhh
Teriak gadis itu menahan sakit, sakit kali ini seperti mematahkan tulang tulang ditubuhnya
" Tahan tahan.. dorong sekali lagi sudah terlihat "
hiksss hikss arghhhhh, Airene melakukan apa yang dikatakan dokter itu diambang kesadarannya yang perlahan menghilang
" Jangan sampai dia tak sadarkan diri! ayo sekali lagi dorong "
huargghhhhhh
hoekkk hoekkkk
Suara tangisa bayi terdengar sampai penjuru ruangan, Dokter Risa memberikannya pada perawat untuk dibersihkan karena mereka masih harus berjuang sekali lagi
" Sekali lagi, bayi kita Irene "
" dorong!!! "
Arghhhhh
" sakit... aku.. aku tak.. bisa "
Aldrich panik melihat kesadaran gadis itu sebentar lagi menghilang kala bayinya masih tersisa satu lagi " Tidak sayang, kau kuat kau bisa. Genggam tanganku "
" dorong!! "
Arghhhhh
.