
" Aldrichh.... aldrich!!!! ALDRICH!!! "
Pekik Airene karna dirasa sudah tidak kuat menahan tusukan pisau tersebut. Dia hanya berharap pria itu segera datang dan menolangnya serta bayi bayi yang ada didalam perutnya
bangg.. door... dorrr....
Sebuah tembakan melesat membuat Airene terkejut, Luca melepaskan genggaman tangannya dari pisau yang masih menusuk itu karna merasa ada ancaman yang datang. Dia juga mengambil sebuah pistol yang sudah disiapkan
" Akhirnya kau datang juga " ujar pria itu menyambut Aldrich yang baru datang
Hampir saja ia melupakan niat awalnya karna terlalu asik bermain main bersama wanita didepannya, lihat saja pisau itu masih menancap dikedua lengannya
" Aku sampai menghentikan permainanku karna menyambut kedatanganmu kesini "
Aldrich melihat banyak darah disekitar gadisnya, dia juga melihat gadisnya yang sudah bersimbah darah dengan pisau yang masih menancap dikedua lengannya yang terikat. Sedari tadi pria busuk ini mempermainkan gadisnya
Tanpa memikirkan apapun lagi
Aldrich melakukan langkah cepat dan menembak tepat kearah kepala pria itu
Semua orang terkejut dengan serangan cepat yang dilakukannya
kyaaaaaa
Bella teriak kencang karena melihat prianya sudah tewas tertembak oleh Aldrich tepat dikepalanya
Aldrich berjalan masuk dengan mengeluarkan aura membunuh yang kuat, Bella yang masih diam membatu bahkan takut ketika merasakan aura nya. Dia tau bagaimana sifat pria itu jika sedang marah
Bawahan Luca bahkan tak berkutik ketika Aldrich berjalan seorang diri, mereka tau betul siapa yang bisa menjadi lawan dan tidak. Orang dihadapan mereka tak bisa dijadikan lawan karna kekuatan yang sangat berbeda jauh
" haaaa... hiksss... Aldrichh .. alll "
Airene menangis karena merasa lega, akhirnya pria itu datang untuk menyelamatkan bayinya tepat waktu sebelum Luca semakin menusukan pisau tajamnya. Aldrich menatap wajah gadisnya yang dipenuhi luka babak belur pasti wajah cantik kitu akan meninggalkan luka memar beberapa hari kedepan. Pakaian gadis itu juga terbuka karna rusak akibat robekan, untung masih bisa menutupi sebagian dari tubuh atasnya
Luca terbaring kaku di sebelah gadis itu, ia langsung tak sadarkan diri setelah mendapat satu tembakan tepat dikepalanya. Walau sudah tak bergerak dan bernapas, serasa belum puas dan tak merasa cukup atas apa yang telah dilakukan pria itu. Aldrich menembak tubuh kaku itu berkali kali, rasa puasnya belum terpenuhi dan terus menembakinya
Bodyguard yang dibawa Aldrich membawa sisa bawahan pria ini, masih ada bella pikirnya. Dia juga harus membereskan wanita itu
" Ti.. dakk. aku.. aku minta maaf al aku "
Banggg....
Darah membanjiri lantai gedung ini tidak membuat pria itu jijik akannya, justru malah merasa senang akhirnya orang yang selama ini membuat hidupnya kacau sudah pergi. Tidak akan ada lagi orang yang akan menganggunya, mungkin
Setelah urusannya selesai, Aldrich kembali menatap gadisnya.
" Maaf aku lama, Irene " ujarannya terlihat menyesal melihat kondisi gadis nya yang memprihatinkan, salahkan Dave yang menyuruhnya untuk tenang dan tak segera pergi kemari
Airene tersenyum tanda dia baik baik saja tapi peluh sudah menghiasi sekitar dahinya
" Haa.. tak apa "
Pisau itu masih menancap ditelapak tangan gadisnya, ia harus mencabutnya sebelum menjadi infeksi atau menambah luka serius " Aku akan menarik pisaunya, tahan sebentar yah? " pesannya sebelum menarik gagang pisau itu
Airene mengangguk mengerti, dia akan mempercayakan semuanya pada pria didepannya " yahh "
Aldrich mulai menarik pisau itu sejara perlahan, menggunakan perasaaannya. Dia mencoba mengurangi efek sakit yang akan dirasakan oleh gadisnya namun sia sia saja. Airene sedikit berteriak ketika pisau itu baru setengah jalan tercabuk
" uhhh ahh sakitt hikss "
Pria itu berhenti sebentar, sepertinya menarik secara perlahan bukan ide bagus karena gadis itu lebih merasakan sakitnya jika ia menariknya secara perlahan
" Maafkan aku "
arghhhhh
Aldrich menariknya secara cepat, dia tak mau gadis itu lebih menahan sakit
" Arghhh.. aku.. aku melindungi mereka " isak gadis itu karna bayinya masih aman, hanya perut bagian atasnya saja yang terluka
Pria ini tak tega melihat gadisnya yang sudah mati matian melindungi kedua bayi mereka, Aldrich mengusap air mata Airene " Istirahatlah, aku akan mengurus sisanya " sembari memakaikan mantel bulu miliknya
Airene tersenyum sampai akhirnya menutup matanya tak sadarkan diri, dia sudah menahannya sedari tadi untuk tak pingsan
" Jangan biarkan ada yang tersisa! "
banggg... bangg....
Pesan itu diterima baik oleh James dan John yang sudah siap bersama orang orangnya, John lebih bersemangat karna ingin membalaskan dendam akibat mereka yang melukai saudara kembarnya sampai separah itu. Akan dia kembalikan semua rasa sakit itu dan biarkan mereka sekarang yang merasakannya
Aldrich menggendong gadis itu untuk pergi, Dave dan Riel sudah menunggu mereka didepan sana baru juga selesai melumpuhkan bawahan Luca yang berjaga didepan
Riel menatap khawatir, wajah gadis itu sudah penuh luka kembali. Baru saja dia mengobatinya tapi gadis itu sudah kembali terluka seperti ini " Langsung ke rumah sakitku saja "
Suara tembakan masih terdengar didalam gedung itu, bahkan terdengar sepanjang jalan sepi yang mereka lewati. Biar James dan John melampiaskan rasa frustasi pada bawahan orang itu
Tidak akan adanya kata ampun bagi mereka semua yang sudah melakukan ini pada gadisnya
Aldrich akan membalaskan semua perbuatan mereka terhadap Airene
Tak berapa lama, mereka sampai dirumah sakit tujuan yaitu milik keluarga Riel. Para dokter dan perawat kembali berjajar untuk menyambut mereka semua. Sebenarnya Riel sudah menelfon agar para dokter berjaga jaga jika saja yang terluka banyak
Tapi
Mereka hanya membawa seorang gadis
Itu berarti yang terluka hanya gadis itu karna Josh sudah mendapatkan pengobatan telebih dahulu dan sedang dirawat di ruangan lain
" Kita akan mengobatinya dulu, sebaiknya taruh gadis itu diatas ranjang " Riel sudah bersiap dengan jas dokternya, dia belum tau luka gadis itu selain memar memar disekitar wajah hingga ke leher bawahnya
Aldrich mengikuti arahan temannya, dia menaruh tubuh gadis itu dengan hati hati. Lalu mundur sedikit memberikan ruang gerak kepada para dokter dan perawat agar leluasa kesana kemari. Dave ada sedari tadi sedang duduk disofa ruangan itu
Seorang perawat wanita membuka mantel yang menyelimuti tubuh gadis itu, Dave memandang kearah lain karna melihat baju yang dikenakan gadis itu sudah rusak robek hampir semuanya. Darah juga terlihat masih bercucuran yang berasal dari luka tusuk lebar di kedua tangan gadis itu. Dan beberapa luka goresan tak terlalu dalam dipermukaan perutnya
" Ambilkan antiseptik, kasa dan benang jahit " Riel melakukan tugasnya dibantu oleh perawat
Aldrich saat ini sedang melihatnya dari sisi sofa yang ia duduki bersama Dave, pria itu seperti menatap kosong kearah gadisnya. Apa yang akan terjadi jika ia tak segera menemukan gadis itu? Apa yang akan dilakukan Luca jika saat itu dia tak menerobos masuk kedalam?
" Bagaimana perasaanmu? " Dave mencoba mengalihkan arah pandangan temannya, saat ini gadis itu sudah berada ditangan yang tepat. Lukanya juga sedang diobati
" Ntahlah "
Perasaan dihatinya campur aduk, dia tak bisa mengekspresikannya
Dave memberikan beberapa gambar dari tablet yang sedari tadi dia mainkan " Xavier sudah menemukan anak perusahaan yang menyokong organisasi pria itu. Kita sudah membuat sahamnya hancur sampai ke titik 0 "
" Semua yang berubungan dengan pria itu, organisasi, perusahaan dan bawahan yang tersisa sudah diamankan oleh Xavier disuatu tempat "
" Kita bisa berharap ini yang terakhir kali dan tak akan terjadi lagi "
Ya semuanya sudah selesai, urusannya dengan pria atau wanita itupun sudah selesai setidaknya sekarang. Beberapa waktu kedepan Aldrich hanya ingin fokus pada penyembuhan gadisnya, ia juga akan menemani gadisnya jika trauma muncul
Benar benar Aldrich berharap semua ini usai sesuai apa yang diucapkan teman temannya
" Terima kasih "